
Tubuh kecilnya menggeliat diatas tempat tidur berlapis seprai biru tua itu. Matanya mengerjap menyesuaikan cahaya yang masuk ke retinanya. Tangannya meraba meja kecil di samping tempat tidur. Mencari benda pipih yang ia letakkan disana.
“Pukul dua belas malam,” bisiknya. Ia menatap ke samping dan tak ia temukan suaminya terbaring seperti sebelumnya. Ia bangkit dan menyalakan lampu kamar hingga menjadi terang dan tak lagi temaram. Tangannya memutar knop pintu perlahan. Dan ia tersentak.
“Selamat ulang tahun, istriku,” ucap Reyhan dengan girang seraya membawa sebuah kue ulang tahun yang lengkap dengan lilin berbentuk angka dua dan satu.
Ia mengelus dadanya pelan. “Astaghfirullah, Kak. Aku kaget.”
“Maaf, Sayang. Aku tak bermaksud mengagetkanmu. Lagipula, aku jua sedikit tersentak karena kamu yang tiba-tiba membuka pintu kamar.”
“Iya. Aku tak menemukan kakak tidur di sampingku. Jadi, aku memilih keluar untuk mencari kakak.”
“Ah... lupakan saja. Sekarang tiup lilinnya, Sayang. Jangan lupa panjatkan cita dan harapanmu.”
Ia memejamkan mata. Melafalkan do’a dan juga harapannya. Berharap dengan bertambahnya usia membuat pribadinya menjadi pribadi yang lebih dewasa. Mampu menyikapi setiap permasalahan yang ada dengan baik.
Setelah memanjatkan harapan. Ia kembali membuka mata dan meniup lilin yang di tancapkan diatas kue ulang tahun yang sudah Reyhan siapkan untuknya.
“Sayang, maafkan aku jika selama ini aku belum mampu memberikan yang terbaik untukmu. Seperti di hari kelahiranmu ini, contohnya. Tapi, aku benar-benar tak mampu merangkai kata seindah kamu merangkaikan diksi-diksi untukku. Aku hanya mampu mempersembahkan diriku untukmu. Selamat ulang tahun, istriku. Aku mencintaimu,” ucap Reyhan dengan bersungguh-sungguh dan penuh haru. Ada genangan pada netra hitam lelaki tinggi itu.
Ia menggeleng cepat. “Tidak! Aku yakin sejaiuh ini kakak sudah berusaha melakukan yang terbaik untukku. Dan terimakasih atas semua itu.”
Reyhan menarik tubuhnya dan mendekapnya dengan erat. “Terimakasih, ya, Al. Terimakasih telah sudi membersamaiku melangkah dengan segala kekurangan yang melekat dalam diriku.”
Kepalanya ia anggukkan pelan. “Tapi, aku lapar, Sayang,” ucapnya malu-malu dalam dekapan Reyhan.
Mata Reyhan membulat sempurna. “Bukannya satu jam yang lalu kamu juga bangun karena lapar dan memakan makanan Latisha, Sayang ? Dan sekarang merasa lapar lagi ?” tanya Reyhan heran.
Ia mengangguk polos dan tersenyum dengan manisnya. “Aku tak tahu. Akhir-akhir ini lebih cepat merasa laar dari biasanya.”
“Tak mengapa, Sayang. Sekarang kamu makan kue ini saja. Bagaimana ?”
Ia berusaha menimbang-nimbang tawaran Reyhan dengan mengetukkan jari telunjuk pada keningnya.
“Jika tak mau. Aku akan mencarikan makanan lain untukmu diluar.”
__ADS_1
“Oh jangan. Aku makan kue itu saja. Lagipula, ini sudah larut malam.”
Reyhan tersenyum melihat pengertian istrinya.
“Tapi, aku tidak mau makan sendirian saja. Kakak harus menemaniku.”
“Iya, sayangku. Untukmu aku akan melakukan apapun.”
“Biar aku saja yang bawa,” ucapnya seraya mengambil alih kue ulang tahun dari tangan Reyhan. membawanya ke kamar dan duduk dipinggir jendela yang sengaja ia buka. Membiarkan angin dengan bebas masuk dan menerpa wajahnya. Menerbangkan anak rambutnya yang tertutupi hijab.
“Kenapa kamu membuka jendelanya, Al ? Angin malam tidak baik untuk kesehatanmu, Sayang,” nasihat Reyhan.
“Di kamar kita terasa panas.”
“Kamu semakin hari semakin aneh saja, Al.”
Ia menatap Reyhan dengan tatapan tak suka. “Apa maksud ucapan kakak itu ?”
“Maksudku sikap dan tingkah lakumu, Sayang. Astaga! Kamu juga begitu sensitif sekali. Apakah kamu sedang dalam masa PMS ?”
Tatapan Reyhan berbinar. “Benarkah ?”
Bukannya menjawab. Ia bahkan menatap Reyhan dengan tatapan bingung dan alis yang terangkat sebelah.
“Besok pagi kamu harus menggunakan test pack, Sayang. Aku menduga kamu sedang hamil.”
Ia terdiam sebentar. Meletakkan kue ulang tahun yang belum ia cicipi sama sekali. “Darimana kakak tahu bahwa aku hamil lagi?” tanyanya dengan polos.
Reyhan menepuk pelan keningnya. “Aku juga belum tahu, Sayang. Aku hanya menduga. Dan semoga saja,” ucap Reyhan dengan senyum mengembang.
“Semoga saja,” balasnya dengan girang. Sedetik kemudian senyum manis itu hilang entah kemana. Tatapannya sendu ke arah netra Reyhan yang tengah menatapnya juga.
“Kenapa, Sayang ?” tanya Reyhan dan mengelus lembut rambut hitam nan panjangnya tergerai tak terikat.
“Aku takut.”
__ADS_1
“Kenapa takut ? Harusnya kamu bahagia bisa hamil lagi.”
Ia mendekap tubuh Reyhan yang masih berdiri di hadapannya. “Aku takut tidak bisa menjaga dengan baik janinku seperti kala itu.”
Seketika rasa bersalah menyerang Reyhan tanpa ampun. Perlakuannya kala itu membuat istrinya merasakan trauma luar biasa. “Sayang, maafkan aku. Ini semua karena sikap dan emosiku yang tidak bisa terkontrol. Kamu jadi trauma seperti ini, Sayang.”
Tubuhnya bergetar hebat. Isakannya semakin keras. Derai air matanya semakin deras membasahi ujung kaos yang dikenakan Reyhan.
“Sudah, Sayang. Jangan menangis seperti ini lagi.” Reyhan mengelus punggungnya yang masih bergetar hebat. “Usah khawatir. Usah risau. Apalagi takut. Hamilmu kali ini, aku yang akan lebih kuat dan lebih keras menjagamu dan calon anak kita. Sehingga, kejadian kemarin tidak akan terulang kembali.”
Reyhan menangkup wajahnya yang basah bekas jejak air mata yang mengalir dari kelopak mata indahnya. “Aku berjanji,” ucap Reyhan bersungguh-sungguh dan memeluk tubuh kecilnya dengan erat.
Ia membalas pelukan hangat Reyhan dengan dekapan yang tak kalah eratnya. Menumpahkan tangisnya didada bidang milik lelaki yang menjadi penuntun dan imamnya itu.
“Jadi, besok kamu harus menggunakan test pack lagi, ya, Al.”
“Iya. Dan aku ingin makan sekarang. Cacing-cacing di perutku sudah meronta-ronta meminta jatah,” ucapnya bercanda namun berusaha menahan tawanya.
Tidak dengan Reyhan. Mendengar ucapannya yang terdengar polos dab lugu membuat Reyhan tertawa lepas. “Dan aku ? Apakah tak dapat jatah darimu, Sayang ?” tanya Reyhan dengan tatapan genitnya.
Alisnya terangkat sebelah. “Aku makan dulu. Setelah itu baru aku pikirkan,” jawabnya dengan menyeka kasar air matanya. Mengambil kembali kue ulang tahun yang sempat ia letakkan di pinggir jendela.
“Kamu tidak adil, Al. Kamu lebih memilih memberi jatah cacing-cacing di perutmu itu tanpa berpikir panjang. Kemudian, aku harus menunggumu dulu selesai makan. Itupun jika aku bisa mendapatkan jatah darimu,” ucap Reyhan berpura-pura marah.
“Setiap malam ku berikan jatah masih saja merasa iri pada cacing. Ah... kamu memang tidak pernah puas, Reyhan Akbar Oktara.”
Untuk ke sekian kali. Reyhan benar-benar tak mampu menahan gelak tawanya. “Cukup, Al. Berhentilah berbicara dengan kepolosanmu itu. Aku sudah tidak kuat tertawa seperti ini. Perutku sakit,” kelakar Reyhan disela gelak tawanya.
“Tapi, aku bahagia membuatmu tertawa seperti itu,” cicitnya tanpa berpaling tatap dari kue di hadapannya.
“Kamu merayuku ?”
“Tidak. Aku bersungguh-sungguh. Karena, bahagia suamiku adalah suksesku menjadi seorang istri,” ucapnya dengan tatapan serius dan senyum merekah.
Reyhan memeluknya erat. “Terimakasih. Aku mencintaimu.”
__ADS_1