SELIR PERSEMBAHAN

SELIR PERSEMBAHAN
EPISODE 82 BERANILAH UNTUK KUAT


__ADS_3

Xiao Yi duduk di samping tempat tidur Selir Yuan.


Mata selir Yuan tertutup rapat, sementara dadanya turun naik dengan teratur. Nampaknya dia telah tertidur pulas setelah nyonya Xiao memberikan sebuah ramuan obat yang di racik dari beberapa jenis dedaunan.


Di dalam kamar besar yang cukup mewah itu, hanya ada Xiao Yi, Qian Ren, dan nyonya Xiao. Dua pelayan mereka, Chu Cu dan Ayin baru saja keluar.


"Ramuan ketumpang air ini hanya bisa menghilangkan rasa sakit karena peradangan pada beberapa organ tubuhnya. Membuatnya tenang dalam beberapa saat tapi dia harus segera dimandikan dengan air dari mata air es gua Duyao." kata nyonya Xiao, perlahan dari tempatnya berdiri.


Xiao Yi menoleh kepada ibunya, yang tangannya masih bertaut di depan perutnya.


"Ibu, apakah kita harus membawa selir Yuan ke gua Duyao sekarang? Berapa lama dia harus di mandikan dengan air dari mata air es itu?"Tanya Xiao Yi sambil menatap wajah tenang selir Yuan.


Betapa menderitanya, sahabat baiknya itu, meskipun merasa sakit tapi tak bisa mengucapkan apa-apa, sebenarnya apa yang dilakukan selir Nuo sungguh jahat, menyiksa seseorang seperti mayat hidup begini.


"Selir Yuan sangat lemah setelah perjalanan jauh, dia tak bisa di bawa ke sana sekarang. Dan lagi dia harus di rendam selama tujuh hari setiap hari dengan air itu. Kita harus memikirkan tempatnya. Menyediakan tempat selir Yuan selama waktu itu."


"Apakah selir Yuan harus di bawa ke sana?" tiba-tiba Qian Ren menyela.


Nyonya Xiao menoleh kepada Qian Ren dan menatap laki-laki yang setahunya pernah sangat dekat dengan anaknya itu.


"Dia harus mandi dari mata air es di gua duyao tempat akar lili es tumbuh. Penawar racun lili es adalah air yang menjadi tempat akar bunga itu hidup di tambah dengan beberapa ramuan yang harus diminumnya selama tujuh hari itu."


"Nyonya, aku hanya bertanya apakah dia harus ke gua itu ataukah air itu bisa di bawa ke sini untuknya? Dan pengobatannya bisa dilakukan di tempat ini?" tanya Qian Ren lagi.


Nyonya Xiao menatap Qian Ren lagi, lebih dalam.


"Tempat itu cukup jauh dari sini, perlu setengah jam untuk mencapai tempat itu. Mengobatinya di sini tidak mungkin. Tapi memindah-mindahkan tubuh lemahnya juga tidak mungkin. Air gua duyao tidak boleh terpapar sinar matahari. Apakah kamu bisa menjaga air itu tetap dalam suhu yang sama dengan saat kamu mengambilnya?" nyonya Xiao mengernyitkan dahi.


"Hanya ada sebuah pondok di tebing seberang gua Duyao, tempat tinggal ibuku dulu saat mempelajari racun ini. Pondok itu tidak besar tapi masih terawat. Kalaupun kita membawa selir Yuan ke sana, harus ada orang yang sanggup mengangkut air naik ke pondok itu untuknya, tanpa boleh sempat terkena matahari."

__ADS_1


"Kita akan membawa selir Yuan ke tempat itu, nyonya. Aku yang akan membawakan air itu setiap hari untuknya. Aku akan permisi untuk menyiapkan tempat dan keberangkatan kita besok. Nyonya Yi, silahkan anda beristirahat." Qian Ren menundukkan kepalanya sedikit lalu keluar dengan canggung, betapa anehnya menunduk pada perempuan yang sangat di cintainya itu.


Xiao Yi dan ibunya saling pandang sesaat, lalu dengan penuh kesadaran nyonya Xiao menundukkan wajahnya.


"Ibu..." Xiao Yi berdiri lalu menubrukkan badannya kepada ibunya.


"Aku sangat rindu pada ibu..." katanya seolah hendak menumpahkan perasaannya yang bercampur baur tak karuan.


Sang ibu sesaat berdiri mematung lalu kedua tangannya terangkat memeluk puteri kesayangannya itu.


"Jangan jadikan aku seperti orang lain, aku masih Yi'er putri ibu." Bisiknya. Air matanya mengalir deras menumpahkan semua perasaan yang ditahannya begitu lama. Sekuat apapun dia, tetaplah seorang anak yang rindu kepada ibunya.


"Yi'er sayang, sekarang kamu adalah selir tinggi kerajaan Yanzhi, kehormatan seperti ini harus diperlakukan dengan berbeda. Di depan umum, ibu harus menundukkan wajah kepadamu."Dibelainya lembut kepala anaknya itu dengan senyum lebar.


"Tahukah kamu, Yi'er. Aku dan ayahmu selalu mengkhawatirkan dirimu siang dan malam, kami takut sekali karena status rendah kami sebagai orangtua, telah mengirimkanmu pada takdir yang kejam, tidak bisa membuatmu tinggal. Kami selalu merasa bersalah dan pasrah membiarkan kami di benci olehmu karena ketidakberdayaan kami."Nyonya Xiao menghapus air mata Xiao Yi dengan tangannya.


"Tapi kemarin, saat surat Yang Mulia datang ke istana gubernur dan dibacakan di aula resmi, sebelum kamu tiba. Tahukah kamu, kamilah orangtua yang paling beruntung di dunia." Kata ibunya dengan suara lembut.


"Aku tidak ingin menjadi selir tinggi! Aku akan meminta Yang Mulia mencabutnya. Untuk apa aku menyandang gelar seperti itu jika keluargaku menundukkan wajahnya di depanku."Lanjut Xiao Yi, sambil memainkan pita leher baju ibunya dengan manja.


Nyonya Xiao membimbing puterinya menjauh dari tempat tidur selir Yuan dan duduk pada tempat tidur lain yang diminta Xiao Yi untuk dirinya sendiri.


"Yi'er...tahukah kamu, ibu seorang raja sendiripun harus menunduk di depan anaknya.


Bukan karena takut atau lebih rendah tapi meletakkan do'a dan berkatnya saat berhadapan dengan anak yang memiliki tanggungjawab lebih besar dari orang lain.


Peraturan negara membuat siapapun tunduk padanya termasuk orangtuanya sendiri."nyonya Xiao membelai rambut Xiao Yi.


"Tapi ibu, rasanya begitu aneh saat semua orang dipaksa menundukkan kepala hanya karena jabatan."Sahut Xiao Yi, pelan.

__ADS_1


"Di dalam jabatan itu ada tanggungjawab supaya kamu bisa berlaku bijaksana dalam bersikap dan mengambil keputusan.


Orang lain menghormati jabatan itu dengan menunduk kepadamu, karena dengan kepala yang melihat ke bawah kamu harus tahu kamu sedang di atas mereka. Tidak perlu pongah dan merasa lebih, karena itu tidaklah abadi. Tidak ada yang perlu disombongkan untuk sebuah kekuasaan di dunia. Tapi pergunakanlah untuk kebaikan orang banyak."


"Tapi aku tidak suka orang-orang melihatku lebih tinggi." Xiao Yi meletakkan kepalanya di pangkuan ibunya.


"Akan mudah bagimu menginjak kepala orang yang menunduk kepadamu di saat demikian. Bagian yang tersulit adalah tetap bisa melindungi kepala mereka saat kamu merasa jabatanmu itu membuatmu di atas orang lain."


nyonya Xiao menghela nafasnya.


"Ibu bangga padamu, Yi'er...kamu telah membuktikan bahwa kamu bisa menggores takdirmu sendiri. Ibu bangga menundukkan kepala di depanmu, begitu juga ayahmu dan kakak-kakakmu. Mereka sama sekali tak keberatan melakukannya.


Janganlah menjadi besar kepala dengan apa yang dapat dan miliki sekarang.


Ibu selalu mengajarkanmu, untuk selalu bersikap rendah hati dan memikirkan orang lain sebelum memikirkan dirimu sendiri.


Meskipun sekarang ibu harus mati, maka ibu akan menjadi tenang, meninggalkan seorang putri yang begitu berbakti seperti dirimu."


Dua bulir bening jatuh di sudut mata nyonya Xiao. Tangannya terus mengelus kepala anaknya itu dengan kasih sayang.


"Ibu, aku mau seperti ibu, hidup sederhana mendampingi suami dan membesarkan anak-anakku tanpa tekanan dan ketakutan. Karena terlalu tinggi membuatku takut menjadi sakit bila terjatuh." Xiao Yi bergelung dan berbaring di pangkuan ibunya dengan penuh kerinduan, telah lama dia tidak melakukannya.


"Yi'er sayang, hidup tak selalu seperti yang kita inginkan. Tapi hidup bisa membuat kita menjadi seperti yang diinginkan banyak orang. Jika kamu tulus, maka jatuh dari tempat tertinggipun bukanlah hal yang menakutkan. Menjadi berani membuatmu kuat."


Xiao Yi menatap wajah ibunya, sungguh keajaiban telah membuatnya kembali pada perempuan yang sangat disayanginya itu.


Perempuan tegas yang selalu bisa menyembunyikan airmata kesedihannya dari hadapan anak-anaknya.


...Dukungan dan VOTEnya author tunggu😅...

__ADS_1


...Jangan lupa KOMEN dan LIKE di bawah, please...please...❤️...


...Biar author tambah rajin UP...


__ADS_2