Senja (Dan Rasa)

Senja (Dan Rasa)
Bab 95


__ADS_3

Satu purnama berlalu begitu cepat. Ia dan Reyhan melewati dengan bahagia. Walau sesekali kerikil kecil menghampiri keduanya. Sehingga perdebatan-perdebatan ringan mengisi rumah tangga mereka.


"Kamu benar-benar akan ke kampus sekarang, Al ?" tanya Reyhan yang sedang merapikan kemejanya.


"Iya, Kak. Aku ingin dengan cepat menyelesaikan semua tugas-tugasku. Agar aku tak lagi merasa terbebani."


"Tapi, kamu harus memperhatikan kandunganmu juga, Sayang."


"Iya. Kakak tenang saja."


Ia berdiri dan membantu memasangkan dasi di kerah kemeja suaminya. "Kakak juga harus memperhatikan kesehatan. Lihatlah sekarang. Tubuh kakak semakin kurus saja."


Reyhan tersenyum dan mengelus puncak kepalanya. "Jika aku semakin kurus. Apa kamu tidak lagi mencintaiku, Al ?"


"Tentu saja itu tidak akan mempengaruhi perasaanku padamu. Bahkan, saat pertama kali bertemu. Kakak begitu jelek dan menyedihkan. Seperti tak terurus," ucapnya meledek Reyhan dengan tawa lebarnya.


Reyhan menyentil keningnya pelan. "Dasar istri durhaka. Bisa-bisanya kau meledekku seperti itu, ya."


"Aku hanya ingin berkata jujur, Sayang."


"Untung saja kamu adalah istriku. Jadi, kamu berada di posisi aman. Jika tidak, akan ku pastikan tanganku ini menyentuh pipimu dengan kasar dan tanpa ampun."


Ia mengernyitkan dahi. Tangannya berhenti seketika memasangkan dasi. "Apakah kakak termasuk lelaki kasar yang suka bermain fisik seperti itu ?" tanyanya dengan polos dan bergidik ngeri.


Reyhan tertawa keras. "Jadi, kamu menganggap ucapanku itu suatu kebenaran, Al ?" Tawa Reyhan kembali meledak. "Tentu saja tidak. Bahkan, seumur hidupku aku tak pernah bertengkar dengan siapapun. Kecuali, Farhan. Dan itu hanya pertengkaran kecil saat aku berebut mainan dengannya."


Reyhan menangkup wajahnya yang sudah terpolesi sedikit make up itu dengan kedua tangan. "Aku tidak menyukai pertengkaran dalam bentuk apapun, Al. Aku hanya ingin hidup damai. Meskipun suatu kemustahilan jika tidak ada yang membenciku. Terlebih dengan jabatanku di perusahaan. Tapi, terserah saya orang-orang membenciku. Asal bukan aku yang membenci mereka. Karena, aku tidak sama seperti mereka.


Ia tersenyum. "Suamiku sebijak ini, ya," ucapnya seraya mencium sekilas bibir Reyhan. "Morning kiss, Babe," bisiknya kemudian di telinga Reyhan.


"Kamu selalu hebat berbuat curang, Gadis Kecil," ucap Reyhan gemas dan mencubit pipinya.


"Hei, Tuan Oktara! Aku bukan gadis kecil seperti yang Anda katakan, ya, Tuan. Lihatlat!" Ia menunjuk ke arah perutnya. "Bahkan, sekarang aku sedang hamil. Bagaimana bisa kau mengatakanku gadis kecil ?" lanjutnya berpura-pura marah.


"Terserah! Aku bahkan tak peduli sama sekali. Karena, kamu tetaplah gadis kecil yang manja bagiku. Tapi, aku menyukainya."


Ia tersipu. Pipinya merona.


Reyhan bersimpuh di hadapannya. Mengelus dan menciumi perutnya yang mulai nampak. "Nak, ingat selalu pesan Papa, ya, Sayang. Jangan menyusahkan Mama. Tetap sehat dan baik-baik selalu didalam perut Mama. Dan selalu jaga Mama saat kalian tak bersama Papa, ya, Nak.


Ia membelai lembut rambut Reyhan yang sudah tersisir rapi.


"Papa dan Mama selalu memunggu kedatanganmu di dunia. Dan kita akan berkumpul bersama. Menikmati setiap kebersamaan nantinya."


"Iya, Pa. Tunggulah kedatanganku di tengah-tengah keluarga kecil kita. Dan Papa tenang saja, aku akan selalu menjaga Mama dan tak akan menyusahkan Mama," ucapnya menirukan suara anak kecil.


Reyhan tertawa geli mendengar celoteh khas anak kecil yang dibuat istrinya. Ia berdiri dan mencubit pelan pipi Nadhira yang sudah mulai nampak gemuk. "Kamu sungguh menggemaskan, Sayang."


"Sudah siap berangkat, Tuan Oktara ?"

__ADS_1


"Tentu saja, Nyonya Oktara."


"Baiklah. Mari berangkat."


Ia menggandeng tangan Reyhan dengan sebelah tangan. Dan tangan lainnya menjinjing tas kerja Reyhan. Juga tas jinjingnya untuk ke kampus.


_____


Mobil milik Reyhan melaju keluar melewati pagar besi yang menjulng tinggi itu. Membelah jalanan kota yang mulai di padati kendaraan roda dua maupun roda empat.


Ia menatap keluar jendela seperti biasa. Menikmati arus jalanan dan gedung-gedung tinggi yang menggapai cakrawala. Tak lupa dengan asap yang kian mengepul dari kendaraan yang berlalu lalang.


Tatapannya berhenti tepat pada seorang gadis kecil dengan rambut dikepang satu tengah menjajakan dagangannya. Ia melihat gadis itu menyeka keringat yang ia mulai mengucur sepagi ini.


"Kak, berhentilah didepan sana!" ucapnya seraya menunjuk ke arah gadis kecil berkepang satu itu.


"Ada apa, Al ?"


"Aku ingin membeli jajanan yang dijual gadis kecil itu. Boleh, ya ?"


"Tapi, Al..."


"Kali ini saja." Ia menangkup kedua tangannya didepan dada. "Aku kasihan melihat gadis kecil itu," lanjutnya dengan nada kasihan.


"Baiklah," ucap Reyhan setelah melihat ke arah yang ditunjuk istrinya. Ia menepikan mobil tepat di hadapan gadis kecil yang tengah duduk di trotoar jalan raya.


Ia turun dengan segera dan mendekati gadis kecil berkepang satu itu. Lantas gadis kecil itu berdiri dan menyapanya. "Mau membeli kue pisang saya, Kak ?"


"Benarkah ?" tanya gadis itu dengan tatapan berbinar.


"Tentu saja. Bisa bungkuskan semuanya untuk kakak ?"


Gadis kecil itu dengan cepat membungkus semua kue pisang yang akan dibelinya dengan kantong plastik berwarna hitam. "Ini, Kak." Gadis itu menyodorkan kantong plastik pada Nadhira.


"Jadi, berapa total semuanya, Dik ?"


"Seratus dua puluh ribu rupiah saja, Kak."


Ia merogoh tas jinjingnya. Mengambil dompet dan mengeluarkan empat lembar uang ratusan ribu. Memberikannya pada gadis kecil itu.


"Uangnya lebih, Kak."


"Tak mengapa. Ambil saja semuanya."


"Tapi, Kak..."


Belum sempat gadis kecil itu melanjutkan kalimatnya. Ia sudah lebih dulu memotong. "Kakak ikhlas, Dik. Itu sudah rezekimu yang dititipkan melalui kakak. Ambillah."


Mata gadis kecil itu berbinar. "Terimakasih banyak, Kak." Ia mencium tangan Nadhira dengan hormat.

__ADS_1


Reyhan yang melihat hal itu merasa bangga pada istrinya.


"Sama-sama, Sayang." Ia mengelus lembut puncak kepala gadis kecil itu. "Siapa namamu ?"


"Nama saya Medina, Kak."


"Apakah kamu tidak sekolah, Medina ?"


Ia melihat mata Medina yang tadinya berbinar berubah sendu. Ada genangan di kelopak matanya.


"Dulu saya sekolah, Kak. Tapi, sekarang sudah tidak lagi."


"Kenapa ?"


"Orang tua saya tidak mampu membayar uang sekolah. Jadi, saya terpaksa berhenti. Dan saya ingin membantu orang tua saya untuk memenuhi kebutuhan hidup setiap harinya dengan berjualan kue pisang ini."


Rasa kasihan dan bangga menyergapnya bersamaan. "Kakak bangga denganmu, Medina. Semoga Tuhan melancarkan rezeki untukmu dan keluargamu, ya, Dik."


"Terimakasih, Kak. Semoga Tuhan jua membalas kebaikan kakak ini."


Ia tersenyum. Dirasakan pundak tengah dirangkul tangan kekar yang tak asing. Ia menoleh dan dilihatnya Reyhan tengah tersenyum padanya.


"Itu suamiku kakak ?"


"Iya, Dik."


"Tampan. Dan sangat serasi dengan kakak," puji Medina dengan polos.


Ia dan Reyhan terkekeh bersama.


"Kakak beruntung mendapatkan istri sebaik kakak cantik ini," ucap Medina dengan tangan yang memarik lengan jas milik Reyhan.


"Iya. Kamu betul sekali, Dik. Saya sangat beruntung mendapatkan istri secantik dia."


"Sudahlah. Berhenti memujiku seperti itu."


Ia berjongkok dan mensejajarkan diri dengan Medina. "Sekarang pulanglah, Medina. Berikan rezeki yang kamu dapatkan hari ini pada orang tuamu. Semoga menjadi berkah, ya, Sayang."


"Iya, Kak."


"Kakak pergi dulu. Kamu hati-hatilah dalam perjalanan pulang."


Medina mengangguk. Menyalami tangannya dan Reyhan. Kemudian berlalu dari hadapannya.


"Kasihan sekali gadis sekecil Medina harus berjuang membantu orang tuanya. Harusnya menginjak usianya sekarang ini ia sedang asyik-asyiknya bersekolah dan bermain. Tapi, dia berbeda. Dia rela berhenti bersekolah hanya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan kedua orang tuanya."


Ia menghela napas panjang.


"Oleh karenanya, kita harus banyak-banyak bersyukur, Sayang. Kita bisa mendapatkan keluarga yang utuh. Jua kehidupan yang mumpuni."

__ADS_1


Ia mengangguk dan memeluk suaminya.


__ADS_2