
Ruangan dengan nuansa putih itu terasa mencekan bagi Nadhira. Entah apa yang tengah mendera perasaan gadis yang belum genap berumur dua puluh satu tahun itu. Ia menatap wajah tegang suaminya setengah melakukan pemeriksaan oleh Dokter Dharma. Tangannya menggenggam tangan Reyhan yang dingin dengan erat.
"Kakak baik-baik saja 'kan?" tanya gadis itu sedikit berbisik.
Reyhan hanya menganggukkan kepala untuk menimpali pertanyaan yang terlontar dari bibir mungil nan ranum gadis disampingnya itu. Senyum tipis yang dipaksakan menghiasi bibir pucatnya. Begitu juga dengan rahang tegas yang berusaha menampakkan ekspresi baik-baik saja. Tentu saja hal itu dilakukan agar istri manjanya itu tak khawatir padanya.
Otak Reyhan kembali berputar hebat. Bagaimanapun ia membuat tenang istrinya. Nanti juga gadis berjilbab itu akan tahu bagaimana kondisi yang sebenarnya. Tentu saja hal itu didengar langsung dari sang dokter.
"Sebelumnya saya minta maaf, Pak Reyhan. Dengan terpaksa saya harus memberitahu Bapak tentang kondisi yang sebenarnya." Dokter Dharma menghela napas panjang sebelum melanjutkan kalimatnya. "Setelah melakukan pemeriksaan tadi. Tingkat kesembuhan Bapak hanya empat puluh persen saja."
Nadhira menatap Reyhan sendu. Tetapi, yang dilihatnya hanya tersenyum tipis.
"Tetapi, itu hanya prediksi saya sebagai ahli medis, Pak. Karena, yang maha menyembuhkan hanya Sang Kuasa. Jadi, tolong Pak Reyhan jangan semakin psimis setelah ini. Tetap berusaha dan berdo'a. Saya akan selalu membantu Bapak semampu saya," imbuh Dokter Dharma.
"Terimakasih, Dok. Kalau begitu, saya dan istri pamit dulu, ya."
Dokter Dharma mengangguk dan mempersilahkan Reyhan meninggalkan ruangannya. Dokter dengan umur yang tak terbilang muda itu menatap iba pasiennya yang satu itu.
...***...
Mobil merah menyala milik Reyhan melaju pelan membelah jalanan kota. Tetapi, arah yang dilewatinya sama sekali bukan arah menuju rumah ataupun rumah orang tua Nadhira.
Tatapannya masih lurus ke depan. Ia tak menoleh sedikitpun pada Nadhira sejak memasuki mobil. Lelaki itu sibuk dengan pikirannya sendiri.
"Kak," panggil Nadhira dengan suara bergetar. Ia sedang berusaha menahan air mata agar tidak tumpah di hadapan Reyhan. Ia kaget, sedih mengetahui keadaan Reyhan yang sesungguhnya. Tetapi, gadis itu berusaha tegar.
"Iya, Sayang. Kenapa? Mau sesuatu lagi?" tanya Reyhan dengan menatap istrinya hanya sebentar. Kemudian, fokus pada jalanan yang tampak macet.
"Kita mau kemana? Ini bukan jalan menuju ke rumah, 'kan?"
Reyhan tertawa kecil. "Ada kejutan untukmu. Seharusnya, aku akan memberikan kejutan ini nanti setelah anak kita lahir. Tetapi, aku takut tidak bisa memberikannya nanti."
Nadhira menatap Reyhan bingung.
__ADS_1
"Lebih cepat lebih baik, Sayang. Aku tidak tahu sampai kapan aku bisa menemanimu," lirih Reyhan. Tangan kirinya menggenggam tangan mungil Nadhira.
"Apa maksud kakak bicara seperti itu?" Nadhira menepis tangan suaminya. Ia membuang pandangannya ke luar. Menatap carut marutnya jalanan.
"Kamu sudah dengar sendiri apa yang dikatakan Dokter Dharma tadi. Tingkat kesembuhanku pun sudah sangat sedikit. Tapi, tenang, Sayang. Di sisa-sisa umurku ini, aku akan selalu menemanimu. Jangan khawatir, Sayangku."
Nadhira berusaha tak acuh dengan ucapan suaminya. Dadanya sesak mendengar untaian kata dari bibir Reyhan. Hatinya ngilu.
"Aku ingin pulang, Kak," ucap Nadhira tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan. Ia memilin ujung jilbab panjangnya. Perasaan sedih bercampur takut memporak-porandakan jiwanya.
"Tapi, aku ingin memberimu hadiah itu dulu, Sayang."
Nadhira menatap nyalang suaminya. "Aku tidak butuh hadiah. Aku butuh pulang dan istirahat."
"Sayang..."
Belum sempat Reyhan melanjutkan kalimatnya. Gadis itu sudah lebih dulu memotong. "Jika tidak mau mengantarku pulang. Turunkan aku disini. Biar aku pulang sendiri."
"Tapi, Al..."
Melihat Nadhira dengan amarah yang sudah memuncak. Reyhan mau tidak mau harus mengikuti keinginan istrinya itu. Ia berputar arah dan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju rumah.
"Iya kita pulang, Sayang."
...***...
Tanpa menoleh ke arah Reyhan. Nadhira keluar dari mobil dan berlalu memasuki rumah megah keluarga Oktara itu.
"Al tunggu!" teriak Reyhan seraya berlari menyusul gadis yang perasaannya tidak baik itu.
Reyhan menarik paksa lengan Nadhira. "Jangan seperti ini. Nanti jika Mama lihat, bagaimana?"
Ia terdiam.
__ADS_1
"Dan tolong jangan berikan kesan yang tidak-tidak di sisa umurku ini, Al. Aku mohon."
Gadis itu mengangkat kepalanya perlahan. Ditatapnya wajah pucat di hadapannya itu. Tatapannya ia tenggelamkan pada manik hitam Reyhan.
"Suamiku kuat, Kak. Tidak akan terjadi apapun pada suamiku. Aku percaya itu," ucapnya serius namun terdengar lirih.
Reyhan hanya tersenyum tipis. Ia menarik tubuh kecil istrinya ke dalam dekapannya. Ia ciumi berulang kali puncak kepala yang tertutup hijab itu. "Kamu harus kuat, Al," bisik Reyhan.
Nadhira bergeming. Ia tak ingin terlepas dari dekap hangat Reyhan. Ia ingin menikmati lebih lama tempat ternyamannya itu. "Tuhan, seberat inikah cobaan yang Kau berikan pada suamiku?" keluhnya dalam hati.
"Sayang," panggil Reyhan lembut.
"Hmmm."
"Aku mencintaimu, Al," ucap Reyhan dengan sungguh-sungguh. Tetapi, suaranya terdengar bergetar.
Reyhan mengeratkan pelukannya pada tubuh kecil itu.
Sementara Nadhira sudah tak bisa lagi menahan air mata yang sempat tergenang. Buliran bening itu tumpah membasahi kemeja yang dikenakan suaminya.
Detik berikutnya, otak gadis itu memutar kembali kepingan kejadian dimana Mama menasihatinya dengan sayang, juga dengan harapan penuh. Ia teringat ucapan Mama. "Kamu yang kuat, ya, Nak. Jika kamu saja tidak kuat menerima kenyataan ini. Bagaimana bisa kamu bisa menguatkan Reyhan?"
Ia melepas pelukan Reyhan. Menggamit kedua tangan suaminya. Menatapnya dengan senyum mengembang. "Apapun yang terjadi ke depan. Kita akan lewati bersama, ya, Sayang," ucapnya. Ingin sekali lagi ia menumpahkan air mata di hadapan lelaki yang sangat dicintainya itu. Tetapi, diurungkannya. Ia akan tetap kuat, tekadnya.
Nadhira menatap benda yang melingkar pada pergelangan tangan kirinya. Kemudian, kembali menatap Reyhan. "Sudah waktunya minum obat. Ayo masuk."
Reyhan menggeleng. "Untuk apa lagi minum obat jika pada akhirnya tidak membuahkan hasil?"
"Berusaha dulu tidak ada salahnya, bukan? Lupa, ya, dengan apa yang dikatakan Dokter Dharma tadi? Hmmm?"
Reyhan bungkam. Ia rasakan tangannya ditarik paksa oleh Nadhira. Dan yang bisa ia lakukan hanyalah mengikuti kemana arah langkah gadis di hadapannya.
Tanpa diketahui oleh Reyhan. Air mata Nadhira kembali mengucur deras. Ia teringat dengan ucapan Dokter Dharma tentang kondisi suaminya.
__ADS_1
Dalam hati ia berbicara dengan makhluk kecil yang tengah berkembang baik dalam rahimnya. "Nak, do'akan Papa selalu baik-baik saja, ya, Sayang. Bantu Mama untuk kuat juga. Karena, kamu adalah satu-satunya yang bisa Mama mintai tolong untuk menguatkan Papa."
"Nadhira. Reyhan. Ada apa ini?"