
Reyhan mengedarkan pandangannya ke segala arah untuk mencari keberadaan istrinya yang pergi tanpa sepengetahuannya. Ia sangat menyesali kejadian itu.
“Al, kamu dimana ?” tanyanya pada diri sendiri.
Berulang kali Reyhan menghubunginya melalui telpon seluler. Namun, tak ada jawaban sama sekali darinya.
Dengan langkah besar Reyhan melangkah kaki menelusuri sekitar danau. Tetapi, yang dicari tak juga kunjung bertemu. Ia mengusap wajahnya kasar. Mengacak rambutnya yang tersisir rapi.
Merasa sudah tak bisa lagi menemukan jejak istrinya. Reyhan berniat untuk kembali ke mobilnya. Ia menyandarkan kepalanya dikursi kemudi. Tatapannya terpaku pada seseorang yang sedang duduk didekat penjual siomay dipinggir jalan dengan sebuah es krim ditangannya.
“Aleea.” Dengan cepat Reyhan berlari mendekatinya.
“Sayang, kamu kemana saja ? Aku mencarimu dari tadi.”
“Oh sudah kakak sudah ingat keberadaanku. Ku pikir kakak sudah benar-benar lupa,” ucapnya dingin.
“Al, aku minta maaf.”
Ia sama sekali tak menggubris ucapan suaminya.
“Bang, saya pesan siomaynya satu porsi, ya. Yang pedas saja, Bang.”
Ia menikmati es krim ditangannya tanpa mempedulikan Reyhan.
“Aleea ?”
“Lanjutkan saja nostalgia kakak bersama Elmeera disana. Aku tak apa menunggu disini.”
“Elmeera ? Dari mana kamu tahu bahwa perempuan tadi adalah Elmeera ?”
“Telingaku masih berfungsi dengan baik. Jadi, aku masih bisa mendengar kakak menyebut namanya. Lagipula, Kenzo juga memanggil perempuan itu tadi.”
Didepannya sudah terhidang siomay pesanannya. Sebelum ia mulai menyantapnya. Reyhan lebih dulu menyingkirkan siomay itu dari hadapannya.
“Jangan makan yang pedas. Aku tidak ingin perutmu bermasalah.”
“Aku sudah terbiasa makan makanan pedas. Jadi, jangan khawatir.”
“Tapi, aku yang tidak mengizinkanmu.”
Ia menatap tajam suaminya. “Baiklah. Kakak saja yang makan. Biar aku pesan yang lain.”
“Al ?” Reyhan menyentuh tangannya lembut. Ia menepisnya kasar.
“Jangan menggangguku makan. Sama seperti aku yang tak mengganggu kakak dengan perbincangan hangat bersama teman lama kakak itu.”
Reyhan menyerah. Ia memberikan kembali siomay yang sudah disingkirkannya itu ke hadapan Nadhira.
Tanpa mempedulikan apapun. Nadhira menyantap makanannya dengan sangat lahap. “Jika ingin makan juga. Pesan saja sama Abangnya,” ucapnya dengan mulut penuh makanan.
“Jangan berbicara jika sedang makan,” tegur Reyhan.
__ADS_1
Tak butuh waktu lama. Makanan yang dipesanannya habis tanpa ada sisa.
“Kamu mau lagi ?”
“Tidak. Terimakasih. Aku sudah kenyang.”
Ia meninggalkan Reyhan begitu saja tanpa permisi. Melangkahkan kakinya menuju mobil.
Terlebih dulu Reyhan membayar pesanan Nadhira. Kemudian, menyusulnya kembali ke mobil yang masih berada di tempat yang sama.
“Aku ingin langsung pulang,” ucapnya ketika Reyhan sudah berada disampingnya.
“Iya, Sayang. Tapi, dengarkan aku dulu.”
“Apa yang harus aku dengarkan ? Mendengar cerita nostalgia kalian ? Begitu ?
“Maaf, Sayang. Aku lupa bahwa ada kamu juga disampingku.”
Ia tertawa sumbang. “Bagaimana bisa seorang suami melupakan istrinya sendiri ?”
“Sayang. Sayang, dengar aku...”
Ia mengangkat tangannya didepan Reyhan. “Aku tidak butuh penjelasan. Aku hanya ingin pulang. Bertemu dengan Mama yang tak pernah melupakan keberadaanku.” Ia menekan kata demi kata di kalimat terakhirnya.
“Al, aku tidak bermaksud seperti itu.”
“Sudah ku bilang, Kak. Aku mau pulang.”
“Iya. Iya. Kita pulang sekarang.” Reyhan lebih memilih mengalah. Ia tak ingin lagi mendebat istrinya yang masih dalam keadaan emosi memuncak.
_____
Ia membanting pintu mobil dengan keras dan berjalan meninggalkan Reyhan yang masih didalam mobil. Wajahnya nampak memerah.
“Al, tunggu!” Reyhan mengejarnya dan menarik tangannya dengan paksa.
“Ada apa lagi, Kak ?”
“Berhentilah marah seperti itu. Jika dilihat Mama dan Papa. Bagaimana ? Kamu pasti akan ditanya. Ini urusan rumah tangga kita, ya, Al.”
“Aku tahu bagaimana caranya bersikap!” Ia menatap tajam netra suaminya.
Seketika Reyhan melonggarkan pegangannya pada pergelangan tangan Nadhira. Baru kali ia melihat istrinya semarah itu.
Tanpa berani melarang, ia menatap tubuh kecil istrinya berjalan dan menghilang di balik pintu depan rumahnya.
Reyhan berjalan gontai menyusul Nadhira. Di ruang tamu ditemukan istrinya tengah berbincang ria bersama Mama. Wajah ceria dan polosnya kembali seperti semula. Ia berlaku seperti tak pernah terjadi apapun. Ia melihat istrinya tertawa lbegitu lepas.
“Kenapa berdiam diri disitu, Kak ? Kemarilah!” Mama membangunkan Reyhan dari kesibukannya memperhatikan Nadhira.
Ia hanya menatap suaminya datar. Enggan menegur atau sekedar mengajak duduk suaminya.
__ADS_1
“Ma, Nadhira ke kamar dulu, ya. Mau bersih-bersih. Setelah itu Nadhira bantu Bibi didapur.”
Reyhan merasa begitu dihindari oleh istrinya sendiri. “Al, semarah itukah kamu padaku ? Sampai-sampai kamu menghindariku seperti ?” Reyhan bertanya dengan lirih dalam hati.
“Kamu kenapa ?” tanya Mama yang melihat ada yang tidak baik-baik saja dengan anak sulungnya.
“Tidak apa-apa, Ma. Reyhan sepertinya butuh istirahat.”
“Iya sudah. Kamu ke kamar saja susul istrimu. Dan istirahatlah.”
“Iya, Ma.”
Reyhan berlalu dari ruang tamu dan berjalan menuju kamarnya dilantai dua. Ia membuka pintu kamar dengan pelan agar tak mengganggu istrinya. Ia berpikir Nadhira hanya beralasan untuk bersih-bersih hanya karena menghindarinya semata.
Didalam kamar Reyhan sudah menemukannya terbaring diatas tempat tidur. Masih lengkap dengan hijab yang belum dilepasnya.
“Jika kakak mau mandi. Aku sudah siapkan air hangat untuk kakak,” ucapnya dengan mata terpejam.
“Sayang, aku butuh bicara denganmu.”
“Maaf. Aku hanya ingin istirahat sebentar saja. Lagipula, aku rasa tidak ada yang perlu kita bicarakan.”
“Tapi, aku tidak bisa jika kamu diamkan seperti ini terus menerus, Al.”
Ia memejamkan matanya perlahan. Berusaha untuk tertidur dengan lelap. Namun, usahanya begitu sia-sia. Pikirannya berlarian entah kemana.
“Akkhhh!” Ia berteriak frustasi dan berhasil membuat Reyhan kaget dan panik.
“Sayang, kamu kenapa ?” Reyhan mendekatinya dan duduk disampingnya.
Ia menutup wajahnya dengan tangannya dan mulai menangis sesenggukan. Ia benci pada keadaan yang membuatnya harus marah dan mendiami suaminya sendiri.
“Al, kamu kenapa ?”
“Aku benci marah padamu, Kak!” bentaknya dengan keras.
“Sayang, maafkan aku, ya. Sungguh aku tak bermaksud menyakitimu. Aku hanya tertarik dengan pembahasan yang mengatasnamakan Mbak Shalu.”
Reyhan mngubah posisi istrinya menjadi duduk berhadapan. “Sayang, sudah, ya.” Reyhan membawanya dalam pelukan.
“Jangan menyiksaku seperti ini, Kak. Aku tidak kuat menjadi seseorang yang harus marah dan mendiami suaminya sendiri. Aku tidak suka.”
“Iya, Sayang. Aku minta maaf. Lain kali aku tidak akan begitu lagi.”
“Tolong! Jaga perasaanku juga, Kak. Biar bagaimana pun aku adalah istrimu.”
“Aleea, aku tidak pernah bermaksud untuk menyakiti perasaanmu. Sungguh, Sayang.”
Ia mengangguk. Ia mencoba menyingkirkan segala amarah yang menguasainya dan mencoba mendengarkan suaminya.
“Maaf aku terlalu dipengaruhi amarah. Karena, kakak tidak mempedulikanku sama sekali.”
__ADS_1
“Iya, Sayang. Aku juga minta maaf.”
Ia memeluk suaminya dengan erat.