Senja (Dan Rasa)

Senja (Dan Rasa)
Bab 10


__ADS_3

Nadhira POV


Aku merasa sedikit malas untuk beranjak dari tempat tidurku seusai melaksanakan kewajiban tiga rakaatku. Aku semakin mengeratkan pelukanku pada boneka Teddy Bear ukuran jumbo pemberian Bang Bara tepat di ulang tahunku yang ke 17.


Aku berniat memejamkan mataku yang sudah mulai merasakan kantuk. Badanku yang juga terasa pegal-pegal menambah keinginanku untuk beristirahat. Aku merasakan lelah yang luar biasa setelah berjam-jam dalam perjalanan menjemput ayah dari airport dan berlanjut menjemput bunda dirumah Tante Indri, kakaknya yang mengharuskan kami putar balik terlebih dulu.


Ku urungkan niatku untuk tertidur setelah ku ingat-ingat kalimat ayah dan bunda selama perjalanan pulang. Oh tidak hanya ayah dan bunda. Tapi juga ucapan Bang Bara dengan petuah-petuah sok bijaknya.


Flashback On


*Sebuah mobil mewah melaju dengan kecepatan sedang membelah jalanan yang tak luput dari kata macet setiap harinya.


“Bang, udah kasi tau adik untuk acara nanti malem ?” tanya Sang Ayah memecah keheningan yang sedari tadi tercipta didalam mobil*.


“*Sudah, Yah.” Bara menoleh sebentar ke arah ayahnya yang duduk disamping kursi kemudi sebelum akhirnya fokus lagi ke depan.


Ayah melirik istri dan anak perempuannya yang duduk di jok belakang melalui kaca spion depan*.


“*Dik, nanti malem Reyhan sama keluarganya datang kerumah.” Ucap Ayah.


“Iya, Yah. Udah dibilangin Abang tadi.” Nadhira memilin ujung jilbabnya lalu menyandarkan kepala dibahu Sang Bunda yang disambut pelukan hangat. Nadhira bergelayut manja dalam pelukan Bunda.


“Jadi gimana, Dek ?”


“*Gimana apanya, Yah ?" Tanya Nadhira dengan polosnya.


"Adek udah siap belum dipersunting


Reyhan ?"


"Siap tidak siap, Yah,” jawab Nadhira gamblang.


Kompak Ayah, Bunda dan Bara memberikan tatapan aneh dengan alis tertaut.


“Kenapa sih ? Kompak banget.” Nadhira berucap santai.


“Adek kok ngomongnya gitu ?” Bara bertanya masih dengan ekspresi bingungnya.


“Emang ada yang salah gitu sama ucapanku barusan ?” Nadhira bertanya dengan tampangnya yang tanpa dosa.


“Adek, dengerin Bunda.” Bunda sedikit menjauhkan kepala Nadhira dari pelukannya dan memegang kedua bahu anak gadisnya lalu melanjutkan ucapannya.


“Menikah itu bukanlah perkara yang gampang. Bukan hanya sekedar kata menikah lalu semuanya selesai begitu saja. Menikah adalah awal kehidupan yang baru dengan keluarga baru adek. Jadi butuh kesiapan lahir dan bathin. Bukan siap tidak siap. Jadi, apa adek udah siap ?” Bunda membelai lembut puncak kepala Nadhira.


“Adek siap, Bunda. Tapi adek takut nggak bisa jauh-jauh dari Bunda.” Nadhira berucap dengan tatapan sendunya.


“Hahaha. Hei adik kecilku!” Bara melirik adiknya lewat kaca spion yang dibalas dengan tatapan tajam dari Nadhira yang membuat Bara seketika menghentikan tawanya.


“Iya. Iya. Sorry. Dengerin Abang ya. Setiap perempuan itu tak selamanya akan hidup bersama orang tuanya. Akan ada masa dimana ia akan hidup terpisah dan memulai hidup baru dengan keluarga baru juga. Itulah saat ia sudah menjadi istri. Dan saat itu juga surga yang awalnya berada di telapak kaki ibunya berpindah ke telapak kaki suaminya. Adek paham ?” Bara berbicara panjang lebar dengan segala petuahnya yang hanya dibalas anggukan Nadhira.


“*Bener kata Abang. Tapi meskipun begitu, bukan berarti adek tidak bisa ketemu ayah dan bunda. Bukan berarti pula untuk berhenti berbakti.” Bunda melanjutkan nasehatnya.


“Jadi, apa adek udah siap* ?”


“*Bismillah. Adek siap, Yah.” Nadhira menarik ujung bibirnya membentuk senyuman.


“Nanti adek jangan manja ya sama suami. Karena belum tentu suami adek mampu memanjakan adek sama seperti Abang. Sifat kekanakkannya juga dihilangin, Dek.”


“Iya, Abang sayang*.”


Flashback Of


Aku menatap langit-langit kamar bernuansa biru muda. Warna kesukaanku. Entah kenapa aku sangat menyukai warna ini. Intinya aku menyukainya. Aku merasa teduh dengan warna itu.


“Dek!”


Panggilan Bunda yang muncul dari balik pintu membuatku menoleh ke arahnya. Senyuman yang selalu menghias wajahnya begitu menenangkan.


“Kenapa masih tidur ?” Bunda duduk ditepi kasur dan mengelus rambutku yang masih tertutup rapi dengan mukenah yang belum kutanggalkan seusai shalat.


“Adek capek, Bun. Badan adek rasanya pegal-pegal.” Aku membawa kepalaku keatas pangkuan Bunda. Tempat ternyaman untuk melepas lelah adalah pangkuan perempuan kuat yang telah bertaruh nyawa melahirkanku. Membesarkanku dengan penuh kasih sayang tanpa kenal kata lelah.


“Tapi sebentar lagi Reyhan dan keluarganya datang, Dek. Sekarang adek siap-siap dulu ya. Ganti mukenah dan bajunya.”

__ADS_1


“Iya, Bun.”


“Bunda juga mau siap-siap. Nanti Bunda balik lagi kesini, ya.”


Bunda beranjak dari kamar dan meninggalkanku sendiri yang masih terduduk diatas kasur. Rasa malas masih bermanja ria dalam diriku.


Kupaksakan diri untuk bangun dari tempat tidur menuju lemari besar yang sebagian isinya gamis dan hijab berupa warna. Aku mulai menelisik satu per satu gamis yang ku punya. Dan akhirnya berhenti pada satu gamis sederhana namun masih terkesan elegan dengan payet dibagian depan berwarna toska. Aku meraih satu hijab besar dengan warna senada.


Aku merias wajahku dengan polesan make up senatural mungkin. Mengolesi bibirku hanya dengan lipbalm. Kulihat bayanganku pada cermin di meja riasku. Tanpa sadar seulas senyum tercipta dari bibirku. Masih ada rasa tak percaya bahwa sebentar lagi aku akan dilamar oleh lelaki yang namanya selalu kusebut setiap bermunajat pada Allah.


“Ya Allah, aku percaya setiap rencana-Mu adalah yang terbaik untukku. Tuntun aku menuju jalan yang selalu Kau ridhoi.”


Kudengar suara deru mobil memasuki pekarangan rumah. Mobil yang kuyakini milik keluarga Kak Reyhan. Kurasakan getir rasa berbeda dalam diriku. Jantungku berdetak diluar batas normalnya. Gugup menyerangku seketika.


Author POV


Reyhan mengetuk pintu yang ada dihadapannya. Tak berselang lama pintu besar itu terbuka dan menampilkan sepasang suami istri dengan senyum merekah.


“Assalamu’alaikum, Om, Tante.” Reyhan menyalami pasangan suami istri yang sebentar lagi akan menjadi mertuanya.


“Wa’alaikumussalam.” Jawab Ayah dan Bunda kompak.


“Hei, Fahmu. Apa kabarmu ?” Ayah memeluk Papa dengan akrab.


“Oh tentu saja baik. Seperti yang kau lihat sekarang.” Papa membalas pelukan Ayah.


“Ayok masuk dulu.” Ucap Bunda mempersilahkan tamunya untuk memasuki rumah mewah bak istana itu.


Reyha beserta keluarganya mengikuti langkah kaki sang empunya rumah. Berjalan menuju ruang tamu yang luas dengan gaya klasik. Terpampang berbagai macam lukisan didinding yang memanjakan mata setiap orang yang melihatnya.


“Silahkan duduk dulu semuanya. Saya mau panggil Nadhira sebentar.” Bunda berucap dan berjalan menuju kamar Nadhira. Baru saja ingin memijakkan kaki di tangga pertama, langkahnya terhenti oleh panggilan anak sulungnya.


“Bunda!” Bunda lalu menoleh ke arah suara dan mendapati Bara yang masih merapikan kemejanya semakin mendekat.


“Kenapa, Bang ?”


“Biar Abang aja yang panggil adek. Bunda balik aja ke ruang tamu.” Bara menawarkan diri pada bundanya. Ia ingin mendampingi adik semata wayangnya.


“Ya sudah. Abang panggil adek dikamarnya. Bunda mau siapin makanan untuk makan malam juga.”


Bara menapaki satu per satu anak tangga menuju kamar Nadhira.


Ceklek.


Bara membuka pintu kamar Nadhira dan mendapati adiknya sedang duduk dengan raut wajah yang sulit diartikan.


“Dek!”


Nadhira menatap Bara yang baru saja masuk ke kamarnya. Menyunggingkan sebuah senyuman manis yang membuat siapa saja terpesona melihatnya. Bara berjalan mendekati Nadhira yang tak bergeming dari tempat duduknya.


“MasyaAllah. Kau cantik banget, Dek.” Bara memuji kecantikan adiknya yang sontak membuat Nadhira tersipu malu. Terlihat dari pipinya yang memunculkan rona-rona merah.


“Abang.” Nadhira menghambur ke pelukan kakaknya.


“Kenapa ?” tanya Bara selembut mungkin.


“Aku gugup.” Jujur Nadhira.


“Baru lamaran aja udah gugup. Apalagi nanti kalo mau ijab qabul, Dek.”


“Aku serius, Bang.” Nadhira melepas pelukannya dan menatap Bara dengan wajah yang ditekuk.


“Nggak boleh cemberut. Nanti cantiknya hilang. Sekarang ayo kita turun. Reyhan dan keluarganya sudah menunggu diruang tamu. Nggak enak kalo sampe mereka nunggu lama.”


Nadhira hanya membalas dengan anggukan.


Bara menggenggam tangan adiknya erat. Menuntun Nadhira yang hanya menunduk menuruni tangga menuju ruang tamu.


Di ruang tamu. Sepasang manik mata hitam memandang ke arah tangga. Menyaksikan dua kakak beradik yang berjalan beriringan menapaki tangga. Nadhira dengan balutan gamis berwarna toska yang dipadukan dengan jilbab senada. Reyhan dapat melihat dengan jelas kecantikan yang terpancar dari calon istrinya itu. Reyhan mengulas sedikit senyuman.


Nadhira yang awalnya hanya menunduk kini memberanikan diri mengangkat sedikit kepalanya. Menampakkan wajah cantiknya dengan balutan make up natural dan senyum yang tak lepas dari bibirnya. Tanpa sengaja pandangannya tertuju pada Reyhan yang juga tengah menatapnya. Pandangan mereka terkunci dalam sekian detik.


“Jangan diliatin terus. Sebentar lagi juga bakalan jadi milik kakak kok.” Cicit Mama membuat seisi ruangan terkekeh. Kecuali Nadhira yang hanya tersipu.

__ADS_1


Nadhira duduk ditengah-tengah ayah dan bunda.


“Baik. Langsung saja ke inti pembicaraan. Jadi maksud kedatangan kami kesini yaitu ingin melamar Nadhira untuk anak sulung kami, Reyhan. Apakah Pak Yudha menerima ?” Papa membuka pembicaraan dengan mengutarakan maksud dan tujuannya bertamu.


“Hmmm. Untuk jawabannya saya serahkan saja pada Nadhira. Karena yang menjalani juga dia. Bagaimana, Nak ?” Ayah menggenggam erat tangan putrinya. Nadhira menatap ke arah ayah, bunda dan kakaknya bergantian. Bara hanya mengangguk lalu tersenyum.


“Bismillah. Iya, Nadhira terima lamaran Kak Reyhan.” jawab Nadhira mantap.


“Alhamdulillah.”


Ucapan hamdalah menggema mengisi ruang tamu. Terpancar kebahagiaan disetiap wajah kedua keluarga tersebut. Terutama dua insan yang akan segera mengikat satu sama lain dalam ikatan halal. Nadhira dan Reyhan.


Reyhan melirik sebentar ke arah Nadhira yang sedang menunduk memainkan jemarinya lalu tersenyum.


“Jadi, bagaimana ? Apa langsung saja kita tentukan tanggal pernikahan putra putri kita, Yudha ?”


“Oh tentu saja, Fahmi. Bukankah dalam hal kebaikan lebih cepat lebih baik.” Ucap Ayah penuh antusias.


“Baiklah. Bagaimana kalo 2 minggu lagi dari sekarang.” Kali ini Mama yang memilih untuk menentukan.


“Bagaimana, Kak ?” Papa meminta persetujuan anaknya.


“Gimana baiknya aja, Pa. Reyhan ngikut aja.”


“Nah, jadi jadwal pernikahannya sudah kita tentukan. Tinggal urusan gedung, dekorasi dan perlengkapan lainnya.”


“Untuk gedung dan dekor biar Reyhan saja yang handle.“ Reyhan memilih menentukan sendiri gedung dan dekorasi untuk acara pernikahannya. Ia ingin ikut andil untuk kesuksesan acara sakralnya.


“Nanti gue juga bisa bantu lo, Han.” Bara mulai angkat bicara dan hanya dibalas anggukan oleh Reyhan.


“Untuk baju pengantin nanti Nadhira ikut sama Mama ke butik temen Mama, ya ?” Mama mengubah panggilan dari biasanya ia dipanggil Tante menjadi Mama.


“Iya, Tante.” Jawab Nadhira dengan senyum manis yang membingkai bibir tipisnya.


“Kok Tante sih. Mama dong, Nadhira. Kan sebentar lagi bakal jadi mantu Mama.” Protes Mama pada Nadhira yang sebentar lagi akan menjadi menantunya.


“Hee iya, Ma.”


“Jadi semuanya sudah ditentukan. Tinggal Nadhira dan Reyhan mungkin ada yang perlu kalian bicarakan berdua perihal acaranya nanti.” Kata Ayah.


Reyhan dan Nadhira kompak menoleh ke arah Ayah.


___


Di taman depan rumah. Nadhira duduk berdua bersama Reyhan dalam keheningan. Hanya suara-suara binatang malam yang terdengar bersahut-sahutan. Nadhira membungkam dalam kegugupannya. Entah kenapa, berada didekat Reyhan membuatnya terjebak dalam lingkar kegugupan yang luar biasa.


Reyhan menatap Nadhira yang masih tertunduk memilin ujung jilbabnya. Reyhan tersenyum melihat sikap Nadhira yang terlihat sekali merasa gugup.


“Kasian lho jilbabnya di gituin terus dari tadi, Al.” Reyhan memecah keheningan yang mereka ciptakan.


Nadhira mengangkat kepalanya dan tersenyum canggung.


“Kakak rindu.” Reyhan mengungkap perasaan yang selama ini hadir tanpa permisi didalam hatinya.


Nadhira menatap sepasang mata yang tengah menatapnya dengan intens. Melempar senyuman yang selama ini menjadi bayang-bayang terindah dalam pikiran Nadhira. Membuat jantung Nadhira berdetak berkali-kali lebih cepat dari biasanya.


“Terimakasih.” Reyndra kembali berucap.


“Terimakasih ?” Nadhira bertanya tak mengerti atas ucapan Reyhan.


“Iya. Terimakasih sudah menerima kakak.”


Nadhira hanya membalas dengan senyum. Kali ini tanpa rasa canggung dan gugup.


“Terimakasih.” Ucap Nadhira setelah beberapa detik terdiam.


“Untuk ?” Reyhan menaikkan sebelah alisnya dan menatap Nadhira tak mengerti.


“Terimakasih sudah kembali.”


“Bukankah dulu kakak udah janji untuk kembali ?” tanya Reyhan.


“Dan janji harus ditepati.” Lanjutnya.

__ADS_1


Lagi-lagi Nadhira hanya menanggapi dengan senyuman.


___To Be Continued___


__ADS_2