
Dada Reyhan sesak. Hatinya ngilu.
"Kak? Farhan tidak apa-apa. Farhan baik-baik saja."
Reyhan tak acuh dengan ucapan adiknya. "Papa memukulmu lagi, Dik? Hmmm?" tanya Reyhan seraya menatap sendu adiknya.
Farhan terdiam. Ia tertunduk.
Seminggu yang lalu.
Sikap keras Papa masih melekat kuat dalam dirinya. Emosi yang sering memuncak.
Papa menatap map yang diberikan Farhan padanya. Jelas tercetak kekesalan dan kilat amarah pada netranya.
Plak!
Satu tamparan keras mendarat di pipi Farhan. Lelaki itu hanya tertunduk. Seperti biasa. Seperti Farhan kecil, ia tak melawan.
"Jika cara kerjamu seperti ini, tidak butuh waktu lama untuk melihat perusahaan hancur!" bentak Papa.
"Maaf, Pa," hanya itu yang bisa terlontar dari bibirnya.
Karena, Papa memang manusia keras dan susah mengontrol amarah. Apalagi terhadap Farhan. Lelaki paruh baya itu kembali melayangkan tamparan pada pipi yang sama.
Farhan meringis.
Tak hanya itu. Pukulan demi pukulan. Bahkan, tendangan didapatkannya hingga lelaki itu tersungkur. Ia tak melawan meski tubuhnya sudah ia yakini babak belur. Yang bisa ia lakukan hanya meringis, menggigit bibir untuk menahan rasa sakit.
Farhan memegangi kepalanya yang berdenyut. Nyeri itu kembali menghampiri. Kali ini, lelaki itu sudah tak bisa lagi menahan untuk tidak menjerit kesakitan di hadapan sang kakak.
"Aakhhh!" Farhan menjambak rambutnya dengan brutal.
Reyhan sedikit tersentak. Kaget melihat aksi Farhan. Ia menarik tangan itu. Tetapi, tenaganya tak cukup kuat.
"Sakit, Kak. Sakit," rintih Farhan. Lelaki itu sudah berlutut. Masih dengan tangan yang terus menjambak rambut hitamnya.
"Kamu kenapa, Dik?" tanya Reyhan dengan kekhawatiran yang luar biasa. Ia mencoba melepaskan tangan sang adik.
Tak kuat dengan rasa sakit di kepalanya. Farhan sampai membenturkan kembali kepalanya pada lantai.
Reyhan kaget. "Astaga, Farhan! Apa yang kamu lakukan?"
"Mama!" panggil Reyhan sekuat yang ia bisa.
"Jangan panggil Mama, Kak. Jangan. Farhan mohon. Aaakkhh!"
"Ma!" Reyhan berdecak kesal karena sang Mama belum juga kunjung datang.
Farhan meraih kemejanya kembali. Memakainya untuk memutupi luka lebam yang membiru pada tubuhnya. Tentu saja hal itu ia lakukan agar tak dilihat Mama.
__ADS_1
"Kak, Farhan sudah tidak apa-apa."
Reyhan tak peduli dengan ucapan adiknya. Sebab, jelas tercetak raut wajah kesakitan di wajah pucat itu.
"Kak, jangan cerita ke Mama." Farhan menggenggam erat tangan Reyhan. Pandangannya memburam. Dan...
Lelaki itu hilang kesadaran. Kepalanya jatuh tepat pada pundak sang kakak.
"Dik! Bangun, Dik! Buka matamu! Tolong jangan seperti ini."
"Mama! Papa! Aleea!" teriak Reyhan. Tangannya masih sibuk mengguncang tubuh Farhan agar lelaki itu kesadarannya kembali.
Sang empunya nama tiada yang menyahut. Pun tiada yang datang. Reyhan berdecak kesal. Ia benci keadaan seperti ini. Keadaan saat dimana ia tak bisa melakukan apapun padahal darurat.
"Mas Farhan, ini dokumen dari Farhan." Pak Amin. Lelaki yang menghabiskan belasan tahun untuk mengabdi pada keluarga Oktara itu terkaget melihat pasangan adik kakak itu bersimpuh dilantai.
"Pak Amin tolong Reyhan," lirih Reyhan dengan pilu.
"Ada apa, Mas? Kenapa Mas Farhan bisa seperti ini?"
"Bantu Reyhan untuk memindahkan Farhan ke tempat tidur, ya, Pak. Setelah itu, minta tolong panggilkan Mama. Farhan sakit, Pak," ucap Reyhan seraya mengelus lembut kepala adiknya.
Tanpa menunggu lama lelaki tua itu dengan sekuat tenaga membawa tubuh Farhan menuju tempat tidur. Membaringkan lelaki yang hilang kesadaran itu disana. Kemudian, berlari keluar kamar anak majikannya untuk memanggil Nyonya besar di rumah itu.
...***...
"Nah, selesai juga 'kan, Ra," ucap Mama. Paruh baya itu sumringah menatap masakan yang sudah tersaji dengan rapi. Ia membayangkan bagaimana anak-anak dengan lahap menyantap makanan-makanan itu.
"Jika kamu mau makan lebih dulu. Tidak apa-apa, Sayang. Makan saja."
Nadhira menggeleng dan tertawa. "Tidak, Ma. Nadhira hanya bercanda."
Tatapan Nadhira tersita pada seorang bapak yang tengah berlari dengan pakaian security itu. Bapak-bapak tersebut tergopoh ke arahnya dan Mama.
"Ada apa, Pak Amin?" tanya gadis itu sebelum Pak Amin sampai didekat mereka.
Mama ikut menokeh ke belakang.
"Maaf, Nyonya, Neng. Eee itu.."
"Kenapa, Pak Amin?" tanya Mama tidak sabar.
"Itu, Nyonya. Mas Farhan pingsan."
Deg.
Detak jantung Mama terasa berhenti. Ia terkejut bukan main. Tanpa berkata apapun, Mama berlari meniti tangga menuju kamar Farhan. Disusul Nadhira.
...***...
__ADS_1
"Bangun, Dik! Jangan seperti ini." Reyhan terus berusaha membangunkan Farhan. Namun, tubuh lelaki yang terbaring itu tetap saja bergeming. Wajahnya pucat dan peluh semakin mengucur pada tubuhnya hingga membasahi kemeja yang dikenakan.
"Kamu bilang tidak ingin membuat Mama khawatir, Dik. Makanya bangunlah."
Reyhan mengelap keringat adiknya dengan tangan. Ia menatap iba Farhan. Ia membayangkan bagaimana adiknya itu menahan sakit bekas memar pada tubuh itu.
"Kak, Farhan kenapa?" tanya Mama dengan wajah khawatir. Tangan keriput itu menempel pada kening Farhan.
"Badan Farhan panas sekali, Kak. Kita bawa ke Rumah Sakit, ya."
Reyhan mengangguk. "Minta tolong Pak Amin, Ma," lirihnya. Satu hal yang sangat Reyhan sesali dan membuat dadanya sesak adalah ketidakberdayaannya. Saat sang adik tentu saja membutuhkannya, ia bahkan hanya bisa duduk tanpa berbuat apa-apa.
"Maafkan Reyhan tidak bisa berbuat apapun, Ma." Setetes butiran bening itu jatuh dari kelopak matanya yang sayu.
Mama tak menanggapi. Perempuan paruh baya itu tengah bersedih. Sangat. Melihat dua anak lelakinya dalam kondisi menyedihkan.
"Farhan kenapa, Ma?" tanya Nadhira yang baru saja datang.
"Badannya panas. Farhan demam tinggi."
"Biar Nadhira kompres saja, Ma. Sebentar Nadhira ambilkan air hangat untuk mengompres Farhan."
Mama mengangguk. Tatapannya lekat pada wajah pucat yang terbaring dengan mata tertutup itu. Kemudian, beralih pada Reyhan yang tertunduk. Sesekali dilihat anak sulungnya itu meringis. "Istirahat saja di kamarmu, Kak. Biar Mama yang jaga Farhan disini," ucap Mama lembut dengan menyentuh pundak Reyhan.
"Tidak apa-apa, Ma. Reyhan ingin memastikan saat Farhan bangun nanti ia akan baik-baik saja seperti apa yang dikatakan pada Reyhan."
"Kamu harus memikirkan kesehatanmu, Nak."
"Kesehatan Farhan lebih penting."
"Farhan katakan pada Mama ia hanya demam biasa dan..."
"Mama tidak tahu apa-apa," sela Reyhan dengan cepat hingga kalimat Mama terjeda dengan paksa.
Mama menatap Reyhan tak mengerti. "Apa maksudmu, Kak?"
"Mama tidak tahu ba..."
"Sa...kit, Pa, Ma," rintih Farhan dengan mata yang masih terpejam sempurna.
Mama mengalihkan perhatiannya pada Farhan. "Bangun, Nak. Ini Mama. Bangun, Sayang. Buka matamu."
"To...long Farhan, Kak. Sakit," rintih Farhan lagi dengan suara yang lebih memilukan dari sebelumnya. Air mata mengalir dari sudut lelaki itu.
"Dik, Kakak disini. Ayo bangun." Reyhan sedikit mengguncang tubuh lemah itu.
Perlahan mata Farhan terbuka. Ia mengedarkan pandangannya ke segala penjuru ruangan. Tatapannya berhenti pada netra yang tengah menatapnya dengan berkaca-kaca itu. Ia tersenyum. Kemudian, beralih pada Reyhan yang juga tengah menatapnya. Berbeda dengan Mama. Tatapan Reyhan lebih tampak memilukan. Mata kakaknya itu masih basah.
"I'm ok," ucapnya dan berusaha bangkit.
__ADS_1
"Tidur saja. Badanmu masih lemah, Nak."
Farhan tetaplah Farhan. Lelaki keras kepala. Persis seperti Papa.