SELIR PERSEMBAHAN

SELIR PERSEMBAHAN
EPISODE 34 CHAI KUMALA BIRU


__ADS_3

Panglima muda Zhao Juren merasakan dadanya bergetar hebat, dia tidak pernah mengira, ternyata perempuan sederhana yang ditemuinya beberapa pekan yang lalu di depan sebuah kedai teh di pasar kota Yubei adalah salah satu perempuan penting kerabat istana.


Dia yakin memang, perempuan pemberani yang begitu mempesona dalam balutan gaun sederhana kuning pastel, polos tanpa corak dari bahan kain katun biasa murahan yang ditemuinya hari itu pastilah bukan gadis biasa, tapi dia tidak menyangka jika dia adalah salah satu penghuni istana Weiyan.


Pertama kali dia melihat saat gadis itu berjalan begitu terburu-buru menuju tempat penjual aksesoris di seberang kedai teh, dia sudah tertarik.


Kemudian rasa tertarik itu semakin menadi-jadi saat melihat senyum sumringahnya memegang sebuah hiasan rambut dengan mata berbinar-binar.


Dan sungguh anehnya, sang gadis itu tidak menyadari Panglima Zhao Juren berdiri hanya beberapa depa dari tempatnya waktu itu.


Lalu, kejadian para pemuda berandal anak bangsawan rendahan itu memberinya angin segar untuk menunjukkan diri, walaupun dia tahu, tanpa campur tangannya, gadis itu bisa mengatasinya. dan ketika dia bertemu pandang dengan gadis itu, dari situ dia menyadari tidak lagi bisa berpaling. Sayangnya, gadis itu sama sekali tidak menunjukkan dia tertarik pada Panglima muda Zhao Juren


Sesuatu yang sangat langka, karena setahu Panglima muda Zhao Juren setiap gadis di kota ini berlomba-lomba untuk diperistri olehnya, bahkan beberapa mentri sudah sering berusaha menjodohkannya dengan puteri-puteri mereka.


Ada yang pernah bilang, di kota Yubei ini, yang bisa menyaingi ketampanan dan kegagahan Panglima muda Zhao Juren hanyalah Yang Mulia Yan Yue, raja Yanzhi sendiri.


Sekarang, dia benar-benar terkejut, gadis ini ternyata jauh lebih cantik dengan pakaian sutra mewah warna merah jambu, dengan berbagai perhiasan mahal yang terpasang serasi pada tubuh ramping serupa pualam itu.


Panglima muda Zhao Juren merasa hari ini dia telah bertemu dewi dari langit yang siang malam setelah pertemuan di siang bolong itu membuatnya merasa gundah tiada menentu.


Wajah cantik gadis bergaun kuning pastel itu, mengganggu tidur-tidur malamnya. Bahkan saat dia pergi sebagai utusan raja Yanzhi bertemu panglima perang negara tetangga untuk membicarakan urusan koalisi melawan negara Nanxing yang semakin merajalela mengirimkan intimidasi ke kedua negara bersebelahan itu, fikiran Panglima muda Zhao Juren sepertinya tak pernah berhenti dibayangi wajah gadis ini, di manapun dia berada.


Setiba di Yubei dari perjalanan politik itu, Panglima muda Zhao Juren langsung mengunjungi kedai teh tuan Ding di tengah pasar kota Yubei, menanyakan identitas gadis misterius yang sepertinya sangat dilindungi oleh tuan Ding itu.


Tapi sekeras apapun, Panglima muda Zhao Juren mengorek informasi dari tuan Ding, yang dia dapati adalah jawaban tuan Ding bahwa dia tidak tahu dari mana nona ini berasal. Hanya pengunjung biasa hari itu, yang kebetulan lewat dan mengunjungi kedainya.


Sebagai seseorang yang berpengalaman di bidang menginterogasi orang, Panglima muda Zhao Juren tahu, tuan Ding berbohong, dia hanya berusaha menyembunyikan jati diri gadis itu.


Tapi sebagai seorang panglima yang terpandang di Negara Yanzhi, dia tidak mungkin terlihat terlalu bersikap memaksa, hanya karena urusan perempuan.


Tanpa sadar Panglima muda Zhao Juren menyentuh pinggangnya, memegang sebuah kantong perhiasan berisi sebuah aksesoris yang selama ini selalu tergantung di sana. Itu adalah tusuk konde yang dikagumi gadis ditemuinya hari itu, tetapi tak bisa dibelinya entah karena alasan apa.


Panglima muda Zhao Juren telah membelinya keesokannya dan selalu membawanya kemana saja dia pergi, dengan harapan akan menyerahkan chai itu pada sang gadis itu suatu saat nanti.

__ADS_1


Dan sekarang dia telah bertemu tidak sengaja dengan gadis yang selama ini dicarinya, tapi entah mengapa nyali itu menciut, meleleh seperti lilin kepanasan.


Dan andai dia tidak salah dengar, pelayannya tadi memanggilnya dengan sebutan nyonya.


Predikat itu menyatakan bahwa mungkin saja perempuan ini adalah isteri seseorang di dalam istana Weiyan ini.


"Senang bertemu dengan tuan Zhao," Xiao Yi menekuk kakinya sedikit, membalas salam dari Panglima muda Zhao Juren.


"Apa yang membawa tuan Zhao hari ini ada di taman kerajaan?" tanya Xiao Yi kemudian. Pipinya mendadak merona seperti warna jubahnya yang merah jambu. Xiao Yi merasa malu ditatap begitu lama oleh laki-laki di depannya itu.


"Saya kebetulan lewat taman ini dalam perjalanan ke aula Qing Ren, hendak mengunjugi Ibu Suri sekaligus menghadiri festival Chushi. Saat melihat nyonya ada di sini, saya berniat bertanya apakah festival itu sudah di mulai?"


jawab Panglima muda Zhao Juren, dengan suara di buat sewibawa mungkin.


Telah berapa kali dia turun ke medan perang dan berapa pertarungan pernah di jalaninya, tetapi ini kali pertama, dia merasa begitu tak berdaya di depan seorang wanita. Dan itu benar-benar menampar jiwa satrianya.


"Festival Chushi terbuka untuk umum?" Xiao Yi mengerutkan kening. Yang dia tahu, festival itu diselenggarakan secara khusus untuk Yang Mulia Yanzhi, dia belum tahu jika ada yang boleh menghadirinya selain raja. Dan menurut yang di dengarnya dari selir Yuan, hanya pada festival Yishu saja, saat para selir unjuk bakat seni, baru di undang para petinggi istana sekaligus menghadiri perjamuan yang diadakan oleh raja.


"Beberapa kerabat dekat Yang Mulia, di undang secara khusus" lanjutnya.


"Tapi saya jarang bisa menghadiri festival seperti ini, karena lebih sering berada di luar istana. kebetulan hari ini, saya ingin mengunjungi Ibu suri, jadi saya bisa langsung menghadiri festival Chushi"


"Oh..." Xiao Yi mengangguk-angguk kepalanya, Informasi selir Yuan tidak menyinggung hal tersebut.


"Apakah nyonya adalah orang baru di istana ini?" tanya Zhao Juren hati-hati.


Xiao Yi sekarang yang bingung tidak tahu harus menjawab apa, dia belum terbiasa memperkenalkan diri sebagai selir seorang raja.


"Saya bukan orang penting di istana ini tuan Zhao..." Xiao Yi tersenyum lebar.


Panglima Zhao Juren merasa desir dadanya menghangat. Meskipun wanita ini dipanggil nyonya tapi, sepertinya dia tidak dimiliki siapa-siapa, mungkin saja dia adalah kerabat dekat istana atau mungkin juga keluarga dari salah satu orang penting istana ini, yang belum pernah ditemuinya atau karena dia sangat jarang tinggal lama di lingkungan istana, sehingga melewatkan keberadaan gadis ini.


"Apakah saya boleh tahu nama nyonya?"

__ADS_1


"Namaku Xiao Yi..."


"Senang bertemu dengan nyonya Yi"


"Saya juga senang bertemu tuan, dan bisa mengucapkan terimakasih atas bantuan tuan Zhao tempo hari"


"Itu bukan hal besar, nyonya."


Panglima Zhao Juren mengambil kantong perhiasan dari beludru berwarna ungu tua di pinggangnya, lalu menyerahkannya kepada Xiao Yi.


"Silahkan di terima, sebagai hadiah perkenalan dari saya"


Xiao Yi menatap kantong beludru ungu di tangan Panglima Zhao Juren, dengan agak bingung.


"Saya rasa Ini tidak perlu tuan Zhao,"


"Terimalah nyonya, sebagai bentuk penghormatan saya" nada tegas itu setengah memaksa.


Xiao Yi menerimanya dengan ragu.


"Saya mohon pamit, nyonya" Panglima muda Zhao Juren segera berbalik dan pergi, rahangnya mengeras melawan degup jantungnya yang tidak beraturan. Ternyata seorang Panglima perang paling tangguh pun bertekuk lutut pada cinta.


Xiao Yi membuka hati-hati kantong beludru itu,


Segera matanya mengerjap terpukau ketika mendapati chai berwarna biru langit dari bahan perak dengan ukiran bunga kecil-kecil menempel pada ranting berdaun yang membentuk bulatan dan di tengahnya ada sepasang burung berwarna emas yang saling berhadapan.


Chai yang sangat diinginkannya waktu itu, tapi sayangnya, dia tak pernah bisa kembali lagi mencarinya karena Yang Mulia tak pernah membawanya lagi ke pasar kota Yubei


...Terimakasih readers tersayang yang sudah mengikuti kisah Selir Persembahan🙏☺️...


...🤗🤗Nantikan episode berikutnya, ya😊...


...Silahkan komen di bawah, jangan lupa like dan dukungannya 🙏☺️...

__ADS_1


__ADS_2