SELIR PERSEMBAHAN

SELIR PERSEMBAHAN
EPISODE 52 MEMELIHARA ANAK MACAN


__ADS_3

Yang Mulia menaikkan alisnya, menatap kasim Chen dan Xiao Yi bergantian.


"Gubernur Qian ingin bertemu selir Yi?"


"Ya, Yang Mulia."


Yang Mulia mengarahkan pandangan kepada Xiao Yi yang juga tampak bingung.


"Apakah kamu ingin bertemu dengan gubernur Qian Lie?" tanya Yang Mulia sedikit menyelidik.


Xiao Yi menggelengkan kepalanya, rasanya dia tak mempunyai urusan dengan gubernur kejam itu. Sudah cukup dia membuat Xiao Yi merasa begitu sengsara di intimidasi sedemikian rupa, ketika di paksa untuk menjadi anak angkatnya dan kemudian mengirimnya sebagai selir persembahan untuk Raja Yanzhi.


Rasa takut dan amarah karena ketidakberdayaan di pisahkan dari orangtua dan keluarga yang pernah dirasakannya akibat perbuatan gubernur itu meninggalkan trauma mendalam. Tak ada alasan untuknya bertemu dengan gubernur Qian Lie!


Yang Mulia tampak terpekur sejenak, sepertinya dia mempertimbangkan sesuatu.


"Katakan padanya, Selir Yi akan menemuinya hari ini di wisma tamu, setelah pertemuan di aula Guanli" ucapnya kemudian sambil memandang lurus pada Xiao Yi.


"Baik, Yang Mulia" Kasim Chen mundur beberapa langkah kemudian menghilang di balik pintu dengan segera.


"Aku tidak mau bertemu dengan Gubernur Qian Lie." Ujar Xiao Yi tajam. Rasanya tidak adil Yang Mulia membuat keputusan tanpa mempertanyakan kepadanya.


"Kenapa?" Yang Mulia mengangkat alisnya.


Xiao Yi tertunduk, jika dia menceritakan yang sebenarnya, apakah Yang Mulia akan memahami posisinya? Atau jika dia katakan, dia terpaksa menerima dirinya sebagai selir yang di kirimkan Youwu, apakah kemudian Yang Mulia akan berubah pikiran dan mengembalikannya ke Youwu begitu saja?


Sedangkan sekarang, dia benar-benar tak bisa membayangkan jika Yang Mulia mencampakkannya.


"Aku...aku rasa tidak ada yang perlu di bicarakan dengan gubernur Qian" jawab Xiao Yi terbata-bata.


"Tapi dia ingin bertemu denganmu, mungkin saja berhubungan dengan kabar keluargamu"


Xiao Yi mengangkat wajahnya. Berfikir sejenak, mungkin Yang Mulia benar, dia bisa menemuinya sebentar dan mendapatkan apa yang mungkin penting dan harus diketahui olehnya.


"Jika Yang Mulia menginginkannya, aku akan menemuinya." Xiao Yi menyahut pelan.


"Sebaiknya Yang Mulia menghabiskan sup itu, dan bersiap-siap ke aula Guanli" Xiao Yi hendak beranjak, tetapi Yang Mulia menahan tangannya.

__ADS_1


"Malam ini, aku akan menunggumu di sini." kata Yang Mulia, bernada memerintah.


Xiao Yi tersenyum kecil dan mengangguk tersipu.


"Yang Mulia lepaskan tanganku, aku harus menyuruh Chu Cu mencuci seprai itu dulu..." Kata Xiao Yi memelas sambil melirik ketempat tidur yang acak-acakan itu.


"Biarkan pelayan Rongyu melakukannya," Yang Mulia menjawab dengan acuh, melepaskan tangan Xiao Yi sambil kembali kepada mangkuk supnya.


"Apa kata pelayan jika melihatnya..."


Xiao Yi buru-buru ke tempat tidur itu, menarik seprai putih itu dan menggulung-gulungnya menjadi buntelan besar. Wajahnya merah padam.


Yang Mulia tertawa melihat tingkah Xiao Yi yang menurutnya lucu.


"Biarkan saja mereka tahu, pelayan mana yang akan menertawaimu, aku akan menghukumnya dengan keras."


Xiao Yi tidak perduli ocehan Yang Mulia, dia tidak akan membiarkan dirinya akan jadi bahan gunjingan satu istana hanya gara-gara noda darah di seprai.


"Segeralah mandi Yang Mulia, kasim Chen akan membantu Yang Mulia bersiap-siap. Aku harus kembali ke Xingwu" Xiao Yi memeluk buntelan seprai itu dan segera mengundurkan diri, di iringi seringai Yang Mulia, tak sabar melewati hari ini dan bertemu dengan Chenxingnya lagi.


...***...


Dia menyiapkan diri untuk bertemu dengan Gubernur Qian Lie, meski tak tahu akan membicarakan apa.


Setiap kamar wisma tamu mempunyai ruangan khusus untuk menerima tamu.


Dada Xiao Yi agak berdegup saat melihat di depan sebuah meja duduk Gubernur Qian dengan jubah warna oranye menyala, badannya yang tinggi besar itu duduk tegap memandang langsung ke arah pintu, di mana Xiao Yi muncul.


Yang membuat Xiao Yi lebih gugup adalah orang yang duduk di sampingnya, lelaki yang sangat dikenalnya, Qian Ren.


"Selamat datang selir Yi..." Gubernur Qian terkekeh melihat kedatangan Xiao Yi, berdiri pun tidak dari tempat duduknya. Hanya Qian Ren yang segera berdiri dan tersenyum senang melihat Xiao Yi tiba.


"Kamu ternyata sangat cepat menyesuaikan diri dengan lingkungan istana." Gubernur Qian mengedarkan pandang, mengamati Xiao Yi dari atas sampai bawah.


Ada sedikit kekaguman tersirat di matanya melihat penampilan Xiao Yi tapi lebih banyak di dominasi oleh tatapan aneh yang licik.


Xiao Yi berdiri tanpa ekspresi di depan Gubernur Qian yang duduk setengah mendongak, melihat ke arahnya.

__ADS_1


"Duduklah, Yi'er..." Suara Qian Ren begitu pelan tapi membuat Xiao Yi agak merinding, panggilan itu terasa aneh sekarang di ucapkan dari mulut laki-laki yang pernah begitu dekat dengannya itu.


Chu Cu mundur beberapa langkah, tapi mata Gubernur Qian tajam ke arahnya, mengisyaratkan Chu Cu tidak harus berada di dalam ruangan itu.


Chu Cu membungkuk dan keluar, sementara Xiao Yi mengambil tempat duduk di seberang meja gubernur Qian.


Alisnya yang coklat kehitaman senada dengan jambang yang tak kalah lebatnya, membuat wajah Gubernur Qian agak menyeramkan.


"Selir Yi...kamu dipanggil demikian di sini..." ucapnya dengan nada rendah, matanya menyipit. Xiao Yi tetap tak bersuara, sementara Qian Ren di sebelahnya agak gelisah menatap ketegangan antara ayahnya dan Xiao Yi.


Belum pernah Qian Ren melihat ekspresi Xiao Yi begitu dingin dan seberani ini, yang dia tahu dulu, jika Xiao Yi mendengar nama ayahnya disebut pun akan menangis dan gemetaran.


"Keberuntungan semacam ini tentu saja harusnya mendapat banyak balasan..." Gubernur Qian tertawa pendek, seolah-olah dia sangat senang terhadap apa yang dilihatnya, Xiao Yi mengangkat dagunya dan menatap langsung wajah yang selama ini sangat ditakutinya.


"Apakah Tuan Gubernur mengirim pesan untuk bertemu dengan saya, untuk membicarakan hal ini saja?" tanya Xiao Yi dingin, jemarinya terkepal di balik kain lengan gaunnya yang lebar.


Mata Gubernur Qian seketika membulat, seperti kelereng. Begitu terkejut dengan keberanian gadis yang pernah di lihatnya menangis saat di depan orangtuanya, di paksanya menerima perintah untuk di kirim sebagai selir persembahan kepada Raja Yanzhi.


"Beraninya kamu bersikap seperti ini, di depanku!" Gubernur Qian mencondongkan wajahnya dengan gigi gemerutuk karena amarah yang di tahannya.


"Ayah..." Qian Ren bersuara dengan pandangan memohon kepada ayahnya. Berharap ayahnya bisa menahan diri.


"Saya akan mengingat dengan baik, semua yang diperbuat oleh tuan gubernur kepada saya." Xiao Yi menyahut, matanya berkilau tanpa menunjukkan sedikitpun rasa gentar.


"Aku tidak pernah menyangka, telah memelihara seekor anak macan, yang pernah bersikap seperti anak kucing. Jangan kamu berfikir bisa menggigit tangan orang yang telah memeliharamu!" suara Gubernur Qian terdengar geram.


"Anak kucing itu tidak pernah meminta untuk di pungut, tuan. Tetapi tuan sendiri yang memaksanya masuk ke kandang tuan! Dan kalau boleh saya katakan, anda tidak pernah memeliharanya, anda hanya berusaha menggunakannya untuk umpan ke kandang macan."


Xiao Yi menyungging senyum dengan sudut bibirnya, senyum dari setumpuk kebencian yang disimpannya di dalam hatinya kepada orang yang kini berada tepat di depannya.



...Terimakasih sudah mengikuti cerita Selir Persembahan❤️...


...Yang suka dengan novel ini, kasih dong VOTE dan LIKE di bawah, please...please...❤️...


...Author sayaaaang banget dengan kalian🤭...

__ADS_1


...🙏🙏🙏...


...Dukungan, komen dan hadiahnya adalah semangat author terus menulis 🙏☺️...


__ADS_2