Senja (Dan Rasa)

Senja (Dan Rasa)
Bab 29


__ADS_3

“Bang, kenapa Kak Reyhan begitu lama sekali balik, ya ?” Tanya Nadhira cemas.


“Sabarlah, Dek. Mungkin Reyhan masih sibuk menyelesaikan urusannya.”


“Tapi, adek takut nanti kenapa-kenapa.”


“Jangan negative thinking terus. Do’akan semuanya akan baik-baik saja.”


Tanpa berniat membalas ucapan Bara. Ndhira memainkan jemari-jemari tangannya. Ia begitu cemas pada lelaki yang sekarang ia sebut suami itu. Yang bahkan sampai sekarang belum juga kembali sejak beberapa jam yang lalu.


Mata Nadhira menangkap seorang Bara tengah sibuk berjibaku dengan benda pipih berbentuk segi empat ditangannya. Nadhira sama sekali tak tau menau apa yang sedang abangnya itu lihat sehingga menyita fokusnya saat ini.


“Bang!”


“Hmm.” Balas Bara tanpa sedikitpun mengalihkan pandangannya dari benda yang ada digenggamannya itu.


“Abang!” Panggil Nadhira lagi.


“Iya, Dek ?” Jawab Bara masih dengan posisinya.


“Abaaang!” Kali ini Nadhira berteriak memanggil Sang Abang karena sudah benar-benar merasa kesal.


“Ya Allah, Adek. Kenapa sih teriak-teriak begitu ? Ini di Rumah Sakit, bukan dirumah yang bisa seenaknya adek teriak-teriak.”


“Habisnya Abang adek panggil juga nggak noleh-noleh. Kan kesel jadinya.”


“Iya iya. Maaf. Kenapa ? Adek mau apa ?”


Nadhira hanya membalas pertanyaan Bara dengan cengiran malu-malunya yang menampilkan sederetan gigi putih nan rapi miliknya.


Bara yang mengerti arti tingkah tak jelas yang ditunjukkan adiknya lantas mengangkat tinggi-tinggi sebelah alisnya.


“Pasti ada maunya.”


“Wah... kok Abang tau sih.” Ucap Nadhira sumringah.


“Kebiasaan.”


“Abang teleponin Kak Reyhan dong.” Ucap Nadhira dengan tampang memelasnya.


“Baru juga beberapa jam sudah nyariian aja.”


“Abaang.”


“iya. Iya.”


Untuk memenuhi keinginan adik semata wayangnya, Bara harus merelakan kesibukannya sedikit terbengkalai. Ia menscroll layar ponselnya untuk mrncari nama kontak yang hendak ia hubungi sesuai permintaan Sang Adik.


“Nih!” Bara memberikan ponselnya pada Dhira.


“...”


“Ini aku, Kak.”


“...”


“Kakak dimana ? Kakak kapan balik kesini ?”


“...”


“Baiklah. Kakak hati-hati.”


Nadhira memutuskan sambungan telepon kemudian tersenyum kearah Bara.


“Terimakasih, Abang.” Ucapnya sembari mengembalikan ponsel yang ia pinjam pada Sang empunya.


Bara mengambil ponselnya dari tangan Nadhira. Kemudian, fokus kembali menatap layar ponsel itu.


Sesekali Nadhira menangkap ekspresi kebingungan dari mimik wajah abangnya. Namun, sedetik kemudian ekspresi bingung itu berubah menjadi seutas senyum membingkai bibirnya.


Tapi, tetap saja. Bagi Nadhira, senyum yang ia lihat sekarang tak seperti senyum-senyum lama abangnya sebelum kepergian Prisil.


“Bang ?”


“Iya ?”


“Bolehkan adek menanyakan sesuatu tentang Kak Reyhan pada Abang ?”

__ADS_1


Bara mengiyakan pertanyaan adiknya dengan sekali anggukan kepala.


“Apa Kak Reyhan sedang sakit ?”


“Kenapa tidak adek tanyakan langsung pada orangnya ?”


Nadhira membungkam.


“Eeyhan sekarang sudah menjadi suami adek. Jadi, alangkah lebih baiknya jika adek tanyakan sendiri ke dia. Abang yakin apapun yang adek tanyakan, tidak mungkin jika tak ia jawab.”


“Kemarin adek pernah tanyakan hal serupa padanya, tapi, jawabnya selalu saja tak apa-apa. Dan, kemudian ia akan mengalihkan topik pembicaraan kami. Mungkinkah dia tak ingin adek tau lebih jauh tentangnya.”


“Bisakah adek untuk tidak bersuudzon ?” suara Bara sedikit meninggi dari biasanya. Dan itu sontak membuat mulut Nadhira tertutup rapat-rapat. Terlihat jelas dimatanya ada kilatan ketakutan mendengar ucapan yang sebut saja sebagai bentakan.


“Maaf.” Ucap Bara setelah melihat perbedaan raut wajah adiknya.


“Kalian baru menikah. Barangkali Reyhan butuh waktu yang tepat untuk bercerita apapun pada adek. Yang adek harus lakukan adalah belajar. Belajar menerima, belajar mengerti dan memahami.” Bara menjeda ucapannya.


“Dan perlu adek tau, menyatukan dua orang yang berbeda itu bukanlah hal yang mudah. Butuh proses panjang yang harus dilalui. Butuh pemahaman lebih dan beradaptasi dengan sifat dan perilaku masing-masing. Adek mengerti ‘kan maksud Abang ?”


Sebelum sempat menanggapi ucapan Bara. Fokus kedua kakak beradik itu dialihkan oleh ucapan salam dari orang yang baru saja memasuki ruang inap Nadhira.


“Assalamu’alaikum!” Ucapnya dibalik masker yang menutupi bagian hidung dan mulutnya.


“Wa’alaikumussalam, Kak.” Jawab Nadhira dengan mata berbinar melihat kedatangan seseorang yang sejak tadi ia tunggu-tunggu. Iya. Seseorang yang baru saja masuk itu adalah Reyhan.


“Kenapa, Han ?” tanya Bara.


“Tidak apa-apa. Rada-rada flu saja.”


“Kakak sakit ?” Tanya Nadhira lagi ditengah aktifitasnya mencium tangan Sang Suami.


“Tidak, Sayang.” Balas Reyhan lembut dengan mengelus puncak kepala istrinya.


“Apakah Dokter sudah datang memeriksa keadaan kamu ?” Reyhan mulai mengalihkan pembicaraan sebelum kedua orang yang sedang bersamanya itu bertanya lebih jauh tentang alasannya yang tiba-tiba mengenakan masker.


“Belum, Kak.”


“Kamu mau sarapan apa, Sayang ?”


Reyhan menoleh ke arah Bara yang sejak tadi tak terdengar suaranya.


“Ada masalah ?” Tanya Reyhan menepuk pelan pundak kakak iparnya itu.


“Sedikit.” Jawabnya tanpa menoleh.


“Tapi, harus di selesaikan sekarang.” Lanjutnya.


“Pergilah. Selesaikan masalahnya dulu.”


“Terus kalian pulangnya bagaimana nanti ?”


“Tenang saja, Bar. Gue kesini sama Farhan juga. Nanti pulangnya sama dia.”


“Yakin ?”


“Iya.”


“Dek, Abang pergi duluan, ya.”


“Iya, Bang. Hati-hati.”


Bara berlalu dengan langkah tergesa-gesa. Meninggalkan pasangan pengantin baru itu.


Dan tak lama setelah kepergian Bara. Seorang pria paruh baya dengan setelan snelli putih membungkus tubuh gempalnya memasuki ruangan Nadhira diikuti seorang perawat. Dia adalah pria yang sama saat memeriksa kondisi Nadhira saat baru masuk rumah sakit.


“Selamat pagi, Bu, Pak.” Sapa Dokter tersebut.


“Selamat pagi, Dok.”


“Saya periksa kondisi istri Bapak dulu, ya.”


“Oh iya. Silahkan, Dokter.”


Reyhan memperhatikan Dokter yang memeriksa Nadhira dengan teliti.


“Bagaimana , Dok ? Istri saya.”

__ADS_1


“Kondisi istri Bapak sudah membaik. Sekarang sudah bisa pulang. Tapi, saya sarankan agar istri Bapak jangan terlalu lelah. Karena, kondisinya belum pulih benar.”


“Terimakasih, Dok.”


“Baiklah kalau begitu saya permisi.”


Pria paruh baya itu keluar meninggalkan ruangan bersama dengan perawat yang mendampinginya.


“Kita pulang sekarang ya, Sayang.”


Nadhira tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


“Tunggu aku telepon Farhan untuk jemput kita.”


Tak berselang lama setelah Reyhan berhasil menghubungi adiknya. Farhan muncul dari pintu ruangan dengan aroma obat-obatan yang menusuk indera penciuman itu.”


“Kita pulang sekarang.” Kata Reyhan tanpa basa-basi dengan wajah datarnya pada Sang Adik.


Farhan berjalan keluar terlebih dulu. Sedangkan, Reyhan masih setia menunggui istrinya yang sedang bersiap.


“Kamu kuat jalan sendiri ? Kalau tidak, biar aku bantu.”


“Iya aku bisa sendiri, Kak.” Balasnya dengan senyum manis menghiasi bibir mungilnya.


Reyhan merangkul tubuh Nadhira dan berjalan menyusuri lorong-lorong bangunan Rumah Sakit menuju tempat dimana Farhan sudah menunggu mereka.


Pintu penumpang segera dibuka oleh Reyhan dan menuntun istrinya untuk measuk ke dalam mobil yang disusul olehnya.


Reyhan menjalankan mobilnya meninggalkan bangunan yang khas dengan aroma obat-obatan itu menuju kediamannya. Tak percakapan yang tercipta didalam kendaraan roda empat yang mereka tumpangi. Keheningan benar-benar menguasai disana.


Nadhira menyenderkan kepalanya dipundak Reyhan. tempat ternyaman yang baru saja Nadhira miliki.


Tanpa Nadhira sadari, Reyhan menatap wajahnya begitu lekat. Kemudian, tersenyum dibalik masker yang belum ia tanggalkan.


“Hmmm.”


Deheman Farhan menyentak fokus Reyhan yang tengah menikmati keindahan didepan matanya itu. Reyhan melirik Farhan dengan ekor matanya.


“Bagaimana luka kakak ?” Tanya Farhan membuka percakapan setelah lama terjebak dalam keheningan.


Pertanyaan Farhan ternyata membuat kepala Nadhira sontak terangkat dari tempat ternyamannya. Kemudian, matanya menatap penuh tanya laki-laki yang duduk disampingnya itu.


“Kita bahas dirumah saja, Far.” Kata Reyhan dengan nada sedingin es.


Farhan hanya mengangguk pasrah.


“Luka apa ?” Tanya Nadhira.


“Tidak apa-apa, Sayang.” Jawab Reyhan dengan lembut. Lalu, membawa kepala Nadhira kedalam pelukannya.


Malas untuk bertanya lagi. Nadhira memutuskan untuk berdiam diri saja. baginya percuma. Bertanya bagaimanapun lagi, hasilnya pun juga akan tetap sama. Reyhan tak akan memberi jawaban seperti yang diharapkan Nadhira.


Mungkin benar apa yang dikatakan Bara. Reyhan hanya butuh waktu yang tepat untuk berbagi cerita dengan Nadhira.


“Kamu mau tidur, Sayang ?”


Nadhira menganggukkan kepalanya. Padahal sedikitpun ia tak merasakan kantuk sama sekali.


“Ya sudah. Tidurlah! Nanti aku bangunin jika kita sudah sampai rumah.”


Lagi-lagi. Nadhira hanya mengangguk. Kemudian mencoba memejamkan matanya. Berharap ia bisa segera terlelap. Dan, saat terbangun ia sudah lupa dengan pertanyaan-pertanyaan yang bersarang diotaknya.


Dengan lembut dan penuh cinta tentunya, Reyhan mengelus lembut rambut istrinya yang sempurna tertutupi jilbab.


Merasa istrinya benar-benar tertidur. Reyhan membuka suara.


“Farhan!”


“Iya, Kak.”


“Jangan bahas masalah apapun didepan Nadhira. Kakak tidak mau dia tau secepat ini. Kalaupun mengharuskan dia mengetahui semuanya,. Biarkan dia tau dari mulut kakak sendiri. Bukan dari kamu, Papa dan tidak juga Mama.”


“Iya. Farhan paham. Dan untuk yang tadi, Farhan benar-benar minta maaf.”


Suasana kembali menghening.


___To Be Continued___

__ADS_1


__ADS_2