SELIR PERSEMBAHAN

SELIR PERSEMBAHAN
EPISODE 48 AKU SANGAT MENYUKAIMU


__ADS_3

Yang Mulia Yan Yue menggandeng tangan Xiao Yi tanpa melepasnya. Tapi sekalipun dia tidak menoleh pada orang yang digandengnya.


Mereka berjalan membelah keremangan malam melewati pinggiran taman Shenhua, menyelinap di antara pohon-pohon meihua dan persik yang nampak menjulang dalam cahaya lampion sisa festival Yishu, melewati beberapa bangunan yang ada di istana Weiyan yang sudah sepi hanya penjaga yang berdiri di beberapa sudut tempat.


Beberapa kali mereka berpapasan dengan pengawal patroli dua tiga orang yang kadang-kadang berlalu lalang, yang segera memberi hormat dengan tergesa ketika menyadari kehadiran Yang Mulia.


Udara musim semi memang selalu hangat, meskipun sudah begitu larut.


Tapi jemari Xiao Yi mengkerut terasa dingin di genggaman tangan Yang Mulia Yan Yue.


Yang Mulia tiba-tiba berhenti. Xiao Yi yang berjalan sambil mengawasi kakinya karena mengikuti langkah lebar Yang Mulia tak menyangka Yang Mulia menghentikan langkahnya mendadak, menubruk punggung kekar itu.


Yang Mulia sigap berbalik dan menangkap badan Xiao Yi, hal ini tentu saja membuat Xiao Yi tergagap karena kaget.


Rombongan kecil yang tak jauh dari mereka, kasim chen, Chu Cu dan pengawal pribadi Yang Mulia ikut menghentikan langkah.


Pengawal Jian mendekati Yang Mulia dengan waspada, cemas jika telah terjadi sesuatu yang akan mengancam jiwa Yang Mulia.


"Ada apa Yang Mulia?" pengawal Jian bertanya dengan tertunduk, menyembunyikan wajahnya yang memerah karena menyaksikan Yang Mulia sedang memeluk Xiao Yi.


Xiao Yi menarik tubuhnya dengan malu-malu, otot-otot dada yang mulia mengingatkannya ketika menunggangi satu kuda ke rumah Xuixi di pinggir sungai Sheng, beberapa bulan yang lalu.


Tapi sensasi yang dirasakannya malam ini lebih dahsyat, debaran dadanya seperti ombak yang sedang pasang.


Yang Mulia tidak menyahut, dia melepaskan mantel yang dipakainya dan mengenakannya kepada Xiao Yi.


Semua di lakukannya tanpa bicara. Sementara Xiao Yi sendiri seperti orang linglung, menuruti begitu saja. Dia tidak tahu, kenapa dia menjadi begitu patuh terhadap apapun yang dilakukan oleh Yang Mulia kepadanya.


Kemudian, Yang Mulia mengandeng lagi tangannya, tapi bagi tubuh ramping Xiao Yi, dia merasa terseret-seret mengikuti langkah yang kelihatan tak sabar itu.


Mereka tiba di depan istana Rongyu, kediaman Yang Mulia.


"Yang Mulia..." Xiao Yi memanggil dengan gugup dan menarik tangannya dari genggaman Yang Mulia, kakinya tersandung pada sebuah batu di depan pintu gerbang istana Rongyu itu.

__ADS_1


Yang Mulia Yan Yue berbalik dengan cemas, ketika di lihatnya Xiao Yi meringis.


"Kamu tidak apa-apa, Chenxing?" tanya Yang Mulia sambil mendekat.


"Tidak apa-apa..." Jawab Xiao Yi sambil kembali berdiri tegak. Tapi raut wajahnya tampak tidak seperti yang dikatakannya, alisnya mengkerut, sepertinya kakinya benar-benar sakit.


Yang Mulia mendekat, lalu tanpa aba-aba dia membungkuk rendah, tiba-tiba saja tangan kirinya melingkari pinggang Xiao Yi kemudian lengan kanannya menyusup kebelakang gaun Xiao Yi pada lekukan lutut gadis itu.


Dalam sekejap tubuh ramping Xiao Yi sudah di dalam gendongan Yang Mulia Yan Yue. Xiao Yi terpekik kecil karena tidak menyangka kejadian itu begitu cepat. Tiba-tiba saja dia sudah di dalam pelukan Yang Mulia. Lengan kanannya tanpa sadar melingkari leher Yang Mulia Yan Yue, karena gerakan reflek.


Dalam keremangan wajah mereka beradu pandang, mata Yang Mulia berkilat layaknya seekor serigala yang sedang kelaparan. Sepertinya, semua perasaannya tumpah ruah ketika mata mereka saling memandang tak berkedip. Nafas Yang Mulia yang tidak teratur terasa hangat di wajah Xiao Yi.


Untung saja hanya ada cahaya lentera dari pinggir kiri kanan gerbang, sehingga wajah Xiao Yi yang bersemu merah tidak tampak kentara.


Dua orang pengawal di depan gerbang, segera menundukkan wajahnya, seolah tidak melihat apa-apa.


Begitupun Kasim chen dan rombongan kecil yang mengikuti dari belakang sedari tadi segera dengan salah tingkah membalikkan badan termasuk Chu Cu.


Kasim Chen dan Pengawal Jian saling melirik, sesungging senyum tampak mereka tahan di sudut bibir.


Kasim Chen sampai menahan nafas, hampir tenggelam dalam rasa haru, begitu lama dia melayani Yang Mulia Raja sejak raja itu masih berumur sepuluh tahun.


Dia sungguh sangat tahu perjalanan hidup junjungannya itu, termasuk penderitaannya beberapa tahun di belakang ini.


Patah hati yang hampir membuat Yang Mulia Yan Yue kehilangan akal sehatnya.


Dan sekarang, ada seorang gadis yang berhasil membuat ratusan bahkan ribuan malam kesepian Yang Mulia menjadi berwarna, senyumnya yang lama menghilang menjadi merekah, sungguh gadis ini pantas mereka jaga dengan baik jika demikian.


Yang Mulia melangkah melewati gerbang itu, dan sampai di depan pintu kediaman raja. Pengawal penjaga pintu yang berdiri persis di kiri kanan pintu segera membungkuk dan membuka pintu.


Yang Mulia melangkah masuk dengan langkah yang lebar. Jubahnya berkibar di hempas angin dari ayunan kakinya. Sementara Xiao Yi bergelung di leher Yang Mulia, matanya tak lepas dari wajah yang begitu dekat itu. Suara nafas Yang Mulia bahkan terdengar jelas olehnya.


"Yang Mulia..." panggil Xiao Yi, dengan tergagap karena gugup.

__ADS_1


"Saya sudah tidak apa-apa." lanjutnya setengah berbisik. Memohon yang mulia untuk menurunkannya, meskipun di hatinya sebenarnya tidak ingin.


Yang Mulia seolah tak mendengar, dia terus saja berjalan membawa tubuh Xiao Yi sampai ke tempat tidurnya yang mewah dan besar dengan seprai dari sutra putih yang lembut.


Lalu dengan perlahan diturunkannya Xiao Yi dari pelukannya, dan di baringkannya di sana.


Xiao Yi melepas tangannya dari leher Yang Mulia matanya tak berkedip memandang Ke arah mata Yang Mulia.


Bukan pertama kali dia berada begitu dekat dengan Yang Mulia, bahkan di malam pernikahannya dia sudah di peluk Yang Mulia dalam keadaan mabuk. Tidak hanya sekali tapi dua kali dengan di istana Chue Lian.


Tapi, dua kejadian itu sungguh dalam situasi berbeda, pada saat itu Xiao Yi tak memiliki perasaan apapun pada Yang mulia.


Tapi Malam ini, dia tidak bisa berbohong, Xiao Yi merasa seperti orang yang sedang mabuk, dia merasa mabuk ingin di sentuh oleh Yang Mulia.


Yang Mulia merasakan tatapan pasrah gadis yang berbaring di ranjangnya itu, begitu dalam dan tak terselami. Entah apa Yang di inginkan olehnya, apakah sama dengan hasrat yang kini sedang coba di bendungnya.


"Chenxing..." Desah Yang Mulia, sambil memiringkan tubuhnya mendekati badan Xiao Yi yang terbaring kaku di atas sutra putih itu.


"Yang Mulia..." suara Xiao Yi tak kalah lemahnya, dia seperti kehilangan kekuatan bahkan untuk mengeluarkan suaranya.


"Panggil aku, Yue..." Yang Mulia menyusupkan jemarinya di antara rambut di leher gadis itu.


"Yue..." Xiao Yi menelan ludahnya dan rasanya terhenti di tenggorokannya, tangan itu membuat tubuhnya terasa bergetar keras.


"Chenxing, aku sangat menyukaimu," bisik Yang Mulia dengan suara serak, jemarinya naik dari leher Xiao Yi menjalari telinga Xiao Yi, begitu lembut dan membuat Xiao Yi merinding.


...Yang suka dengan novel ini, kasih dong VOTE dan LIKE di bawah, please...please...❤️...


...Author sayaaaang banget dengan kalian🤭...


...🙏🙏🙏...


...Dukungannya untuk semangat author terus menulis 🙏☺️...

__ADS_1


...Terimakasih readers tersayang yang sudah mengikuti kisah Selir Persembahan🙏☺️...


...Nantikan episode berikutnya❤️...


__ADS_2