
Mata Selir Mei sekarang berbinar dengan percaya diri, memejamkan matanya, menikmati sentuhan yang akan di berikan oleh laki-laki di depannya ini.
Selir Mei tidak sedikitpun mencicipi arak yang dituangkannya, tapi dia merasa sangat mabuk. Selir Mei sangat mabuk mengharapkan Sentuhan Yang Mulia.
Sentuhan itu naik dari siku selir Mei dan pindah ke bahunya, perlahan dan hati-hati. Hampir tidak mengenai kulit Selir Mei.
"Selir Mei..." Yang Mulia memanggilnya dalam suara yang terasa serak. Bau arak menguar di udara. Sampai ke hidung Selir Mei, seolah mengisyaratkan betapa dekat wajahnya dengan wajah Yang Mulia sekarang.
Selir Mei bergelinjang halus seolah menunggu, berharap Yang Mulia meneruskan semua yang dilakukan Yang Mulia. Imajinasinya menjalar liar.
"Pakailah pakaianmu dengan benar, karena pagi akan sangat dingin sebentar lagi"
Selir Mei membuka matanya.
Yang Mulia menatap wajah itu dengan tajam,
"Tidakkah engkau malu, berlaku seperti perempuan murahan. Hargai sedikit dirimu, jangan bersikap curang, itu hanya membuat dirimu menjadi tidak mempunyai nilai"
Suara Yang Mulia seperti menggeram, dengan mata terpicing seperti seekor rubah yang sedang marah.
Yang Mulia berdiri dengan bertumpu pada pinggir meja meskipun dengan agak goyah.
Selir Mei mendongak dengan mulut yang setengah terbuka, masih tak percaya dengan perlakuan yang sedang di terimanya.
Ternyata Yang Mulia hanya mengangkat lengan gaunnya yang melorot, mengembalikannya ke tempat semula. Bahkan hampir tak menyentuh kulitnya sama sekali.
"Aku sudah membayar Chushi malam ini dengan memenuhi janjiku menghabiskan malam bersamamu. Sekarang sudah lewat tengah malam. Aku harus kembali ke kamarku."
yang Mulia meraih mantelnya yang teronggok di atas lantai.
Kemudian dengan mata yang merah seperti bara dia berjongkok dan memegang dagu selir Mei dengan jarinya.
"Jangan pernah kamu melakukan hal yang sama lagi kepada selir Yi, sebab jika kamu menindasnya sekali lagi, aku tidak akan segan-segan akan mengirimmu kembali ke Handong!" Ucap yang mulia dengan suara yang dingin tapi penuh dengan tekanan kemarahan yang berusaha di tahannya.
Selir Mei hanya terpana dengan mata yang bulat mengkilat, bibirnya bergetar dengan wajah merah padam.
Dia bersimpuh kearah pintu dengan hati yang terluka, harga dirinya seperti di injak sampai tanah merah.
Yang Mulia telah mempermalukan dirinya dan meninggalkannya seperti sampah yang menjijikkan.
Airmatanya meleleh seperti rinai hujan di daun lontar. Bulirnya menetes sampai ke dagunya yang mulus. Betapa mahal harga yang harus di bayarnya untuk sebuah kecurangan yang telah di buatnya.
__ADS_1
Yang Mulia bahkan mengancamnya, demi seorang selir Yi. Dia baru menyadari, Yang Mulia hanya berpura-pura membelanya di depan semua orang hanya untuk membuat selir Yi tidak kehilangan mukanya di depan umum.
Sekarang dia merasa, dirinya telah direndahkan oleh Yang Mulia sebegitu rupa. Dendam membakar jiwanya, sampai ke tulang-tulangnya. Gigi putihnya sampai bergemerutuk menahan perasaannya yang di penuhi oleh kebencian.
Yang Mulia berjalan menuju pintu dengan langkah yang gontai dan berat, geraham tampak mengatup keras. Selir Mei mungkin bisa berusaha menjebaknya dengan arak, tapi Yang Mulia orang yang sudah bersahabat baik dengan arak sejak dia hidup dalam kesepian di tinggalkan Jiu Fei bertahun-tahun yang lalu.
Meskipun badannya mungkin mabuk tapi kepalanya tetap bisa masih bisa sadar.
Yang Mulia benar-benar marah, dia tidak pernah bisa melihat Xiao Yi di buat menderita, hatinya seperti teriris-iris mengingat pandangan gadis itu yang kebingungan dan ketakutan dibawah tatapan tajam ibu Suri.
Hatinya seperti dicabik-cabik, saat melihat orang yang diam-diam dengan pasti telah menggantikan bayangan Jiu Fei dari hidupnya yang kesepian dan menyedihkan.
Meskipun dia tahu dengan benar Chenxingnya itu mencintai laki-laki lain.
"Yue..." Yang Mulia Yan Yue hampir merasa begitu nyata mendengar panggilan Xiao Yi di telinganya.
"Yue...Yue...Yue...!" hanya Xiao Yi yang di ijinkan olehnya memanggil nama kecilnya itu selain Jiu Fei. Yang Mulia menggeleng-gelengkan kepalanya mengeluarkan dirinya dari halusinasi nya sendiri.
Kasim Chen dan pengawal Jian menyambut raja di pintu dengan keheranan.
"Yang Mulia..." kasim Chen mengambil mantel yang ada di tangan Yang Mulia dan memakaikannya kepada Yang Mulia.
"Kita kembali ke Rongyu...!" Kata yang Mulia.
Yang Mulia tidak terlalu mendengarkan ucapan pengawal Jian. Dia berjalan begitu saja, mengabaikan orang-orang di sekelilingnya, berjalan menyusuri wisma-wisma selir yang berderet sepanjang istana harem. Hatinya benar-benar merasa sangat kacau sekarang.
Kasim Chen dan beberapa pengawal mengikuti langkah Yang Mulia Yang gontai dengan rasa cemas. Yang Mulia sedang mabuk arak, dia berjalan tanpa memperhatikan apa yang ada di depannya.
Langkah Yang Mulia terhenti di depan sebuah wisma. Dia mendongakkan kepalanya sesaat menatap ukiran tulisan di atas pintu gerbangnya. Wisma Xingwu.
Wajah pucat dengan badan gemetar Xiao Yi terbayang kembali di benaknya, gadis yang sudah cukup akrab dalam beberapa misi rahasianya, baik ke kuil Sunyen maupun keluar dari lingkungan istana itu membuatnya di dera rasa cemas.
Apakah dia benar-benar sakit? atau aku yang telah terlalu keras padanya?
Bisikan dalam hatinya terasa menyesak, Yang Mulia sekarang tidak bisa melawan hatinya yang begitu cemas pada Xiao Yi, kakinya melangkah ke arah pintu Wisma.
"Yang Mulia, ini adalah wisma Xingwu...bukan Rongyu." Tegur Kasim Chen.
Yang Mulia tidak perduli dengan teguran sang kasim, dia mungkin mabuk tapi masih cukup sadar untuk melihat bahwa ini adalah wisma Xingwu.
Dua orang penjaga tampak tidak jauh dari pintu masuk.
__ADS_1
Mereka memberi hormat dengan tergesa, tak menyangka kedatangan Yang Mulia Raja di saat sudah sangat lewat tengah malam begini.
"Apakah kami harus mengumumkan kedatangan Yang Mulia...?"
"Tidak perlu!" jawab Yang Mulia dengan suara yang di rendahkan.
Ketika dia tiba di pintu, Chu Cu tampak baru keluar dari dalam membawa sebuah baskom dan sebuah mangkok kecil seperti bekas menyeduh obat.
"Yang Mulia..." Chu Cu segera membungkuk dengan tergagap.
Yang Mulia meletakkan jarinya di bibirnya,
"Nyonya sudah tidur Yang Mulia, apakah saya harus membangunkannya untuk memberitahukan kedatangan Yang Mulia?" tanya Chu Cu.
"Tidak perlu, "
Mata Yang Mulia tertuju kepada mangkok kecil di dalam baki yang di bawa Chu Chu.
"Apakah nyonyamu benar-benar sakit? " ada nada kecemasan di suaranya yang parau itu.
"Nyonya hanya kelelahan saja Yang Mulia, tabib telah memberinya ramuan obat. Sekarang Nyonya sedang beristirahat." Jawab Chu Cu.
Yang Mulia menghela nafasnya yang berat, kecemadan itu segera mereda.
"Aku akan melihatnya ke dalam..." Yang Mulia berkata dengan suara pelan, seolah takut suaranya membangunkan penghuni yang ada di dalamnya.
"Saya akan membangunkan nyonya untuk Yang Mulia."
"Tidak usah, aku akan masuk sekarang."
Chu Cu segera menyingkir memberikan jalan, membiarkan Yang Mulia melalui pintu. Kasim Chen menutup pintu kamar itu perlahan setelah itu Kasim Chen dan Chu Cu saling berpandangan.
...Yang suka dengan novel ini, kasih dong VOTE dan LIKE di bawah, please...please...❤️...
...Author sayaaaang banget dengan kalian🤭...
...🙏🙏🙏...
...Dukungannya untuk semangat author terus menulis 🙏☺️...
...Terimakasih readers tersayang yang sudah mengikuti kisah Selir Persembahan🙏☺️...
__ADS_1
...Nantikan episode berikutnya❤️...