
Xiao Yi memeluk erat Yang Mulia, betapa perasaan tenang sekaligus lega itu membuatnya tak bisa lagi menahan isaknya. Yang Mulia menjatuhkan badannya di sebelah Xiao Yi dan memeluk gadis itu tak kalah erat.
Yang Mulia mencium rambut setengah basah gadis itu berkali-kali. Tempat mereka berbaringpun menjadi lembab, tapi mereka benar-benar tak perduli. Kepala Xiao Yi menyusup di dada Yang Mulia, rasanya begitu tenang mendengar degup jantung laki-laki yang sekarang sepenuhnya di cintainya.
"Menjadi istri seorang raja itu, bukan hal yang mudah. Aku tak bisa menjanjikan hidup yang tenang dan tanpa gelombang. Semua bisa saja menjadi berbahaya dan seperti di neraka." Kata Yang Mulia lagi. Matanya menerawang di atas kepala gadis itu.
"Tapi, satu hal yang bisa ku janjikan padamu, Chenxing...aku akan melindungimu di neraka manapun yang harus kita lalui. Aku akan menggendongmu melewati bara api, jika harus.
Selama kamu percaya dan mencintaiku, aku tak akan pernah meninggalkanmu."
Xiao Yi semakin membenamkan kepalanya di dada Yang Mulia yang terbuka itu. Meringkuk di sana seperti bayi yang mencari kehangatan.
"Bisakah kau berjanji, untuk tidak akan meninggalkanku?" tanya Yang Mulia, lembut.
"Aku akan memegang tanganmu, kemanapun kamu pergi Yang Mulia, kemanapun..." Jawab Xiao Yi, menarik tangannya pelan-pelan, jari-jari menempel di kulit dada Yang Mulia. Seolah berusaha menangkap degup jantung Yang Mulia.
"Kau ingat, Chenxing...di rumah Xiuxi aku pernah berkata, seorang raja adalah singa yang kesepian." Yang Mulia membelai rambut Xiao Yi yang mulai mengering itu.
Xiao Yi menganggukkan kepalanya, di dalam dekapan Yang Mulia.
"Banyak yang mencintaiku, tapi tak kurang banyak yang ingin menjatuhkanku ke jurang paling curam. Kekuasaan yang terlalu tinggi selalu berbahaya untuk dipegang, bahkan mengancam siapapun yang terlalu dekat denganku."
Xiao Yi mendengarkan tanpa suara,
"Kadang aku berfikir, mungkin yang terbaik adalah berjalan sendiri selama sisa hidupku. Tapi, secara manusia aku tak bisa menolak perasaanku untuk menginginkanmu.
Bagi orang sepertiku, mencintai hampir seperti memegang sisa daun yang terbakar, saat aku berusaha menggenggamnya, dia kadang hancur ditelapak tanganku.
Sebesar apapun aku mencoba, kadang aku gagal mempertahankannya supaya tetap utuh."
Yang Mulia menghela nafasnya yang terasa sesak.
__ADS_1
"Aku kehilangan Jiu Fei, karena aku ingin membawanya ke tempat tertinggi bersamaku."
Xiao Yi terdiam, nama Jiu Fei terasa begitu dalam di sebut oleh Yang Mulia, sampai-sampai Xiao Yi meremang mendengarnya.
Entah perasaannya yang begitu dalam pada perempuan itu ataukah karena penyesalan yang begitu sulit di ungkapkannya.
Xiao Yi tidak cemburu, hanya saja sedikit iri, bagaimana Yang Mulia telah mencintai gadis itu hampir di separuh perjalanan hidupnya.
Cinta seperti itu, bagaimana mungkin dia bisa menyainginya.
"Aku mencintainya, dulu...dulu sekali! Saat dia begitu yakin menyelamatkan hidupku di lereng gunung Yanshan. Saat dia menggunakan punggungnya menahan anak panah yang terarah padaku."
Sekarang Xiao Yi meringis, mendengarkan cerita Yang Mulia. Hatinya terasa tertusuk duri, akankah rasa yang sama akan dirasakan Yang Mulia jika dia mengisahkan tentang bagaimana besarnya rasa sayangnya dulu pada seorang Qian Ren?
"Aku jatuh cinta padanya, saat dia menggunakan pakaian pelayan menyusup ke dalam kemahku, membawa sebaskom air untuk membersihkan badanku seusai perang di perbatasan Niangxi. Aku jatuh cinta padanya, saat dia mendampingiku, melewati kesepian di medan pertempuran. Aku tidak akan bohong padamu, Chenxing bahwa aku pernah begitu mencintainya dan mengira dia adalah wanita yang pertama dan terakhir dalam hidupku."
Begitu banyak kata cinta di ucapkan Yang Mulia, membuat Xiao Yi memejamkan matanya kuat-kuat.
"Tapi cinta lama itu hanya menyisakan rindu dendam dan penyesalan, tak mungkin memaksa kembali sesuatu yang tak pernah bisa pulang. Tak mungkin mengharapkan, sesuatu yang telah hilang." Suara getir itu menjadi terasa lepas.
"Aku hanya tak ingin mengulangi kesalahan yang sama. Membuatku kehilangan orang yang sangat ku cintai. Aku sadar kalian adalah orang yang berbeda, karena itu tidak ada hal yang harus kau takutkan jika suatu saat aku mengingat Jiu Fei maka aku akan meninggalkan Chenxing. Aku mungkin tak akan pernah bisa melupakannya sebagai orang yang pernah ada dalam hidupku. Tapi mencintaimu adalah pilihan bagiku. Aku telah memilih untuk mencintaimu sepanjang sisa hidupku." Yang Mulia meraih dagu Xiao Yi yang menatapnya nanar, dalam perasaan yang tak terselami.
"Aku memilih jujur padamu sekarang, Chenxing. Sebelum kamu mendengar banyak hal ke depan yang akan membuatmu meragukan aku." Raut wajah Yang Mulia begitu tenang.
Xiao Yi yang setengah mendongak, membiarkan Yang Mulia membelai dagunya lembut.
"Sekarang bisa kah kamu menceritakan kepadaku, sebesar apa cintamu dulu kepada Qian Ren?"
Pertanyaan Yang Mulia itu begitu lembut, hampir tak terdengar tapi seperti guntur di telinga Xiao Yi.
Sungguh, dia tak pernah menyangka Yang Mulia tahu tentang hubungannya dengan Qian Ren di masa lalu.
__ADS_1
Dan, Xiao Yi begitu heran, mengapa Yang Mulia begitu enteng seolah tak tahu apa-apa, membiarkannya bertemu Qian Ren bahkan sampai dua kali di dalam istana ini?
"Apakah Yang Mulia baru tahu, ataukah sudah lama tahu? Apakah Yang Mulia hanya mengujinya ataukah Yang Mulia mempunyai maksud tertentu?" semua pertanyaan itu berputar-putar di kepala Xiao Yi.
"Sejak kapan Yang Mulia tahu tentang Qian Ren?" tanya Xiao Yi perlahan.
"Biarlah hanya aku yang tahu sejak kapan tahu tentang kebenaran itu. Itu tidak penting sama sekali. Aku hanya ingin tahu sebesar apa kamu mencintainya?" nada suara yang tanpa penekanan itu, tetap saja terasa begitu menuntut di telinga Xiao Yi.
"Aku mencintai Qian Ren, tidak sebesar Yang Mulia mencintai Jiu Fei..." Sahut Xiao Yi dengan suara bergetar. Kecemburuan yang aneh itu mengambang meskipun Xiao Yi tak ingin mengakui pada hatinya tapi sungguh tak bisa disembunyikan, rasa cemburu pada masa lalu yang bahkan tak dia tahu.
"Aku mencintai Qian Ren, saat aku mempercayainya setengah mati, bahwa dia pantas untukku! Aku mencintai Qian Ren, saat aku berfikir semua kata-katanya bisa ku pegang. Sayangnya dia melepaskanku, tanpa pernah membuatku merasa sebagai orang yang layak diperjuangkan."Suara Xiao Yi terasa begitu hambar tetapi tajam.
"Aku telah berhenti mencintai Qian Ren, Yue...bahkan aku bisa berhenti tanpa harus belajar lagi. Hampir tanpa merasa patah hati. Karena aku telah jatuh cinta dengan sebenar-benarnya pada orang lain."
Mata Yang Mulia tak berkedip mengawasi gadis di pelukannya itu, mendengarkan tanpa menyela.
"Aku jatuh cinta bukan pada Yang Mulia..."
Ucap Xiao Yi yakin, membuat Yang Mulia menegang.
"Aku telah jatuh cinta pada Yue..." kalimat terakhir itu, membuat Yang Mulia tak bisa menahan diri untuk tidak mencium bibir Xiao Yi dengan rasa haru. Rasanya, dia ingin menelan semua perkataan cinta dari bibir gadis itu sampai tak bersisa.
Mereka saling membalas menawarkan kehangatan, menumpahkan lagi semua perasaan yang selama ini mereka pendam. Membuyarkan selaksa kesedihan yang terdalam.
Menyimpan masa lalu untuk diri sendiri memang kadang adalah yang terbaik, tetapi jujur tentang masa lalu adalah sebuah keberanian.
...Yang suka dengan novel ini, kasih dong VOTE, KOMEN dan LIKE di bawah, please...please...โค๏ธ...
...Author sayaaaang banget dengan kalian๐คญ...
...๐๐๐...
__ADS_1
...Dukungan, komen dan hadiahnya adalah semangat author terus menulis ๐โบ๏ธ...