Senja (Dan Rasa)

Senja (Dan Rasa)
Bab 118


__ADS_3

"Al!" panggil Reyhan setengah berteriak dari meja makan.


"Iya, Sayang. Kenapa ?"


"Kemarilah!"


Ia menoleh. Hanya sebentar. "Aku tidak bisa meninggalkan masakanku, Kak. Jika ku tinggalkan, nanti bisa gosong. Tunggulah sebentar."


"Hmmm. Baiklah."


Ia terus melanjutkan mengaduk masakan yang sudah setengah matang dengan ceria. Pagi ini adalah kali pertama ia memasak ditemani Reyhan.


"Yey! Akhirnya, selesai juga," ucapnya sekikit berteriak yang sukses mengundang perhatian suaminya.


Reyhan yang mengalihkan pandangan ke arahnya hanya mampu menggelengkan kepala berulang kali. "Dasar bocah polos," celetuk Reyhan tanpa bisa di dengarnya.


"Sup sayur untuk suami tercinta sudah siap." Ia meletakkan semangkuk sup sayur yang dibuatnya untuk Reyhan diatas meja makan.


"Cicipilah! Semoga kakak menyukainya. Meskipun rasanya jelas tak seenak masakan Mama."


Reyhan melempar senyum manis padanya. "Duduklah disini." Reyhan menepuk kursi yang ada di sampingnya. "Temani aku menikmati sup sayur buatanmu. Karena, akan ku pastika sup sayur ini kan jauh lebih enak."


Ia menatap Reyhan dengan tatapan selidik. "Kakak sedang merayuku ?"


Reyhan menggeleng. "Tidak. Aku berkata yang sebenarnya, Sayang."


"Huh!" Ia membuang napas kasar. "Terserah kau saja, Tuan Oktara."


Matanya menangkap sesosok lelaki yang seumuran dengannya tengah berjalan ke arah tangga. Dengan suara lantang ia memanggilnya adik ipar yang jarang sekali di temuinya itu. "Farhan!" Tangannya melambai dengan indah.


"Ada apa, Kak Nadhira ?" tanya Farhan setelah berdiri di hadapan sepasang suami istri itu.


"Aku tadi memasak banyak. Apakah kamu juga mau ikut mencicipi masakanku ?" tanyanya dengan girang.


"Kenapa tidak ? Kebetulan sekali Farhan belum memakan makanan apapun dari pagi."


"Duduklah dulu! Aku akan menyiapkan makanan untukmu," ucapnya dan berlalu meninggalkan dua lelaki kakak beradik itu.


Selepas kepergian Nadhira. Reyhan menatap intens ke arah Farhan.


"Kenapa kakak menatapku seperti itu ?" tanya Farhan tak mengerti dengan tatapan kakaknya itu.


"Semalam kamu tidak pulang ke rumah lagi ?"


Farhan mengangguk dengan enteng.


"Lalu, dimana kamu semalam ? Di rumah temanmu lagi ?"


Farhan hanya terkekeh mendengar pertanyaan Reyhan.


"Kenapa kamu tertawa ? Kakak pikir tidak ada yang lucu dengan apa yang kakak tanyakan."


"Yang lucu itu bukan pertanyaan kakak. Tapi, kakak sendiri."


"Apa maksudmu ?" tanya Reyhan bingung.


"Kenapa kakak sekarang malah persis sama seperti Papa ? Bertanya tapi seperti menuduh Farhan."


Reyhan terdiam sejenak. "Maaf," ucap Reyhan penuh sesal.


"Iya tak mengapa. Semalam Farhan di apartemen kakak. Maaf jika Farhan tidak memberitahu kakak dan orang rumah."


Reyhan tersenyum. "Kakak senang mendengarnya."

__ADS_1


Nadhira kembali dengan nampan yang berisi semangkuk sup sayur buatannya. Meletakkan diatas meja tepat di hadapan adik iparnya, Farhan. "Selamat menikmati, adik ipar."


Farhan yang tak pernah melihat kakak iparnya bertingkah aneh seperti itu lantas menatapnya bingung. "Kak Nadhira baik-baik saja, 'kan ?"


"Iya. Aku baik-baik saja. Memangnya ada yang salah denganku ?"


"Kak Nadhira tampak ceria dari biasanya. Farhan benar 'kan, Kak ?" tanya Farhan ke arah Reyhan.


Reyhan hanya menganggukkan kepalanya pasti dan tertawa kecil. "Jelas saja kakak iparmu seceria itu, Far. Dia sedang mengandung keponakanmu."


Mata Farhan membulat sempurna. "Hah ? Benarkah ?"


Kedua pasangan suami istri itu mengangguk bersamaan dengan senyum manis yang menghiasi bibir masing-masing.


"Wah... Alhamdulillah. Selamat, ya, Kak. Akhirnya, membuahkan hasil juga. Farhan turut berbahagia."


"Terimakasih banyak, Farhan," ucapnya dengan tulus.


"Farhan juga ada kabar bahagia untuk semuanya. Papa dan Mama dimana ?" tanya Farhan dengan mengedarkan pandangannya ke segala penjuru ruangan.


"Masih diatas. Kebetulan Papa sedang tidak pergi ke kantor," jawab Reyhan.


"Itu Papa dan Mama," celetuknya tiba-tiba saat netranya menangkap dua sejoli yang tak lagi muda itu melenggangkan langkah menuruni tangga. Diantara keduanya ada gadis kecil nan manis yang tengah tertawa lepas.


"Tisha!" panggilnya dengan suara yang melengking. Gadis kecil itu tak menunggu waktu lama untuk segera berlari. Memeluk erat tubuh kecil Nadhira.


"Tisha mau tidak makan sup sayur ? Seperti Kak Reyhan dan Kak Farhan."


"Tisha tidak suka sayur, Kak," jawab gadis kecil itu dengan polos dan ekspresi bergidik.


"Yah... Sayang sekali. Kakak hanya memasak sup sayur tadi."


"Tidak apa-apa. Tisha juga masih kenyang, Kak."


"Papa sama Mama mau Nadhira buatkan makanan juga ?"


"Tidak perlu, Nak. Papa dan Mama sudah sarapan."


Ia mengangguk paham.


"Pa. Ma. Ada yang mau Farhan beritahu," ucap Farhan setelah beberapa detik ruang makan terjebak sepi.


"Tentang apa, Nak ?" tanya Mama dengan raut wajah khawatir.


"Tugas akhir Farhan sudah terselesaikan. Lebih cepat dari yang Farhan targetkan. Dan Farhan tinggal menunggu hari pengesahan saja."


Seisi ruangan mengucap hamdalah secara bersamaan.


"Kenapa kamu tidak pernah cerita, Farhan ?" tanya Papa tersenyum bangga. Ia tak pernah membayangkan anak keduanya itu akan berubah secepat ini.


"Farhan sengaja tidak cerita. Farhan ingin memberikan kejutan untuk Papa, Mama dan Kak Reyhan."


Papa bangkit dan melangkah ke arah Farhan. Memeluknya dengab erat. "Papa bangga padamu, Nak."


Untuk pertama kali kalimat itu terlontar dengan bebas dari bibir Papa pada Farhan. Hal itu sontak membuat Farhan berkaca-kaca. "Terimakasih, Pa. Ini juga berkat Papa."


Di tengah rasa haru yang melingkari keluarga Oktara itu. Nadhira dengan wajah cemberutnya berbicara dengan polosnya. "Yah... Farhan saja sudan selesai. Tugasku malah masih jalan ditempat saja," ucapnya dan mendaratkan tubuhnya pada kursi di samping Reyhan.


Seisi ruangan saling melempar tatap. Kemudian, mentertawakannya dengan keras.


Ia menatap satu persatu anggota keluarga Oktara itu. "Kenapa semuanya tertawa ?"


"Jadi, ceritanya Kak Nadhira iri atas pencapaianku yang lebih cepat ini ?" tanya Farhan menggoda.

__ADS_1


Dengan segala kepolosannya ia mengangguk membenarkan pertanyaan Farhan. "Tentu saja aku iri padamu. Harusnya aku juga sudah menyelesaikan tugas akhirku. Ujian dan menunggu hari pengesahan sepertimu."


"Hei! Jangan cemberut seperti itu, Sayang. Kamu 'kan sedang hamil. Jadi, wajar saja kamu terlambat seperti itu. Karena, kamu harus fokus pada kandunganmu," ucap Reyhan menenangkannya.


"Tapi..."


"Sssttt!" Reyhan meletakkan jari telunjuknya pada bibir mungil nan ranum itu. "Tenang saja. Aku akan membantumu menyelesaikan semua pekerjaanmu. Asal kamu bisa menjaga dengan baik kesehatan dan kandunganmu. Paham maksudku 'kan, Sayang ?"


Ia mengangguk lesu.


"Farhan juga akan membantu Kak Nadhira nantinya. Tenang saja."


"Kamu juga harus membantu Papa di kantor, Farhan," cicit Papa.


Farhan tertawa kecil. "Tentu saja."


Reyhan menepuk pelan pundak adik lelakinya itu. "Kakak bangga padamu. Semoga nanti kamu bisa menggantikan kakak memimpin perusahaan, Farhan."


"Papa yang akan digantikan oleh Farhan. Bukan kamu, Rey!" tegas Papa.


Reyhan tersenyum tipis.


Ia menatap ke arah suaminya yang tengah tertunduk. Ia paham maksud ucapan Reyhan tadi. Tangannya menggenggam erat tangan Reyhan. Memberikan kekuatan pada suaminya.


"Papa jangan bercanda. Jelas yang akan digantikan itu adalah Reyhan."


"Apa maksudmu berkata seperti itu, Rey?" tanya Papa dengan serius.


"Papa lupa kondisi Reyhan sekarang bagaimana?" tanya Reyhan dengan tatapan mengarah pada Papa.


"Kondisi Reyhan semakin hari kian memburuk. Bagaimana bisa Papa mengharapkan Reyhan lagi memimpin perusahaan ?"


Hening. Tiada satu kata pun yang terdengar dari seisi ruangan itu.


"Bahkan, Reyhan tidak tahu sampai kapan Reyhan bisa bertahan dengan penyakit ini."


Kali ini. Semua sorot mata itu tertuju pada Reyhan.


"Nak, jangan berkata seperti itu lagi," ucap Mama.


Reyhan hanya tersenyum. Tangannya memyentuh perut rata Nadhira. "Harapan Reyhan hanya satu. Semoga Tuhan memberikan umur sampai anak Reyhan lahir. Reyhan ingin menimang anak Reyhan."


Dengan cepat ia menggeleng. "Tidak! Kakak akan bersamaku dan anak kita hingga nanti," bantahnya.


"Sayang?" Reyhan menangkup wajah Nadhira dengan lembut.


"Aku tidak mau tahu dan tidak ingin mendengarkan penjelasan konyolmu," ucapnya dan menyingkirkan tangan Reyhan dari pipinya. Kemudian, berlalu begitu saja.


"Al!"


Ia sama sekali tak mengindahkan panggilang Reyhan. Ia terus saja melangkah menuju kamarnya.


"Sebentar Reyhan susul Aleeana dulu, ya, Ma, Pa."


Reyhan dengan susah payah berdiri.


"Farhan bantu, Kak."


"Tidak perlu, Farhan. Kakak bisa sendiri."


Reyhan berpegangan pada tembok kokoh rumahnya. Berjalan tertatih menyusul Nadhira yang merajuk.


"Reyhan," panggil Papa dengan tatapan kasihan.

__ADS_1


Reyhan hanya tersenyum. "Reyhan bisa, Pa. Papa tenang saja."


__ADS_2