
Nadhira's POV
Aku berusaha dengan sekuat tenaga memejamkan mataku. Mengusir dan menghempas sejauh mungkin pemikiran serta pertanyaan tentang kotak kuning keemasan yang tak sengaja ku temukan dipojok ruang pribadi Kak Reyhan. Kotak yang menyebabkan raut wajahnya berubah dalam sekejap.
Usaha yang ku lakukan dengan sangat nampaknya berakhir sia-sia. Mataku tak jua kunjung mampu ku pejamkan dengan sempurna. Otakku bahkan enggan untuk ku ajak kompromi memusnahkan segala pemikiran yang tak seharusnya aku pikirkan itu. Karena, jelas saja sangat menggangguku.
"Huh!" Aku dengan kasar membuang napas. Menyibak selimut tebal yang membungkus sebagian tubuhku.
Tatapanku beralih pada benda bundar dengan motif bunga mawar yang ditempel pada dinding kamar. Kemudian, beralih lagi pada ponsel yang ku letakkan rapi diatas meja samping tempat tidur.
Tepat sekali. Ponselku berbunyi saat sudah dapat ku genggam dengan sempurna.
"Mikayla ?"
Ku tatapi beberapa detik ponsel yang masih berdering dan bergetar di tanganku. Menatap nama seseorang yang melakukan panggilan untukku. Sebentar saja otakku secara spontan mengingat Abang.
Entah kenapa akhir-akhir ini aku sering merasa aneh pada diriku sendiri. Setiap kali aku mengingat Kayla, sahabatku. Atau seseorang dengan tak sengaja menyebut namanya di dekatku. Otakku dengan cepat terangsang dan berpikir tentang Abang.
"Assalamualaikum, Kay," sapaku lebih dulu dengan salam setelah menggeser tombol hijau yang ada di ponselku.
"Wa'alaikumussalam, pengantin baru. Apakah aku sudah mengganggu waktumu dengan suamimu, Ra ?" ucapnya dengan setengah bercanda dari seberang telpon.
"Tentu saja kamu sudah menggangguku, Kay. Aku sedang sibuk membuatkanmu keponakan yang banyak," balasku dengan tawa yang tak bisa ku tahan lagi.
Terdengar suara tawanya yang nyaring disana. "Oh benarkah ? Maafkan sahabatmu yang satu ini jika memang begitu, Nyonya Oktara."
"Tidak, Kay. Tidak. Aku hanya bercanda. Ada apa ? Tumben sekali kamu menghubungiku ? Apakah kamu sudah sangat merindukan gadis yang cantik jelita ini ?" tanyaku dengan kadar kepercayaan diri yang teramat sangat tinggi.
"Rupanya tingkat percaya dirimu belum berubah sama sekali sejak aku mengenalmu, Nadhira Aleean Prayudha. Astaga. Tuhan belum memberikan kesadaran padamu jua kah ?"
"Aku memang cantik, Mikayla Sisilia Tjoeandro. Suamiku saja sering mengatakan bahwa aku benar-benar cantik."
"Sudahlah, Ra. Bukan itu yang ingin aku bahas sebenarnya."
"Lalu ?"
"Bisakah kamu ke kampus sekarang ? Pak Aryo baru saja menanyakanmu padaku perihal tugas akhirmu. Sekalian juga bertemu denganku. Bagaimana ?"
"Oh baiklah. Aku akan ke kampus sekarang. Tapi, aku meminta izin dulu pada suamiku. Sebab, ia masih belum pulih total. Jadi, aku takut untuk meninggalkannya kemanapun."
Setelah membalas salam Kayla, aku memutuskan sambungan telpon. Bergegas dari tempat tidur dan menyambar handuk.
Dengan cepat aku mengguyur sekujur tubuhku dengan air dingin. Menyegarkan otot dan badanku yang terasa tak enak. Terlebih otak dan hatiku yang belum jua merasa tenang.
Gamis hitam pekat yang ku letakkan dalam lemari adalah satu pilihan pakaian yang ingin aku kenakan untuk ke kampus. Lalu ku padukan dengan jilbab pashmina berwarna biru muda.
__ADS_1
Tak butuh waktu lama aku bersiap. Dengan segala keperluan yang sudah ku siapkan dan ku masukkan ke dalam tas. Aku beranjak keluar kamar. Berjalan ke ruangan yang berada di pojok lantai dua rumah ini.
Langkahku begitu pasti. Tak sabar ingin segera meminta izin dan berangkat ke kampus. Vertemu dua manusia yang selalu menemaniku empat tahun terakhir ini. Dua manusia berbeda sifat yang memberi warna dalam ikatan persahabatan.
"Nadhira!"
Aku menoleh ke belakang dan mendapati Mama dengan segelas jus segar ditangannya. Juga sepiring makanan yang ku yakini buatan tangan kreatifnya.
"Iya, Ma."
"Bagaimana luka di tanganmu ? Apakah sudah kamu bersihkan dan obati ?"
"Sudah, Ma. Tadi dibersihkan oleh Kak Reyhan."
Aku berjalan mendekati Mama yang berdiri tepat didepan pintu kamarku.
"Mama buatkan jus ini untukmu. Dan makanan ringan hasil eksperimen Mama hari ini," kata Mama dengan bangga seraya tersenyum lebar.
Mataku tentu saja berbinar. Sekarang aku sudah menjelma menjadi manusia yang tak bisa menahan diri saat melihat makanan. Terlebih makanan buatan Mama yang kelezatannya tak ku ragukan lagi. Juga kebersihan yang selalu dijaganya.
"Wah... Benarkah ini untuk Nadhira, Ma ?"
"Iya, Sayang. Kamu harus menjaga kesehatan dan pola makanmu. Terlebih lagi kamu sedang berusaha membuatkan Mama cucu, bukan ?"
Sungguh. Demi apapun aku malu bukan kepalang mendengar ucapan Mama. Tapi, aku membenarkan juga ucapannya. Karena, aku sedang berusaha agar segera menimang Reyhan junior.
"Tapi, sekarang Nadhira mau pergi ke kampus, Ma. Ada tugas yang harus Nadhira selesaikan dengan segera," lanjutku menjelaskan Mama.
"Kamu minum dulu jus ini. Makanannya masih bisa kamu simpan di kulkas dan kamu makan sepulang nanti. Atau kamu berikan saja pada Reyhan. Biar kamu nanti Mama buatkan lagi."
"Baiklah, Ma." Aku meraih segelas jus segar yang dibuatkan Mama. Meneguknya hingga tandas dalam sekali teguk.
"Ini makanannya. Kamu bawa saja ke kamar dan berikan pada Reyhan."
"Iya, Ma. Terimakasih sudah memberikan perhatian lebih pada Nadhira. Juga pada Kak Reyhan."
"Kalian anak-anak Mama. Tentu saja Mama akan memberikan perhatian semampu Mama, Nak."
Aku memeluk Mama erat dan mencium pipinya. Memeluknya selaksa aku memeluk tubuh Bunda. Nyaman dan hangat.
"Mama turun dulu. Raina sedang menunggu Mama di taman belakang."
Aku mengangguk menyahuti Mama.
Sepeninggal Mama aku segera kembali ke kamar. Meletakkan makanan yang dibuatkan Mama. Agar nanti ketika Kak Reyhan kembali dari ruang kerjanya. Ia menemukan makanan itu dan memakannya.
__ADS_1
Langkahku kembali ku ayunkan menuju ruang pribadi Kak Reyhan dipojok sana. Mencoba untuk mengetuk pintu.
Dan...
Tanganku menggantung di udara. Suara yang berasal dari dalam membuat aku mengurungkan niatku mengetuk pintu.
Aku mempertajam indera pendengaranku agar dapat mendengar suara itu dengan jelas. Namun, sayup-sayup kudengar ia menyebut nama seseorang.
"Siapa ?" tanyaku pada diriku sendiri.
Aku berjalan selangkah lagi. Dan berdiri tepat didepan pintu.
Deg...
Jantungku berhenti berdetak. Bumiku berhenti berotasi. Darahku jua tak kurasa mengaliri sekujur tubuhku.
"Aku rindu menggandeng tangan itu. Mengelus rambut panjangmu yang selalu enggan kau ikat, Meer. Yang selalu kau biarkan tergerai, tertiup angin kencang dan akan menutupi mata indahmu."
Kalimat itu berhasil menyentuh ruang terdalam yang ia tempati sendiri. Terlebih kalimat itu diiringi tawa yang kudengar bahagia sekali.
Dadaku sesak. Pandanganku mulai mengabur. Ku pastikan ada genangan di kelopak mataku yang kapan saja siap membanjiri pipiku.
"Astaghfirullah. Bisa-bisanya suamiku merindukan perempuan lain." Aku mencoba beristigfar berulang kali. Mendongakkan kepalaku untuk menghalau air mata agar tak tumpah sembarangan.
Selangkah demi selangkah aku mundur. Hingga badanku membentur batasan tangga. Aku terus menggelengkan kepala. Mengusir jauh kalimat yang ku tangkap tadi agar tak terngiang di inderaku.
Setetes.
Dua tetes.
Air mata bukan lagi hanya sebatas tetesan. Tapi, berubah seketika menjadi aliran air yang sangat deras. Membanjiri dengan cepat pipiku yang sudah ku polesi sedikit make up.
Aku mencoba menyeka air mataku yang masih mengalir. Berniat kembali memasuki ruangan itu. Namun, tepat saat tanganku menyentuh pintu. Kalimat yang seharusnya tak ku dengar kembali terlafal dengan baik seperti bait-bait puisi yang dibaca para penyair.
Ku turunkan tanganku dari pintu. Berdiri tegap tanpa ingin mundur lagi. Biarlah kali ini ku paksakan telingaku mendengar ucapan-ucapan manis suamiku untuk perempuan bernama Elmeera itu.
Aku hanya tersenyum miris mendengar semua itu. Barangkali selama ini aku terlalu percaya diri bahwa sepenuhnya hati Kak Reyhan hanya milikku. Bahkan untuk rindu sekecil apapun tak akan dimiliki siapapun selain aku.
Dan detik ini. Kejutan yang tak pernah ku harapkan datang dan berhasil menghantamku dengan paksa. Bagaimana aku bisa mempercayai semua ini ? Sedangkan harapanku begitu besar bahwa tak ada lagi orang lain yang akan menjadi tokoh dalam cerita rumah tanggaku.
Saat seperti ini aku benci meneteskan air mata. Benci menjadi perempuan cengeng. Harusnya aku menjadi seseorang yang mampu membuat dirinya sendiri tegar tanpa meminta pada siapapun.
Dan nyatanya aku salah. Aku masih tetap sama. Menjadi Nadhira kecil yang suka meneteskan air mata tanpa ampun.
Ku seka air mataku dengan ounggung tangan saat ku dengar suara derap langkah kaki yang semakin mendekat. Aku yakini itu adalah suara langkah kaki Kak Reyhan.
__ADS_1
Namun, sialnya air mata ini tak jua kunjung berhenti keluar. Sampai pintu ruangan terbuka dengan lebar dan menampilkan wajah tampan suamiku yang terkaget melihatku sudah berdiri di depan pintu dengan berlinag air mata.
"Aleea ?"