Senja (Dan Rasa)

Senja (Dan Rasa)
Bab 124


__ADS_3

Tatapan gadis berusia dua puluh tahun itu lurus ke depan. Nanar. Terik matahari yang begitu menyengat tak menjadi penghalang untuk ia duduk di tepi danau. Danau yang sering ia kunjungi bersama suaminya, Reyhan. Danau yang menjadi tempat pertama ia bertemu dengan perempuan yang baru saja membuatnya merasakan perih yang tak terhingga. Elmeera.


Air mata yang tadinya berusaha ia tahan mati-matian akhirnya luruh jua, menembus dinding-dinding kokoh sebagai pembatas. Kali ini ia membiarkan saja derai yang menghujani pipinya. Tak ingin lagi ia menyeka. Berharap tangis uang yang tercipta mampu meredakan sakit yang ia rasa. Tak mengapa hanya sedikit saja.


"Hai, Nona! Kenapa kau duduk dibawah terik seperti ini?" sapa seorang nenek tua dan ikut duduk tepat di sampingnya.


Sebentar ia menoleh dan tersenyum manis. "Aku sengaja, Nek. Aku ingin mengeringkan luka yang baru saja tertoreh."


"Tapi, terik siang hari seperti ini tidak baik untukmu."


"Oh... rupanya kau tengah mengandung juga, Nak. Bangunlah! Kasihan bayi dalam kandunganmu itu."


Nadhira menatap perutnya yang membuncit. Jika bukan karena mengingat kandungannya. Ia sama sekali tak akan mengindahkan ucapan nenek tua itu. Ia ikut bangkit bersama wanita tua yang datang entah darimana.


"Kau bisa menenangkan pikiranmu disini, Nak. Tapi, carilah tempat yang sejuk. Disana kau akan temukan ketenangan."


Tatapannya beredar ke segala arah. Mencari tempat teduh sesuai saran nenek. Retinanya tepat menangkap sebuah pohon besar. Dibawahnya rumput tumbuh dengan hijaunya. Tepat untuk menenangkan atma yang berantakan.


"Baiklah, Nek. Terimakasih sudah mengingatkanku," ucapnya tulus dengan kepala sedikit ditundukkan.


"Jangan berlarut dalam kesedihan. Karena, itu juga akan berpengaruh pada kandunganmu."


Ia hanya tersenyum tipis.


"Jika nenek boleh tahu. Berapa usia kandunganmu?"


"Sudan masuk bulan ke tujuh, Nek."


"Wah... Sebentar lagi akan lahir dan melihat dunia."


"Iya, Nek."

__ADS_1


"Semoga anak yang kau lahirkan menjadi anak yang kuat agar bisa menguatkan ibunya ini," ucap nenek memegang pundak Nadhira.


Gadis dengan jilbab yang melambai di terbangkan angin itu mengaamiinkan dengan sukacita. Entahlah darimana datangnya kenyamanan itu pada Si Nenek. Setelah tangan keriput perempuan tua di hadapannya mendarat pada pundaknya. Desiran darahnya berbeda. Tak lagi memanas.


"Nenek pergi dulu, ya, Nak. Jika kau sudah merasa lebih tenang. Pulanglah! Tubuh dan hatimu butuh istirahat."


"Tak hanya kamu. Malaikat kecil yang hadirnya pasti teramat kau nanti juga butuh ketenangan hati ibunya," lanjut si nenek dan berlalu dari hadapan gadis dengan perut buncit itu.


Tatapannya tak beralih dari punggung tua sang nenek yang kian menjauh. Senyumnya terbit tanpa sadar. Meskipun, sisa-sisa air mata yang mengalir masih jelas tercetak di pipinya.


Kakinya melangkah ke arah pohon besar yang dilihatnya tadi. Berharap berteduh disana ia akan temukan ketenangan.


Dengan pelan ia mendaratkan tubuhnya disana. Mencari posisi nyamannya. Benar saja. Kesejukan pohon tersebut mampu menenangkan pikirannya yang bercabang-cabang.


"Nak, sementara kita duduk disini dulu, Sayang. Tak mengapa, ya?" Ia dengan begitu asyiknya mengajak makhluk kecil didalam perutnya berbicara. Hingga gerakan-gerakan kecil ia rasakan. Gadis itu merasa geli dan tersenyum sendiri.


"Ya ampun, Nak. Kamu semakin aktif saja tiap hari. Mama semakin tak sabar menunggu kelahiranmu." Tangannya perlahan mengelus lembut perutnya yang semakin membesar itu.


Nadhira bangkit dari duduknya. Matanya menyapu pemandangan sejauh mata memandang. Ia melangkahkan kaki pelan seraya tangan yang tak berhenti mengelus perut buncitnya. Memberi ketenangan pada makhluk kecil yang tengah tumbuh dan berkembang didalam sana.


Di seberang jalan ia melihat ada sebuah warung kecil. Tetapi, pengunjungnya cukup ramai. Ia mencari-cari pedagang lain. Agar ia bisa dengan lebih cepat memberikan asupan untuk makhluk kecilnya.


Langkahnya kembali mengayun perlahan. Hingga ia temukan seorang pedagang dengan gerobak kecil. Ia berjalan mendekat.


"Mas, pesan siomaynya satu porsi, ya. Tapi, jangan terlalu pedas," ucapnya dengan sopan.


"Baik, Neng. Silahkan duduk dulu. Kasihan adik didalam perut Eneng nanti ikut kelelahan."


Ia tersenyum ke arah seorang lelaki yang berjualan itu. Masih muda. Seumuran dengan Reyhan.


"Terimakasih, Mas," balasnya dan duduk manis dikursi kecil berwarna biru.

__ADS_1


"Istri saya juga sedang hamil seperti Eneng. Dan istri saya mengandung anak kembar," cerita lelaki yang di panggil Mas oleh Nadhira.


Mendengar kalimat terakhir pedagang siomay itu. Tatapannya berbinar. "Wah... Kembar, Mas? Saya juga sebenarnya menginginkan anak kembar."


"Memangnya dengan perut segede itu Eneng belum pernah melakukan USG?"


"Rutin kok, Mas. Hanya saja suami saya tidak ingin tahu jenis kelamin atau bayinya ada berapa. Katanya biar menjadi kejutan nanti saat melahirkan," tuturnya dengan senyum lebar.


"Ah... Rupanya suami Eneng begitu sabar menahan rasa penasaran."


"Sepertinya begitu, Mas."


Siomay pesanannya sudah tersaji. Nadhira menyantapnya begitu lahap. Hingga lupa bahwa hatinya tengah tergores yang sukses membuatnya menangis tersedu.


Tepat saat siomaynya habis. Ponsel yang ia letakkan didalam selempangnya bergetar cukup lama. Sebuah tanda ada panggilan masuk. Dengan segera ia merogoh tas disampingnya. Ia tertegun saat menatap layar ponsel yang tercetak jelas nama suaminya disama. Luka yang sempat terlupakan kembali terasa nyeri.


"Kenapa tidak diangkat teleponnya, Neng?"


Suara penjual siomay itu berhasil mengalihkan perhatiannya. Ia memaksakan senyumnya terbit dengan sempurna. Namun, tetap saja tak terlihat semanis biasanya.


" Tidak apa-apa, Mas. Ini panggilan dari nomor yang tidak saya kenal," dustanya dan segera membayar pesanannya.


Nadhira kembali melangkahkan kakinya. Kali ini ia tak tahu harus kemana. Pulang? Tentu tidak akan ada ketenangan yang didapatkan. Justeru hanya akan menambah kesedihan dan membuat pikirannya tak menentu. Ke rumah Bunda? Apalagi. Ia pastikan sesampai disana banyak pertanyaan yang akan dilemparkan padanya tanpa ampun karena datang sendiri. Lalu, kemanakah ia? Otaknya masih berpikir keras hendak membawa kemana kakinya melangkah membawa luka hatinya.


Langkahnya terhenti di pinggir jalan. Ia menatap kendaraan yang berlalu lalang. Entah dengan tujuan apa.


Ponselnya kembali bergetar. Ia tatapi dan temukan pemanggil yang sama. "Ada apalagi, Reyhan?" ucapnya dengan pertanyaan yang terlempar pada ponsel di hadapannya.


Ia menon-aktifkan ponselnya. Agar tak ia dapati lagi panggilan atau sekedar pesan singkat dari siapapun. Ia hanya ingin ketenangan.


Jauh terlintas dalam benaknya. "Mikayla," cicitnya dengan sumringah dan menghentikan taksi yang kebetulan lewat didepannya.

__ADS_1


__ADS_2