Senja (Dan Rasa)

Senja (Dan Rasa)
Bab 79


__ADS_3

Matanya berkaca-kaca menatap punggung Reyhan yang sudah berdiri didepan pintu mobil. Ia seperti tak rela melihat Reyhan pergi meninggalkannya meski hanya beberapa hari saja. Ingin selalu ia menghabiskan detik demi detik waktu yang ia miliki bersama suaminya.


"Sayaaang." Ia berlari ke arah Reyhan dan memeluk suaminya dari belakang. Menumpahkan air yang sempat tergenang di kelopak matanya


.


"Lho, Sayang. Kenapa menangis seperti itu ?" tanya Reyhan dengan rasa khawatirnya.


"Jangan pergi," ucapnya dan menangis seperti anak kecil. Ia menarik-narik jas abu tua milik Reyhan layaknya seorang anak yang sedang merajuk pada orang tuanya.


"Kemarin kamu mengizinkanku, Al. Kenapa sekarang malah menangis seperti ini ? Aku tidak bisa membatalkan pertemuan secara tiba-tiba."


"Hei, gadis manja! Jangan menangis seperti anak kecil. Lagipula, suamimu pergi untuk bekerja. Bukan untuk hal-hal lain. Kamu pun menangis seperti ditinggal mati saj," ucap Bara setengah bercanda.


Tangisnya pecah seketika saat ia mendengar ucapan Bara. Ia duduk berjongkok dan menangis sejadi-jadinya.


"Dik, usahlah seperti itu. Suamimu akan pergi untuk bekerja. Tidak baik jika kamu tangisi begitu," Bunda mendekati dan mendekapnya hangat.


Reyhan menariknya lembut dari dekapan Bunda dan memeluknya. "Sayang, aku pergi hanya tiga hari saja. Tapi, jika pekerjaanku lebih cepat selesai dari yang aku perkirakan. Aku akan pulang lebih cepat pula."


"Benarkah ?" tanyanya seraya menatap manik hitam Reyhan.


"Iya, Sayang. Jadi, jangan menangis lagi sekarang. Biar aku jua pergi dengan tenang."


"Baiklah. Aku tidak akan menangis lagi. Tapi, kakak harus menepati janji untuk pulang cepat dan memenuhi syarat yang aku berikan kemarin."


"Pasti, Sayang. Aku berangkat sekarang, ya."


Tiba-tiba rasa mual yang teramat sangat menghampirinya tanpa permisi. Ia membekap mulutnya dengan kedua tangan.


"Kamu kenapa, Sayang ?" tabya Reyhan dengan segala rasa khawatirnya.


"Uweekkk!"


Ia benar-benar merasakan mual parah. "Aku mual."


Bunda dan Bara pun segera mendekatinya.


"Kenapa, Dik ?"


Wajahnya mulai sedikit pucat. "Ah... Perutku terasa mual. Aku ingin memuntahkan segala isi perutku. Tapi, tidak bisa," keluhnya.


"Bagaimana bisa aku meninggalkanmu jika seperti ini, Al ?"


"Tak mengapa. Sepertinya aku hanya masuk angin saja. Berangkatlah!"


"Benarkah kamu baik-baik saja ?"


Ia mengangguk dan masih membekap mulutnya.


"Bunda, Reyhan titip Nadhira, ya. Jika pekerjaan Reyhan cepat selesai. Reyhan dengan cepat pula kembali."


"Iya, Nak. Kamu hati-hatilah di tempat orang."

__ADS_1


"Iya, Bunda."


Ia mengamit tangan kanan Reyhan dan menciumnya. Ia mendapati balasan dengan Reyhan mencium mesra keningnya. Juga kedua pipinya secara bergantian.


"Aku berangkat sekarang. Kamu baik-baik disini selama aku tinggal. Jangan merepotkan Ayah dan Bunda, ya, Sayang."


Ia mengangguk bersama senyum manisnya. "Kabari aku jika kakak sudah tiba di tempat tujuan."


"Iya, Sayang."


Tatapannya tak beralih dari tubuh kekar yang semakin menjauh dari pandangannya. Hingga tubuh itu hilang dibalik jendela mobil merah menyala milik Reyhan.


"Ayo masuk," ajak Bunda padanya.


"Tunggu sampai mobil Kak Reyhan tak lagi terlihat, Bun."


Bunda hanya mengiyakan keinginan anak bungsunya itu. Bunda begitu paham perasaannya yang baru pertama ditinggal jauh oleh suaminya. Sebab, Bunda pernah berada di posisinya pada awal pernikahan dengan Ayah.


"Bunda, entah kenapa adik merasa mual sekali," keluhnya dengan manja pada Bunda.


"Barangkali adik masuk angin, Sayang. Ayo kita masuk dulu. Nanti Bunda buatkan minuman yang bisa menghilangkan sedikit mualmu."


"Wedang jahe, ya, Bunda ?" ungkapnya dengan ceria.


"Tentu, Sayang. Bunda 'kan masih ingat betul apa saja yang disukai anak gadis Bunda ini," ucap Bunda dan mendekapnya. "Meskipun sudah dua bulan tidak pernah membuatkan untuknya."


"Tapi, kenapa wajahmu nampak pucat begitu, Nak ?"


"Tidak tahu, Bunda. Adik merasa badan adik juga terasa tidak enak."


Ia menggandeng tangan bunda dan memasuki rumah besar yang sarat dengan kenangan masa kecilnya. Tempat dimana ia menemukan kenyamanan luar biasa yang tak bisa ia ungkap dengan sederet diksi istimewa. Jua sebagai tempat yang ia jadikan sekolah pertama dalam hidupnya.


"Kamu istirahatlah di kamar. Biar Bunda buatkan dulu wedang jahe untukmu. Nanti Bunda antarkan kesana."


Ia mengangguk dan membawa langkah kakinya menapak dari tangga yang satu menuju tangga yang lain. Hingga ia sampai dikamar yang ia gunakan melepas penat yang menyergapnya.


Tubuhnya ia banting dengan pelan dan memdarat di kasur empuknya. Ia memijit pelipisnya karena rasa pusing sudah mulai menyapanya perlahan. Perutnya terasa di porak porandakan hingga mual semakin mengungkungnya dengan liar.


Ia berlari ke kamar mandi hendak mengeluarkan segala apa yang ada didalam perutnya. Berharap rasa mual yang menjadi-jadi sedikit mereda. Dan jua pusing di kepalanya sirna tak bersisa.


Namun, tiada apapun yang keluar dari perutnya selain cairan bening yang membuat mulutnya terasa pahit. Ia kembali melangkahkan kaki menuju temoat tidurnya. Menelentangkan tubuh yang sudah terasa tidak baik-baik saja.


"Apa yang sebenarnya terjadi padaku ? Kenapa sepagi ini mual dan pusing tiba-tiba menyerangku secara bersamaan ? Padahal, seingatku aku tak pernah memakan makanan yang aneh-aneh," ucapnya berbicara pada dirinya sendiri.


Ia mencoba memejamkan mata untuk meredam rasa pusing yang tak tertahankan. Namun, suara jetukan pintu kamar membuatnya mengurungkan niatnya itu.


Dilihat Bunda memasuki kamar dengan sebuah nampan kecil berisi secangkir wedang jahe dengan aroma yang menusuk indera.


"Bangunlah! Minum dulu wedang jahe ini. Semoga ini bisa menghilangkan sedikit rasa mualmu, Nak."


Ia bangkit dan meraih cangkir yang disodorkan Bunda untuknya. Aroma wedang jahe yang begitu menyeruak semakin mendorongnya untuk segera berlari ke kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya.


Cangkir yang ia pegang tadi segera diserahkan kembali pada Bunda. Ia berlari segera menuju kamar mandi.

__ADS_1


Melihatnya seperti itu membuat kepanikan Bunda tumbuh. "Dik, Bunda antar ke Rumah Sakit saja, ya, Nak. Bunda merasa ada yang tidak baik-baik saja denganmu."


Ia mengelap hingga bersih mulutnya dengan tisu yang sudah tersedia di kamar mandi. "Tidak perlu, Bunda. Sepertinya memang adik benar-benar sedang masuk angin."


"Minuk wedang jahe bisa membuatmu lebih baik, Nak."


"Tapi, adik tidak menyukai aromanya, Bunda."


"Bukannya adik sangat menyuka wedang jahe buatan Bunda sejak dulu, Nak ? Lalu, kenapa sekarang malah berkata demikian ?" tanya Bunda bingung pada keanehan yang terjadi pada anak gadisnya itu.


"Adik jua tak tahu, Bun," ucapnya dan kembali membaringkan tubuhnya yang terasa tak enak sama sekali.


"Apakah sebelumnya kamu salah mengonsumsi makanan, Nak ?"


"Tidak, Bunda. Sejak kemarin adik selalu makan makanan yang Bunda buatkan."


Bunda merasa ada yang aneh dengan putrinya itu.


"Adik ingin istirahat sebentar saja, ya, Bunda. Setelah merasa sedikit lebih baik barulah adik bantu Bunda di dapur."


"Usahlah, Nak. Kamu istirahat saja. Biar Bunda dan Bibi saja yang akan memasak."


Ia mengangguk perlahan dan mencoba memejamkan mata untuk menghilangkan rasa pusing di kepalanya.


Bunda menatapnya yang sudah mulai terlelap. "Sepertinya Nadhira lagi hamil. Ya Allah semoga saja apa yang aku pikirkan ini benar," bisik Bunda dalam hati.


_____


Ia menggeliatkan tubuhnya yang masih terasa tak seperti biasanya. Namun, rasa pusing sudah mulai mereda sedikit demi sedikit.


Ia meraih ponselnya dan membuka kunci. Menemukan satu pesan dari Reyhan.


"Hei, istriku! Suami tampanmu ini sudah sampai dengan selamat."


Senyumnya merekah saat ia baca pesan singkat yang dikirimkan Reyhan untuknya. Ia tak membalas pesan Reyhan. Namun, dengan segera ia menelepon suaminya.


"Aku rindu," ucapnya sebelum Reyhan berucap apapun.


"Belum satu hari saja kamu sudah merindukanku, Aleea. Apalagi besok, lusa dan seterusnya. Tapi, kita merasakan hal yang sama, Sayang."


Ia tertawa kecil mendengar ucapan Reyhan. "Cepat pulang. Aku ingin segera memeluk dan mencium suamiku."


"Tunggulah, Sayang. Aku akan berusaha menyelesaikan pekerjaanku dengan cepat dan pulang untukmu."


Ia hanya tersenyum manis. Meskipun senyumnya sama sekali tak terlihat oleh Reyhan.


"Apakah kamu masih merasakan mual seperti pagi tadi, Al ?"


"Masih, Kak. Bahkan, aku merasa pusing juga."


Ia menceritakan segala apa yang dirasakannya tanpa ada yang tertinggal sedikitpun pada suaminya.


"Aku tutup teleponnya, ya, Sayang. Perutku sudah meronta minta diisi dengan cepat," ucapnya dengan malu-malu.

__ADS_1


Reyhan terkekeh mendengarnya. "Baiklah, Sayang."


Ia memutuskan sambungan telepon dengan cepat dan segera keluar dari kamar bernuansa biru muda itu. Menuruni tangga dan menemui Bunda didapur.


__ADS_2