
“Sayang, bisa aku tinggal sebentar ke kamar Farhan ?”
Reyhan membuka suara setelah beberapa saat terdiam tanpa melakukan apapun didalam kamar bersama Nadhira. Bukan tidak mau bmelakukan apa-apa. Hanya saja mereka masih merasa kaku dan malu-malu.
“Iya tidak apa-apa. Pergilah.” Ucap Nadhira dengan wajah tertunduk.
“Kamu istirahat, ya.”
Nadhira menggeleng.
“Kenapa ?” sebelah alis Reyhan terangkat.
“Belum ingin. Hee.” Nadhira menyengir.
Melihat tingkah istrinya, Reyhan merasa gemas sendiri. Tanpa sadar dan tanpa mampu ditahan lagi, tangan kekarnya mengacak-acak hijab yang menutupi kepala istrinya.
“Aish... kakak jangan diacakin dong jilbab aku.” Sungut Nadhira dengan bibir yang dimajukan beberapa senti dan tangan yang berusaha merapikan hijabnya yang sedikit berantakan.
“Sepertinya, itu akan menjadi hobby baruku deh, Dek.”
“Kalau punya hobby tuh yang bermanfaat. Jangan kayak Abang. Hobbynya ngacakin rambut aku saja.”
“Ini juga bermanfaat kok.”
“Tolong beritahu aku apa manfaatnya ?”
Nadhira memutar tubuhnya menghadap Reyhan yang duduk menyamping di pinggiran ranjang. Ia menangkup dagunya dengan kedua tangan. Memiringkan sedikit kepalanya menanti jawaban dari Reyhan.
“Manfaatnya, untuk menyenangkan aku 'kan, Dik,” Reyhan tersenyum dan menatap istrinya.
Kedua retina itu bertemu. Saling beradu pandang dalam beberapa detik. Bibir mereka terangkat ke atas membentuk lengkungan senyum.
“Tapi, aku nggak mau. Gimana dong ?” Nadhira memutuskan tatapan terlebih dulu.
“Yakin nggak mau ?”
Nadhira mengangguk tanpa ragu.
“Itu artinya kamu nggak mau dapat pahala.”
Alis Nadhira bertautan menjadi satu.
“Menyenangkan suami itu pahala lho, Dek.”
“Yaahh... Kalau sudah bahas-bahas suami aku kalah telak, Kak.”
Nadhira mendengus pasrah.
“Ya sudah sana pergi. Katanya mau ke kamar Farhan.”
“Kamu mengusirku, Sayang ?”
“Nah ‘kan salah lagi.”
“Iya. Iya. Aku tinggal, ya.”
Nadhira kembali mengangguk-angggukkan kepalanya.
“Aku panggilkan Raina untuk menemanimu disini. Mau ?”
“Boleh.”
“Tunggu, ya.”
Baru selangkah Reyhan membawa kakinya. Ia tiba-tiba berhenti.
“Kenapa ?” tanya Nadhira dengan tampang kebingungan.
“Bolehkah aku mengecup keningmu sebelum aku pergi, Dik ?"
“Anything for you, My Beloved Husband,” balas Nadhira dengan senyum manisnya.
Reyhan menanggalkan masker yang ia gunakan untuk menutupi lukanya dan melemparnya sembarangan. Ia tidak ingin apapun menghalangi kontak fisiknya dengan Sang Istri.
“Tunggu!” Cegah Nadhira saat Reyhan sudah mendekatkan wajahnya.
Nadhira mundur beberapa senti. Menatap lekat-lekat setiap inci wajah suaminya yang berjarak sangat dekat dengannya.
“Wajah kakak ?”
“Bisakah kita tidak membahas ini dulu, Sayang ?” Ucapnya begitu lembut. Menenteramkan hati yang mendengarnya.
“Tap...” Ucapan Nadhira terhenti saat jari telunjuk Reyhan menempel di bibirnya.
“Setelah kembali dari kamar Farhan. Kamu boleh tanya apapun yang kamu mau. Aku akan menjawabnya. He’em ?”
“Promise ?”
Reyhan mengangguk. Perlahan wajahnya bergerak maju. Hingga jaraknya dengan Nadhira benar-benar begitu dekat. Perlahan tapi pasti. Mata Nadhira terpejam.
Sedetik kemudian, bibir yang tak pernah tersentuh benda bernama rokok itu mendarat tepat di kening Nadhira.
Nadhira merasakan benda kenyal dan sedikit basah itu menyentuh kulitnya. Hatinya ketar-ketir. Jantungnya berdetak kencang hingga terasa akan loncat dari posisinya. Darahnya pun tak kalah hebat berdesir diluar batas normal.
Jangan lupa dengan Reyhan.
Dia pun merasakan hal yang sama. Rupanya, sedikit sentuhan itu sangat besar pengaruhnya terhadap reaksi organ tubuh diantara keduanya.
“Tunggu disini. Aku panggilkan Rayna untuk menemanimu sementara aku tinggal ke kamar Farhan.”
Nadhira menjawab hanya dengan anggukan kepala yang diirngi senyum terbaiknya.
Bibir Reyhan ikut melengkung membentuk sebuah senyuman untuk membalas senyum yang di persembahkan Nadhira untuknya. Kemudian, ia berjalan meninggalkan Nadhira seorang diri dikamar.
***
Reyhan POV
Aku melangkah meninggalkan Nadhira setelah ku lepas sentuhan bibirku dikeningnya yang masih terasa menghangat. Karena, kondisinya yang belum pulih total selepas keluar dari Rumah Sakit pagi tadi.
Sebelum ku putuskan untuk benar-benar menutup pintu kamarku. Oh... Ralat. Kamar kami. Kamarku dan Nadhira.
Karena, sejak saat dimana tanganku menjabat tangan walinya dan mengikrarkan ijab qabul. Apa yang sudah menjadi kepunyaanku adalah miliknya juga.
__ADS_1
Aku menghadiahinya seutas senyum terbaik yang kumiliki padanya, yang masih terpaku menatapku yang tengah beranjak meninggalkannya. Dan, kudapati pula balasan dengan ia berbalik tersenyum begitu manisnya.
“Jangan sering-sering tersenyum seperti itu, Sayang. Jika kamu tidak ingin suamimu ini terkena diabetes. Sebab, senyummu terlalu manis.” Batinku berteriak.
Aku menutup pintu kamar dengan pasti. Dan tepat saat pintu tertutup. Tanganku seketika kuletakkan tepat dibagian dadaku.
“Oh... Tuhan. Jantungku berdetak begitu hebatnya. Hanya melihatnya dengan seulas senyum saja mampu membuatku merasa tak karuan seperti ini.” Bisikku pada diri sendiri.
Masih dengan menikmati irama dari detak jantungku. Aku tak menyadari sama sekali bahwa Mama ternyata sudah berada disampingku.
“Kakak sakit lagi ?”
Pertanyaannya yang bagiku begitu tiba-tiba menyentakku dari lamunan konyol itu.
“Astaga, Ma. Bikin Reyhan kaget saja.”
“Kenapa, Kak ?” Tanya Mama lagi dengan rasa khawatirnya.
“Reyhan baik-baik saja, Ma.”
“Lah... itu pegang dada kenapa ?”
“Oh..”
Refleks aku menurunkan tanganku dari tempatnya tadi.
“Oh..ini.. eee. Itu, Ma.”
“Oh... siapapun! Tolong aku untuk beralasan.”
“Kenapa ?” pertanyaan Mama semakin membuatku merasa terpojokkan.
Lucu sekali bukan jika kukatakan semuanya pada Mama ?
“Mmm... Adik mana, Ma ?” Ucapku mencoba mengalihkan topik.
“Dikamar. Mama baru saja keluar dari kamarnya. Kenapa ?”
“Reyhan mau ke kamar adik.”
“Ya sudah. Sana gih. Mama mau masak dulu untuk makan siang nanti.”
“Maaf ya, Ma. Reyhan nggak bisa minta tolong Nadhira untuk bantuin Mama. Nadhira masih butuh istirahat. Kata Dokter juga dia tidak boleh terlalu capek.”
“Iya. Tidak apa-apa, Kak.”
“Terimakasih ya, Ma.”
"Tapi, kamu yakin baik-baik saja, Kak ?"
"Iya, Mama Sayang."
Aku menatap Mama yang berjalan meninggalkanku menuruni tangga satu per satu. Tanpa sadar bibirku yang masih terasa nyeri ini melengkung membentuk senyuman.
“Terimakasih, Tuhan. Telah kau kirimkan aku perempuan kuat nan baik hati seperti Mama.”
Oh... Aku bahkan terlupa pada niat awalku. Ke kamar Raina dan memintanya menemani istri kecilku.
Kakiku melangkah menuju kamar Raina yang berjarak 3 kamar dari kamarku.
Aku mempertajam pendengaranku untuk memastikan apakah aku tak salah dengar.
Dan...
Ternyata memang benar. Aku semakin mendengar isakan itu.
Kakiku bergerak maju mencari dari kamar mana suara isakan itu berasal.
Pada akhirnya, langkahku benar-benar terhenti didepan sebuah kamar yang ditempati adik lelakiku, Farhan.
Alisku tertaut menjadi satu. Otakku kembali bekerja untuk berpikir.
“Apa aku tak salah dengar ?” bisikku ragu-ragu pada diriku sendiri.
Tanpa berpikir lebih lama lagi. Kuputuskan untuk memeriksa langsung Farhan dikamarnya.
Namun, lagi-lagi langkahku ini terhenti saat otakku mulai bekerja mengalihkan pikirku pada Nadhira yang ku tinggalkan sendiri dikamar. Dan, sudah ku katakan padanya untuk memanggil adik kecilku, Raina agar menemaninya sementara aku tinggal.
Aku bergegas menuju kamar Raina. Ku temui dia yang sedang bermain dengan boneka-boneka barbie favoritnya.
“Dik!” panggilku yang mampu mengalihkan fokusnya dari mainan ditangannya.
“Kakak!” balasnya seraya berlari ke arahku yang masih berdiri di ambang pintu.
“Temani adik main,” Ucapnya menguncang-guncang tanganku.
Aku berjongkok untuk mensejajarkan diri agar tinggiku sama dengannya dan memudahkan aku berbicara.
“Adik mau main ‘kan ?”
Kepalanya mengangguk cepat.
“Main dikamar kakak, ya ?”
“Nggak mau ah. Dikamar kakak mana ada mainan kayak gini,” Ucapnya dengan menunjukkan satu dari sekian banyak boneka yang ia punya padaku.
“tapi, dikamar kakak nanti ada yang nemenin main. Mau nggak ?”
Nampak ku lihat gadis kecil menggemaskan dihadapanku itu tenngah menimbang-nimbang ucapanku.
“Nggak apa-apa kok adik bawa saja semua mainan adek ke kamar kakak.”
“Tapi, disini ‘kan ada kakak yang nemenin adik main.”
Ah... aku mulai frustasi menghadapi gadis kecil ini. Rupanya sifat cerewet Mama semua diturunkan padanya. Bagiku, Raina adalah Mama sewaktu kecil dulu.
“Dengerin kakak deh, Dek. Sekarang masukkan mainan-mainan yang adek mau pakai ke keranjang. Terus kita bawa ke kamar kakak. Nanti adek main disana. Ada gadis cantik, baik hati yang akan menemani adek."
“Kakak aja yang temenin. ‘kan biasanya juga gitu.”
Aku mendengus kesal.
“Kakak nggak bisa, Sayang.”
__ADS_1
“Kenapa ?”
“Ya Allah. Kenapa Si Kecil ini cerewet sekali ? Apa ini yang diajarin Mama selama ini ?” Batinku berteriak.
“Astagfirullah. Nyebut, Ham. Nyebut. Jangan suudzon. Apalagi sama orang tua sendiri.” Aku mengelus dada berulang kali.
“Begini saja. adek mau ada teman main atau tidak ?”
“Mau dong!” Jawabnya dengan mata berbinar.
“Nah, sekarang adek masukkan ke keranjang mainan adek. Sisanya biar kakak yang beresin.”
Nadhira bergegas melaksanakan titahku. Tak lupa juga aku harus membantunya sehingga kami tidak memakan banyak waktu.
“Sudah, Sayang ?”
“Sudah, Kak.”
“Sekarang sini keranjangnya biar kakak yang bawa.”
Raina menyerah sebuah keranjang berukuran sedang yang berisi berbagai bentuk mainan yang aku sendiripun tak tau namanya. Yang ku tau hanya boneka barbie saja. bahkan, itupun Raina yang memberitahuku tentunya.
“Ayo, Dek!”
Aku menggandeng tangan mungil adik bungsuku itu. Menuntunnya menuju kamarku menemui Nadhira.
Tepat didepan kamar Farhan. Kakiku seketika berhenti. Ku dengar isakan yang itu masih memekakkan gendang telingaku. Membuat ngilu hatiku. Baru kali ini telingaku menangkap suara semenyedihkan itu dari adik lelakiku itu.
“Ayo, Kak!”
Tarikan tangan Raina sontak membawaku kembali ke alam sadarku.
“Oh iya, Dek. Ayo!”
Aku kembali berjalan bersama Raina menuju kamar. Menemani Nadhira yang entah sudah berapa lama aku tinggalkan sendiri.
“Dek!” panggilku setelah membuka pintu kamar yang aku tempati berpuluh-puluh tahun lamanya.
Nadhira menatapku dengan senyum manisnya yang tak bosan-bosan aku pandang dan rindukan ketika berjarak.
Tak hanya Nadhira. Ternyata gadis kecil yang masih menggandeng tanganku itu pun ikut menoleh mendengar panggilanku yang sebenar-benarnya ku tujukan pada istriku.
“Ah... Tuhan. Aku lupa. Raina pun selalu kupanggil dengan sebutan itu. Tidak heran jika ia pun ikut menoleh.” Aku kembali merutuki diriku sendiri.
“Ayo!” Ajakku pada gadis kecil nan polos itu. Berjalan mendekat ke arah istri tercintaku yang tengah duduk di pinggiran ranjang.
“Sekarang adek mainnya disini sama Kak Nadhira, ya. Kakak ada urusan sebentar. Selepas urusan kakak selesai, kakak kembali dan menemani adek main.” Lanjutku panjang lebar seraya meletakkan keranjang yang berisi mainan-mainan Raina.
“Sini Raina mainnya sama kakak, ya.” Kali ini, suara lembut itu terdengar dari mulut gadis yang kemarin telah sah menjadi istriku. Kulihat ia beranjak dari tempat tidur dan duduk dilantai dimana aku meletakkan keranjang mainan yang aku bawa dari kamar Raina.
Si Gadis kecil itu mendongak, menatapku meminta persetujuan. Rupanya ia masih nampak malu-malu pada Nadhira.
“Hei! Kenapa ?” Tanyaku mensejajarkan diri dengannya.
Mulutnya masih bungkam. Tertutup dengan sempurna.
“Tuh diajakin main sama kakaknya. Kenapa masih diam saja ? Malu ?”
Aku seperti sedang berbicara dengan benda mati. Latisha bahkan tak merespond pertanyaanku sama sekali.
Oh... Aku lupa lagi. Dia memang begitu. Jika belum mengenal orang dengan baik. Maka, ia adalah makhluk super pemalu yang aku sejagat raya. Pun sebaliknya, ketika ia sudah lama kenal. Maka, nampaklah ia sebagaimana aslinya. Cerewet dan menggemaskan.
“Sini deh, Rain.” Ajak Nadhira sembari mendekat.
“Sekarang Kak Nadhira ini sudah menjadi kakaknya Raina. Iya ‘kan, Kak ?” tanya Nadhira meminta pendapatku.
Aku mengangguk pasti.
“Tentu.”
“Sekarang, jika Raina mau main. Sama kakak aja. Mau nggak ?”
Nadhira menjelaskan sebaik mungkin dengan Raina. Sikap lemah lembutnya membuatku tak tahan untuk tidak tersenyum. Ku lihat Raina pun mulai mengerti dan mengangguk malu-malu.
“Nah, gitu dong. Ayo sini.”
Raina mebgikuti saja apa yang di instruksikan Nadhira.
“Sayang ?” Panggilku.
“Hmmm.” Balasnya dengan tersenyum manis.
“Aku titip Raina sebentar.”
Ia mengangguk .
“Dek, mainnya sama Kak Nadhira dulu. Kakak pergi sebentar. Jangan nakal, ya. Kak Nadhira masih kurang sehat.”
“Oke!” Raina mengangkat jempolnya tinggi-tinggi. Membuatku gemas dan tidak tahan untuk tidak mengacak rambut hitam nan panjangnya yang tergerai itu. Alhasil, bibirnya ia manyunkan.
“Oke. Oke. Aku minta maaf.” Ucapku dengan menangkupkan kedua tanganku didada.
“Kakak mending pergi aja langsung. Biar Raina main sama aku.”
“Iya, Sayang. Iya.”
“Jangan capek-capek, ya. Ingat pesan dokter.”
“Siap, Bigboss!”
Aku terkekeh.
Aku bangkit dari dudukku.
Namun, kembali membungkukkan badan hingga wajahku berdekatan dengan wajah Nadhira.
“Aku mencintaimu.” Bisikku tepat di telinga kanannya yang ku pastikan akan membuat pipinya bersemu merah. Dan bibirnya tersenyum begitu manis yang membuatku kecanduan.
“Aku juga mencintaimu, Suamiku.” Balasnya dengan berbisik.
Deg!
Mendengar balasannya, jantungku berhenti berdetak. Mungkin kali ini pipiku yang memerah. Oh... Tuhan.
__ADS_1
Aku berdiri. Dan kali ini benar-benar keluar dari kamar yang selama ini aku tempati sendiri. Namun, mulai sekarang. Ada perempuan yang diutus Tuhan untuk menemaniku menempati kamar dengan nuansa broken white ini.
_To Be Continued_