
Didalam ruang bercat putih yang identik dengan aroma obat-obatan itu. Bara duduk menghadap Reyhan setelah ditinggal keluar oleh Nadhira. Menatap dengan iba sahabat sekaligus adik iparnya yang terbaring dengan baju Rumah Sakit.
"Kenapa bisa seperti ini lagi ?" ucapnya membuka suara dan menghempas jauh keheningan yang tercipta didalam ruangan.
Reyhan hanya tersenyum lebar. Kemudian, merubah posisi duduk bersandar dengan susah payah.
"Mari gue bantu."
"Terimakasih, Bar."
Setelah posisinya sempurna, Reyhan menatap wajah datar kakak iparnya itu. "Gue minta maaf tidak bisa menepati janji gue pada elo kala itu."
Bara hanya menatapnya tanpa ekspresi.
"Gue sudah berusaha menjaga kesehatan dan tidak menyusahkan Aleea. Tapi, jantung sialan ini dengan lancang kambuh lagi."
"Bukankah itu juga tergantung elo, Han ?"
"Tapi, gue sudah berusaha untuk itu, Bar. Tidak mengonsumsi apa yang akan menjadi penyebab gue anfal."
"Dan elo memporsir diri dengan pekerjaan kantor. Begitu, bukan ? Apa bedanya ?" Bara dengan cepat memotong
ucapan adik iparnya. Tatapannya tajam bak tatapan elang.
"Gue hanya membantu menyelesaikan pekerjaan Papa. Dan jelas saja itu sangat penting untuk keberlangsungan perusahaan. Jika gue tidak bekerja keras, bagaimana gue bisa menafkahi istri gue, Bar ?"
"Siapa jua yang melarang elo membantu orang tua ? Tidak ada, Han! Lagipula, Papa dan Mama elo juga tahu kondisi elo yang sebenarnya. Jadi, mereka tidak akan membiarkan elo jatuh sakit."
Ucapan Bara membuatnya kalah telak. Ia sudah tak mampu lagi berkutik.
"Memang elo saja yang terlalu gila kerja. Sampai lupa sudah punya istri dan penyakit serius," lanjut bara menghantam Reyhan dengan kalimat-kalimat mematikannya.
"Apa elo tidak pernah berpikir sedikit saja ? Jika elo sakit, apa elo bisa bekerja ? Bisa menafkahi istri ? Tidak, Reyhan! Tidak!"
Bara menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan kasar. Ia begitu berusaha keras meredam emosinya. "Bahkan, elo hanya akan merepotkan keluarga elo sendiri," lanjut Bara.
Bara benar-benar membuat otak Reyhan berputar hebat memikirkan ucapannya. Setiap kata yang meluncur hebat dari bibir kakak iparnya itu ia benarkan.
"Ucapan elo memang benar, Bar. Gue tidak sampai berpikir seperti itu."
"Bagaimana dengan operasi ? Nadhira sudah menceritakan semuanya sama gue. Apakah keputusan elo masih tetap sama seperti dulu ?"
"Perihal itu gue hanya minta waktu dua minggu. Jika dalm dua minggu belum ada pendonor. Gue tidak akan melakukan operasi."
Bara hanya menggelengkan kepala tak percaya. "Itu satu-satunya cara agar elo tak seperti ini lagi, Han. Tolong pikirkan dengan baik."
"Maaf, Bar. Keputusan tetaplah keputusan. Dan elo sudah mengenal gue lama. Elo pasti tahu gue orangnya seperti apa."
Reyhan diam sejenak. Napasnya kembali tak beraturan. Sakit itu kembali menyergapnya tiba-tiba dan dengan paksa.
"Aakkhh!" Ia mengaduh kesakitan seraya mencengkeram kuat dadanya.
"Reyhan!" Bara yang melihat adik iparnya itu panik bukan kepalang.
"Obat... Obat gue... Bar." Ia berucap terbata-bata. Menahan sakit yang tak kenal ampun.
"Dimana, Han ? Obat elo diletakkan dimana ?"
Reyhan menunjuk sebuah plastik berwarna putih diatas meja. Dan dengan segera Bara mengambil plastik tersebut. Membukanya dan menemukan botol kecil yang entah berisi apa.
__ADS_1
"Ini ?"
Reyhan mengangguk. Ia meraih botol kecil itu dari tangan Bara. Berusaha membukanya dengan tanga bergetar.
Sakit yang Reyhan rasakan semakin menjadi-jadi. Sehingga, botol kecil berisi obat-obatan yang sedang dibukanya terjatuh. Butiran-butiran kecil berwarna putih itu berserakan ditempat tidur dan lantai.
"Astaga, Reyhan."
Bara dengan sigapnya membantu Reyhan. Mengambil butiran kecil itu yang masih tersisa didalam botol. Memberikannya pada Reyhan.
"Ini minumnya."
Tangan Reyhan bergetar kuat menahan sakit. Bara benar-benar tak kuasa melihat kondisi adik iparnya itu.
"Gue bantu saja."
Dengan teliti Bara membantu Reyhan.
"Terimakasih, Bar," ucap Reyhan dengan suara kecil.
"Apa perlu gue panggilkan Nadhira ?"
Reyhan menggeleng. "Jangan, Bar. Nanti jika Aleea sudah kembali. Jangan ceritakan padanya gue anfal lagi. Gue mohon."
"Tapi, in..."
Ucapan Bara seketika tergantung saat pintu ruangan berdecit dan menampakkan tubuh kecil perempuan berjilbab dengan sebuah kantong plastik besar yang ia jinjing.
"Abang, tadi adik bertemu dengan Mikayla." Nadhira terperanjat saat tatapannya beralih pada lantai putih bersih itu. Ia melihat obat-obatan yang belum sempat dibersihkan Bara masih berserakan.
"Abang ? Kakak ? Kenapa bisa seperti ini ?" Nadhira segera mendekat ke arah kedua lelaki yang terdiam dan hanya saling melempar tatap itu.
"Sayang, kemarilah! Biar aku jelaskan."
Nadhira mendekat dengan kesal. "Kenapa ?"
"Jadi, tadi aku mau minum obat. Dan Abang hendak membantuku untuk mengambilnya. Tapi, tanganku tak sengaja menyenggol botol obat tersebut. Akhirnya terjatuh dan berserakan seperti itu."
"Benarkah ?" Nadhira menatap ke arah Bara yang membeku.
"Oh. Ii. Iiya, Dik," jawab Bara terbata-bata.
"Jangan coba-coba untuk membohongiku!"
"Eh... Abang pulang dulu, Dik. Abang harus menemani Ayah pergi lagi setelah ini. Assalamualaikum."
Tanpa menunggu jawaban apapun Bara segera berlalu dari ruangan itu. Menyelamatkan diri dari amukan adiknya.
"Kak ?" panggilnya dengan tatapan menyelidik.
"Iya, Sayangku." Reyhan berbicara semanis mungkin agar tak jua menerima omelan istrinya.
"Jelaskan padaku! Cepatlah, Reyhan!" bentaknya keras dengan wajah kesalnya.
Melihat hal itu bukan membuat Reyhan takut. Tetapi, ia merasa lucu dan gemas. Ia tertawa begitu lepas.
"Kenapa kakak mentertawaiku seperti itu ? Ini bukan lelucon yang pantas kakak tertawakan."
"Kamu lucu dan menggemaskan ketika marah seperti itu, Sayang. Maaf aku tak kuasa untuk tak mentertawaimu," ucap Reyhan berbicara dengan sejujurnya.
__ADS_1
"Sayaaang," panggilnya manja dan memeluk suaminya. "Aku malu."
"Kenapa kamu harus selucu itu, Sayang ? Bagaimana nantinya aku bisa takut jika kamu memarahiku ? Hmmm ?"
"Aku tidak akan memarahimu lagi, Kak."
"Lantas apa yang akan kamu lakukan jika aku berbuat salah ?"
"Aku akan membunuhmu langsung."
"Memangnya kamu bisa hidup tanpaku, Al ?"
"Tentu saja tidak," jawabnya dengan bangga dan mencium pipi suaminya bergantian.
"Aku tidak akan rela membunuh hidupku, Sayang." Lagi-lagi ia mencium pipi suaminya.
"Kenapa kamu sekarang senang sekali menciumku, Al ?"
"Aku sudah candu mencium suamiku."
Reyhan tertawa kecil mendengar ucapan istrinya.
"Kak, aku ada kabar gembira untukmu."
"Kabar gembira apa, Sayang ?"
"Laporan yang aku serahkan waktu itu sudah diterima. Dan sebentar lagi aku akan segera menyelesaikan tugas-tugas akhirku."
"Alhamdulillah. Selamat, ya, istriku. Jangan patah semangat. Karena, aku akan selalu disampingmu, menyemangatimu."
"Kakak harus segera sembuh. Dan kita akan pulang dengan segera jua."
"Aku sudah merasa lebih baik sekarang, Al. Besok aku akan meminta Dokter Dharma untuk melakukan rawat jalan saja."
"Tapi, kakak belum sembuh total."
"Aku bosan disini. Menghabiskan waktu denganmu dirumah jauh membuatku meraa lebih baik dan cepat sembuh. Percayalah! Bersamamu semua akan baik-baik saja."
"Iya. Aku akan selalu mendampingimu dalam keadaan apapun."
"Terimakasih, Sayang."
"Lekas sembuh. Dan kita akan melakukan banyak hal berdua."
Reyhan tersenyum. Membelai lembut wajah istrinya.
"Kak ?"
"Iya, Sayang. Kenapa ?"
"Aku menginginkan sesuatu."
Reyhan mengangkat sebelah alisnya. "Kamu sedang menginginkan apa, Sayang ? Aku akan memenuhinya jika aku mampu dengan kondisiku sekarang ini."
"Aku ingin memelukmu dan mencium pipimu. Boleh ?"
Reyhan tergelak dibuatnya. "Boleh, Sayangku. Kamu juga tak perlu lagi meminta izin untuk itu. Karena, aku milikmu."
Tanpa pikir panjang. Ia mencium pipi suaminya berulang kali dan memeluk tubuh Reyhan dengan erat.
__ADS_1