
Permaisuri Yi yang anggun duduk di atas kursi keagungannya di aula Qing Ren.
Hari ini pertama kalinya dia berada di dalam aula itu, sebagai seorang permaisuri.
Di kursi samping kiri kanan di depannya berderet beberapa orang Selir dari Yang Mulia Yan Yue.
Di kursi itu hanya ada 6 orang selir saja.
Selir Su Nuo sudah di ceraikan oleh Yang Mulia Yan Yue setelah peracunan Selir Chie Yuan beberapa bulan yang lalu.
Selir Yuan juga telah di kembalikan ke propinsinya atas permintaan dari selir Yusn sendiri, Yang Mulia telah mengabulkan surat perceraian untuk selir Yuan.
Hari ini, Xiao Yi selaku permaisuri di hadapkan pada sidang pertamanya di dalam istana harem, bertempat di aula Qing Ren.
Dia harus memberi hukuman pada dua orang selir, yang ayahnya berkomplot dengan ibu Suri merencanakan pengkhianatan pada raja.
Yang Pertama ada selir Xiang Meo Puteri dari gubernur Xiang yang menguasai wilayah Handong dan yang kedua selir Xian Wei, puteri ketua Xi bing dari wilayah klan Xian.
Mereka berdua duduk di tempat khusus, sementara 4 selir yang lain, Selir Lin Qin dari Daoting, selir Shi Niang dari klan Shi Je, Selir Bei Feyang dari klan Ranbei dan selir Liao Luo dari klan Liao berada di terpisah menyaksikannya.
"Saya hari ini duduk di tempat yang berbeda dari kalian bukan karena lebih tinggi, sebagai istri seorang raja kita semua sejajar, hanya saja hari ini saya di bawah perintah Yang Mulia menyidangkan selir Mei dan Selir Wei atas kejahatan yang dilakukan oleh orang tua mereka dalam hal ini gubernur Xiang dan ketua Xian." Suara Xiao Yi lembut namun tegas.
Selir Mei dan Selir Wei saling mencuri pandang dengan wajah yang ketakutan.
"Sebagai seorang istri, kita harus menjaga martabat suami kita. Saat suami kita akan di celakai oleh orang lain, bukankah kita punya hati untuk melindunginya. Tapi apa yang di tunjukkan oleh selir Mei dan selir Wei, dengan sepengetahuan mereka, pengkhianatan itu terjadi. Apakah ini tindakan yang bisa di toleransi?" Xiao Yi melihat kepada Selir Mei dan Selir Wei yang menundukkan wajah mereka dengan raut merah.
"Sekarang, saya memberi kesempatan kepada kalian untuk membela diri sebelum saya mempertimbangkan apakah kalian masih layak di bawa ke depan Yang Mulia untuk mencari pengampunan." Xiao Yi memberikan kesempatan mereka berbicara.
"Saya...saya tidak tahu Yang Mulia permaisuri, saya sungguh tidak tahu..." Selir Wei meratap ketakutan.
__ADS_1
"Bagaimana mungkin kamu tidak tahu?"
"Saya tidak pernah keluar dari istana harem, saya tidak tahu apa-apa." Sahut selir Wei.
Xiao Yi berdiri dari tempat duduknya,
"Apakah kamu tahu, selir Wei...harga sebuah pengkhianatan dari ayahmu? Dia di hukum dengan berat, bahkan dia tidak lagi menjabat sebagai ketua klan di Wilayah selatan, setelah festival musim dingin, ayahmu akan menerima hukumannya. Lalu apakah sebagai anak kamu tak mempunyai perasaan apa-apa?" Pertanyaan Xiao Yi membuat selir Wei gemetar.
Dia sangat tahu rencana penggulingan itu, karna dia sendiri pun adalah kaki tangan ibu suri.
Rasa dendam, tidak pernah mendapatkan perhatian dari raja membuat selir Wei bersedia melihat Yang Mulia dikhianati. Paling tidak dia puas melihat penderitaan Yang Mulia.
"Aku...aku...aku tidak tahu." Selir Wei menundukkan kepalanya dalam-dalam.
"Aku tahu semua rencana ayahku!" Tiba-tiba selir Mei mengangkat wajahnya, dia tidak menunjukkan takut apalagi penyesalan.
"Aku bersedia bertaruh nyawa demi melihat kehancuran Yang Mulia dan juga melihatmu mati..."
"Selir Mei, apakah kau tahu resiko dari semua ucapanmu itu?" Xiao Yi menatap tajam pada selir Mei, lurus sampai ke balik bola mata yang tak berkedip menatapnya.
"Aku, tidak takut, Selir Yi, bahkan sampai hari ini aku menganggapmu hanyalah seorang selir persembahan seperti kami, bukan seorang permaisuri." Dalam keadaan bersimpuh selir Mei mengucapkan kata-kata itu, dendam membara seperti api yang menjilat-jilat di matanya.
Xiao Yi tak bergeming, dia tidak marah, tidak menunjukkan ekspresi apapun kecuali menatap pada selir Mei.
"Kenapa kamu ingin membuat suamimu celaka?" Tanya Xiao Yi kemudian, setenang telaga.
"Karena dia tidak pernah benar-benar menjadi suami bagiku. Dia hanyalah seorang raja yang memberi hidupnya pada satu wanita tanpa memikirkan kami yang juga adalah istrinya.
Semua orang menyebut kami selir! Tapi kami bahkan tak tahu sebenarnya kami ini apa? pajangan? hiasan? sandera yang di kurung? bahkan kami lebih rendah dari dayang yang masih bisa mempunyai pasangan jika mereka menemui pilihan! Seperti itu yang yang di sebut isteri?" Suara selir Mei yang berapi-api membuat ruangan itu menjadi hening.
__ADS_1
"Tanyakan pada mereka, selir Yi...tanyakan pada mereka semua!" Tangan Selir Mei terangkat lurus mengitari ruangan di mana empat selir lainnya duduk dengan wajah menunduk, diam seribu bahasa.
"Apakah mereka benar-benar bahagia menjadi selir Yang Mulia? Apakah mereka senang di limpahi dengan semua kemewahan tanpa pernah di sentuh oleh Yang Mulia? Tanyakan pada mereka, seperti apa rasanya, mencintai orang yang disebut suami tapi sedikitpun tidak pernah dilihat olehnya? Tanyakaaaan!" Selir Mei sekarang berdiri tanpa rasa takut, seorang kasim dan pengawal segera maju hendak memaksa selir Mei kembali berlutut karena melihat sikapnya yang keterlaluan.
Tapi, Xiao Yi memberi isyarat kasim dan pengawal itu untuk mundur,
"Biarkan dia bicara, aku akan mendengarnya..." Kata Xiao Yi, begitu tenang, tak terpengaruh dengan sikap selir Mei yang begitu provokatif.
Di depan seorang permaisuri utama, sesungguhnya tidak diijinkan ada sikap seperti itu, bahkan sebenarnya sudah melanggar batas. Tapi Xiao Yi membiarkannya.
"Yang kami terima sesungguhnya adalah penghinaan. Tinggal di dalam istana harem ini sebagai bahan lelucon dan tertawaan semua orang di Yanzhi." Selir Mei menarik sudut bibirnya, tetsenyum kecut.
"Kamu, tidak pernah merasakannya, kamu tidak akan pernah tahu rasanya, selir Yi...karena sejak pertama kali kamu datang ke istana ini, kamu telah menyihir mata Yang Mulia untuk hanya melihat kepadamu." Selir Mei mengakhiri kalimatnya itu dengan sebuah tudingan penuh kecemburuan.
Xiao Yi mengedarkan pandangannya ke semua selir yang berada di tempatnya duduk.
"Apakah aku boleh tahu bagaimana rasanya? Apakah kalian mempunyai perasaan yang sama seperti yang dirasakan oleh Selir Mei, mari katakan dengan jujur. Karena sebuah hukuman tidak pantas diberikan pada orang yang ternyata adalah korban. Katakan padaku, untuk membuatku tahu, tindakan seperti apa yang membuat kalian semua akan merasa adil." Suara Xiao Yi yang lugas dan tenang itu menggema di dalam aula Qing Ren.
(Bagaimanakah nasib para selir selanjutnya, sebijak apakah selir Yi dalam menindaklanjuti istana harem yang penuh dengan kecemburuan itu?)
...Dukungan dan VOTEnya author tunggu😅...
...Jangan lupa KOMEN dan LIKE di bawah, please...please...❤️...
__ADS_1
...Biar author tambah rajin UP...