
Gelap mengungkung malam. Sayup-sayup terdengar suara Sang binatang malam berbunyi bersahut-sahutan. Bulan tampak terlihat indah menggantung pada langit malam yang begitu gelap. Sedikit cahayanya menyelundup masuk melalui celah-celah lubang pentilasi kamar rumah sakit yang Nadhira tempati sekarang.
Nadhira merasakan telapak tangan kanannya yang terbebas dari selang infus terasa menghangat. Sedetik kemudian ia melihat ada sepasang tangan yang tengah menggenggamnya. Nadhira tersenyum.
Bahagia dan sedih Nadhira rasakan dalam waktu bersamaan.
Bahagia. Ketika ia lihat lelaki yang kini telah mengikatnya dalam ikatan halal beberapa jam lalu tengah menungguinya dengan setia yang terbaring lemah di brankar rumah sakit.
Sedih. Malam ini, malam yang sering Nadhira dengar para pengantin baru nantikan dan banggakan. Malam yang seharusnya Nadhira nikmati berdua bersama Reyhan sebagai sepasang suami istri.
Namun, siapa yang dapat menduga. Musibah datang kapan saja ia ingin.
Nadhira menatap suaminya yang tertidur pulas dengan kepala tertunduk dan berbantal lengan. Nadhira menarik tangannya sangat pelan agar tak mengganggu tidur suaminya.
“Kasihan” Kata Nadhira.
Nadhira membelai rambut Reyhan yang awalnya tersisir rapi kini terlihat sedikit berantakan itu dengan lembut.
“Maafin aku, ya, Kak.”
“Tidur yang nyenyak, Suami.” Lanjut Nadhira dengan tersenyum setelah menyebutkan kata suami diakhir kalimatnya.
Merasa terusik. Reyhan mengangkat kepalanya dan mengerjap-ngerjapkan matanya untuk menyesuaikan cahaya lampu yang masuk ke retinanya. Reyhan melihat Nadhira sedang menatapnya dengan senyum.
“Lho, kok bangun ?” Tanya Nadhira.
“Kamu sendiri sejak kapan bangun ?” Alih-alih menjawab pertanyaan Nadhira. Reyhan malah balik melempar tanya pada istrinya.
“Bukannya dijawab. Malah nanya balik.” Protes Nadhira.
“Nggak apa-apa. Kamu kenapa bangun ?”
“Mmmm.. nggak apa apa juga.”
Kruukk..kruukk..
Refleks tangan Nadhira bergerak memegang perutnya yang berbunyi tanpa di perintah itu. Ingin sekali Nadhira merutuki perutnya yang tak kenal waktu dan tempat untuk diisi.
Reyhan menatap istrinya yang sedang menyengir dan memegang perutnya.
“Tunggu aku belikan makan sebentar ya, Sayang.”
“Jangan, Kak. Ini sudah terlalu malam. Aku minum air putih aja.”
“Perut kamu butuh makan, bukan butuh minum. Tunggu aku disini. Aku akan keluar sebentar carikan makan.”
“Tap..”
“Aku tidak butuh penolakan, ya, Nadhira Aleeana Prayudha.” Ucap Reyhan memotong ucapan Nadhira.
Nadgira pun hanya bisa mengangguk pasrah.
Nadhira menatap punggung Reyhan yang semakin menjauh dari hadapannya. Kemudian menghilang dibalik pintu yang kembali tertutup.
Merasa bosan. Nadhira mengubah posisinya menjadi bersandar. Ia menatap sekeliling ruangan yang hanya menampilkan satu warna. Putih.
Selagi menunggu Reyhan kembali. Nadhira mencoba memejamkan mata yang masih terasa mengantuk.
Ceklek.
Pintu terbuka menampakkan Reyhan dengan sebuah kantong plastik besar ditangan.
Reyhan melihat Nadhira yang sudah terlelap dengan posisi bersandar.
“Sayang,” Reyhan sedikit mengguncang pundak Nadhira.
Merasa terganggu. Nadhira mengerjapkan matanya dan melihat Reyhan sudah kembali.
“Maaf aku lama, ya ? Sampai kamu ketiduran gini.”
“Nggak apa-apa.” Balas Nadhira tersenyum.
“Makanlah dulu. Aku belikan nasi goreng. Biar aku yang suapin.”
“Nggak usah lah, Kak. Aku masih bisa makan sendiri kok.”
“Maaf. Aku tidak butuh penolakan lagi.”
Mau tidak mau Nadhira mengikuti saja titah suaminya itu.
Sesendok demi sesendok nasi goreng yang disuapi Reyha dilahap oleh Nadhira. Memberi makan cacing-cacing yang sejak tadi berteriak meminta makan.
“Dik ?” Panggil Reyhan seraya menyuapi Nadhira. Sedangkan yang dipanggil hanya menengok tanpa menjawab.
__ADS_1
“Lain kali kalo emang kamu alergi dengan makanan atau minuman, kamu bilang lah sama aku. Biar kejadiannya nggak kayak gini. Aku takut, Dik.”
“Iya maafin aku. Lain kali aku bilang-bilang sama kakak."
“Ya udah. Jangan diulangi lagi ya. Janji sama aku.”
“Iya deh aku janji. Tapi..” ucapan Nadhira menggantung membuat Reyhan mengernyitkan dahi.
“Tapi apa ?”
“Aku kenyang.”
“Hah. Baru beberapa kali aja disuapin udah kenyang. Makan kok sedikit banget sih, Dik. Pantesan aja tuh badan kecil mungil kayak gitu.” Ucap Reyhan sembari melihat tubuh Nadhira dari atas sampai bawah.
“Udah kenyang, Kak. Nggak boleh di paksain ya.”
“Dikit lagi ya, Sayang, ya.” Bujuk Reyhan.
Nadhira menggelengkan kepalanya tanda menolak.
“Ya sudah. Ini minum dulu.”
Reyhan memberikan segelas air putih. Lalu diminum hingga setengah gelas oleh Nadhira.
Mata Reyhan melirik jam bundar yang menempel didinding ruangan dan menunjukkan pukul 01.24.
“Subuh masih lama. Kamu istirahat lagi, ya.”
“Kakak bagaimana ?”
“Istirahatlah dulu. Jangan pikirkan aku.”
“Tidak. Tubuhmu juga butuh di istirahatkan, Kak. Dari kemarin kakak pasti lah kurang istirahat. Aku lihat kakak juga nampak pucat.”
“Kakak sakit ?” sambung Nadhira.
“Nggak. Aku nggak sakit kok.”
“Yakin ?” tanya Nadhira lagi.
“Iya, Sayang.”
“Maafin aku, Dek. Bukan maksud hati untuk membohongimu. Hanya saja ini bukanlah waktu yang tepat untuk kau tau kebenarannya. Jika sudah datang waktunya, akan ku ceritakan semuanya tanpa tertinggal satupun.” Gumam Reyhan dalam hati dengan mata yang terpejam menatap Nadhira.
Tak sedikitpun Reyhan menggubris pertanyaan Nadhira karena ia masih sibuk dengan pikirannya sendiri. Pikiran yang menjurus pada kebohongannya terhadap Nadhira. Entah sampai kapan Reyhan akan tetap menutupi kebenaran tentang kondisinya pada istrinya itu.
“Kak!” panggil Nadhira dengan mengguncang lengan Reyhan.
“Ehh.. iya, Sayang ?” Jawab Reyhan kaget dan tersadar dari lamunannya.
“Kakak kenapa sih ?” Tanya Nadhira (lagi).
“Nggak apa-apa. Kamu istirahatlah. Supaya kondisimu segera pulih. Dan besok kita akan pulang ke rumah.” Ucap Reyhan tersenyum.
Nadhira meraih tangan suaminya itu dan menggenggamnya.
“Jika kakak sedang ada masalah. Ceritalah padaku. Telingaku akan setia untuk mendengar setiap keluh kesah kakak. Jangan sungkan. Sekarang aku sudah menjadi istri kakak. Apapun masalah yang kakak hadapi adalah masalahku juga.”
Tangan kekar Reyhan balik menggenggam tangan Nadhira. Dan tersenyum mendengar kata demi kata yang keluar dari bibir mungil dan ranum milik gadisnya itu.
“Dan jika sekarang kakak belum siap berbagi masalah denganku. Tak mengapa. Aku tak akan memaksa. Aku akan menunggu sampai kakak siap.” Sambung Nadhira.
“Terimakasih, Sayang.”
Nadhira menganggukkan kepalanya dan bibirnya mempersembahkan sebuah senyuman untuk suaminya.
“Kamu jangan sering-sering tersenyum sama kakak. Kakak takut.”
Dahi Nadhira mengkerut.
“Kenapa ?”
“Aku takut diabetes. Abis senyum kamu manis banget.”
“Idiihh...udah mulai gombal ya sekarang.”
“Sama istri sendiri kan nggak apa-apa, Dek.”
“Iya deh aku ngalah.”
“Sekarang kamu istirahat, ya.”
“Kakak juga.”
__ADS_1
“Iya, Sayang. Tidur yang nyenyak ya.”
Reyhan mencium kening Leea Nadhira dengan lembut. Kemudian ia melangkahkan kaki menuju sofa yang terletak didekat pintu ruangan yang Nadhira tempati.
“Kakak mau kemana ?”
Pertanyaan Nadhira membuat refleks kaki Reyhan berhenti melangkah. Lalu ia membalikkan badan menghadap arah sumber suara.
“Kan aku juga mau istirahat, Dek. Disana.”
Reyhan menunjuk sebuah sofa berwarna cream didekat pintu itu.
“Kakak nggak mau tidur bareng aku ?” Tanya Nadhira malu-malu.
Senyum itu kembali merekah dari bibir Reyhan. Kakinya kembali melangkah dengan pasti mendekati istrinya yang tengah tertunduk malu dan memilin selimut khas rumah sakit yang digunakan menutupi setengah tubuhnya.
“Laki-laki mana yang tidak mau tidur dengan istrinya sendiri, Sayang ?”
Nadhira mendongakkan kepalanya menatap Reyhan yang sudah berdiri disamping tempat tidurnya.
“Tapi, aku tidak mau jika kamu tidurnya nggak nyaman nanti.”
Nadhira menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Tidurlah disini bersamaku. Mulai sekarang aku akan berbagi tempat dengan kakak. Bukan hanya tempat. Namun, dalam segala hal.”
“Iya, Sayang. Aku akan menemanimu tidur disini.”
Belum sempat Reyhan mendudukkan dirinya. Tangannya lebih dulu ditahan oleh Nadhira.
“Tidurnya disini sama aku.”
Mata Nadhira melirik temapt tidur yang ia tempati dan perlahan menggeser tubuhnya untuk memberi ruang agar Reyhan bisa tidur disampingnya.
“Yakin ?” Tanya Reyhan ragu-ragu.
“Iya, Sayang.” Jawab Nadhira mantap dengan senyum manisnya.
Mendengar kata sayang yang dilontarkan Nadhira, Reyhan membulatkan matanya tak percaya.
“Kamu bilang apa tadi ?” Tanyanya meminta kejelasan. Berharap ia benar-benar tak salah dengar.
“Sayang.” Jawab Nadhira polos.
Bibir Reyhan melengkung membentuk sebuah senyuman manis yang menambah porsi ketampanannya.
“Kakak mau sampai kapan berdiri terus kayak gitu ? Aku mau istirahat nih.”
Tanpa pikir panjang Reyhan segera membaringkan tubuhnya disamping Nadhira dengan posisi menyamping menghadap istrinya.
“Terimakasih, istriku.” Bisiknya ditelinga Nadhira.
Senyuman manis yang dimiliki Nadhira, ia lemparkan untuk lelaki disampingnya itu.
Reyhan mencium puncak kepala Nadhira penuh sayang kemudian membawanya ke dalam dekapan.
Nadhira menenggelamkan kepalanya didada bidang milik Reyhan yang mendapat balasan pelukan hangat dari suaminya.
“Tidurlah, Dek. Biar aku temenin.” Ucap Reyhan sambil membelai lembut rambut Nadhira yang berbalut hijab.
Reyhan merasakan kepala Nadhira mengangguk tanda mengiyakan ucapannya.
“Kak!” panggil Nadhira dengan mendongakkan kepala menatap wajah Reyhan.
“Kenapa, Sayang ? Hmmm?"
“Maaf, ya. Malam pertama kita harus berakhir seperti ini disini gara-gara aku.” Kata Nadhira menyesal namun terdengar malu-malu.
“Hussttt.” Reyhan menempelkan jari telunjuknya dibibir Nadhira.
“Kamu nggak boleh ngomong gitu, ya. Ini bukan gara-gara kamu. Lagian juga tak masalah buat aku. Yang terpenting sekarang kamu harus sembuh dan kita pulang ke rumah.” Lanjutnya.
Nadhira tersenyum.
“Sekarang kamu tidur.”
Mata Nadhira perlahan terpejam. Untuk pertama kali ia tertidur dalam pelukan suaminya. Nyaman yang dirasakan,
Reyhan memainlan jari-jarinya dipipi Nadhira. Matanya yang belum juga ikut terpejam menatap lekat wajah gadis didepannya.
Entah sudah berapa lama Reyhan habiskan dengan kegiatannya menatap istrinya dimalam pertama mereka. hingga akhirnya, ia pun ikut terpejam. Menyusul istrinya yang lebih dulu menuju alam mimpi.
___To Be Continued___
__ADS_1