Senja (Dan Rasa)

Senja (Dan Rasa)
Bab 16


__ADS_3

Nadhira berjalan mondar mandir didalam kamar. Dia merasa sangat gelisah karena bayang-bayang keadaan Reyhan masih menari dalam otaknya.


Nadhira memain-mainkan ponsel yang ada ditangannya. Berharap Reyhan akan segera menghubunginya.


“Atau aku saja yang menghubungi Kak Reyhan lebih dulu. Tapi, aku takut mengganggu. Dia kan bilang tadi mau balik ke kantor.” Nadhira berbicara pada dirinya sendiri.


Nadhira kembali memainkan ponselnya. Hingga ia mendengar suara ketukan pintu dan menghentikan aktifitasnya yang sama sekali tak berfaedah itu.


“Bunda ?”


“Kenapa, Dek ? Kok kelihatan gelisah gitu rupanya ? Ada masalah kah ?” Bunda mendekati Nadhira yang masih berdiri didekat meja riasnya.


“Nggak apa-apa, Bun.” Nadhira memberikan senyum manisnya pada Bunda.


“Jangan bohongin Bunda, Dek. Bunda tau adek pasti lagi mikirin sesuatu. Tapi, Bunda tidak akan memaksa adek buat cerita kok. Ceritalah jika adek udah siap. Bunda akan selalu ada untuk mendengarkan segala keluh kesah anak-anak Bunda.”


Bunda mengelus puncak kepala Nadhira yang masih dibaluti pashmina panjang. Menggandeng tangan Nadhira lalu menuntunnya duduk ditepi ranjang dikamar Nadhira. Bunda membawa kepala Nadhira ke pelukannya dan mengecupnya pelan.


“Bun.” Nadhira mendongakkan kepala menatap wajah teduh Bundanya dengan senyum yang selalu terpatri menghias bibirnya.


“Iya, Sayang ?” Bunda membalas tatapan Nadhira yang terlihat begitu sendu.


“Adik kepikiran Kak Reyhan, Bunda. Adik takut dia kenapa-kenapa.” Nadhira mulai berkaca-kaca. Air mata mulai tergenang dipelupuk matanya.


“Ada apa dengan Reyhan, Dik ?”


“Tadi Kak Reyhan nganterin adik pulang. Ditawarin mampir dulu katanya mau balik lagi ke kantor. Tapi, pas mau pulang adik liat dia kayak kesakitan gitu, Bunda. Udah gitu mukanya juga pucat banget. Ditanya kenapa, jawabnya nggak apa-apa. Terus langsung balik dianya. Tapi, kok adik khawatir banget ya, Bun ? Takut Kak Reyhan beneran sakit.” Nadhira bercerita begitu polosnya. Layaknya anak TK yang menceritakan aktifitasnya disekolah pada orang tuanya.


“Sudah adik hubungi belum Reyhan ?”


“Belum, Bunda. Takutnya adik ganggu dia lagi kerja.”


“Kalo saran Bunda sih mending adik hubungin aja dulu. Biar nggak gelisah lagi, kan ?”


“Iya nanti adik coba deh, Bun.” Nadhira sedikit tersenyum.


“Nah, gitu dong. Tidak ada salahnya kita memastikan sesuatu yang mengganjal dipikiran, Sayang. Biar kita tidak bersuudzon. Paham ?”


“Iya, Bunda.” Nadhira mencium kedua pipi Bunda bergantian. Bunda hanya bisa tersenyum melihat tingkah anak bungsunya yang masih terlihat kekanakkan ini. Masih sering bermanja ria dengannya.


“Ya udah. Adik bersih-bersih dulu, ya. Bunda mau masak untuk makan malam. Sebentar lagi juga ayah pasti pulang.”


“Iya, Bunda.”


“Jangan lupa hubungi calon suami.” Bunda mengedipkan sebelah matanya mencoba menggoda Nadhira.


“Ihh Bunda apaan sih ?” Nadhira tersipu malu.


Bunda berjalan keluar meninggalkan Nadhira sendirian didalam kamar.


Nadhira merebahkan tubuhnya diatas ranjang king size dengan balutan seprei berwarna biru muda. Ia menelentangkan tubuhnya dan menatap langit-langit kamar.


Nadhira mengambil benda pipih segi empat yang diletakkan sembarangan diranjangnya. Menscroll dan mencari sebuah kontak yang akan dihubungi. Sesuai saran Bunda, Nadhira menghubungi Reyhan.


Tut...Tut...


___

__ADS_1


Dirumah sakit.


Ponsel Reyhan tiba-tiba berbunyi tanda ada panggilan masuk. Ia melirik benda pipih tersebut yang diletakkan diatas nakas. Lalu mengambil dan melihat panggilan dari siapa.


Seketika mata Reyhan membulat sempurna. Reyhan menatap Bara yang duduk dikursi disamping brankar tempat Reyhan membaringkan tubuh kekarnya yang sekarang sedang dalam kondisi drop.


“Kenapa, lo ?” Bara menatap bingung sahabatnya.


Tanpa mengucap sepatah kata pun Reyhan menyodorkan ponselnya ke arah Bara.


“Ada apa sih, Han ?” Bara mengambil ponsel Reyhan masih dengan ekspresi kebingungan.


Bara melebarkan matanya dua kali lipat setelah melihat nama yang tertera dilayar ponsel milik Reyhan yang kini sudah berada digenggamannya. ALEEANA.


“Gimana nih, Bar ?” Reyhan mulai terlihat panik.


“Nih lo angkat aja. Bilang lo ada dimana atau lagi ada kerjaan lah gitu.” Bara kembali menyodorkan ponsel yang masih berbunyi digenggamannya pada sang empunya.


“Atau nggak perlu gue angkat kali, ya. Bara kan taunya gue balik ke kantor tadi.”


“Adik gue udah terlanjur khawatir sama lo. Jangan tambah kekhawatirannya hanya karena lo nggak jawab telponnya.”


Reyhan mendesah pelan lalu mengambil alih ponselnya dan menjawab panggilan Nadhira dengan ragu-ragu.


“Hallo, Al!”


“Assalamu’alaikum, Kak!” Ucap Nadhira diseberang.


“Eh..iiya. Wa’alaikumussalam!”


“Ii.i..iya, Dek. Kakak baik-baik aja.”


“Maaf, Al. Bukan maksud aku buat bohongin kamu kayak gini. Aku Cuma nggak mau bikin kamu khawatir.” Reyhan berucap dalam hati.


“Syukurlah. Apa kakak masih dikantor ?”


“Mmm... iiya. Eh nggak nggak. Ini lagi diluar. Sama... sama Bara. Iya sama Bara.” Reyhan memandang Bara yang sudah tidak tahan menahan tawa melihat gelagatnya.


“Oh gitu. Ya udah, Kak. Aku tutup telponnya, ya. Assalamu’alaikum.”


“Wa’alaikumussalam.”


“Hahaha.” Seketika tawa Bara pecah dan mengudara didalam ruangan bernuansa putih itu.


Reyhan melihat ke arah Bara yang tertawa lepas setelah panggilan Nadhira terputus.


“Kenapa sih ? Ketawa-ketawa nggak jelas.”


“Lucu lo. Ngomong sama Nadhira aja kayak lagi ngomong sama dosen yang super duper killer. Hahaha.”


“Gue nggak tega aja bohongin dia. Tapi mau jujur juga gue nggak bisa. Gue nggak mau dia khawatir. Meskipun nanti juga pada akhirnya dia akan tau kondisi gue seperti apa.” Reyhan menunduk dengan wajah ditekuk.


“Udah lah, Han. Jangan terlalu dipikirin. Fokus aja dulu sama kesehatan lo. Jangan sampai pas hari H lo masih drop kayak gini.” Bara sedikit memberi semangat pada Reyhan yang sebentar lagi akan menjadi adik iparnya itu.


“Iya, Bar. Thanks ya udah jengukin.”


___

__ADS_1


Nadhira meletakkan ponselnya disembarang tempat setelah menelpon Reyhan. Lalu beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan badannya yang mulai terasa lengket bekas keringat.


Hanya butuh waktu 15 menit untuk Nadhira berada dikamar mandi. Ia keluar dengan rambut tergerai yang masih basah.


Nadhira mendekati lemari besar tempat ia biasa menyimpan pakaian-pakainnya. Nadhira mengambil sebuah gamis berwarna merah muda dan jilbab instan berwarna abu-abu lalu mengenakannya.


Setelah merasa rapi, Nadhira keluar dari kamarnya dan menyusul Bunda yang sedang memasak didapur.


“Bunda, lagi masak apa ?” Nadhira mendekati bundanya.


“Waahh... anak Bunda udah cantik sekarang.”


“Oh jadi tadi adik nggak cantik gitu ?” Nadhira sengaja memasang muka cemberut karena ia tau bundanya hanya bercanda.


“Cantik dong dari dulu. Tapi sekarang ada lebihnya. Kan udah mandi.”


Nadhira sontak tertawa mendengar becandaan bundanya.


“Adik bisa bantu apa, Bunda ?”


“Jadi, adik mau bantuin Bunda masak nih ceritanya ?”


“Iya, Bun. Sekalian ajarin adik masak, ya.” Nadhira hanya nyengir menampilkan deretan giginya yang rapi.


“Ya udah ini bantu Bunda kupasin bawang merah sama bawang putihnya ya, Dik.” Bunda menyerahkan sepiring bawang putih dan bawang merah pada Nadhira.


“Siiiaap, Bunda.” Nadhira mengangkat tangannya seperti orang yang sedang hormat.


Nadhira mengambil piring berisi bawang putih dan bawang merah beserta pisau yang akan digunakan untuk mengupas.


Satu demi satu siung bawang dikupas oleh Nadhira. Hingga entah pada siung ke berapa Nadhira merasakan perih dimatanya. Nadhira mulai mengucek matanya perlahan. Dan pada akhirnya air mata Nadhira keluar setetes demi setetes.


“Bunda ?” Nadhira merengek pada Bundanya seperti anak kecil yang menginginkan ice cream.


“Ya Allah, adik kenapa, Sayang ?”


Bunda terlihat panik dan menghentikan aktifitasnya menggoreng ikan setelah melihat Nadhira yang menangis. Bunda mematikan kompor dan mendekati Nadhira.


“Adik luka ? Mana ?” Bunda membolak balikkan tangan Nadhira namun tak menemukan luka disana.


“Bunda, mata adik perih.”


Bunda diam menatap Nadhira. Dan...


“Hahaha.” Bunda tidak bisa menahan tawanya.


“Adik adik, Bunda kira kenapa gitu. Sini biar Bunda yang lanjutin. Adik cuci tangan sana terus cuci mukanya.”


Nadhira hanya mengangguk dan mengikuti titah bundanya.


___TBC___


Jangan lupa tinggalkan jejak ya.


Kasi kritik dan sarannya biar Author bisa memperbaiki untuk ke depannya.


Thanks, Dear 😍

__ADS_1


__ADS_2