Senja (Dan Rasa)

Senja (Dan Rasa)
Bab 130


__ADS_3

"Kamarmu begitu feminim, ya, Al," ucap Reyhan saat memasuki kamar istrinya sebelum menikah. Tangannya masih setia menggenggam tangan Nadhira yang berjalan disampingnya.


"Kakak istirahat dulu disini. Aku akan turun lagi untuk membantu Bunda didapur."


"Sayang?" panggil Reyhan dengan nada sedih.


Ia menoleh. "Kenapa? Masih sakit?"


Reyhan menggeleng. "Aku hanya ingin ditemani kamu. Dan bercanda bersama anak kita. Aku rindu gerakannya."


"Baiklah," ucapnya dengan senyum sumringah. Lalu, melangkah kembali menuju tempat tidur.


"Sayang, maafkan aku."


"Aku sudah memaafkanmu. Dan maaf aku sudah berburuk sangka padamu dan Elmeera. Lain kali, aku ingin dengannya."


"Benarkah?"


Ia mengangguk.


"Besok aku akan membawamu ke rumah Elmeera. Disana nanti kamu akan bertemu Kenzo. Masih ingat dengannya?"


"Tentu saja. Lelaki kecil yang tampan."


"Setampan aku dulu sewaktu kecil, Sayang," ucap Reyhan dengan bangga mengagungkan dirinya.


"Iya tentu saja. Aku sangat mempercayai itu. Sebab, hingga sekarang pun kakak masih terlihat tampan," balasnya semakin menyanjung suaminya itu.


"Tetapi, aku hanya manusia lemah sekarang."


"Siapa bilang? Suamiku adalah lelaki kuat." Ia memeluk tubuh Reyhan. Gadis itu tahu apa yang tengah dirasakan suaminya itu. "Aku akan selalu bersamamu."


Reyhan tersenyum meski ia tahu Nadhira tak bisa melihat senyumnya. Tangannya mendarat pada perut buncit istrinya.


"Wah... Si Kecil gerak-gerak, Sayang," ucap Reyhan antusias dengan wajah berbinar ria. Ia menarik tubuh Nadhira untuk duduk menghadapnya. Lelaki menempelkan telinganya tepat di perut Nadhira.


"Nak, sehat-sehat didalam perut Mama, ya, Sayang. Ingat juga, jangan sampai menyusahkan Mama. Kasihan Mamanya. Selain mengurusmu, Mama juga mengurus Papa. Jadi anak baik, ya."


Gerakan pada perut Nadhira membuat Reyhan semakin gemas. Tak kuat rasanya jika tak memeluk gadis di hadapannya itu.


"Eh... Anak Mama gerak-gerak lagi. Senang, ya, Nak di peluk Papa? Hmmm?"


Kedua pasangan suami istri itu akhirnya tertawa. Menikmati bersama pergerakan yang dilakukan manusia kecil didalam perut Nadhira.


"Kak?" panggilnya seraya mengelus lembut rambut Reyhan yang sudah terlihat berantakan.


"Iya, Sayang. Ingin makan sesuatu? Biar aku carikan."


Ia menggeleng. "Tidak."

__ADS_1


"Lalu?"


"Aku ingin malam ini kita tidur disini. Boleh, ya? Lama rasanya tak bertemu Ayah juga."


Reyhan terdiam.


"Lagipula, aku takut membiarkan kakak untuk membawa mobil sendiri dalam keadaan seperti ini."


Dalam hati Reyhan membenarkan ucapan istrinya. "Baiklah. Malam ini saja, ya, Sayang."


"Benarkah?"


Reyhan mengangguk.


"Tapi, aku belum izin pada Papa dan Mama. Aku takut Mama khawatir."


"Biar aku yang akan memberitahu Mama nantinya. Kamu jangan pikirkan hal itu."


Ia kembali memeluk tubuh suaminya. Menikmati aroma yang selalu menjadi kesukaannya itu.


"Jangan melakukan hal seperti tadi lagi, Al."


"Maaf," cicitnya.


"Kamu membuatku takut. Takut terjadi apa-apa denganmu dan kandunganmu. Terlebih aku begitu takut kamu meninggalkanku."


Gadis itu merasakan sepasang tangan tengah memeluknya erat. Memberikan kehangatan dan kenyamanan dalam waktu bersamaan. Wajahnya ia tenggelamkan pada dada bidang milik lelaki yang sudah dengan gagah berani memintanya pada orang tua dan menjadikannya sebagai tempat terakhir melabuh kasih.


Reyhan tertawa kecil. "Tidak perlu sebentar, Sayang. Selamanya pun nyamanku akan menjadi milikmu."


Tangannya meraba perut buncitnya. Merasakan pergerakan demi pergerakan yang di lakukan makhluk kecil yang sangat dinantikan kehadirannya itu. "Tidak sabar menunggu kehadiranmu, Nak. Baik-baik sampai nanti hari itu tiba, ya, Sayang."


Reyhan tersenyum melihat apa yang dilakukan istrinya itu. Ia membelai lembut puncak kepala Nadhira yang tertutupi hijab merah mudanya. "Kamu juga harus sehat, Sayang. Karena, itu juga sangat mempengaruhi kandunganmu."


Kepala gadis itu mengangguk dan ia tenggelamkan lagi wajahnya pada dada bidang lelaki di hadapannya.


...***...


Suasana meja makan rumah Bunda lebih ramai dari sebelumnya. Sebab, malam ini Nadhira dan Reyhan memutuskan untuk menginap.


"Lebih seringlah untuk menginap disini, Nak. Kasihan Bundamu tidak ada teman bermain jika Ayah dan Abang pergi bekerja."


"Tentu saja, Ayah. Asal di izinkan oleh suami." Nadhira mengedipkan sebelah matanya pada Reyhan. Persis seperti menggoda.


"Jika kamu sudah menginginkan itu. Memangnya aku bisa apa, Al? Menolak? Tentu saja tidak," balas Reyhan.


"Jika tidak memang kenapa, Han?" tanya Bara.


"Pasti dia akan merajuk hingga berhari-hari. Dan dampaknya tentu merugikanku. Tak mau bicara denganku. Bahkan hanya sekedar melirik pun ia begitu enggan."

__ADS_1


Seisi ruang makan tak urung mentertawakannya.


Nadhira menghujam Reyhan dengan tatapannya yang tajam. Dan yang ia dapati bukan raut wajah takut Reyhan. Tetapi, senyum lebar nan mengejek.


"Kenapa menatapku seperti itu? Kamu marah?" tanya Reyhan dengan sedikit tawa.


"Tidak! Aku mau ke kamar. Aku sudah kenyang," balasnya dan hengkang meninggalkan makanan yang belum habis setengahnya. Rupanya ucapan Reyhan yang jelas bercandaan semata begitu berdampak buruk pasa suasana hatinya. Ia begitu sensitif.


"Marah lagi 'kan dia. Reyhan bilang juga apa, Bun, Ayah."


Ayah hanya tertawa kecil. "Persis seperti Bunda dulu saat mengandung Nadhira."


"Barangkali, itu sifat turunan dari bunda, ya, Ayah," ucap Bara ikut nimbrung.


"Perempuan hamil memang begitu. Suasana hatinya begitu berubah," jelas Bunda.


"Sebentar Reyhan susul Nadhira dulu ke atas."


"Habiskan dulu makanmu, Nak. Dan biarkan saja dia dulu. Tunggulah sebentar sampai emosinya mereda," kelakar Bunda yang sudah paham bagaimana perasaan menantunya itu.


Reyhan menatap ke lantai dua. Menatap kamar yang pintunya sudah tertutup rapat.


"Jangan khawatir. Marahnya tak akan lama. Itu hanya bawaan ibu hamil saja, Nak."


Sedikit Reyhan merasa lega mendengar ucapan Bunda. Namun, jauh didalam lubuk hatinya ia merasa khawatir pada gadis yang tengah mengandung darah dagingnya itu.


"Nadhira memang begitu, Han. Cepat merajuk dan marah yang kadang tak jelas. Tapi, harap maklum saja. Dia hanya gadis kecil nan manja.


Lagi-lagi Reyhan hanya membalas dengan anggukan dan senyum tipis.


"Bagaimana kondisimu?" tanya Ayah tiba-tiba.


Sejenak Reyhan terdiam. "Seperti yang Ayah lihat."


"Ayah dengar kamu sering anfal, Nak. Bagaimana bisa itu terjadi."


Reyhan diam dan tertunduk.


"Maaf jika Ayah menyinggung perasaanmu, Nak."


"Tak mengapa, Yah."


Hening. Tiada satupun diantara mereka yang berbicara. Makanan yang masih tersaji di hadapan mereka pun ikut tak tersentuh. Semua sibuk dengan pikiran masing-masing.


"Apakah Ayah sudah mulai meragukanku untuk menjaga Aleeana?" pikirnya.


"Astaga! Pikiran macam apalagi ini? Tidak mungkin Ayah berpikir seperti itu padaku," cicitnya dalam hati guna menepis pemikiran yang tak seharusnya singgah itu. Ia menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Reyhan! Kamu kenapa, Nak?" tanya Bunda mengalihkan perhatiannya.

__ADS_1


"Tidak, Bunda. Reyhan baik-baik saja," balasnya dan kembali terdiam. Sibuk dengan pemikirannya lagi.


__ADS_2