
Xiao Yi duduk dengan nyaman bersandar pada punggung tempat tidur. Malam merayap, dan sesuai dengan perkiraan, cuaca malam ini sangat tak bersahabat. Hawa dingin menyengat sampai tulang, sehingga Xiao Yi memilih duduk di tempat tidurnya dengan selimut tebal di kaki sampai pinggangnya.
Yang Mulia baru saja tiba dia di dalam ruangan kamar baru Xiao Yi di istana Huangho.
Dia melepas sendiri mantel hitamnya yang berukir sulaman emas itu.
Chenxing menatap dari jauh tanpa bergeming, dia sangat menikmati setiap gerakan Yang Mulia.
Betapa di sangat menyukai laki-laki ini, dia mencintainya dengan segenap hidupnya.
"Chenxing, jangan memandangku seperti itu, rasanya seperti di awasi seekor serigala betina." Tegur Yang Mulia.
Xiao Yi tertawa kecil mendengarnya.
"Setelah Chenxingku ini menjadi permaisuri, dia sudah kehilangan minat untuk menyambutku dengan benar."Keluh Yang Mulia dengan muka masam. Karena sekarang, raja muda itu harus melepaskan atribut yang dikenakannya sendiri.
Xiao Yi semakinn tertawa mendengarnya.
"Aku tidak sanggup bergerak Yang Mulia, anak-anakmu ini membuatku tak bisa turun dari tempat tidur dan menyeduh teh untukmu seperti biasa." Xiao Yi beralasan, padahal dia sedang sangat menikmati memandang Yang Mulia.
Rajanya itu jauh lebih tenang dan tanpa beban sekarang, wajahnya meskipun lelah tetap menunjukkan kalau dia lebih bahagia dari sebelumnya.
"Permaisuriku, kamu berhak bermalas-malasan bersama anak-anakku itu. Bahkan aku mengijinkan kamu tidak bergerak dari sana sampai melahirkan tiba." Sahut Yang Mulia, raja ini kerepotan melepaskan jubah luarnya setelah mantelnya hitamnya jatuh di kakinya sendiri.
Xiao Yi tak bisa menahan tawa, melihat Yang Mulia Yan Yue yang untuk melepaskan jubah luarnya perlu waktu begitu lama. Selama ini dia atau kasim Chen akan membantu mengurusnya, tapi malam ini Xiao Yi sangat ingin melihat Yang Mulia melakukannya sendiri.
"Yang Mulia di luar sangat dingin, apakah yang Mulia ingin minum teh atau arak sebelum tidur, supaya aku menyeduhnya." Akhirnya Xiao Yi merasa kasihan dengan yang Mulia.
"Tidak perlu, Chenxing...memelukmu jauh lebih hangat dari pada teh atau arak manapun."Yang Mulia segera naik ke tempat tidur sebelum Xiao Yi turun dari sana.
Tangannya mengait perut Xiao Yi yang membuncit itu.
"Entah mengapa, meskipun kamu selalu membuatku rindu."Yang Mulia menyuusupkan kepalanya ke balik rambut Xiao Yi yang terurai.
"Meskipun aku menjadi besar begini?"
"Ya, meskipunkamu menjadi sebesar apapun."
__ADS_1
"yang Mulia sedang merayuku..." Xiao Yi tertawa kecil mendengarnya.
"Aku suka sekali mendengarmu tertawa..." Yang Mulia mendaratkan ciuman di bibir ranum Xiao Yi.
"Yang Mulia benar-benar bermulut manis malam ini, aku takut ada sesuatu yang ingin dimintanya." Xiao Yi mendorong lembut bahu Yang Mulia, matanya yang cerah itu berbinar tertimpa sinar lampu.
"Ini adalah malam pertamamu di aula Huangho, tentu saja kita harus merayakannya dengan melakukan sesuatu." Yang Mulia mencubit hidung Xiao Yi yang nampak menggemaskan.
"Melakukan apa Yang Mulia?"
"Melakukan sesuatu yang menyenangkan."
"Jika bersama yang Mulia, semuanya selalu menyenangkan, bahkan jika hanya saling memandang saja pun rasanya sangat menyenangkan."
"Benarkah?" yang Mulia mengernyit dahi, menatap pada wajah manja yang kini sedang mendongak padanya.
"Ya.."Dengan hati-hati Xiao Yi menarik selimut tebal itu menutupi tubuhnya dengan tubuh Yang Mulia.
"Karena Yang Mulia sangat tampan..." Bisik Xiao Yi setengah mendesah.
ang Mulia tak tahan untuk tidak ******* bibir yang seranum apel itu, di ciumnya sampai Xiao Yi terengah-engah.
"Yang Mulia...aku sedang hamil besar."Xiao Yi memperingati Yang Mulia yang sangat bersemangat.
"Apakah kalau sedang hamil besar, aku tak boleh menciummu?"Tanya Yang Mulia sambil menarik bibirnya dengan muka masam.
"Tentu saja boleh Yang Mulia. hanya saja yang Mulia sedang menghimpit perutku."Xiao Yi meringis, paha yang mulia berada tepat diatas perut Xiao Yi tanpa Yang Mulia sadari karena terbawa suasana.
dengan reflek, ditariknya kakinya itu, tersenyum malu-malu pada sang istri karena kecerobohannya yang bersikap telalu bersemangat.
"Aku bahkan menjadi lupa diri kalau permaisuriku ini sedang mengandung."Keluhnya.
"Tidak apa-apa Yang Mulia kita bisa melakukannya dengan perlahan..."Xiao Yi tersenyum pada Yang Mulia, sebagai seorang istri dia tak ingin kehilangan momen untuk tetap melayani suaminya itu.
"Tapi...aku mungkin harus sedikit bersabar, sampai kamu melahirkan." Yang Mulia telentang dan mengatur nafasnya.
XIao Yi beringsut meletakkan dagunya di atas dada Yang Mulia.
__ADS_1
"Apakah Yang Mulia sanggu bersabar sampai 5 bulan ke depan?"
"Kenapa 5 bulan? bukankah kamu akan melahirkan 3 bulan lagi?" Yang Mulia meletakan kedua tangannya di bawah kepalanya dan memandang wajah istrinya yang sedikit lebih gemuk itu.
"3 bulan lagi aku akan melahirkan anak-anak kita, tapi 2 bulan kemudian baru Yang Mulia bisa menyentuhku." Kata Xiao Yi dengan paras menggoda.
Yang Mulia menaikkan alisnya, dia baru menyadari setelah melahirkan, istrinya itu tidak bisa melayaninya sebelum pulih sekali.
"Kalau begitu, aku harus mempergunakan waktu sebaik mungkin." Yang Mulia menarik wajah Xiao Yi mendekat padanya, lalu tangannya mengait leher Xiao Yi dengan penuh gairah.
Xiao Yi tertawa di perlakukan seperti itu, sungguh dia sangat merindukan Yang Mulia memeluknya. Beberapa minggu belakangan ini mereka berdua terbeban oleh berbagai masalah kerajaan. Memikirkan banyak taktik dan strategi dalam menangani rencana jahat ibu suri dalam menggulingkan pemerintahan Raja Yan Yue.
Mereka berdua melakukannya dengan baik, segalarencana-rencana kecil pengecoh yang di buat ibu suri dan antek-anteknya bahkan bisa diredam sebelum hari penobatan tiba, berkat semua catatan yang diberikan oleh Jiu Fei.
Dan Yang terpenting pada saat penobatan permaisuri, meskipun tidak berjalan mulus dan terselesaikan sampai akhir, tapi pada saat itulah yang terpenting, ibu suri telah membongkar rencananya sendiri di depan orang banyak.
Mereka tidak perlu melakukan pengadilan untuk mencari bukti menjerat ibu suri tapi, ibu suri sendirilah yang menggali lobang untuk dirinya sendiri.
"Yang Mulia..."Xiao Yi tak bisa menahan diri untuk membalas setiap cumbuan Yang Mulia, kerinduannyapun tak terbendung untuk menikmati kehangatan yang ditawarkan Yang Mulia.
Tangannya menggelayar menyusuri leher hingga wajah yang Mulia, membuat raja muda itu seperti di panggang api.
Xiao Yi tahu, kelelahan jiwa dan raga Yang Mulia bisa di lepasnya dengan memberikannya apa yang dibutuhkan oleh raja tampan itu.
Ya...Yang Mulia sekarang membutuhkan cinta darinya, membutuhkan dirinya memberikan seluruh kehidupannya. Sebagai permaisuri dan sebagai istri.
"Aku akan mendampingimu sepanjang hidupku..." Bisik Xiao Yi pada suaminya yang bahkan tak mendengar lagi suara Xiao Yi karena diburu nafasnya sendiri.
Malam merayap naik, dua orang itu merayakan kemenangan mereka di dalam istana Huangho dengan cara yang luar biasa.
(Ternyata pihak NT meminta Crazy UP untuk novel ini dilanjutkan sampai akhir minggu ini...😅 Okelah, author coba menulisnya, sampai part-part ekstra, ya...jangan bosan sampai minggu ini, UPnya tiga kali🤣🤣 lope-lope my readers)
Jangan lupa Vote dan likenya untuk semangat crazy upðŸ¤ðŸ¤
__ADS_1