Senja (Dan Rasa)

Senja (Dan Rasa)
Bab 117


__ADS_3

"Jadi, bagaimana kondisi istri saya, Dokter ? Apakah ia baik-baik saja?" tanya Reyhan dengan kekhawatiran luar biasa yang masih terpancar jelas dari raut wajahnya. Juga dari suaranya yang terdengar bergetar.


"Iya, Dok. Bagaimana kondisi menantu saya dan kandungannya?" lanjut Mama tak kalah khawatir.


"Ibu Mia dan Pak Reyhan tenang saja. Ibu Nadhira baik-baik saja. Ia hanya terlalu banyak pikiran yang membuatnya stress. Dan itu tentu berpengaruh terhadap perkembangan kandungannya."


"Baik, Dok," jawab Mama.


"Jangan lagi membuat Ibu Nadhira stress. Karena, kandungannya juga masih lemah."


Reyhan dan Mama hanya mengangguk mendengar penjelasan pria bertubuh gembul dengan kacamata yag bertengger di hidungnya itu.


"Ini resep obat yang harus di konsumsi Bu Nadhira."


"Terimakasih, Dokter."


"Saya permisi."


Mama beranjak mengantarkan Dokter yang baru saja memeriksa Nadhira itu. Sedangkan, Reyhan hanya duduk tak mau beranjak dari dekat istrinya. Ia terus menatap wajah dengan mata yang masih tertutup di hadapannya itu. Menggenggam tangannya dengan erat.


"Sayang, bangun. Jangan membuatku takut seperti ini."


Reyhan terus saja menggenggam erat tangan istrinya. Seakan memberikan isyarat agar Nadhira segera terbangun.


Mata Nadhira perlahan membuka. Mengerjap berulang kali. Kemudian, mengedarkan pandangan ke segala penjuru ruangan.


"Alhamdulillah. Akhirnya, kamu siuman juga, Al. Aku takut."


"Memangnya apa yang tengah terjadi padaku, Kak ?" tanyanya dengan polos.


"Kamu tiba-tiba pingsan, Sayang."


Matanya terbelalak. "Hah ? Benarkah ?"


Reyhan hanya menganggukkan kepala.


"Tapi, aku merasa baik-baik saja, Kak. Bagaimana ceritanya aku sampai pingsan ?"


"Hmmm." Reyhan mengetuk-ngetukkan jari telunjuk pada keningnya. Berusaha berpikir hendak menceritakan istri polosnya itu bagaimana kronologi kejadian hingga ia tak sadarkan diri.


"Kamu terlalu banyak pikiran, Al," jawab Reyhan singkat setelah berusaha memikirkan kalimat yang tepat untuk menjawab pertanyaan Nadhira.


"Darimana kakak tahu ?"


..."Oh Tuhan. Kenapa istriku secerewet dan sepolos ini ?" keluh Reyhan dalam hati....


"Kak!" panggilnya dengan suara lantang.


"Oh iya, Sayang. Dokter yang mengatakannya padaku. Jadi, mulai sekarang kamu tidak boleh berpikir yang tidak-tidak dan tidak boleh melakukan aktivitas berat. Karena, itu akan mempengaruhi kandunganmu. Paham maksudku 'kan, Sayang ?"


Ia mengangguk polos. "Iya. Tapi, aku lapar. Bolehkah aku meminta tolong untuk mengambilkan makanan untukku ?"

__ADS_1


"Lho, kamu lupa, Al ? Aku sudah menyiapkan sarapan untukmu sejak tadi."


Tatapannya kembali berbinar. Ia bangkit dengan cepat seperti orang yang tidak pernah pingsan sebelumnya. "Benarkah ? Kakak membuatnya untukku ?"


Reyhan tersenyum lebar. "Untukmu dan untuk anak kita," jawab Reyhan dengan tangan yang mengelus lembut perut rata istrinya.


"Wah... Terimakasih banyak, suamiku."


Reyhan memberikan nampan yang sudah berisi semangkuk sereal dan susu ibu hamil. Tak lupa buah segar yang sudah ia potong untuk istrinya.


"Makanlah yang banyak. Agar kamu dan anak kita sehat." Reyhan mengelus puncak kepala Nadhira yang tengah menyantap sarapan yang sudah dibuatnya. Reyhan pun begitu menikmati bagaimana istrinya memakan makanan itu dengan lahap. Tak seperti biasa. Nadhira lebih banyak menolak karena merasa mual jika di hadapkan dengan makanan.


"Kakak juga harus sarapan. Setelah itu, kakak minum obat. Biar sehat," ucapnya tak menoleh sedikitpun pada Reyhan yang duduk di sampingnya.


"Iya, Sayang. Tapi, aku harus memastikan terlebih dulu istriku sudah sarapan dengan baik."


Ia tertawa kecil. "Sekarang kakak sudah melihatku sarapan, bukan ? Jadi, giliran kakak."


"Aku ingin sarapan disuapi istriku. Bagaimana ?"


"Hmmmm. Dengan senang hati," jawabnya seraya menyendokkan sereal dan menyuapi suaminya.


"Suapan istri memang beda, ya, Sayang ?"


"Ku pikir begitu," jawabnya enteng.


Reyhan hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah polos istrinya itu. Kali ini ia membenarkan apa yang pernah dikatakan kakak ipar sekaligus sahabatnya, Bara. Istrinya memang gadis manja, polos dengan segala sifat kekanak-kanakannya. Namun, tentu saja hal itu bukan menjadi penghalang Reyhan untuk tidak mencintai gadis dihadapannya itu. Bahkan sifat manja nan polos Nadhira membuatnya menikmati tawa lebih banyak.


"Kak! Jangan menggangguku! Aku sedang sarapan," ucapnya dengan nada kesal. Juga masih dengan makanan yang hampir penuh didalam mulutnya.


"Eits! Ingat, ya. Tidak baik berbicara jika sedang makan."


"Makanya jangan menggangguku."


Reyhan terkekeh. "Baiklah. Aku minta maaf dan sekarang lanjutkan sarapanmu. Habis semua makanan yang aku siapkan ini."


Tanpa menimpali ucapan Reyhan. Ia melahap kembali makanannya yang masih tersisa hingga tandas. Meminum susu khusus ibu hamil hingga tak bersisa didalam gelas.


"Alhamdulillah."


"Bagaimana ? Masih ingin nambah makanan lagi, Sayang ?"


Ia menggeleng. "Tidak. Aku sudah kenyang."


"Bagaimana dengan anak kita ? Apakah dia juga sudah kenyang ?"


"Nak ? Kamu sudah kenyang belum ? Itu ditanya Papa, Sayang ?" ucapnya pada perut ratanya.


Reyhan benar-benar tak kuasa menahan tawanya. "Kamu lucu, Sayang."


Tubuhnya tertarik dalam dekapan hangat Reyhan. Ciuman bertubi-tubi mendarat di puncak kepalanya. Ia membalas dengan memeluk tubuh Reyhan seerat yang ia bisa.

__ADS_1


Ia mengangkat wajahnya. Menatap wajah Reyhan. "Kak ?" panggilnya pelan.


Netra keduanya bertabrakan. Tenggelam dalam beberapa detik. "Kenapa, Sayang ?"


"Aku mencintaimu. Jangan pernah pergi dariku. Temani aku melangkah dalam semua keadaan, ya."


"Aku akan melakukan hal itu dengan sukacita tanpa kau minta, Sayang. Karena, itu adalah tugasku sebagai suamimu."


"Jangan psimis lagi. Kita melewati hari bersama dalam suka dan duka. Menikmati hari penuh penantian kehadiran buah hati kita."


"Tentu, Sayang."


Ia menenggelamkan wajahnya pada dada bidang Reyhan. Menikmati aroma tubuh yang sempat tak di sukainya itu.


"Sekarang sudah tidak mual lagi mencium aroma tubuhku, Al ?" goda Reyhan.


"Aku selalu menyukai aroma tubuh suamiku."


"Lho, yang kemarin kamu bilang merasa mual dika di dekatku."


"Aish. Itu karena aku hamil, Kak."


"Iya, Sayang. Iya. Jangan cemberut seperti itu. Nanti cantikmu hilang."


Dengan cepat ia mengubah bibirnya yang manyun menjadi lengkungan tipis namun tetap terlihat manis. "Aku sudah kembali cantik 'kan, Sayang ?"


Reyhan tertawa kecil mendengar pertanyaannya yang begitu polos. "Kamu selalu cantik."


"Oh iya. Kapan kita akan ke rumah Bunda ?"


"Nanti saja jika kondisimu sudah stabil, Al. Aku takut terjadi apa-apa denganmu jika pergi sekarang. Tadi kamu pingsan."


"Yah... Gagal lagi," ucapnya lemas.


"Aku juga tidak akan pergi ke kantor sekarang, Al. Aku akan menemani istri cantikku ini seharian di rumah," ucap Reyhan seraya mencubit pipinya.


"Benarkah ?" tanyanya dengan wajah ceria.


Reyhan mengangguk. "Iya, Sayang."


Ia kembali memeluk suaminya dengan erat. Meluapkan rasa yang ia miliki untuk Reyhan. Pelukan eratnya seperti ia tak ingin Reyhan pergi kemanapun juga.


"Sayang ?"


"Hmmm."


"Aku ingin makan makanan buatanmu. Boleh ?"


"Tentu saja boleh. Kakak mau makan apa ?"


"Terserah. Yang penting kamu yang memasaknya."

__ADS_1


"Siap, Papa," jawabnya girang.


__ADS_2