
Sejak percakapan di ruang keluarga dan kepulangan dari Rumah Sakit. Gadis berjilbab itu lebih banyak terdiam. Berbicara sesekali jika memang perlu. Wajah ceria dan senyum manis yang selalu terpatri kini sudah sangat jarang terlihat.
Seperti saat ini. Gadis itu duduk di balkon kamar. Menikmati sisa-sisa embun semalam yang masih merayap diatas rerumputan dan bertengger di dedaunan hijau. Tatapannya nanar. Teh manis di hadapannya belum di seruput sama sekali hingga mendingin.
Satu tendangan keras terasa jelas di perut buncitnya. Hal itu membuat Nadhira terbangun dari alam yang ia buat sendiri dan nikmati sendiri. Tangannya meraba lembut perut yang membesar hingga gerakan itu tak lagi terasa. Pun gerakan itu tak urung membuatnya menarik ujung bibir dan membentuk senyum tipis.
Pelukan hangat sepasang tangan dengan urat yang tampak jelas melingkar di tubuhnya. Gadis itu kembali tersenyum tipis.
"Selamat pagi," sapa Nadhira dengan lembut.
"Selamat pagi juga, Sayang," balas Reyhan dengan suara serak dan terdengar lemah.
Nadhira melepas pelukan Reyhan dan membalik badan. Duduk berhadapan dengan suaminya. Ia menatap lekat wajah lelaki di hadapannya itu. Tangan kecilnya dengan lembut menyapu wajah Reyhan. Merapikan rambut Reyhan yang tampak berantakan dengan jemarinya. "Mandi dulu, ya. Aku siapkan air hangat untukmu."
Reyhan menganggukkan kepalanya. Ia bangkit perlahan hingga berdiri tegak. "Huh!" Reyhan mengembuskan napas keras.
"Aku bantu?" tawar Nadhira.
"Tidak perlu, Sayang. Aku masih kuat jika hanya berjalan menuju kamar mandi."
"Baiklah."
Di tatapnya lelaki itu melangkah dengan tatapan iba. Untuk ke sekian kali hatinya ngilu melihat kondisi suaminya.
Nadhira benar-benar tidak kuat. Ia membuang pandangannya ke arah lain.
"Al, kamu kenapa?" tanya Reyhan yang sudah duduk manis diatas tempat tidur.
Nadhira tak menjawab. Gadis itu hanya tersenyum tipis dan melangkah menyusul Reyhan. "Tunggu sebentar. Aku akan siapkan air hangat dulu." Ia mengecup sayang kening Reyhan.
Dengan cepat gadis itu menyiapkan segala keperluan suaminya. Meskipun ia sedikit kewalahan karena perutnya yang semakin membesar. Tetapi, demi tugas wajibnya sebagai seorang istri. Nadhira melakukan semua itu dengan ikhlas dan senang hati.
"Sekarang mandilah. Aku akan turun dan membuatkan sarapan untukmu."
"Al," lirih Reyhan.
__ADS_1
"Sudah, Sayang. Tidak apa-apa. Kan sudah menjadi tugas sebagai seorang istri," balas Nadhira. Gadis itu tahu apa yang akan diucapkan suami. Jika tak meminta maaf, Reyhan pasti akan mengucapkan terimakasih.
Sambil berdiri Nadhira memeluk suaminya. Ia mencium puncak kepala Reyhan berulang kali. Kemudian, menyisirnya lagi dengan jemari seraya berkata, "lekas sembuh. Sebentar lagi aku akan melahirkan. Biar ada yang jagain aku dan si kecil nanti. Ya, Sayang, ya."
Reyhan mendongakkan kepalanya. "Jika aku tidak sembuh, bagaimana? Apa kamu akan meninggalkanku?"
Nadhira terdiam sejenak. Kemudian, tersenyum kembali dengan begitu manisnya. Ia menangkup wajah pucat itu. "Jika aku berniat meninggalkanmu. Kenapa tidak dari kemarin-kemarin saja sejak aku mengetahui penyakitmu? Hmmm?"
Reyhan memeluk tubuh kecil itu.
"Aku berjanji akan selalu disampingmu. Jangan pernah berpikir bahwa aku akan meninggalkanmu disaat kondisi kakak seperti ini. Karena, aku tidak akan pernah melakukan itu."
Reyhan mengangguk.
...***...
"Kakak belum selesai mandi?" tanya Nadhira dengan suara kencang agar suaranya terdengar oleh Reyhan yang masih berada didalam kamar mandi.
Karena, tidak mendapat jawaban apapun. Gadis itu meletakkan nampan yang berisi sarapan untuk Reyhan diatas meja. Ia bergegas menuju kamar mandi.
"Kak!"
"Kak!" Panggilnya lagi. Perasaan takut menyelimuti hati gadis itu. Pikiran-pikiran negatif bersemayam dalam otaknya. Dan tanpa berpikir lama lagi ia membuka pintu kamar mandi yang tak di kunci oleh Reyhan.
Nadhira membekap mulutnya. Ia kaget melihat Reyhan yang tengah terduduk dengan kaki yang diluruskan.
Wajah pucat itu mendongak. Menatap gadis yang baru saja membuka kamar mandi. "Al."
"Kakak kenapa? Kakak jatuh?" tanya gadis itu dengan khawatir.
"Aku... Aku...," Reyhan terbata-bata. Ia juga merasakan takut saat menatap mata istrinya yang sudah menatapnya penuh selidik.
Melihat perubahan raut wajah Reyhan. Nadhira berjongkok meskipun merasa tak nyaman. "Kenapa?" tanya gadis itu dengan lembut.
"Lantainya licin dan aku terpeleset. Aku tidak bisa menopang berat tubuhku lagi, Al. Aku lemah," lirihnya dengan wajah tertunduk.
__ADS_1
"Maafkan aku merepotkanmu lagi."
Nadhira meletakkan jari telunjuk dibibir pucat lelaki di hadapannya itu. "Jangan berkata seperti itu lagi, ya," ucapnya lembut. Ia mendekap tubuh ringkih Reyhan. "Sekarang ayo ku bantu berdiri."
Reyhan tak menolak kali ini. Ia membiarkan Nadhira membantunya. Menuntunnya berjalan menuju tempat tidur.
"Kakak ganti pakaian dulu, ya. Setelah itu, kakak sarapan dan minum obat."
Reyhan hanya menganggukkan kepalanya. Ia tak mau lagi membantah atau bahkan menolak perkataan istrinya. Ia semakin merasa bersalah karena merepotkan Nadhira dengan kondisinya.
Ditatapnya gadis yang tengah menyiapkan segala keperluannya itu. Reyhan menarik ujung bibirnya. "Ambil pakaian santai saja, Al. Aku 'kan hanya berdiam diri di kamar. Tidak akan pergi kemana-mana. Jadi, jangan terlalu repot mencarikan pakaian untukku."
"Tidak! Aku akan mencari pakaian yang akan membuatmu tampak gagah dan tampan. Meskipun..." Kalimat Nadhira menggantung seiring tangan yang juga ikut berhenti bergerak.
"Meskipun aku penyakitan dan terlihat menyedihkan maksudmu, Al?"
Nadhira menoleh ke belakang. Ia menggeleng cepat. "Tidak. Maksudku bukan begitu. Tapi,..." Ia gelagapan. Tak tahu harus berkata apa-apa.
"Jika pun memang kamu akan berkata seperti itu. Aku tak akan marah. Karena, kenyataannya memang seperti itu." Reyhan tertawa sumbang. Ia perlahan membuka kaos yang sudah kotor bekas lantai kamar mandi, kaos oblong yang membungkus tubuh ringkih dan kurusnya.
"Sudah. Berhenti berkata seperti itu lagi." Nadhira menghampiri Reyhan dengan membawa kaos ganti dan celana selutut. Ia meletakkan kedua benda tersebut di sampingnya Reyhan.
Rambut yang belum tersisir itu dirapikan Nadhira dengan jemarinya. "Tidak perlu berpikir negatif lagi. Fokus pada kesehatanmu saja."
Nadhira membantu Reyhan mengganti pakaiannya dengan telaten. Persis seperti sang ibu yang tengah melayani anak kecilnya.
"Mau sarapan dimana? Di tempat tidur atau di balkon kamar?"
"Disini saja. Aku tidak kuat berjalan. Kakiku sedikit sakit. Barangkali terkilir."
Nadhira menatap kaki Reyhan yang sedikit memerah dan membengkak. Kemudian, di naikkannya kaki lelaki itu ke atas tempat tidur hingga lurus. Ia mencoba memijatnya dengan pelan.
"Nanti aku lanjutkan pijitin, ya, Kak. Sekarang sarapan dulu dan minum obat."
Nadhira meraih nampan yang berisi semangkuk bubur ayam yang dibuat sendiri untuk semuanya. Ia menyuapi Reyhan dengan pelan.
__ADS_1
"Aku kenyang, Al," ucap Reyhan. Padahal, yang masuk di perutnya hanya beberapa sendok yang masih bisa terhitung dengan jari.
Akan tetapi, gadis itu paham. Ia tak pernah lagi ingin memaksa suaminya. Kecuali, dalam hal meminum obat. Ia bersikukuh dan tak mau dibantah oleh siapapun.