Senja (Dan Rasa)

Senja (Dan Rasa)
Bab 70


__ADS_3

Senyumnya merekah saat kaki sudah menapak di halaman rumah besar yang sekarang ia tempati. Tangannya menggandeng lengan kekar suaminya.


"Selamat datang kembali, Sayangku," ucapnya pada Reyhan dan menciumi pipi suaminya.


"Sayang, sungguh aku benar-benar terheran melihatmu. Hari ini kamu sudah beberapa kali menciumku. Kenapa ?"


"Tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin mencium suamiku. Memangnya ada yang salah ?"


"Tidak. Tidak," jawab Reyhan dengan cepat.


"Kak, jika ingin mencium Kak Reyhan. Tolong lihatlah sekitar kakak. Nanti ada yang terbawa perasaan. Aku, misalnya."


Keduanya menatap berbarengan ke arah jendela mobil. Menemukan Farhan yang dengan tatapan kesal.


"Jika aku menginginkan itu. Aku harus apa, Kak ? Memangnya kakak juga mau bertanggungjawab ?"


Ia tertawa terbahak-bahak. Begitu pula dengan Reyhan.


"Jangan, Dik. Kamu masih terlalu dini untuk mengikuti jejakku. Fokus saja pada cita-citamu itu," ucap Reyhan.


"Kak Nadhira saja seumuran dengan Farha sudah menikah. Bagaimana ? Apa Farhan tidak boleh mengikuti jejak Kak Nadhira ?"


Reyhan terdiam.


"Namanya jodoh tak kenal usia, Farhan. Jodohku saja yang lebih cepat datang dari yang pernah aku perkirakan."


"Baiklah," ucap Farhan dan keluar dari mobil. Meninggalkan pasangan pengantin baru itu.


"Farhan!" panggil Reyhan dengan keras.


Farhan menghentikan langkah dan menoleh ke arah keduanya. "Kenapa ?"


"Tidak. Kakak hanya ingin memanggil namamu saja. Masuklah!" Reyhan tergelak setelah berhasil membuat adik lelakinya itu semakin kesal.


"Kak, jangan seperti itu. Nanti Farhan marah. Bagaimana ?" nasehatnya pada Reyhan.


"Tidak. Dia tidak akan marah padaku. Lagipula, lama sudah aku tak menjahilinya. Dan ku yakini dia sudah merindukan hal itu."


"Ah... Terserah kakak sajalah. Ayo kita masuk. Mama pasti sudah menunggu kita didalam."


Langkahnya ia ayunkan dengan pasti. Menapaki halaman depan rumah bersama suaminya.


"Selamat datang dirumah, anak-anak Mama."


Suara Mama yang tiba-tiba muncul dari dalam membuat pasangan pengantin baru itu terperanjat kaget.


"Astaga, Mama. Mama membuat Reyhan kaget saja," protes Reyhan dengan perlakuan Mama.


Berbeda dengan Reyhan, ia hanya tertawa meskipun jua ikut merasa kaget.


"Mama terlalu antusias atas kepulanganmu, Kak."


"Iya, Ma. Iya."


"Ayo kita masuk. Mama sudah menyiapkan makanan favoritmu."


"Untuk Nadhira juga, Ma ?" tanyanya penuh percaya diri.


"Tentu saja. Mama menyiapkan semuanya untuk anak-anak Mama."


"Waahh... Terimakasih banyak, Ma." Wajahnya berbinar. Ia memeluk Mama tanpa permisi.


Reyhan yang melihat sikap kekanakkan istrinya hanya tersenyum dan menggelengkan kepala.


_____

__ADS_1


Di ruang makan. Suasana begitu ia nikmati. Suasana yang selalu membuatnya berada ditengah-tengah keluarga kandungnya.


"Ma, nanti ajarkan lagi Nadhira memasak. Sehingga, Nadhira bisa memasak makanan seenak dan selezat ini," ucapnya disela-sela ia menikmati makanan yang ada di hadapannya.


"Sayang, jangan berbicara ketika makan. Ingat pesan Ayah juga," kata Reyhan menasehatinya.


"Maaf," ucapnya dengan mulut yang penuh dengan makanan.


Ia kembali menikmati masakan yangbtelah dihidangkan Mama tanpa suara. Sesekali ia mencuri-curi pandang suaminya dengan ekor dan berakhir dengan tersenyum.


"Alhamdulillah," ucapnya setelah melahap hingga tandas makanannya.


"Bagaimana ? Sudah kenyang ?" tanya Mama.


"Sudah, Ma. Alhamdulillah," balasnya dengan senyum merekah.


"Lho, Reyhan. Makananmu kenapa belum kau habiskan juga ? Bahkan setengahnya pun belum terjamah." Mama heran dengan anak sulungnya. Tak biasanya seperti itu.


"Nafsu makan Reyhan entah kemana, Ma. Melihat makanan-makanan iini membuat Reyhan tak berselera makan."


"Kenapa ? Bukankah semua makanan ini adalah makanan kesukaanmu, Nak ?"


"Iya, Ma. Tapi, entahlah. Reyhan tak ada selera makan sekarang."


Reyhan meletakkan kembali sendok dan garpu diatas piringnya yang masih tertumpuk makanan. "Al, temani aku pergi sebentar."


Alisnya terangkat sebelah. "Kemana ?"


"Ikut saja. Nanti jua kamu akan tahu."


Ia mengikuti langkah kemana saja langkah kaki suaminya menapak jejak. Sesekali ia berlari kecil untuk menyesuaikan langkah Reyhan yang lebih besar darinya.


"Kak, bisakah kakak berjalan lebih pelan ? Aku lelah mengikuti langkah besarmu, itu," ucapnya kesal.


Ia tak melihat Reyhan menanggapi apapun atas ucapannya.


Reyhan menatapnya aneh. "Kenapa ?"


"Aku lelah, Kak. Tak bisakah kakak berjalan lebih pelan sedikit ?"


"Kemarilah!" Reyhan melambaikan tangannya.


Enggan untuk berdiri. Ia hanya menggelengkan kepala.


"Atau mau aku tinggalkan ?"


Tanpa berpikir lagi ia berlari ke arah Reyhan. Menabrak tubuh besar suaminya yang sedikit lebih kurus. Hingga terjerembab dalam dekap lembut Reyhan.


"Ayo!" ajak Reyhan dan menggandeng tangannya.


"Kak ?" Ia mendongakkan kepalanya untuk bisa melihat wajah tampan Reyhan.


"Kenapa, Al ?"


"Bolehkah aku tahu kakak akan membawaku kemana ?"


"Aku akan membawamu ke kamar."


Ia menghentikan langkahnya. Menatap bingung pada Reyhan. "Untuk apa ?" tanyanya polos.


Reyhan mendekatkan wajahnya dan berbisik. "Membuat cucu untuk Mama."


Sebentar ia tertegun. Mencerna dengan baik ucapan Reyhan.


"Hah ? Cucu ?" Matanya membulat sempurna.

__ADS_1


Reyhan tertawa keras dibuatnya.


"Yang benar saja, Kak ? Siang-siang seperti ini ?"


"Aku bercanda, Sayangku," ucap Reyhan gemas dan mencubit pipinya.


"Kamu terlalu banyak bertanya. Ikut saja denganku," lanjut Reyhan.


Ia pasrah dan mengikuti saja kemana langkah kaki Reyhan membawanya. Hingga ia sampai pada sebuah ruang di pojok lantai dua rumah mewah itu.


Reyhan mengeluarkan kunci dari saku celana yang ia gunakan. Membuka pintu dan memasuki ruangan yang masih nampak temaram.


Dengan sebelah tangan Reyhan meraba stop kontak di tembok ruangan itu. Menyalakan lampu hingga seisi ruang nampak jelas.


"Fotoku!" jeritnya kala ia menangkap sebuah potret pada bingkai besar yang terpampang rapi di dinding ruangan dengan aksen klasik itu.


"Itu fotoku masa kecilku, Sayang. Bagaimana bisa ada disini ?" tanyanya seraya menyapu setiap jengkal ruangan yang baru pertama kali ia masuki itu.


"Aku yang sudah meletakkannya disini. Kenapa ? Kamu tidak suka ?"


"Tidak. Bukan begitu maksudku. Aku hanya heran kenapa fotoku bisa ada di ruangan ini. Darimana kakak mendapatkannya ?"


"Dari Abang."


"Hah ? Abang ?"


"Iya. Aku yang sudah memaksa Abang untuk memberikan fotomu padaku. Aku melihat foto itu saat ke rumahmu dan aku menyukainya."


"Oh," ucapnya singkat dan melanjutkan kegiatannya menelisik setiap sudut dari ruangan itu.


"Ini ruangan apa, Kak ?"


"Aku biasa menggunakan ruangan ini sebagai ruang kerjaku. Kadang sesekali aku istirahat disini jika aku malas kembali ke kamar. Dan ruangan ini ruangan pribadiku. Jadi, siapapun tak boleh memasukinya."


"Termasuk aku ?" Ia menunjuk dirinya dengan satu jemari telunjuknya.


"Tidak. Buktinya sekarang kamu sedang berada di ruangan ini."


"Kenapa tidak kakak memberi izin orang lain memasuki ruangan ini selain aku ?"


"Karena, aku tidak ingin orang lain menjamah milikku. Apalagi sesuatu yang berkaitan dengan istriku," ucapan Reyhan dengan tegas dan senyum mengembang.


"Oh begitu ? Baiklah. Aku paham bahwa ruang ini ruang pribadimu."


Ia melangkahkan kakinya perlahan. Menelusuri seisi ruangan bercat abu tua itu. Tatapannya terhenti pada sebuah kotak berukuran sedang dipojok ruang.


Sejenak ia menatap Reyhan. Kemudian, melangkah ke pojok ruangan dimana kotak itu berada.


"Apa ini ?" tanyanya seraya mengangkat kotak berwarna kuning keemasan yang sudah dihinggapi debu.


Reyhan terperanjat dan bergegas meraih kotak teesebut dari tangnnya. "Bukan apa-apa, Al. Ini hanya kotak biasa. Aku lupa membuangnya."


Ia menatap curiga Reyhan. Ia menangkap ada sesuatu yang Reyhan sembunyikan tentang kotak itu. Karena, sikap yang ditunjukkan Reyhan berbeda dari biasanya.


"Kenapa kakak seperti takut aku membuka kotak itu ?"


"Tidak, Al. Aku biasa saja. Dan ini adalah kotak yang tidak penting. Aku saja yang belum sempat membuangnya."


Sama sekali ia tak mempercayai ucapan Reyhan kali ini. Ia merasa Reyhan sedang menyembunyikan sesuatu darinya.


"Kita ke kamar saja, ya, Sayang. Aku ingin istirahat. Kamu mau melihatku baik-baik saja 'kan, Al ?"


Ia terdiam.


"Al ?"

__ADS_1


"Oh iya. Tentu saja aku ingin melihat suamiku baik-baik saja," jawabnya dengan senyum lebar yang dipaksakan.


Ia ikut beranjak setelah Reyhan menggandeng tangannya dan berlalu keluar. Sebelum pintu benar-benar tertutup rapat. Ia menoleh sebentar ke arah kotak kuning emas yang Reyhan letakkan sembarangan diatas meja kerja didalam ruang abu tua itu.


__ADS_2