
Chu Cu mendekat, dan mengambil buku itu. Saat dia membuka lembar pertama, tiba-tiba dia merasa helaan nafas di tengkuknya, hangat. Kepala Chu Cu menoleh ke belakang, dan dia tak bisa menghindari sebuah ciuman di bibirnya. Lengket, hangat dan memburu.
"Hufs..." Chu Cu mendelik, dia tak bisa menghindar, saat merasakan kedua lengan atasnya di pegang erat oleh Pengawal Jian.
Perasaan aneh menggelayar, dada Chu Cu terasa seperti akan meledak tapi dia sama sekali tidak menolak. Bahkan dalam keterkejutannya, matanya menjadi setengah terpejam.
Sesaat, mereka benar-benar berciuman, meski Chu Cu tak mengerti bagaimana membalasnya tetapi Chu Cu menikmatinya.
Perlahan bibir pengawal Jian menjauh, memaksa Chu Cu untuk membuka mata besar-besar.
"Maaf..."Ucap Pengawal Jian, berbisik parau, di sela nafasnya yang setengah tersengal.
"Oh..." Chu Cu bingung sendiri dengan permintaan maaf itu, dia sibuk menata jantungnya yang berdegup tak beraturan.
"Aku tak bisa menahan diri." Semburat merah menghias wajah pegawal Jian, cengkeraman di bahu Chu Cu melonggar.
Chu Cu tak menjawab dia hanya menunduk, memegang erat buku di tangannya dengan sedikit gemetar.
Dia tak pernah mengalami perasaan seaneh ini, merasa malu tetapi berharap pengawal Jian melakukannya lagi, menciumnya dan memeluknya.
"Apakah kamu keberatan?" Suara pengawal Jian terdengar bimbang dan cemas melihat Chu Cu yang tak berbicara apa-apa itu.
Chu Cu menggelengkan kepalanya pelan, tanpa mengangkat wajahnya.
Tiba-tiba pengawal Jian membalikkan tubuhnya, mendorongnya ke dinding hingga buku yang di pegang Chu Cu terjatuh ke lantai.
__ADS_1
Chu Cu melongo, ketika merasakan punggungnya merapat pada tembok yang dingin dan pengawal Jian mengurungnya tak bisa bergerak di sana.
"Chu Cu, aku akan menciummu lagi." Ucapnya dengan suaranya semakin parau saja, serupa sebuah peringatan, terdengar tegas.
Chu Cu melotot tak bergerak, punggungnya seakan terpaku saat detik-detik wajah pengawal Jian mendekat. Lalu, selanjutnya pengawal Jian menciuminya dengan liar, seakan itu adalah hal yang sangat lama ingin di lakukannya.
Chu Cu merasa hampir akan kehilangan nafasnya, tetapi dia pasrah, kedua tangannya mengepal di samping kiri kanan tubuhnya. Ciuman itu terasa lebih manis dari sebuah manisan tanghulu. Begitu memabukkan.
"Chu Cu...aku selalu memikirkan ini." tangan pengawal Jian menarik belakang leher Chu Cu membuat kepala Chu Cu mendonggak padanya, menahannya supaya tidak bergerak sementa dia m3lum4t bibir Chu Cu yang merah jambu itu tanpa ampun.
Jangankan menjawab, bergerakpun Chu Cu hampir tak punya ruang. Pengawal Jian begitu dominan, tetapi Chu Cu menikmatinya.
Dengan nafas terengah pengawal Jian melepaskan ciumannya, tapi dia tak bergerak dari tempatnya, kepalanya menunduk karena tubuh mereka yang tak imbang, Pengawal Jian terlalu tinggi di banding tubuh mungil Chu Cu.
"Chu Cu."
"Kamu cantik sekali." Bisik Pengawal Jian dengan mata nanar.
"Aku tak bisa mengungkap betapa senangnya hati ini setiap melihat wajah cantik ini." Pengawal Jian menelan ludahnya, membasahi kerongkongannya yang terasa kering.
"Senyummu itu, membuat aku tak bisa memejamkan mataku dengan benar. Rasanya sulit menjauh, sulit mengusir bayanganmu. Jika kamu itu salju, maka aku adalah musim dingin yang tak bisa jauh darimu. Dari mimpi kamu datang, dari lamunan kamu mengikutiku. Aku kehilangan kesadaran ketika berhadapan denganmu." Pengawal Jian mengucapkan kalimat demi kalimat itu dengan gugup yang kentara, bait puisi yang di hapalnya berminggu-minggu itu terpenggal aneh di sana-sini. Dia hanya ingin membuat Chu Cu terkesan padanya.
Chu Cu tak berkedip menatap wajah pengawal Jian, nafasnya mulai teratur.
"Apa itu puisi musim dingin dan salju?" Tanya Chu Cu akhirnya, terdengar canggung.
__ADS_1
Pengawal Jian tak menjawab, dia menggigit bibirnya, Chu Cu tahu jika itu adalah puisi yang di kutipnya dari sebuah buku saat menemani Yang Mulia Yan Yue di perpustakaan Istana.
"Aku menyukai puisi." Chu Cu berucap dengan suara yang di buat setenang mungkin.
"Tetapi..." Matanya tak berkedip menatap wajah Pengawal Jian.
"Aku lebih menyukai jika kamu terus menciumku." Lanjutnya dengan berani.
Pengawal Jian sejenak terpesona mendengar kalimat yang keluar dari mulut Chu Cu.
"Aku selalu menunggu kak Jian datang padaku, tak hanya memintaku sekedar menjadi kekasih. Aku bersedia bangun di sampingmu setiap pagi, mencuci bajumu, mengukuskanmu mantou saat cuaca dingin dan menyeduhkan teh hangat." Suata Chu Cu seperti tercekat.
"Kak Jian tidak perlu membacakan puisi untukku, membamdingkanku dengan bongkahan salju. Aku tidak main-main saat mengatakan bersedia menjadi istri kak Jian. Tetapi, bila kak Jian masih mengulur banyak waktu, aku bukan orang yang suka menunggu." Akhirnya semua uneg-uneg perasaan Chu Cu tumpah ruah. Dia merasa lelah, hanya duduk menatap pengawal Jian yang mengajarinya menulis dengan pena dan kuas. Dia merasa tersiksa mencuri pandang pada wajah dingin laki-laki itu tanpa kepastian sama sekali.
"Apa...apa maksudmu, Chu Cu?" Pengawal Jian menatap Chu Cu tak berkedip.
"Jika kak Jian benar-benar menyukaiku, ambilah aku sebagai istri kak Jian. Tetapi, jika kak Jian hanya ingin menghabiskan waktu senggang saja denganku, aku rasa kak Jian tak perlu menemuiku lagi setelah ini." Chu Cu masih mendonggak, bibirnya gemetar.
"Chu Cu?" Pengawal Jian sungguh tak menyangka dengan keberanian dayang yang terlihat selalu malu-malu di depannya itu.
"Aku tak ingin kak Jian hanya menciumku hanya ketika ingin." Chu Cu menggigit bibirnya sendiri.
"Sekarang kak Jian boleh menciumku, dan memastikan kak Jian menyukaiku sampai kak Jian tak bisa hidup tanpaku. Tetapi aku tak akan membiarkan kak Jian hanya mencumbuku dan membuatku seperti perahu tak berpengayuh. Jika kak Jian tidak yakin maka ini adalah ciuman terakhir untuk kita. " Chu Cu memejamkan matanya, dengan bibir membuka dan pasrah.
Pengawal Jian terpana, dia tak berkedip memandang wajah polos Chu Cu yang cantik.
__ADS_1
...Terimakasih sudah membaca ekstra part dari novel selir Persembahan, jangan lupa Vote dan dukungannya, yaaa❤️❤️❤️...