
"Hei! Bangunlah! Ini sudah siang. Jangan tidur terus." Nadhira memainkan hidung mancung pria dihadapannya yang masih terpejam itu.
Reyhan belum juga bergeming. Rasa lelah setelah perjalanan pekerjaan yang ia lakukan bersama Bara membuatnya begitu lelap tertidur.
"Sayang, bangun. Aku ada sesuatu untukmu."
Reyhan perlahan menggeliatkan tubuhnya. Mengerjapkan mata berulang kali dan menatap wajah cantik yang tengah teesenyum manis padanya.
"Selamat pagi, suamiku," ucapnya dan mendaratkan kecupan singkat dibibir Reyhan. "Morning kiss," godanya dengan mengerlingkan mata.
"Kamu sudah menang banyak dariku, ya, Al," balas Reyhan mencubit hidungnya.
Ia tertawa kecil. Sebelah tangannya ia lingkarkan di tubuh Reyhan. Wajahnya semakin ia dekatkan pada wajah Reyhan hingga pucuk hidungnya menyentuh pipi suaminya. Ia membisikkan kalimat tepat di telinga kiri Reyhan. "Selamat ulang tahun , suamiku. Panjang umur dan selalu dalam dekap kasih sayang Tuhan."
"Juga dalam dekap kasih sayangmu," lanjut Reyhan seraya menatapnya.
Kedua pasang mata itu beradu pandang. Saling tenggelam pada tatapan masing-masing.
Reyhan memberikan kecupan manis pada kedua matanya dan bibirnya. "Terimakasih, istriku. Ulang tahun kali ini sudah kau buat berbeda dari ulang tahun sebelumnya dengan hadirmu sebagai pendamping hidupku."
Lagi-lagi ia membisikkan sesuatu pada Reyhan. "Bangunlah! Ada kejutan istimewa untukmu. Sebagai bentuk hadiah jua dariku."
"Nanti saja, ya. Aku masih ingin berada dalam dekap istri cantikku ini."
"Ini masih terlalu pagi untukku mendengar rayuan gombal seperti itu, Sayang."
"Aku tidak sedang merayumu. Tapi, aku hanya ingin berkata jujur."
"Sudahlah. Bangunlah sekarang. Jangan katakan nanti. Karena, kejutan kali ini tidak akan pernah sama dengan kejutan lainnya. Cepatlah!"
"Kamu yang memberiku kejutan. Kenapa kamu yang lebih antusias dariku, Al ?"
"Oh iya, ya."
"Lagipula, bukankah kamu juga tak pernah memberikanku kejutan dan hadiah, Sayang ?" goda Reyhan.
"Jangan salah. Aku selalu menghadiahimu do'a di setiap pergantian umurmu. Dan salah satu do'a yang tak pernah aku tanggalkan adalah agar segera di pertemukan denganmu. Aku cukup egois dalam berdo'a tentangmu. Do'aku selalu memaksa Tuhan untuk memenuhi kehendak hatiku. Egois sekali, bukan ?" Ia terkekeh sendiri mendengar ucapannya.
"Tapi, meskipun kamu merasa egois. Tuhan sudah berbaik hati padamu, Al. Buktinya Tuhan telah mempertemukanmu denganku."
"Iya. Tuhan memang baik padaku. Dan aku sangat bersyukur atas itu."
"Sekarang bangunlah. Bersihkan diri dan aku akan menyiapkan sarapan untuk kakak."
"Lho, kejutannya. Bagaimana ?"
"Setelah mandi dan sarapan. Cepatlah!"
Reyhan bangkit dan bergegas menuju kamar mandi dikamar istrinya itu.
_____
"Sarapan sandwich dan teh hangat untuk suamiku," ucapnya seraya meletakkan piring makanan dan secangkir teh untuk Reyhan diatas meja teras depan.
"Kenapa kita harus sarapan terpisah dengan Ayah, Bunda dan Abang, Sayang ?" tanya Reyhan bingung.
__ADS_1
"Aku tidak menyukai aroma makanan yang dibuat Bunda didalam."
"Kenapa ? Bukankah dulu kamu menyukai semua masakan Bunda ?"
"Aku tidak tahu."
Ia memasukkan sepotong roti ke dalam mulutnya. Menikmatinya dengan segelas susu coklat juga terpaan sinar mentari pagi.
"Aku merasa mual, Kak. Tunggulah sebentar. Aku akan ke kamar mandi," ucapnya berpura-pura. Karena, ia akan pergi ke kamar untuk mengambil hadiah yang akan diberikan pada Reyhan.
"Aku temani, ya, Sayang."
"Tidak perlu, Kak. Habiskan saja sarapanmu dulu. Aku segera kembali."
"Tapi, aku yakin nanti kamu akan pusing lagi seperti semalam dan hampir terjatuh."
"Tidak usah khawatir. Aku hanya mengalami mual biasa."
Reyhan membiarkannya masuk sendiri. Reyhan merasa ada yang dengan sikapnya itu.
"Ah... Sudahlah." Reyhan kembali menikmati sarapan yang sudah dibuatkan istrinya itu.
Tak butuh waktu lama ia sudah kembali duduk di kursi yang berseberangan dengan kursi Reyhan.
"Bagaimana ? Sudah tidak merasa mual lagi, Al ?"
"Masih saja. Tapi, tak separah tadi."
"Apa tidak sebaiknya kita ke dokter saja, Sayang ? Aku takut nanti kondisimu semakin parah."
"Sekarang aku akan menepati janjiku. Memberi hadiah untukmu," lanjutnya masih dengan senyum manisnya.
"Hadiah ? Apa, Al ?"
Ia memberikan sebuah kotak kecil pada Reyhan. "Maaf. Aku hanya bisa memberikan itu pada kakak. Semoga kakak menyukainya."
"Aku buka sekarang ?"
"Buka saja," balasnya.
"Bismillah."
Ia melihat tangan Reyhan dengan cepat membuka kotak kecil berwarna merah muda. Entah kenapa ia yang merasa tak sabar. Ia tak sabar melihat reaksi suaminya saat mendapatkan hadiah kecil itu.
"Sayang," panggil Reyhan dengan mata berkaca-kaca.
Ia mengangguk pelan dengan bahagia yang tercetak jelas di wajah cantiknya.
"Kamu hamil, Al ? Aku tidak sedang bermimpi, 'kan ?" tanya Reyhan masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Ia bangkit dan berjalan mendekati Reyhan. Berdiri di samping suaminya.
"Tidak. Kakak tidak sedang bermimpi. Apa yang kakak lihat itu memang benar adanya. Bagaimana ? Kakak suka dengan hadiah kecil dariku ?"
Tanpa berkata apapun Reyhan memeluk tubuh kecilnya. "Alhamdulillah. Terimakasih, Sayang. Terimakasih kamu sudah memberikanku hadiah seistimewa ini. Aku bahagia sekali. Ya Allah terimakasih."
__ADS_1
Ia menatap netra suaminya yang sudah basah. Air mata yang tertahan jua sudah membentuk jejak di pipi tegas itu. Dengan lembut ia menyeka air mata Reyhan. "Tuhan telah menjawab do'a kita tepat di ulang tahun kakak. Kita jaga dengan baik anugerah ini, ya, Sayang."
Reyhan tak mampu berkata. Ia hanya mengangguk dan memeluk lagi istrinya itu. "Terimakasih, Aleea."
Ia mengelus lembut punggung suaminya yang bergetar. "Jangan menangis, Kak. Nanti dilihat oleh anak kita. Kakak tidak malu," ucapnya bercanda.
"Aku menangis karena terharu dan bahagia, Sayang. Ini adalah hadiah terindah yang aku dapatkan."
"Iya, Sayang."
Reyhan melepas pelukan di tubuhnya. "Sayang, kita harus segera memberitahu Papa dan Mama. Aku yakin mereka akan sangat bahagia mendengar kabar kehamilanmu."
"Iya. Sepulang nanti kita akan memberitahu Papa dan Mama. Ini kejutan untuk keduanya." Ia tersenyum lebar.
"Ayah dan Bunda sudah tahu, Sayang ?"
"Sudah. Ayah dan Bunda yang sudah memaksaku menggunakan test pack. Sebab itulah aku tahu bahwa aku hamil. Hanya Abang yang belum tahu."
Reyhan kembali memeluknya erat. "Kamu harus menjaga kesehatan. Tidak boleh banyak gerak dan tidak boleh juga stress."
Ia mengangguk dalam pelukan Reyhan.
"Ah... Sial sekali. Sepagi ini aku harus melihat lagi adegan yang sama."
Ucapan Bara berhasil mengalihkan fokus keduanya.
"Lihatlah! Lelaki tak berpasangan itu selalu iri melihat kemesraan kita, Kak," ledeknya.
Bara nampak kesal mendengarnya.
"Menikahlah segera, Om Bara," ucapnya.
"Om ?" Alis Bara terangkat sebelah.
"Iya. Om. Karena, disini sudah ada keponakan Abang." Ia menunjuk perutnya yang masih nampak rata.
"Benarkah, Dik ? Kamu hamil ?"
Ia mengangguk.
"Alhamdulillah. Akhirnya, sebentar lagi Abang akan memiliki keponakan. Selamat, ya, Dik. Abang turut bahagia."
"Eh elo. Selamat juga sebentar lagi akan menjadi seorang ayah. Dan selamat ulang tahun juga, sahabat sekaligus adik ipar."
Reyhan terkekeh mendengar ucapan Bara. "Terimakasih, Bar. Elo cepatlah menyusul. Biar nantinya ada teman main anak gue."
"Aish... Jika sudah membahas ini. Lebih baik gue masuk saja." Bara berlalu begitu saja.
Keduanya hanya tertawa penuh kemenangan.
"Sekali lagi terimakasih, ya, Al."
Ia mengangguk.
Reyhan berjongkok di hadapannya. Mengelus dan mencium lembut perutnya. "Nak, terimakasih sudah hadir. Baik-baik di perut Mama, ya, Sayang. Jangan menyusahkan Mama. Dan sampai jumpa nanti. Papa dan Mama menunggu kehadiranmu di dunia."
__ADS_1
Ia terharu mendengar ucapan suaminya.