
Xiao Yi melepaskan kain celemek penutup bagian depan gaunnya.
Lalu senyumnya mengembang, memandang hasil karyanya pagi ini.
Di dalam dua buah mangkok porselen itu, nampak sup ayam dengan kuah kuning kecoklatan. Nampak menggugah selera.
Xiao Yi telah membuatkan sup khusus untuk kesehatan yang akan di bawanya ke wisma Yangjie.
Sup itu berbahan dasar ayam jantan muda yang di rebus menggunakan kaldu jamur, di tambahkan ginseng kering, kurma merah, goji berry kering, biji bunga teratai dan jamur shitake segar. Bumbunya pun hanya jahe dan bawang putih. Tapi Sup itu sangat berkhasiat memulihkan badan yang sedang kurang sehat.
Ibu Xiao Yi mengajarkannya membuat sup ini karena ayah Xiao Yi rentan sakit saat pergantian musim.
Dan Xiao Yi sudah sangat mahir membuatnya.
Selir Yuan adalah teman satu-satunya di dalam istana harem ini, tentu saja Xiao Yi sangat menyayanginya.
"Chu Cu..."
"Ya, Nyonya..." Chu Cu nenyahut sambil mendekati Xiao Yi yang berdiri menghadap mangkok porselen di atas meja.
"Antarkan satu mangkok sup ini kepada yang Yang Mulia di wisma Xingwu, aku akan mengantarkan sup yang lainnya kepada selir Yuan ke wisma Yangjie."
Xiao Yi teringat kepada Yang Mulia, yang sekarang mungkin masih belum bangun dari tidurnya.
Hari masih pagi, matahari musim semi yang hangat baru menanjak dari timur. Xiao Yi berjalan dengan senyum riang melewati pinggir taman, di belakangnya seorang pelayan dapur mengiringinya, membawa rantang dari kayu mahoni, di dalamnya mangkok porselen berisi sup itu di letakkan.
Chu Cu juga berjalan hampir tepat di sampingnya membawa rantang yang sama.
"Nyonya, apakah tidak sebaiknya nyonya mengantarkan sebentar sup ini kepada Yang Mulia?" Tanya Chu Cu, hatinya tak kalah senangnya melihat wajah bahagia majikannya pagi ini.
Tadi malam sebelum Yang Mulia datang, majikannya ini sangat muram dan sedih. Tapi sekarang wajahnya bercahaya karena bahagia.
Suasana hati nyonya kesayangannya ini sungguh berubah drastis sekarang berkat kehadiran Yang Mulia.
"Aku tidak mau membuatnya terlambat ke aula guangli..." Sahut Xiao Yi sambil tersenyum kecil.
"Membuat yang mulia terlambat?" Chu Cu bertanya dengan bingung.
Xiao Yi tertawa dalam hati. Tentu saja Yang Mulia akan terlambat jika bertemu lagi dengannya pagi ini, karena saat mereka saling bertatapan rasanya berat untuk saling meninggalkan.
Dan Xiao Yi tak bisa menjamin sup herbal yang di buatnya untuk Selir Yuan dapat sampai dalam keadaan hangat, karena mungkin saja Xiao Yi pun tak punya kekuatan menolak untuk tinggal bersama Yang Mulia.
__ADS_1
Xiao Yi menghentikan langkahnya di depan wisma Yangjie dan berpaling kepada Chu Cu.
"Aku akan menunggumu di Yangjie, antarkan saja sup itu kepada Yang Mulia. Katakan pada Yang Mulia untuk memakannya sebelum menghadiri pertemuan ke aula Guangli. Aku telah memasak sendiri sup ini dengan tanganku." Pesan Xiao Yi.
"Baik Nyonya..." Xiao Yi menjawab dengan patuh dan segera melanjutkan langkahnya menuju Wisma Xingwu yang hanya berselisih beberapa bangunan dengan wisma Yangjie.
Xiao Yi dengan pelayan muda dari dapur itu melangkah menuju gerbang wisma Yangjie.
"Siapa namamu?" tanya Xiao Yi sambil tersenyum dan memperlambat langkahnya. Gadis muda berwajah tirus itu tampak agak terkejut, baru kali ini seorang nyonya mengajaknya berbicara dengan begitu ramah.
"Huanran nyonya..." Jawabnya. Xiao Yi menghentikan langkahnya dan mengernyit alisnya.
"Huanran? Namamu bagus sekali. Tentu orangtuamu berharap kamu menjadi gadis yang ceria dan percaya diri. Tapi ku perhatikan wajahmu itu muram dan gelisah. Namamu menjadi tidak cocok dengan sikapmu." kata Xiao Yi dengan mata terpicing tapi senyumnya tetap merekah.
"Maafkan saya, nyonya..." Huanran membungkuk dengan muka yang ketakutan, tangannya begitu gemetar memegang rantang yang sedari tadi di tentengnya. Keringatnya menetes di punggung tangannya yang sepertinya bekas luka bakar minyak.
Xiao Yi tersenyum lagi, pelayan muda ini begitu ringkih dan penakut. Hanya dibawa bicara seperti itu dia ketakutan luar biasa.
"Kamu tidak perlu minta maaf begitu, aku hanya heran saja. Namamu sangat tidak mencerminkan raut wajahmu." Xiao Yi menepuk bahu pelayan itu dengan lembut. Lalu melanjutkan langkahnya lagi memasuki teras Yangjie.
"Kamu berasal dari mana, Huanran?"
"Saya dari desa Shanpo, nyonya. Di bawah bukit Zhiesan." Jawab gadis itu.
Xiao Yi sebenarnya rindu untuk naik kuda membelah malam bersama Yang Mulia dan para pengawalnya itu, sayangnya Yang Mulia nampaknya tidak lagi menyuruhnya ke sana.
Mungkin saja dia hanya mengutus pengawal Jian atau pengawalnya yang lain.
Pengawal yang bertugas di wisma Yangjie membuka pintu, karena sepertinya kedatangannya sudah di tunggu.
Di dalam ruangan dengan ornamen yang sepertinya di dominasi warna biru muda itu, sudah ada selir Nuo dan selir Wei, mereka berdua duduk di pinggir tempat tidur selir Yuan. Sementara selir Yuan tampak duduk bersandar pada sebuah bantal empuk di tempat tidurnya.
Selir Nuo dan selir Wei segera berdiri menyambut kedatangan Xiao Yi.
"Salam jiejie..." Xiao Yi menekuk kakinya sedikit sambil meletakkan tangan di depan perutnya, memberi salam.
"Adik Yi, senang melihatmu..." Sapa selir Yuan dari tempatnya duduk dan hendak beranjak.
"Kakak Yuan, tidak perlu bangun. Maaf aku terlambat mengunjungimu." Xiao Yi mencegah Selir Yuan turun dari tempat tidurnya.
Wajah gadis itu agak pucat, sepertinya dia memang sedang tidak sehat.
__ADS_1
"Terimakasih sudah datang, selir Yi." Selir Nuo Nuo berucap sambil tersenyum hangat.
"Maafkan saya, kakak selir Nuo, saya tidak bisa bergegas pagi-pagi karena menyempatkan diri membuatkan sup untuk kakak Yuan..." sahut Xiao Yi.
"Senang sekali, selir Yi bersedia membuatkan sup untuk selir Yuan." Selir Nuo menyahut dengan ramah.
"Adik Yi, aku tidak enak telah merepotkanmu." Raut wajah Selir Yuan tampak agak menyesal.
"Tidak apa-apa, kakak...aku yang bersalah tidak tahu kalau kakak Yuan sedang dalam keadaan sakit."
"Adik Yi, aku baik-baik saja hanya demam biasa mungkin kelelahan setelah agak sibuk dengan dua festival minggu ini. Tapi tabib Guo telah membuatkan aku obat. Sekarang aku hanya perlu sedikit istirahat."
Xiao Yi memberi isyarat kepada pelayan Huanran untuk meletakkan rantang kayu yang di bawanya ke atas meja di pinggir tempat tidur selir Yuan dan mengeluarkan mangkok porselen bertutup yang berisi sup buatan Xiao Yi.
"Biar aku saja..." Selir Wei mengambil sebuah mangkok kecil dari atas meja dan menyendok sup itu. Kemudian menyerahkan kepada Selir Yuan.
"Terimakasih, baunya harum sekali. Beruntung sekali bisa mencicipi sup buatan adik Yi" Selir Yuan mencium aroma sup yang masih mengepulkan asap tipis itu.
"Aku akan membuatkannya lagi jika kakak Yuan menyukainya." Xiao Yi menyahut dengan mata berbinar.
Selir Yuan menyendok sup itu ke mulutnya dan berdecak dengan wajah riang.
"Ini sangat enak, adik Yi..." Selir Yuan menyendok lagi dengan wajah sumringah.
Saat menyendok yang ketiga kalinya, tiba-tiba wajah selir Yuan memerah, mangkok sup di tangannya terlepas, dia memegang tenggorokannya.
"Ada apa adik?" Selir Nuo terkejut dengan perubahan mendadak yang terjadi pada selir Yuan, begitupun Xiao Yi dan selir Wei.
Mereka bertiga menghambur memegang selir Yuan yang nampak memegang lehernya kesakitan.
"Sup ini beracun!" Selir Wei berteriak sambil memegang mangkok yang jatuh di paha Selir Yuan.
Xiao Yi terperangah, dan menghambur memeluk selir Yuan.
"Panggilkan tabib!" Selir Nuo berteriak dengan panik. Tiga orang pelayan di dalam ruangan itu termasuk Huanran, yang masih berdiri tegang segera berlari menghambur ke luar.
(Bagaimana nasib selir Yuan dan selir Yi, Nantikan episode selanjutnya dengan judul part "Racun Bunga Lili Es"π€π€π€π€)
...Yang suka dengan novel ini, kasih dong VOTE, KOMEN dan LIKE di bawah, please...please...β€οΈ...
...Biar author tambah rajin UPπβΊοΈ...
__ADS_1
...Author sayaaaang banget dengan kalianπ€...
...πππ...