
“Dik, bangun dong. Jangan bikin aku takut.”
Reyhan menggenggam tangan istrinya yang belum juga ada tanda-tanda sadar dari pingsannya. Kemudian menciuminya berulang kali.
“Mana Bara lama banget lagi datangnya.” Ketus Reyhan sambil sesekali melihat ke arah pintu. Berharap pintu kamar yang ditempatinya sekarang segera terbuka dan menampakkan orang yang ditunggu-tunggu.
“Lebih baik aku bawa sendiri saja ke rumah sakit. Kalau nungguin Bara aku takut jika keadaan Maira tambah parah.”
Reyhan menyingkap selimut tebal yang ia gunakan menutupi tubuh Nadhira. Memakaikan lagi hijab yang tadinya ia lepas dari kepala Nadhira. Ia mengangkat tubuh Nadhira dengan begitu entengnya.
Saat Reyhan membuka pintu. Dia menemukan Bara baru saja datang dengan napas tersengal-sengal.
“Nadhira kenapa ?”
“Nanti gue ceritain. Kita bawa ke rumah sakit dulu. Gue takut dia kenapa-napa.”
“Ya udah sini Leea gue aja yang bopong.” Tawar Bara.
“Nggak usah, Bara. Gue aja.” Tolak Reyhan.
“Inget kondisi lo, Han. Baru beberapa hari yang lalu keluar rumah sakit. Inget juga nasehat dokter sama lo.”
“Seriusan gue nggak apa-apa, Bar.”
“Jangan ngeyel lo. Kalo lo sakit lagi nanti yang jagain adik gue siapa ? Sini!” Tegas Bara dengan suara meninggi.
Bara mengambil alih menggendong Nadhira tanpa ada penolakan lagi dari Reyhan. Bahkan Reyhan hanya terdiam melihat ekspresi Bara yang sedikit emosi.
“Lo mau diam aja disitu ?” Tanya Bara dingin.
Reyhan hanya mengikuti langkah Bara yang membawa Nadhira.
Didalam mobil Reyhan terus saja menggenggam tangan istrinya yang terbujur dengan wajah memucat.
“Bangun dong, Sayang.”
Setetes air mata lolos dari pelupuk mata Reyhan. Ia merasa kasihan melihat kondisi gadisnya saat ini.
Bara melirik sepasang suami istri itu dari spion mobilnya.
“Kak!” panggil Nadhira dengan suara hampir tak terdengar.
“Ya Allah, Dik. Alhamdulillah akhirnya adaik siuman juga.”
Spontan Bara menoleh ke belakang setelah mendengar adik semata wayangnya itu sudah sadarkan diri.
“Adik!” Panggil Bara.
“Uweekk..”Nadhira kembali merasakan mual yang luar biasa. Ingin ia memuntahkan semua isi perutnya lagi. Namun, sudah tak ada lagi sisa-sisa makanan yang bisa ia keluarkan selain cairan berwarna merah menyala itu.
“Astagfirullah.” Ucap Reyhan hampir bersamaan dengan Bara.
“Bar, bisa cepetan nggak ? Kasihan Aleea muntah-muntah terus dari tadi.”
Reyhan tak peduli lagi dengan pakaiannya yang sudah bersimbah darah.
“Apa ? Muntah-muntah ?” tanya Bara kaget.
“Iya.”
“Nadhira tadi abis makan jeruk, Han ?”
“Ii...ya. Tadi habis makan langsung minum jus jeruk.”
“Ya ampun, Reyhan. Lo tau nggak sih Nadhira itu alergi akut sama jeruk.”
“Astaga. Gue bener-bener nggak tau, Bar.”
Melihat kondisi adiknya. Tanpa pikir panjang Bara melajukan mobilnya menembus jalanan malam dengan kecepatan tinggi. Yang ia pikirkan saat ini adalah bagaimana sampai dengan cepat dirumah sakit. Sehingga dengan cepat pula adiknya mendapatkan penanganan medis.
“Sabar ya, Sayang. Sebentar kita sampai di rumah sakit. Yang kuat ya.” Reyhan menggenggam kuat tangan istrinya. Memberikan sedikit kekuatan pada gadisnya itu.
Mobil Bara berhenti tepat didepan sebuah bangunan besar yang identik dengan warna putih. Rumah Sakit.
__ADS_1
Bara dengan cepat keluar dari mobilnya lalu membuka pintu penumpang untuk Reyham.
“Biar gue aja.” Ucap Reyhan sebelum Bara kembali menawarkan diri membawa Nadhira.
Reyhan menggendong tubuh istrinya yang masih lemah tak berdaya memasuki rumah sakit dan diikuti Bara yang berjalan dibelakangnya.
Seorang perempuan dengan seragam berwarna putih datang menghampiri Reyhan dan Bara.
“Ada yang bisa dibantu, Pak ?” Tanya perempuan itu.
“Tolong istri saya, Suster.”
“Mari ikut saya.”
Reyhan mengikuti langkah suster tersebut menuju sebuah ruangan.
Reyhan membaringkan tubuh Nadhira pada tempat tidur yang disediakan khusus untuk pasien di ruangan tersebut.
“Bapak bisa tunggu diluar dulu, ya. Saya akan memeriksa keadaan istri Bapak.” Kata seorang lelaki bertubuh gempal dengan kacamata bertengger dihidungnya.
“Tolong istri saya ya, Dokter.”
“Tentu saja, Pak. Kami akan melakukan yang terbaik untuk istri Bapak. Tenanglah.”
Dengan berat hati Reyhan meninggalkan ruangan itu. Meninggalkan istri bersama seorang dokter dan perawat yang akan memeriksanya.
Reyhan duduk tanpa sepatah kata pun keluar dari mulutnya disamping Bara yang sejak tadi menunggu dibangku panjang rumah sakit.
“Gimana keadaan Nadhira ?” tanya Bara memecah keheningan.
“Masih diperiksa sama dokter didalam.” Jawab Reyhan lemah dan dingin.
Bara dan Reyhan kembali memilih diam. Memilih sibuk dengan pikiran masing-masing.
Reyhan yang sibuk memikirkan bagaimana keadaan istrinya. Dan Bara yang sibuk memikirkan bagaimana menjelaskan semuanya pada kedua orang tuanya.
“Sorry, Bar. Gue bener-bener nggak tau kalo Maira alergi sama jeruk.” Ucap Reyhan tanpa melihat lawan bicaranya.
“Gue bener-bener nyesel. Andai saja gue tanya dulu sebelumnya. Mungkin Aleea nggak akan kayak gini.” Kata Reyhan penuh penyesalan.
Bara menatap adik iparnya itu yang tengah tertunduk dan menangkup wajah dengan kedua tangannya.
“Nggak ada yang perlu disesalkan. Semua udah terjadi. Jadikan pelajaran biar kedepannya lo bisa lebih berhati-hati lagi.” Bara memegang bahu Reyhan menenangkan.
“Tapi, gue takut banget Bara. Gue takut Aleea kenapa-napa. Belum sehari saja gue menikahi Aleea, udah buat dia kayak gitu. Rasanya gue nggak becus jadi suami." Reyhan mulai terisak.
“Jangan ngaco ngomongnya, Han. Gue yakin Nadhira nggak apa-apa kok. Dulu juga dia pernah kayak gitu.” Bara berusaha meyakinkan sahabat yang sekarang sudah sah menjadi adik iparnya itu. Meskipun dia sendiri tak kalah takutnya dengan kondisi Nadhira saat ini.
Pintu ruangan dimana Nadhira diperiksa terbuka. Dokter dan perawat yang tadinya memeriksa Nadhira pun keluar dari ruangan tersebut.
Reyhan dan Bara berdiri dan menghampiri dua petugas medis tersebut.
“Bagaimana kondisi istri saya, Dok ?”
“Istri anda hanya alergi makanan, Pak. Muntah-muntah yang dialami tadi efek dari alerginya. Jadi Bapak tenang saja. Tapi, untuk malam ini biarkan istri anda dirawat inap dulu. Melihat kondisinya sekarang dan memang pada dasarnya istri anda fisiknya lemah. Jadi, tidak memungkinkan untuk anda membawanya pulang.” Jelas Dokter berbicara panjang lebar.
“Terimakasih, Dok. Apa boleh saya masuk sekarang melihat istri saya ?”
“Oh silahkan, Pak. Saya permisi dulu.”
Setelah dokter dan perawat itu pergi. Reyhan dan Bara masuk menemui Nadhira.
Reyhan menghampiri Nadhira yang terbaring dengan memejamkan mata dan duduk disampingnya. Sedangkan Bara duduk disebuah kursi di samping tempat tidur pasien.
“Aleea ?” Panggil Reyhan seraya mengelus-elus kepala istrinya.
Dengan pelan Nadhira membuka matanya. Ia melihat dua lelaki yang tengah tersenyum padanya.
“Kakak. Abang.” Kata Nadhira lemah.
“Maafin aku ya, Dik. Gara-gara aku, kamu jadi kayak gini sekarang.” Reyhan bicara dengan nada bersalah.
“Aku yang harusnya minta maaf. Aku yang nggak ngomong sama kakak.”
__ADS_1
“Iya nih, Dik. Gara-gara adik tuh, suami adik yang rupanya ganteng kayak artis papan atas itu sampai nangis saking takutnya adik kenapa-napa. Cengeng banget, kan.” Bara mulai ikut nimbrung dengan membuat malu Reyhan didepan Nadhira.
“Masa sih, Bang ?” Tanya Nadhira tak percaya.
Reyhan menatap Bara dengan tatapannya yang tajam. Berharap Bara berhenti meledeknya. Namun, usahanya sepertinya sia-sia. Bukannya takut, Bara bahkan semakin melancarkan aksinya.
“Iya lho, Dek. Kayak cewek tau meweknya.”
“Eh gue nggak gitu ya, Bar. Lo nggak usah ngaco deh ah. Jangan di percaya, Dik.” Bantah Reyhan.
“Terus yang tadi lo ngapain kalo nggak nangis ?”
Reyhan terdiam. Ia tak tau harus menjawab apa.
“Tuh kan. Lo nggak bisa jawab.”
“Yaa.. yang tadi itu yaa.. udah deh, Bar. Mending lo balik aja deh sana.” Ucap Reyhan kesal.
“Lah kok gue malah lo usir sih ?”
“Gue mau berduaan sama istri gue. Paham lo ?”
“Iya iya gue paham. Lo mau bikinin gue ponakan kan, Han ?” Goda Bara.
“Tapi masak iya sih lo bikin anak di rumah sakit ?” Sambungnya menimbang-nimbang.
“Abang, udah deh. Abang balik aja gih. Istirahat dirumah. Dari kemarin juga Abang kurang banget istirahatnya.” Nadhira menengahi perdebatan antara dua kaum Adam disampingnya itu.
“Adik juga ngusir Abang nih ceritanya ?”
“Nggak gitu, Abang. Tapi, aaku nggak mau aja Abang kenapa-napa. Lagian kan Abang bisa balik lagi besok.”
“Iya deh iya. Abang pulang sekarang. Besok Abang balik kesini. Adek cepet sembuh ya. Jangan bikin suaminya nangis lagi.” Bara melirik Reyhan dengan ekor matanya yang dibalas tatapan jengah oleh Abraham.
“Abang udah deh ah.”
“Ya udah Abang pulang dulu, ya. Han, titip Nadhira. "
“Iya. Pasti gue jagain dong istri gue.”
“Dek, lekas sembuh ya. Jangan sakit-sakit lagi.” Ucap Bara serius dan mengecup kening adiknya.
“Iya, Bang. Terimakasih, ya.”
“Aku anterin Abang keluar dulu nggak apa-apa, kan ?”
Nadhira mengangguk.
“Nggak usah, Han. Lo jagain Nadhira aja.”
“Ya udah lo hati-hati, Bar.”
Bara meninggalkan ruangan yang didominasi dengan warna putih itu. Menyisakan Reyhan dan Nadhira.
Reyhan duduk dikursi yang tadi ditempati Bara. Ia menatap wajah istrinya yang masih pucat. Namun, tak sepucat tadi.
“Kenapa ?” Tanya Nadhira.
“Dek ?”
“Hmmm.”
“Jangan kayak gini lagi, ya. Jangan bikin kakak takut.” Reyhan menundukkan wajahnya. Ia merasa sangat bersalah.
“Maafin aku udah bikin kakak khawatir dan takut.”
“Lekas sembuh, Dek” Ucap Reyhan lalu mencium punggung tangan istrinya berkali-kali.
“Kamu istirahat gih.” Lanjutnya dan tersenyum.
Nadhira mengangguk dan memejamkan matanya perlahan. Ia tertidur.
___To Be Continued___
__ADS_1