Senja (Dan Rasa)

Senja (Dan Rasa)
Bab 82


__ADS_3

"Uweekkk!"


Suara muntahannya terdengar hingga ke luar kamar. Bunda dengan cepat berlari menemuinya yang sudah berada dikamar mandi.


Bunda memijat tengkuknya dengan pelan. "Kamu tidak apa-apa, Nak ?"


"Adik mual sekali, Bunda," jawabnya dengan lemas.


Bunda membawanya kembali ke tempat tidur. "Dimana adik letakkan test pack yang Bunda berikan semalam ?"


"Dilaci meja, Bunda."


"Adik bisa menggunakannya sekarang. Pagi hari adalah waktu yang dianjurkan untuk menggunakan test pack, Sayang," ucap Bunda dengan girang seraya menyodorkan benda bernama test pack itu.


Ia bangkit dari posisinya yang terlentang. Duduk sebentar dan mengambil alih benda yang masih nerada ditangan Bunda.


Dengan rasa mual yang masih menjalar ia berjalan ke arah kamar mandi. Menggunakan test pack sesuai yang diajarkan Bunda.


Ia menyandarkan tubuhnya pada tembok kamar mandi. Menunggu hasil dari test pack yang ia gunakan tadi.


Setelah beberapa saat ia menunggu. Dengan rasa yang bercampur aduk. Dengan harap-harap cemas ia melihat benda kecil yang berada ditangannya itu.


Air matanya menetes perlahan. Ia membekap mulutnya dengan tangan kiri. Rasa bahagia tak terhingga menyerangnya dengan cepat.


Bersama linangan air mata ia keluar dari kamar mandi dan menemui Bunda yang masih menunggunya. "Bunda, lihatlah!" Ia memberikan test pack tersebut pada Bunda.


"Dua garis, Sayang," ucap Bunda pada anak gadinya yang tengah menangis terharu itu.


"Iya, Bunda. Adik benar-benar hamil. Sebentar lagi adik akan menjadi seorang ibu seperti Bunda," ungkapnya di sela tangis.


"Alhamdulillah, Nak."


Ia memeluk tubuh Bunda dengan erat. Melampiaskan kebahagiaan yang tak terhingga. "Bantu adik menjaga amanah ini, ya, Bunda."


"Tentu saja, Sayang. Bunda akan ikut menjagamu dan juga bayimu."


"Ayah dimana, Bunda ? Adik harus memberitahu Ayah sekarang juga."


"Di ruang kerjanya, Nak. Temui Ayahmu dan ceritakan padanya. Bunda yakin Ayah pasti senang."


Ia bergegas keluar kamar. Menelusuri lantai dua rumah yang ia tempati sejak kecil itu menuju sebuah ruangan yang Ayah gunakan sebagai ruang kerja.


Perlahan ia mengetuk pintu. "Ayah! Bolehkah adik masuk ?"


"Masuklah, Nak!"


Masih dengan sisa-sisa air mata yang membentuk jejak di pipinya. Ia menemui Ayah yang sudah menatapnya bingung.


"Kamu menangis, Nak ? Kenapa ?"


Ia tak menjawab apapun. Tangan yang awalnya ia sembunyikan kini sudah berada didepan Ayah. Menyodorkan benda kecil berwarna putih dengan dua garis disana.


Ayah mengambil benda tersebut dari tangannya. "Ini ?"

__ADS_1


Ia mengangguk.


"Alhamdulillah, ya Allah. Kamu hamil, Dik."


Ayah memeluknya dengan erat. "Ayah senang sekali, Nak. Tenyata dugaan Ayah sejak kemarin tidak salah. Kamu memang hamil."


"Iya, Ayah."


"Kamu harus memberitahu Reyhan dengan cepat, Nak."


Ia melepaskan pelukan Ayah dan menggeleng. "Tidak, Ayah."


"Kenapa ?" tanya Ayah bingung.


"Adik ingin memberikan kejutan untuk Kak Reyhan saat pulang nanti. Juga untuk Abang. Dan tepat sekali, di hari kepulangan Kak Reyhan nanti itu adalah hari ulang tahunnya. Adik ingin menghadiahi Kak Reyhan dengan benda kecil ini," ucapnya seraya menatap test pack yang masih tergeletak di meja kerja Ayah.


"Baiklah. Terserah kamu saja, Nak."


_____


Senyumnya tak pernah tanggal sejak pagi tadi. Matanya tak lepas menatap benda putih dengan dua garis itu. Ia mengelus perutnya yang masih rata. "Baik-baik didalam rahim Mama, ya, Nak. Kita akan memberikan kejutan bersama-sama untuk Papa saat pulang nanti. Dan untuk Om Bara, ya, Sayang."


Ia tersenyum merekah. "Mama yakin Papa pasti akan bahagia sekali. Kamu adalah hadiah untuk ulang tahun Papa jua, Nak."


Terlalu asyik berbicara dengan cabang bayi didalam perutnya. Ia tak sadar ada sepasang mata yang tengah memperhatikannya dengan senyum mengembang pula dari balik pintu yang setengah terbuka.


"Sepulang Papa bekerja nanti. Kita akan pulang bersama. Bertemu kakek dan nenek disana. Ada Om Farhan dan Tante kecilmu. Raina namanya."


Ia kembali mengelus perutnya. Kali ini bukan lagi karena ia ingin berbicara dengan calon bayinya. Namun, karena perutnya yang berbunyi dan meronta-ronta minta diisi.


Bunda yang melihatnya dari pintu hanya mampu menahan tawa. Ia begitu lucu melihat tingkah anak gadisnya yang sekarang sedang mengandung anak pertamanya itu.


"Adik sedang apa ?" tanya Bunda yang sudah berjalan mendekatinya.


"Berbicara dengan calon bayiku, Bunda. Tapi, kenapa adik merasakan ada pergerakan sama sekali ?" tanyanya dengan polos.


"Belum waktunya, Nak. Kamu baru saja hamil muda. Belum pula memeriksakan kandungan ke dokter. Jadi, kamu belum tahu usia kandunganmu."


"Oh begitu. Nanti jika Kak Reyhan pulang. Adik akan memintanya untuk menemani adik ke dokter kandungan."


Bunda mengangguk.


"Adik lapar, Bunda."


"Mau makan apa, Sayang ? Nanti Bunda buatkan untukmu."


"Salad buah saja. Tapi, adik tunggu Bunda dikamar, ya. Adik merasa lelah. Padahal tak mengerjakan apapun."


"Perempuan hamil memang begitu, Nak. Cepat lelah. Jadi, istirahat saja, ya. Bunda ke bawah dulu."


Setelah tubuh Bunda hilang dibalik pintu kamar. Ia bangkit dan mengambil ponsel yang ia letakkan di meja riasnya. Menggeser layar dan mencari kontak yang akan ia hubungi.


Setelah menemukan kontak yang dicarinya. Ia melakukan panggilan pada kontak tersebut. Namun, yang ia dengar hanya suara operator.

__ADS_1


"Tidak aktif ? Kenapa ?" tanyanya menatap ponselnya.


Sekali lagi ia mencoba dan mendapati jawaban yang sama. Ia merasa kesal. Bersamaan dengan itu rasa khawatir datang jua menghampiri.


"Apakah sesuatu tengah terjadi pada Kak Reyhan ?" bisiknya.


Dengan cepat ia menepis pikiran negatif didalam otaknya. "Ah... Tidak! Kak Reyhan pasti baik-baik saja."


"Sudahlah, Nadhira. Berhenti berpikir yang tidak-tidak. Perempuan hamil tidak boleh stress," ucapnya menasehati dirinya sendiri.


"Abang. Iya. Aku akan mencoba menelpon Abang. Siapa tahu konta Abang aktif dan menjawab panggilan dariku."


Ia segera mencari kontak Bara dan menelpon. Hal yang sama ia dapati. Kontak Bara pun tak bisa dihubungi.


"Ah... Sama saja," pasrahnya.


Ia rasakan kembali mual menghampirinya. Dengan segera ia ke kamar mandi. Mencoba mengeluarkan isi perutnya. Tapi, hanya cairan bening yang keluar dan membuat mulutnya terasa pahit.


Dengan rasa pusing yang juga mendera. Ia melangkah perlahan menuju tempat tidur. Berbaringkan tubuhnya.


Ia meringkuk di tempat tidur. Menahan rasa pusing dan mual yang tiba-tiba menyerang.


"Apakah semua perempuan hamil muda mengalami hal yang sama sepertiku ?" pikirnya dengan mata yang masih terpejam sempurna.


Ia memeluk guling yang berada tepat di samping kanannya. Menenggelamkan wajahnya dan bergumam. "Aku rindu. Cepatlah pulang, Suamiku."


Seketika air mata luluh lantah tanpa permisi. Membasahi guling yang tengah dipeluknya.


Ia menyeka dengan cepat air matanya saat ia dengar derap langkah kaki yang diyakini milik Bunda. Ia menoleh ke belakang. Dan benar saja. Bunda dengan senyum manisnya melangkah dengan semangkok salad buah pesanannya.


"Bangun, Dik. Ini Bunda bawakan salad buah sesuai keinginamu."


Ia bangkit dan duduk memeluk gulingnya.


"Lho, kenapa, Dik ? Kamu menangis ?" tanya Bunda setelah melihat matanya yang sedikit basah.


Ia menggeleng dan menumpahkan lagi air matanya.


"Ada yang sakit, Sayang ? Atau adik mual lagi ?" tanya Bunda lagi dengan lembut.


Ia mengangguk. "Tapi, bukan karena mual adik menangis. Hanya saja adik begitu merindukan Kak Reyhan." Isakannya semakin kuat. Tubuhnya bergetar.


"Besok Reyhan akan pulang. Sabarlah menunggu, Nak."


"Iya, Bunda."


"Sekarang makan dulu salad yang sudah Bunda buatkan untukmu."


Ia menyantap salad buah itu disuapi Bunda. Baru beberapa sendok saja ia sudah tak berselera. Rasa mual kembali menyerangnya.


"Sudah, Bunda. Adik merasa mual lagi."


"Lebih baik adik istirahat saja, ya, Sayang."

__ADS_1


Ia hanya mengangguk dan kembali membaringkan tubuhnya.


__ADS_2