Senja (Dan Rasa)

Senja (Dan Rasa)
Bab 89


__ADS_3

"Istirahatlah, Al. Tubuhmu masih sangat lemah untuk beraktifitas. Ingatlah kata Dokter Naya kemarin. Kamu harus menjaga kesehatanmu. Juga kesehatan jabang bayi didalam rahimmu."


Ia mendengus kesal.


"Aku hanya ingin keluar sebentar untuk menemui Finza. Begitu saja tidak boleh," ucapnya dengan kekesalan yang mencuat.


"Memangnya kamu sudah tidak merasakan mual lagi ? Tidak pusing lagi ?" tanya Reyhan juga dengan kesabaran yng sudah melewati ambang batas.


"Aku tidak mau tahu! Selama aku pergi ke kantor. Kamu tidak boleh pergi kemanapun bersama siapapun!" tegas Reyhan dengan suara sedikit meninggi.


"Tapi, hanya sebentar saja, Kak," ucapnya bersikukuh dengan keinginannya.


"Jika ku katakan tidak. Ya tidak, Al. Jangan ngeyel seperti itu."


Ia menatap Reyhan dengan tatapan kesalnya.


"Kondisimu masih lemah, Sayang. Aku tidak ingin terjadi sesuatu denganmu. Jua pada kandunganmu. Karena, kandunganmu sekarang masih lemah dan rentan. Ku mohon. Mengertilah, Al." Reyhan mengenyahkan segala emosi yang tadi mengungkungnya kuat. Membujuknya dengan pelan dan penuh sayang.


"Aku melakukan ini bukan karena aku membatasi ruang gerakmu. Juga bukan berarti aku tak suka kamu bertemu dengan sahabatmu. Tapi, ingatlah,Al! Ada amanat yang harus kita jaga dengan baik. Ku harap kamu paham dan mengerti alasanku seperti ini," jelas Reyhan mengusap kasar wajahnya yang masih segar di pagi hari.


"Aku akan berangkat ke kantor sekarang. Baik-baiklah dirumah. Jika butuh sesuatu, katakan saja pada Bibi atau Mama." Reyhan berjalan meninggalkannya yang masih berdiam diri di tempat tidur. Ada rasa sesal yang menyergap Reyhan. Namun, demi menjaga calon buah hati yang ia idam-idamkan. Ia harus berani berlaku tegas pada istrinya yang manja itu.


_____


Reyhan sama sekali tak merasa tenang. Raganya berada di ruangan besar yang ditempati sejak memegang posisi menjadi CEO. Namun, hati dan pikirannya berada di rumah. Otaknya terus berputar memikirkan istri yang ia tinggalkan dalam keadaan hati yang tak baik sama sekali.


Ia memutar kursi kerjanya menghadap jendela ruangan yang transparan. Menyaksikan bangunan-bangunan mewah yang menjulang tinggi. Menyaksikan kendaraan berlalu lalang yang nampak sangat kecil dari ketinggian gedung delpan belas lantai itu.


"Huh!" Ia membuang napas kasar. Hari ini benar-benar Reyhan tak berkonsentrasi melakukan pekerjaannya di kantor. Otaknya terus saja memikirkan istrinya itu.


Ketukan pintu ruangan membuyarkan lamunannya. "Masuk!" perintahnya tanpa menoleh ke belakang.


"Apa kabar, Reyhan ?"


Suara perempuan yang tak asing baginya membuatnya dengan cepat memutar kembali kursi kerja yang ia duduki. Matanya terbelalak menatap perempuan seksi di hadapannya tengah tersenyum lebar.


"Tasya ?" ucapnya dengan suara gampir tak terdengar.


"Rupanya kamu masih mengingatku juga."

__ADS_1


"Masih punya malu juga kamu menginjakkan kaki di kantorku ?" tanya Reyhan sinis.


"Aku datang kemari bukan untuk membuat masalah denganmu. Tapi, ingin menawarkan kontrak untuk proyek besar. Bagaimana ?"


Ia tertawa sumbang. "Maaf, Tasya. Proyek sebesar apapun jika bersangkutan denganmu. Aku tidak akan pernah menerima itu. Jadi, sebaiknya kamu segeralah pergi."


"Ternyata CEO muda yang di agung-agungkan dengan segala keramahannya, kesopanannya juga bisa berlaku seperti ini pada tamu."


"Karena, kamu tidak pantas di perlakukan baik!" balasnya dengan menekankan setiap kata yang ia lontarkan.


Tasya tertawa keras. Kemudian, mendaratkan tubuhnya tanpa permisi pada sofa yang ada didalam ruangan Reyhan.


"Perempuan kemarin itu istrimu, Rey ?" tanya Tasya dengan tatapan mengejek. "Cantik dan manis. Tapi, cocok juga dijadikan pelayan." Tasya terkekeh sendiri mendengar ucapannya.


"Persis sama seperti Elmeeramu itu."


Tangannya mengepal kuat. Hingga buku-buku jemari tangannya memutih sempurna.


"Jangan pernah menghina istriku, Perempuan tak tahu malu!" teriak Reyhan dengan keras. Tangannya dengan keras pula memukul meja kerjanya hingga menimbulkan suara gaduh.


Bukan merasa takut. Tasya bahkan mentertawakannya dengan suara keras. "Aku baru tahu bahwa manusia sebaik kamu bisa marah juga, Tuan Oktara."


"Pintu ruanganku tak terkunci. Kamu bisa keluar dengan cepat!" perintahnya dengan menahan emosi yang sudah mencapai ubun-ubun.


Reyhan terdiam. Menarik napas dalam-dalam.


"Aku datang untuk niat baik. Bukan untuk mencari masalah baru. Apalagi membuat jantungmu itu kembali anfal," ucap Tasya seraya tertawa kecil dan mengejek.


"Sial!" umpat Reyhan penuh amarah.


Ia melangkahkan kaki dengan lebar menuju sofa dimana Tasya duduk manis dengan menyilangkan kaki jenjangnya. Melempar pas bunga ke sembarang arah untuk menyalurkan amarah yang membekapnya.


"Keluar dari ruanganku. Dan jangan pernah menginjakkan kaki di kantorku lagi."


Tasya hanya tersenyum manis melihat ekspresi Reyhan dengan wajah merah padam. Dengan anggun ia mendekati Reyhan dan membisikkan kalimat.


"Dalam keadaan marah pun kamu masih terlihat tampan, Tuan Oktara. Pantas saja aku tak mampu melupakanmu. Ingat! Aku mencintaimu. Dan akan mendapatkanmu bagaimana pun caranya. Termasuk menyingkirkan istri cantikmu itu."


Dengan lembut tangan Tasya menyentuh pundaknya.

__ADS_1


"Sampai bertemu di lain kesempatan. Jangan lupa! Aku mencintaimu."


"Nasib baik kamu hanya perempuan. Jika tidak. Sudah ku pastikan kamu kembali tanpa nyawa." Ia menepis keras tangan milik Tasya hingga terpental.


"Jangan berbuat kasar padaku jika kamu tidak ingin istrimu bernasib sama dengan Elmeera," ucap Tasya penuh ancaman.


Amarah yang ia tahan sedari menembus tembok pertahanannya. Ia mencekal lengan Tasya yang terlapisi sehelai benang pun. "Jangan pernah menyentuh istriku!"


"Maaf, Reyhan. Aku tidak berani berjanji untuk itu. Karena, siapapun yang merenggut apa yang seharusnya menjadi milikku akan berhadapan denganku. Tasya Kamalia."


Dengan lembut Tasya menyentuh tangannya. Menyingkirkannya dari lengan putih mulus itu.


"Aku peringatkan lagi padamu, Reyhan! Aku adalah manusia paling nekat dalam segala hal."


Rahangnya mengeras. Wajah semakin merah padam.


"Sekarang pergilah. Dan jangan pernah muncul lagi di hadapanku, perempuan jahannam!" teriaknya tanpa ampun.


Tasya hanya membalas dengan senyuman manisnya. Tanpa terlihat takut sedikitpun.


"Baiklah. Aku akan pergi. Tapi, kamu jangan pernah melupakan apalagi menganggap enteng ucapanku tadi. Karena, aku bukanlah orang yang suka bermain dengan ucapan sendiri."


Ia menatap nyalang netra milik Tasya yang terlapisi dengan lensa kontak. Dan ia dapati hanya kedipan sebelah mata yang membuatnya bergidik ngeri.


"Bisa-bisanya Tuhan menciptakan manusia berhati iblis sepertimu, Tasya." Ia menggeleng tak percaya.


"Kamu yang membuatku menjadi iblis, Reyhan!" ucap Tasya dengan menekan kalimatnya. Kemudian, berlalu dengan langkah anggunnya keluar ruangan.


"Aakkhhh." Reyhan berteriak melampiaskan amarahnya. Melempar apapun yang ada di hadapannya. Hingga ruangan yang awalnya rapi dan bersih menjadi berantakan.


Tanpa sadar pintu ruangannya terbuka. Menampilkan Tio dengan ekspresi kagetnya.


"Apa yang terjadi, Pak Reyhan ?"


Ia menoleh ke arah sumber suara. "Tidak. Tidak apa-apa, Tio." Ia mengusap wajahnya frustasi.


"Katakan pada Rianti. Jika ada tamu yang ingin bertemu denganku. Jangan biarkan ia masuk tanpa seizinku. Kecuali, istriku."


"Baik, Pak Reyhan. Saya akan sampaikan pada Rianti."

__ADS_1


"Terimakasih, Tio. Kamu bisa keluar jika tidak ada yang penting. Aku butuh istirahat."


Tio mengangguk dan melenggang pergi meninggalkannya.


__ADS_2