
“Bunda, bolehkah adik membantu Bi Lastri membereskan piring kotor dan dapur ?” tanya Nadhira malu-malu.
Keluarga besar Prayudha itu saling melempar tatap. Sebab, tak biasanya Nadhira bersikap seperti itu.
“Oh... Tentu saja boleh, Sayang,” balas Bunda.
“Sayang ?” panggil Reyhan dengan senyum manisnya.
“Sebentar, ya. Aku bantu Bi Lastri di dapur dulu,” ucapnya dan mengelus ;embut rambut Reyhan.
“Iya, Sayang.” Reyhan memberikan senyum terbaik untuk istrinya. Mengelus punggung tangan Nadhira yang putih nan mulus itu.
Nadhira beranjak menyusul Bi Lastri menuju dapur untuk membantu membersihkan piring-piring kotor yang tertumpuk rapi di wastafel.
“Bi, biar aku yang membereskan semuanya. Bibi istirahat saja.”
Bi Lastri melongo melihat sikap anak majikannya itu.
“Tapi, Non. Ini sudah menjadi pekerjaan Bibi.”
“Tidak apa-apa, Bi. Izinkan aku membantu Bibi hari ini, ya. Lagipula, aku akan jarang berkunjung kesini.”
“Benarkah tidak apa-apa, Non ?” tanya Bi Lastri bertanya memastikan.
“Iya, Bi. Aku sudah meminta izin pada Bunda.”
“Baiklah, Non. Terimakasih sudah berkenan membantu Bibi,” ucap Bibi dengan senyum menghias wajah tua dan keriputnya.
“Sama-sama, Bi. Bibi istirahatlah.”
“Bibi permisi, ya, Non.”
Ia menyahuti dengan anggukan diiringi senyum.
Nadhira memulai aktivitasnya membereskan piring-piring kotor dan membersihkan dapur yang masih sedikit berantakan. Ia mengerjakannya dengan sangat lambat. Sebab, ia memang belum terbiasa mengerjakan sesuatu yang berhubungan dengan dapur. Sebut saja ini kali pertama ia mengerjakan hal itu. Tangannya lebih cekatan bekerja bersama laptop atau alat tulis lainnya.
“Huffttt!” Ia menghembuskan napas lega setelah menyelesaikan pekerjaannya dengan baik meskipun sangat lambat.
“Sayang ?” Reyhan tiba-tiba datang dan memeluknya dari belakang yang sukses membuatnya terlonjak kaget.
“Astaghfirullah. Astaga, Kak. Kakak membuatku kaget saja,” ucapnya dengan mengelus dadanya.
“Maaf, ya.”
Ia tersenyum.
“Kamu sudah selesai membereskan semuanya, Sayang ?”
“Sudah. Kakak bisa lihat sendiri pekerjaanku,” ucapnya bangga.
“Capek tidak ?”
“Hmmm... lumayan.”
Reyhan mengubah posisi Nadhira menghadapnya.
“Al ?”
__ADS_1
“Hmmm.”
“Bolehkah aku meminta sesuatu padamu ?”
“Tentu saja boleh, Sayang,” ucapnya dan mengaitkan kedua tangannya di leher Reyhan. Kemudian, dibalas dengan Reyhan melingkarkan kedua tangan diperutnya.
“Aku ingin menikmati makanan atau minuman buatanmu sendiri, Al,” pinta Reyhan menggodanya.
“Boleh. Tapi, aku hanya bisa membuat jus buah. Bagaimana ?”
“Apa saja. Asal kamu sendiri yang membuatnya.”
“Tapi, bagaimana aku bisa membuatnya jika kakak tidak melepaskan pelukan ditubuhku ?”
“Oh... Iya.” Reyhan tertawa kecil dan melepas pelukan ditubuh istrinya.
“Tunggu disini.” Nadhira menuntun Reyhan duduk dikursi meja makan yang terletak didapur.
“Aku akan membuatkan jus buah kesukaanku untuk kakak.”
Reyhan mengangguk.
“Duduk manislah, Suamiku,” bisiknya dengan manja. Reyhan tersenyum bahagia.
Ia berjalan menuju kulkas dua pintu. Menilik persediaan buah yang masih ada didapur yang menjadi ruang eksperimen Bunda membuat masakan-masakan baru.
“Syukurlah masih banyak.” Ia tersenyum riang melihat sederet buah strawberry segar yang tersusun rapi didalam kulkas. Mengambil beberapa buah ukuran besar dan mencucinya hingga diyakini sudah benar-benar bersih.
“Mau yang manis atau biasa saja, Kak ?”
“Biasa saja, Sayang,” balas Reyhan tanpa mengalihkan fokusnya dari ponsel yang berada di tangannya.
“Maaf. Aku hanya bisa membuat ini. Tapi, lain kali aku akan belajar memasak pada Mama dan sesekali dengan Bunda.”
“Iya, Say...” ucapan Reyhan tergantung.
Matanya tak berkedip menatap jus segar yang dihidangkan Nadhira untuknya. Pasalnya, Reyhan tidak bisa mengkonsumsi buah strawberry walau dalam bentuk apapun. Karena, hal itu akan menyebabkan sakitnya kembali menyerang.
“Kenapa, Kak ? Kakak tidak menyukai jus strawberry ? Jika memang begitu, biar aku buatkan jus yang lain.”
Reyhan menatap istrinya. Ia benar-benar tidak tega dan tak enak hati jika tidak meminum jus yang susah payah dibuat istrinya itu.
“Oh... tidak Sayang. Kakak suka,” ucapnya berbohong.
Reyhan meraih gelas yang berisi jus segar yang diletakkan diatas meja itu dengan ragu-ragu. Ia menelan salivanya. Berpikir keras.
“Ah...sudahlah. aku tak ingin membuatnya kecewa. Tak ingin pula membuat luntur senyumnya,” pikir Reyhan.
“Bismillah,” ucap Reyhan berbisik.
Tepat ketika bibir Reyhan menyentuh bibir gelas berisi jus segar itu. Bara tiba-tiba datang dan menyambar gelas ditangan Reyhan. Kemudian, meneguk hingga tandas jus tersebut.
“Hah ? Abang!” pekik Nadhira. Ia geram dengan tingkah Bara.
“Oh... maaf, Dik. Abang terlalu haus dan sangat tergoda melihat jus segar itu,” jawab Bara tanpa dosa.
“Tapi, tidak juga dengan merebut seperti itu. Adik masih bisa membuatkan yang lain untuk Abang.”
__ADS_1
Reyhan hanya terdiam menyaksikan perdebatan dua kakak beradik itu. Sedikit ia merasa lega. Sebab, merasa terselamatkan dengan kelakuan Bara. Bahkan Reyhan yakin bahwa Bara sengaja merebut jus tersebut dari tangnnya. Karena, Bara tahu betul ia tidak bisa mengonsumsi strawberry.
Disisi lain, Reyhan memikirkan bagaimana perasaan istrinya.
“Iya. Abang minta maaf. Lagipula, adik membuatkan apa yang tidak bisa dimin...”
“Tak mengapa, Sayang. Kamu masih bisa buatkan yang lain untukku,” ucap Reyhan memotong ucapan Bara. Ia belum siap jika Nadhira harus tahu keadaan yang sebenarnya.
Bara menatap Reyhan bingung. Dan hanya disahuti dengan gelengan pelan. Namun, Bara cukup paham dengan kode yang diberikan adik ipar sekaligus sahabatnya itu.
“Tidak bisa apa maksud Abang ?” selidik Nadhira.
“Sayang, kamu tidak mau membuatkan kakak jus yang lain ?” Reyhan segera mengalihkan fokus istrinya.
“Huh... baiklah,” pasrahnya.
“Biar kamu tahu jus kesukaanku. Dan akan sering membuatnya untukku nanti. Aku menyukai jus apel, Sayang. Jadi, kamu buatkan yang itu saja, ya,” terang Reyhan panjang lebar.
“Bolehkah Abang juga meminta untuk dibuatkan, Dik ?” goda Bara.
“Tidak boleh! Minta dibuatkan saja sama Bi Lastri,” balasnya kesal dengan bibir yang majukan beberapa senti dari tempat semula.
“Lagipula, tadi Abang sudah meminum jus yang adik buatkan untuk Kak Reyhan,” lanjutnya seraya mengupas apel yang baru saja ia ambil dari kulkas.
Reyhan dan Bara hanya tertawa kecil melihat tingkah kekanakkan Nadhira.
“Dik, mengupas buah itu jangan sambil marah-marah. Nanti, luk...”
Sebelum Bara menyelesaikan ucapannya. Suara Nadhira lebih dulu terdengar.
“Aww...” ringisnya seraya menghentikan kegiatannya.
“Aleea ?” Reyhan mendekati Nadhira. Ia melihat darah segar sudah mengalir dari jemari istrinya.
“Tuh, Abang bilang juga apa, Dik,” tegas Bara sedikit khawatir.
“Abang yang sudah mendo’akanku untuk terluka,” bentaknya kesal.“Lho, kenapa Abang ?”
“Iya Abang,” sungutnya.
“Sayang, sudah, ya. Lukanya dibersihkan dulu.”
“Tapi, ini...”
“Sayang, dengarkan aku!” ucap Reyhan dengan menekan setiap kata yang diucapkan.
Nadhira tertunduk.
“Aku obati lukamu, ya, Sayang.”
Nadhira hanya mengangguk dan mengikuti ucapan suaminya.
Dengan teliti Reyhan membersihkan dan mengobati luka ditangan istrinya.
“Sudah, Al. Lain kali hati-hati, ya.”
Nadhira mengangguk lagi.
__ADS_1
“Lekas sembuh, Sayang,” ucap Reyhan mencium luka Nadhira.