
Xiao Yi berjalan sambil memegang tangan Chu Cu, masuk ke dalam ruangan tidurnya di dalam istana permaisuri, kabar mengenai 4 orang selir yang meminta Yang Mulia untuk membebaskan mereka, cukup menggemparkan istana harem.
Tapi Yang Mulia menyikapinya dengan tenang, dalam waktu dekat dia memanggil para orang tua selir itu, membuatkan pertemuan khusus dengan orang tua para selir, atas saran dari Permaisuri Yi.
Karena orangtuanya yang telah mengirimkan ke istana maka, di depan orangtuanya lah mereka membuat permohonan.
Xiao Yi tak tahu apakah dia bersalah dalam hal ini, tapi membebaskan oranglain dari penderitaan bukankah itu baik?
Mereka tidak pernah bahagia, selama Yang Mulia tak sedikitpun tersentuh untuk melihat pada mereka. Tapi, hatinya menjadi rapuh saat memikirkan cinta yang terbagi.
Sebagai perempuan dia tetap mahluk yang egois, yang tak bisa menerima cintanya di duakan.
Yang terbaik adalah hidup dengan satu cinta saja, dengan begitu Yang Mulia tidak di sibukkan dengan semua permasalahan rumah tangganya yang mungkin akan menganggu konsentrasinya dalam menata negara dan mengurus rakyat.
Yang Mulia Yan Yue adalah orang setia pada satu perasaan, dia tak bisa membagi hatinya pada orang berbeda pada waktu yang sama. Karena itu, suatu beban baginya ketika dipaksa untuk mencintai banyak perempuan.
Hatinya telah di meteraikannya pada Xiao Yi, perempuan yang membuatnya tak pernah bisa memalingkan mukanya lagi.
"Chu Cu, beberapa hari ini, aku melihatmu banyak melamun?"
Wajah Chu Cu seketika memerah, mendengar teguran dari majikannya itu.
"Yang Mulia permaisuri, saya...saya..."
"Tidak apa-apa Chu Cu, aku hanya heran saja, tidak biasanya kamu suka terpekur seolah sedang memikirkan sesuatu." Xiao Yi tersenyum sambil membiarkan Chu Cu memasukkan kakinya ke dalam baskom yang berisi air hangat.
Kakinya memang sering pegal akhir-akhir ini, dan dia menjadi mudah lelah.
Selama sepuluh menit kemudian, Xiao Yo sangat menikmati merendam kakinya di dalam air hangat itu, rasanya begitu nyaman jika ritual itu di lakukan sebelum beristirahat. Dia akan merasa lebih nyenyak tidur.
"Chu Cu, apakah ibuku sudah tiba di wisma tamu?"
"Ya, nyonya besar sudah berada di wisma tamu, baru sampai selepas siang tadi." Sahut Chu Chu cepat.
Nyonya Xiao, ibu dari Xiao Yi memang di datangkan secara khusus oleh Yang Mulia untuk menemani Xiao Yi pada masa-masa menjelang melahirkan yang mungkin akan tiba kurang dari dua bulan lagi.
__ADS_1
Latar ibunya sebagai seorang yang mempunyai ilmu pengetahuan dunia tabib, membuat nyonya Xiao memang sangat diperlukan untuk berada di sisi permaisuri raja yang sedang hamil tua itu.
Terlebih lagi, sangat menenangkan jika seorang anak ditemani oleh ibunya melewati masa-masa menjelang bersalin.
Melahirkan adalah suatu pengalaman terbesar seorang wanita menjadi ibu, dan juga adalah pengalaman antara hidup dan mati. Tak ada yang lebih menenangkan kecuali di saat di temani seorang ibu, Yang Mulia sungguh memahami itu.
"Chu Cu, bisakah kamu menjemput ibuku kemari?" Tanya Xiao Yi.
"Apakah itu sekarang, Yang Mulia...?" Tanya Chu Cu sambil mendonggakkan wajahnya, dia sibuk mempersiapkan kain kering untuk mengeringkan kaki majikannya itu.
"Ya, setelah ini, jemputlah dia dari wisma tamu, aku rasa Yang Mulia tak akan keberatan jika ibuku malam ini menemaniku."
"Baik Yang Mulia permaisuri..." Xiao Yi mengangkat kaki Xiao Yi, mengelapnya dengan lembut dan memasangkan kaos kaki yang nyaman kepada Xiao Yi.
"Yang Mulia, sebaiknya Yang Mulia beristirahat di tempat tidur, sembari menunggu Chu Cu menjemput nyonya besar." Chu Cu membantu Xiao Yi untuk naik ke tempat tidur dan berbaring.
Xiao Yi tersenyum lagi kepada Chu Cu sambil mengerutkan alisnya.
"Chu Cu, kamu benar-benar tidak apa-apa?" Xiao Yi menatap lekat pada wajah Chu Chu.
"Tapi wajahmu kelihatan pucat..."
"Oh, Chu Cu benar-benar tidak apa-apa." Chu Cu menundukkan wajahnya.
"Chu Cu akan menjemput nyonya besar kemari sekarang." Chu Cu membungkukkan badannya sebelum tanpa di suruh dua kali dia berbalik dan meninggalkan Xiao Yi yang mengawasinya dengan sedikit cemas dari tempat tidur.
"Chu Cu, mau kemana? " Tanya pengawal Cun yang sedang berdiri membersihkan hulu pedangnya di depan pintu bangunan Istana permaisuri, dia sedikit heran melihat Chu Cu tampak begitu tergesa-gesa keluar dari ruangan permaisuri.
"Aku akan ke wisma tu, menjemput nyonya besar." Jawab Chu Cu pada pengawal pribadi Permaisuri ini.
"Chu Cu..." Pengawal Cun celingukan menatap ke kiri dan ke kanan, memastikan tidak ada yang benar-benar memperhatikan mereka.
"Ini..." Pengawal Cun menarik sebuah gulungan surat dari balik ban pinggangnya.
"Kak Jian mengirimkanmu surat lagi." Kata pengawal Cun setengah berbisik.
__ADS_1
Wajah Chu Cu segera merona, di ambilnya dengan cepat surat tersebut dari tangan pengawal Cun.
"Dia menanyakan, kenapa kamu tak pernah membalas suratnya." Pengawal Cun berucap dengan nada rendah.
Chu Cu terperangah, tapi dia tidak menjawab apa-apa, dia tahu jawabannya akan tidak masuk akal jika dia mengatakan yang sebenarnya, bahwa dia tidak pandai menulis.
"Terimakasih." Chu Cu berucap sambil menunduk lalu segera angkat kaki dari hadapan pengawal Cun.
Chu Cu akhir-akhir ini memang kurang tidur, dia memikirkan pengawal Jian yang selalu hadir di kepalanya, menganggunya dengan pucukan surat. Dia bisa membaca sedikit-sedikit tapi dia tak pandai menulis, dia bingung bagaimana membalasnya.
Sebagai seorang pelayan yang baru saja di angkat menjadi dayang pribadi permaisuri Yi, dia merasa benar-benar bodoh.
"Chu Cu aku sungguh sangat menyukaimu."
Itu bunyi terakhir surat dari pengawal Jian padanya, yang membuat dia gelisah luar biasa tak tahu harus menjawab apa.
Sesungguhnya diapun jatuh hati pada pengawal gagah Yang Mulia itu, matanya yang sipit dan senyumnya yang tak pernah benar-benar nyata itu telah lama nembuat Chu Cu jatuh hati, tapi dia tak tahu harus bagaimana mengungkapkannya, dia hanya seorang pelayan.
"Seharusnya, aku belajar dari dulu seperti yang di suruh nyonya besar..." Chu Cu mengeluh dalam hati.
Sungguh lucu jika dia tak bisa membalas perasaan Pengawal tampan yang sangat di sukainya itu, hanya karena dia hampir-hampir di katakan setengah buta hurup.
Dia bisa mengeja tulisan meskipun terbata-bata, tapi dia tak bisa menggoreskan pena. Hanya bisa memikirkan pengawal Jian, membuatnya tak bisa tidur semalaman.
Sungguh rumit menjadi orang yang sedang jatuh cinta, tapi tidak berdaya.
(Buat yang penasaran visual Pengawal Jian dan pengawal Cun yang sering berwara-wiri di dalam kisah ini, mak othor kasih deh penampakannya🤗 Dilarang jatuh cinta dengan pengawal raja dan ratu🤭 part ini sedikit tambahan tentang Chu Cu yang manis, yaaa...😅)
...Terimakasih sudah membaca Selir Persembahan, jangan lupa Vote dan dukungannya, yaaa❤️❤️❤️...
__ADS_1