
Nadhira menatap Reyhan yang masih setia dengan laptop di hadapannya. Sudah hampir dua jam setelah pulang dari kantor. Reyhan masih saja asyik berkutat dengan oekerjaan yang jatanya masih menumpuk karena ditinggal sakit. Baik oleh dia maupun Farhan.
Tentu tak hanya Reyhan yang sibuk. Di kamar, Farhan juga melakukan hal yang sama persis seperti kakaknya.
"Kak, istirahat dulu sebentar. Nanti di lanjutkan lagi. Kakak lupa, ya, pesan dokter sama Kakak?" Nadhira kembali mengingatkan pada suaminya.
"Sebentar lagi, ya, Sayang," jawab Reyhan dan menatap Nadhira hanya sekilas.
Nadhira hanya bisa menghela napas panjang. "Farhan juga pasti sedang melakukan hal yang sama seperti Kakak. Iya 'kan?"
Reyhan hanya mengangguk dan menampakkan cengiran.
"Kalian sama saja. Sama-sama gila kerja. Persis seperti Papa."
"Kami kan tipekal lelaki yang bertanggungjawab, Sayang. Jadi, kami harus bekerja ekstra untuk memenuhi kebutuhan keluarga."
"Tapi, tidak dengan memporsir diri juga kan, Kak."
"Daripada nanti kamu kesal melihatku seperti ini. Lebih baik kamu buatkan saja makanan untukku. Aku lapar."
Tanpa menjawab, gadis berperut buncit itu berlalu meninggalkan Reyhan. Ia dari kamar dan melihat kamar di sebelahnya sedikit terbuka. Dari sana ia dapat melihat Farhan yang juga dengan wajah serius memainkan jemarinya pada keyboard laptop.
"Dik, jangan sampai sakit lagi karena terlalu memporsir diri," nasihat Nadhira dari ambang pintu.
"Eh, Kak Nadhira. Iya, Kak. Tenang saja. Sebentar lagi selesai."
"Kalian sama saja. Sama-sama gila kerja. Persis seperti Papa." Kalimat yang sama sukses Nafhira lontarkan juga pada adik iparnya itu.
Farhan pun hanya menampakkan cengirannya.
"Mau dibuatkan camilan juga, Dik? Sekalian Kak Nadhira buatkan untuk Kak Reyhan."
"Boleh, Kak. Asal tidak merepotkan kakak."
"Tentu saja tidak," jawab Nadhira dengan senyum manisnya.
...***...
Nadhira kembali berkutat dengan alat dapur. Kali ini ia hanya sendiri. Sebab, Mama tengah menemani Papa menghadiri acara salah satu koleganya.
Dengan senyum sumringah ia menyiapkan alat dan bahan untuk membuat puding. Sebenarnya, dua kakak beradik yang akan ia buatkan tidak merequest akan dibuatkan apa. Tetapi, Nadhira sendiri yang juga sedang ngidam makan puding strawberry. Rasanya sudah sangat lama lidahnya tak mengecap rasa buah favoritnya itu.
Dengan telaten ia mencampur berbagai bahan untuk puding. Gadis itu semakin hari semakin lihai dalam memasak. Sehingga, Mama pun sudah jarang membantunya. Mama ingin Nadhira terbiasa dengan suasana dapur.
Setelah semua step dikerjakan. Maka, jadilah puding strawberry kesukaannya. Nadhira kemudian menyimpan hasil buah tangannya itu ke dalam kulkas.
__ADS_1
Sementara ia menunggu puding untuk siap di hidangkan. Nadhira memeriksa ponsel yang ia letakkan diatas meja yang tersedia di dapur. Ia temukan beberapa pesan dari kedua sahabatnya. Senyumnya mengembang. Kemudian, ia melakukan panggilan pada Finza.
"Assalamu'alaikum, calon adik ipar," sapa Nadhira menggoda Finza tatkala telepon sudah tersambung.
"Wa'alaikumussalam. Please, jangan menggodaku, Ra," jawab Finza dengan malu-malu di seberang telepon.
"Aku tidak menggodamu, Za. Apa yang ku katakan memang benar, bukan?"
"InsyaAllah. Do'akan semoga niat baikku dan Mas Farhan diberikan kelancaran, ya."
"Tentu. Aku akan selalu mendo'akan sahabatku dan adik iparku." Nadhira tersenyum manis.
"Ra? Apakah Mas Farhan baik-baik saja sekarang? Aku takut. Sebulan terakhir ini ia benar-benar berubah. Wajahnya yang pucat dan sering mengerang kesakitan seraya memegangi kepalanya."
Nadhira terdiam. Ia juga bahkan merasakan ketakutan yang sama seperti Finza. Tetapi, Nadhira juga tidak ingin membuat sahabatnya khawatir.
"Ra, can you hear me?"
"Oh, tentu saja Farhan baik-baik saja. Sekarang adik iparku tengah mengerjakan pekerjaan kantor. Ia sekarang sudah gila kerja. Seperti Papa dan kakaknya. Ketiga lelaki itu persis sama, Za." Nadhira tertawa kecil menceritakan Finza tentang ketiga lelaki yang mengisi rumahnya itu.
Terdengar di seberang sana pun tengah ikut tertawa. Nadhira sedikit merasa lega mendengar itu. Tentu pun Nadhira juga tak ingin melihat sahabatnya khawatir.
"Kak Nadhira!"
Nadhira menoleh ke arah sumber suara. Ia menemukan Farhan yang hanya menyembulkan kepalanya dari balik tembok.
"Farhan minta tolong buatkan kopi. Boleh?"
Nadhira menangkap tawa kecil sahabatnya di seberang. Kemudian, ia dengan sengaja menspeaker ponselnya agar suara Finza bisa terdengar oleh Farhan.
"Kamu dengar 'kan, Za? Bagaimana calon suamimu sekarang begitu manja padaku."
"Mas, jangan banyak merepotkan Nadhira, ya. Kasihan calon keponakanmu nanti jika mamanya kelelahan."
Farhan menatap Nadhira dengan kening mengkerut. Sedangkan Nadhira hanya tertawa melihat ekspresi adik iparnya itu.
Farhan berjalan mendekati Nadhira yang masih duduk manis. "Finza?" tanya Farhan dengan suara yang hampir tak terdengar.
Nadhira menganggukkan kepala seraya tersenyum tipis.
"Mas Farhan dengar tidak Finza bilang apa?"
"Iya, Sayang. Aku tidak akan merepotkan Kak Nadhira."
"Ra, jika Mas Farhan merepotkanmu. Katakan saja padaku."
__ADS_1
Nadhira dan Farhan hanya terkekeh mendengar ucapan Finza.
"Kak, Farhan ke atas dulu. Mau merampungkan pekerjaan kantor."
Nadhira mengangguk pelan.
"Za, aku lanjutkan kerja dulu, ya. Lanjutkan saja ngobrol sama Kak Nadhira."
"Ingat! Jangan memporsir diri. Finza tidak mau nanti Mas Farhan sakit lagi seperti kemarin."
...***...
Nadhira membuka kulkas dimana ia menyimpan puding buatannya. Dengan senyum sumringah ia mengambilnya. Menyiapkan untuk Reyhan dan Farhan.
Ia memotong puding tersebut menjadi beberapa bagian. Tak lupa, ia sudah lebih dulu mencicipi puding buatannya. "Lumayan enak juga," cicitnya dan tertawa.
Dengan nampan besar Nadhira kembali ke lantai atas. Terlebih dulu ia ke kamar untuk mengantarkan makanan yang sudah ia siapkan untuk suaminya.
"Masih kerja juga?" tanya Nadhira dan meletakkan nampan diatas meja kecil samping tempat tidur.
"Aku sudah menyiapkan puding untuk kakak. Di makan dulu, ya."
Reyhan hanya menganggukkan kepalanya tanpa menoleh dan membuka suara. Hanya seutas senyum tipis yang terlihat.
"Puding strawberry kesukaanku sudah siap," ucap Nadhira dengan tawanya.
Mendengar kalimat yang terlontar dari bibir ranum istrinya. Tangan Reyhan seketika tercekat. Ia menatap Nadhira. "Puding strawberry, Sayang?" tanya Reyhan memperjelas.
Nadhira mengangguk. "Ini kali pertama aku membuat puding strawberry. Aku sudah sangat berusaha keras, Kak. Kakak harus mencicipinya, ya."
"Tapi, Al..."
Belum sempat Reyhan melanjutkan kalimatnya. Nadhira sudah memajukan beberapa senti bibir tipis itu.
"Aku tahu Kakak pasti tidak ingin mencicipi makanan buatanku. Baiklah. Biar aku yang makan sendiri."
Nadhira beranjak dari pinggiran tempat tidur. Tetapi, tangannya kembali ditarik pelan oleh Reyhan.
"Aku akan memakan apa saja yang kamu siapkan, Sayang." Reyhan tersenyum ke arah Nadhira. Detik berikutnya tatapannya beralih pada puding yang sudah berada ditangan istrinya. Ia menelan salivanya dengan susah payah.
"Aku akan menyuapimu. Sekarang bukalah mulut Kakak."
Ragu-ragu Reyhan membuka mulutnya dan Nadhira sudah bersiap menyuapinya. Dengan senyum tipis Reyhan mengunyah pelan puding tersebut. "Terimakasih, Al."
"Aku akan mengantarkan puding ini dulu ke kamar Farhan."
__ADS_1
Reyhan hanya menganggukkan kepalanya pelan. Dadanya sedikit sesak. Tetapi, ia berusaha bersikap biasa saja.