
PONDOK BAI SHENG
Pagi belum lagi turun, hari masih di rundung gelap, Xiao Yi berdiri menatap ke bawah tebing, melihat bagaimana Qian Ren seperti siluet di kejauhan dengan susah payah memikul dua buah tempayan bertutup menuju pondok tempat mereka berada.
Yuan sudah di dudukkan di dalam sebuah bak mandi berukuran sedang. Mereka menunggu Qian Ren membawa air dari mata air duyao.
Begitu matahari terbit, air itu harus sudah bersentuhan dengan kulit selir Yuan.
Qian Ren telah mengantarkan dua tempayan air dan sekarang dia dalam perjalanan meniti pinggir tebing yang berundak dan sedikit licin itu. Beberapa pengawal menatap dengan simpatik. Mereka ingin membantu mengangkatnya, tapi Qian Ren menolaknya.
Xiao Yi terpekur, hatinya dirasuk rasa iba, begitu relanya Qian Ren melakukannya.
"Hanya ini yang bisa kulakukan untukmu, ijinkanlah aku melakukannya." Kata Qian Ren saat Xiao Yi keberatan dan mengatakan biarkan orang lain membantunya. Tapi dengan keras Qian Ren menolak.
Xiao Yi tak ingin berdebat lagi dengan Qian Ren, dia membiarkan saja semua sesuai keinginan Qian Ren.
Dia mengenal baik, Qian Ren yang periang dan baik hati itu, tidak pernah begitu keras kepalanya.
Sayangnya waktu dan peristiwa yang mereka lewati merubah setiap orang bahkan karakternya.
Tidak hanya Qian Ren yang berubah, dia sendiri sudah sangat jauh berubah.
Entah mereka menjadi terlihat lebih dewasa ataukah menjadi dingin karena kepasrahan serta kepahitan yang di alami mereka dalam hidup.
Xiao Yi tak ingin membuat Qian Ren salah paham, jika dia terlalu berkeras menunjukkan sikap iba.
Dia telah menyegel hati dan cintanya pada Yang Mulia, dia tidak pernah ingin menoleh lagi ke belakang.
Bukan karena dia begitu kemaruk dengan kekayaan dan kekuasaan yang berada di depan matanya, tapi Qian Ren tak pernah memberinya kesempatan untuk memilih.
Perasaan akan berubah seiring waktu, jika kita diabaikan begitu saja.
Apapun alasannya, mereka berdua telah berada pada jalan berbeda, dan dia tak ingin membebani hatinya dengan rasa bersalah lagi.
Qian Ren memang berkorban demi cintanya, seperti anggapan sepihaknya, tapi Xiao Yi merasa itu bukan demi dirinya.
Qian Ren hanya melakukan demi rasa bersalahnya sendiri.
Keputusan bisa saja salah tapi kepercayaan tidak boleh kehilangan tempat.
Xiao Yi telah kehilangan keyakinannya karena keputusan yang dibuat oleh Qian Ren.
Pengorbanan cinta seperti apapun, tak berarti lagi di mata orang yang telah memalingkan wajah dan memindahkan hatinya.
__ADS_1
...***...
****ISTANA**** WEIYAN
Yang Mulia berbaring dengan gelisah di tempat tidurnya yang nyaman, wajah Xiao Yi bermain di pelupuk matanya, bahkan saat dia memejamkan matanya, senyum gadis itu seperti begitu lekat di kepalanya.
Baru saja dua hari yang lalu gadis itu meninggalkannya, tapi seperti bertahun-tahun lamanya.
Dia merutuk dirinya sendiri, sebagai raja seharusnya dia tidak usah bersikap lemah pada keinginan Xiao Yi.
Bisa saja dia mengeraskan hati dan tidak perlu mengizinkan Xiao Yi pergi.
Tapi gadis keras kepala itu selalu punya alasan untuk apapun yang ingin dilakukannya.
Seorang raja sekalipun terperdaya olehnya.
Yang Mulia memeluk selimut sutra tebalnya, mencari kehangatan dipenghujung malam, memikirkan Xiao Yi benar-benar cara yang mujarab untuk mengusir kerinduannya.
Lalu dengan kesal dia bangun menyingkirkan selimut itu, ingatannya pada beberapa adegan favoritnya bersama Xiao Yi segera membuat tubuhnya menjadi panas.
Mungkin mencari udara di luar bisa membantunya sedikit lega. Hari hampir pagi, pemandangan di taman Shenhua mungkin bisa menenangkan perasaannya yang gamang.
Kasim Chen, tergopoh-gopoh menyongsong di depan pintu saat Yang Mulia membukanya.
Kadang Yang Mulia bingung sendiri, sebelu tidur dia masih melihat wajah kasim Chen dan ketika bangun dia akan bertemu wajah yang sama. Entah kapan kasim setianya itu pernah beristirahat dengan benar.
Sudah beberapa kali Yang Mulia menawarkan kasim Chen mengambil waktu untuk dirinya sendiri, berlibur dan cuti dari tugasnya yang setiap hari mengekor dan melayani Yang Mulia.
Tapi, kasim Chen serupa seorang ayah yang begitu takut melepaskan anaknya. Dia tidak mempercayai seorangpun di dalam istana ini untuk melayani Yang Mulia secara langsung kecuali dirinya sendiri.
"Suatu saat Yang Mulia akan tahu, kenapa aku selalu mengkhawatirkan Yang Mulia lebih dari orang lain." Kata Kasim Chen.
Pengawal Jian dan beberapa pengawal pribadi lainpun sudah berganti shif, sekarang mereka sudah siap sedia di muka pintu Rongyu.
"Yang Mulia akan kemana dengan baju seperti ini?" Kasum Chen menatap Yang Mulia dengan heran, tubuhnya yang gagah itu hanya terbalut jubah tidur saja.
"Aku ingin berjalan-jalan sebentar ke Shenhua"Jawab Yang Mulia.
Kasim Chen masuk sebentar dan kemudian muncul dengan sebuah mantel warna biru.
"Yang Mulia pakailah ini, hari masih belum sepenuhnya terang, cuaca belum lagi menjadi hangat." Kasim Chen memasangkannya sebuah mantel itu.
Saat Yang Mulia turun ke taman Shenhua yang masih sepi, seseorang telah berdiri di atas jembatan danau taman.
__ADS_1
Laki-laki gagah dalam balutan baju besi itu, memberi hormat kepada Yang Mulia.
"Juren..."Yang Mulia jika tidak di tempat umum akan memanggil panglimanya itu dengan nama kecilnya. Karena mereka telah dibesarkan bersama, maka mereka cukup akrab satu sama lain.
"Yang Mulia..." Zhao Juren membungkuk.
"Ada apa sepagi ini kamu sudah berada di sini?"
tanya Yang Mulia, lalu berdiri di sebelah Zhao Juren
"Saya ingin bertemu dengan Yang Mulia." Kata Zhao Juren.
Yang Mulia menoleh, meneliti wajah Zhao Juren, seperti dua kawan lama yang baru bertemu.
Sejak menjadi seorang Panglima, Zhao Juren begitu menjaga sikap dan formalitas bahkan terkesan menjauh dari kehidupan pribadi Yang Mulia sehingga dia tidak lagi menjadi dekat dengan raja.
"Ada apa?" Yang Mulia mengernyitkan dahinya.
"Aku memohon yang mulia mengizinkan saya memeriksa, perampokan bantuan kerajaan yang dikirimkan ke propinsi Youwu, dua bulan yang lalu."
Yang Mulia sekarang benar-benar berbalik dengan heran kepada Zhao Juren.
"Kamu tidak perlu menyelediki itu. Aku telah menyerahkan permasalahan ini dalam penyelidikan Youwu dan departemen yang berkaitan dengan pengiriman itu"
"Apakah anda percaya begitu saja pada gubernur Qian dan departemen ekspedisi bantuan?"
Yang Mulia Yan Yue dan Zhao Juren, bertukar tatap. Lalu dengan suara perlahan dia bertanya,
"Kamu memintaku, mengirimmu ke Youwu?"Yang Mulia balik bertanya.
"Ya, Yang Mulia..."Jawab Zhao Juren dengan yakin.
Ada beberapa hal yang memang harus di bereskannya sendiri di Youwu, jika tidak semua akan terlambat.
Bahkan mungkin saja dia kehilangan seseorang Yang begitu penting baginya, dan itu tidak akan dipertaruhkannya.
Berkorban untuk cinta, meskipun menyakitkan tapi menenangkan hatinya. Melihatnya saja dari jauh, Zhao Juren merasa lebih baik dari pada melihatnya pulang tanpa nyawa ke istana Weiyan.
...Dukungan dan VOTEnya author tunggu😅...
...Jangan lupa KOMEN dan LIKE di bawah, please...please...❤️...
...Biar author tambah rajin UP...
__ADS_1