Senja (Dan Rasa)

Senja (Dan Rasa)
Bab 80


__ADS_3

"Ayah!" teriaknya saat melihat tubuh Ayah keluar dari mobil yang baru saja berhenti di halaman rumah. Tangannya melambai gemulai yang berhasil mengundang senyum Ayah.


"Assalamu'alaikum, anak gadis Ayah," ucap Ayah dengan salam dan sapaan hangat yang sudah jarang sekali didengarnya.


"Wa'alaikumussalam, Ayah," jawabnya dan mencium tangan Ayah. Juga mendaratkan ciuman singkat di kedua pipi ayahnya.


"Bunda dimana, Nak ?"


"Didalam, Yah. Sedang membuatkan makanan untuk adik."


"Oh sudah doyan makan kah anak gadis Ayah ini sekarang ?" tanya Ayah dan menyentil hidungnya dengan gemas.


Ia hanya tersenum lebar menampilkan sederetan gigi putih nan gingsulnya. "Ayah, adik boleh minta tolong, tidak ?"


"Boleh, Nak. Mau minta tolong apa ?"


Ia menengadahkan kepalanya ke arah tembok tetangga. Melihat pohon mangga yang buahnya sangat lebat.


"Adik mau mangga itu, Yah," ucapnya malu-malu.


Ayah menatapnya bingung. Tak biasanya anak bungsunya itu meminta sesuatu padanya.


"Ayah, boleh, ya," ucapnya merayu.


"Minta tolong Bunda, ya, Nak."


"Tidak, Ayah. Adik maunya di petik langsung oleh Ayah. Tidak mau yang lain."


Ayah meletakkan tangannya di kening anaknya. "Kamu baik-baik saja 'kan, Dik ?"


Ia menatap Ayah kesal.


"Ayolah, Ayah." Matanya berkaca-kaca.


Tak tega melihat anak gadisnya. Mau tidak mau Ayah memenuhi keinginan aneh anaknya itu. "Baiklah. Tapi, Ayah ganti baju sebentar. Setelah itu barulah Ayah akan meminta buah mangga muda itu untukmu."


"Terimakasih, Ayah," ucapnya riang.


Sementara menunggu Ayah berganti pakaian. Ia menyesap sedikit demi sedikit teh manis yang dibuatkan Bunda untuknya seraya menikmati semburat jingga yang perlahan menghilang.


"Kenapa Ayah lama sekali," cicitnya dengan kesal.


Ia berdiri mengarahkan pandangannya pada pohon mangga dengan buah lebat itu. Ia menelan salivanya perlahan.


"Kenapa, Dik ?" tanya Bunda yang tiba-tiba dan berhasil mengagetkannya.


"Adik sedang melihat buah mangga itu, Bunda. Sepertinya enak sekali," jawabnya tanpa mengalihkan pandangannya dari pohon mangga itu.


"Itu mangga muda, Nak. Bukan buah mangga matang yang enak dan manis saat dimakan."


"Iya, Bunda. Adik juga tahu bahwa itu mangga muda. Tapi, adik ingin makan mangga muda sekarang," ucapnya bersikukuh.


"Kamu hamil, Dik ?" tanya Ayah yang baru saja keluar setelah berganti pakaian.


Ia menatap Ayah dengan tatapan tak mengerti. "Tidak, Ayah. Adik tidak hamil. Adik hanya ingin makan mangga muda. Itu saja."


Ayah dan Bunda saling melempar tatap dan tersenyum bahagia.


"Ayah tunggu apalagi ? Ayo kita ke rumah tetangga."

__ADS_1


"Iya, Nak. Iya."


"Bunda ikut ?"


"Tidak perlu, Bunda. Bunda diam saja dirumah. Biar adik dan Ayah yang akan pergi."


Langkah Ayah ia ikuti menuju rumah tetangga yang sama sekali tak ia ketahui namanya itu.


"Assalamu'alaikum!" ucap Ayah dengan suara lantang.


Seorang lelaki seumuran Ayah keluar dengan pakaian santainya diikuti seorang gadis dengan wajah yang pucat pasi berjalan gontai dan berpegangan pada lengan lelaki itu. Tubuhnya yang kurus dan hanya menyisakan tulan saja. Ia menggigit bibir bawahnya melihat keadaan gadis itu.


"Wa'alaikumussalam, Pak Yudha. Wah... Tumben datang kemari, Pak," jawab lelaki paruh baya itu dengan sopan dan akrab.


"Maaf, Pak Danis. Saya mengganggu waktu Bapak."


"Oh tidak apa-apa, Pak. Mari duduk dulu," kata lelaki yang dipanggil Pak Danis itu mempersilahkan duduk.


"Tidak usah, Pak. Saya kemari hanya ingin memenuhi keinginan putri saya. Sepertinya dia sedang ngidam, Pak. Dia menginginkan mangga muda, Bapak."


Ia menatap Ayah yang berbicara dengan malu-malu.


"Oh begitu, Pak ? Silahkan petik saja. Memang perempuan jika sedang hamil inginnya yang aneh-aneh saja, ya, Pak."


"Iya, Pak Danis."


"Mari, Pak. Saya bantu untuk memetik mangga mudanya," kata Pak Danis. Sementara gadis yang bersamanya itu ia banyu duduk dikursi teras depannya.


"Ayo, Nak. Sementara menunggu Om dan Ayah memetik mangga. Duduk saja dulu disini bersama Raya. Dia anak sulung Om."


"Iya, Om. Terimakasih."


"Hei! Aku Nadhira," sapanya dengan halus.


Raya menatapnya dengan mata sayu dan senyum tipis. "Namaku Raya," balas Eaya engan suara lemah.


"Kamu sedang sakit ?" tanyanya tanpa basa basi untuk menjawab rasa penasarannya sejak ia melihat gadia itu.


Raya tertawa kecil mendengar pertanyaannya. "Aku memang selalu sakit. Bahkan, aku sudah lupa bagaimana rasanya menjadi baik-baik saja."


"Maksud kamu ?" tanyanya lagi dengan alis terpaut menjadi satu.


"Aku mengidap penyakit jantung," jawab Raya dengan senyuman yang menyebabkan matanya terlihat menyipit.


"Penyakit ini yang membuatku menjadi manusia tak berdaya dan selalu merepotkan Papa dan Mama. Juga membuatku mengubur dalam-dalam segala cita dan cinta yang pernah ku miliki."


Ia tertegun. Pikirannya terbang jauh ke arah suaminya yang juga menderita penyakit yang sama dengan Raya. Ia membayangkan jika suaminya akan seperti itu nantinya.


Dengan secepat kilat ia menepis jauh pemikiran bodohnya itu. Ia menggelengkan kepalanya berkali-kali. "Tidak! Tidak!" bisiknya.


"Apakah kamu baik-baik saja, Nadhira ?"


"Oh iya. Aku baik-baik saja," jawabnya.


"Kamu tidak pernah melakukan operasi, Raya ?"


"Pernah. Tapi, tidak semua operasi akan berhasil. Dan aku salah satu pasien penyakit jantung yang gagal. Ada ketidakcocokan antara aku dan pendonor. Itu satu bentuk kebohongan terbesar yang pernah aku temui dalam hidupku."


Ia menghembuskan napas kasarnya.

__ADS_1


"Untuk mencari pendonor lain juga tak mudah. Butuh waktu panjang untuk menunggu. Itupun jika cocok lagi," Raya mengiringi kalimatnya dengan ringisan-ringisan kecil.


Dari beberapa cerita yang ia dengar dari Raya. Ia semakin paham kenapa suaminya tak ingin banyak berharap.


"Kamu sudah menikah, Raya ?" tanyanya mengalihkan topik yang membuatnya meringis sendiri membayangkan posisi Raya. Juga posisi Reyhan.


"Hampir. Aku hampir saja menikah. Dua hari sebelum pernikahan aku anfal dan keadaanku memburuk. Calon suamiku tak bisa lagi menerima keadaanku yang seperti ini. Dan ia pergi begitu saja. Memutuskan secara sepihak pernikahan yang sudah kami rancang sedemikian rupa."


Ia menangkap semburat kesedihan yang tercetak jelas di manik mata sayu Raya. Ada genangan yang tercipta disana.


"Sejak saat itu aku berhenti berharap tentang apapun. Aku mengikuti kemana saja arus membawaku mengalir. Aku enggan mengukir ekspektasi yang pada akhirnya menyakiti diriku sendiri."


"Tapi, kamu harus mempunyai harapan untuk sembuh dan kembali seperti biasa," ucapnya cepat memotong kalimat yang diucapkan Raya.


"Kamu adalah orang yang entah ke berapa berkata seperti itu padaku. Dan terimakasih sudah memberikan semangat untukku" ucap Raya dengan senyum simpulnya.


Ia membalas senyum Raya dengan seutas senyum manisnya.


"Aku tidak pernah melihatmu di kompleks ini. Apakah kamu warga pendatang ?" tanya Raya.


"Aku sudah menikah beberapa bulan. Dan aku ikut suamiku. Tapi, sejak kemarin aku disini. Karena, suamiku sedang diluar daerah untuk mengurus pekerjaan kantor."


"Oh pantas saja aku tidak pernah melihatmu. Aku juga baru sebulan pindah kesini. Dulu aku tinggal sendiri di apartemen. Tapi, karena kondisiku yang seperti ini. Papa dan Mama memaksaku untuk tinggal bersama mereka dan dua adikku."


Ia mengangguk paham.


"Dik, ayo pulang! Ayah sudah memetikkanmu mangga muda ini."


Matanya berbinar. "Wah... Terimakasih, Ayah."


"Jangan berterimakasih pasa Ayah. Berterimakasihlah pada Pak Danis yang sudah berbaik hati memberikanmu."


"Terimakasih banyak, Om."


"Iya, Nak. Sama-sama. Semoga kamu sehat selalu. Juga calon bayimu."


"Nadhira tidak hamil, Om," bantahnya keras.


Ayah, Pak Danis dan Raya hanya terkekeh melihat tingkah menggemaskannya itu.


"Ayah, adik sedang tidak hamil 'kan ?" tanyanya dengan polos.


"Semoga kamu hamil, Sayang," jawab Ayah dan mengelus puncak kepalanya dengan lembut.


"Ah... Semoga saja."


Ia kembali menatap Pak Danis. "Sekali lagi terimakasih, Om."


Pak Danis hanya mengangguk.


Ia mendekati Raya yang masih setia duduk bersandar dikursi. "Lekas sembuh. Jangan putus semangat dan harapan. Tuhan tahu yang terbaik untukmu. Semoga didepan sana, kita diberi waktu untuk bertatap muka kembali. Berbagi cerita," ucapnya dengan tulus.


Raya tersenyum mendengarnya. "Semoga aku bisa sampai di waktu yang melahirkan temu denganmu, Nadhira. Jadilah teman untukku."


"Tentu saja. Asal kamu tak patah semangat. Maka aku akan menjadi teman yang baik untukmu. Aku berjanji. Sesekali aku akan mengunjungimu kesini bersama suamiku."


"Akan ku pegang janjimu itu, Nadhira."


Ia mengangguk pasti. " Ingat, selalu ada jalan untuk orang-orang yang punya keinginan dan mau berusaha. Aku yakin kamu pasti bisa. Aku pamit."

__ADS_1


__ADS_2