
Bugh!
Satu tinju mendarat tepat di wajah Reyhan. Darah segar keluar ujung bibirnya. Reyhan menyeka dengan punggung tangannya seraya tersenyum miris.
"Elo lupa apa yang pernah gue katakan waktu di bandara kala itu? Jika elo ingat, itulah akibat yang harus elo terima."
"Gue tidak pernah lupa. Tapi, ini murni kesalahpahaman."
"Salah paham macam apalagi yang elo maksud, Rey?"
"Elo dengarkan dulu gue jelasin. Demi Tuhan ini salah paham."
Kaki lelaki dua puluh enam tahun itu semakin bergetar hebat. Tangannya berpegangan pada tembok kokoh ruang tamu untuk menjaga keseimbangannya. Ia memulai bercerita tanpa ada yang tertinggal sedikitpun.
Bara hanya terdiam mendengar segala rentetan cerita dari bibir Reyhan yg masih menyisakan darah segar itu. Ada rasa sesal. Begitupun dengan rasa bersalah dan kasihan dalam hati Bara.
"Maaf," begitu kata yang bisa diucapkan Bara.
"Tidak apa-apa. Gue paham kenapa elo sampai melakukan hal itu pada gue."
"Gue hanya tidak ingin elo menyakiti Nadhira."
"Dan gue tidak akan pernah melakukan hal itu," ucapnya dengan tertawa kecil. Ia meringis. Ada rasa sakit di ujung bibirnya.
"Kenapa kaki elo bergetar seperti itu? Elo baik-baik saja 'kan, Han?"
Ia mengangguk. Namun, wajahnya tak mampu mengelak.
"Duduk dulu." Bara memegang lengan adik ipar sekaligus sahabatnya itu. Menuntunnya duduk di sofa ruang tamu.
"Han?"
Lelaki yang tengah mendongakkan kepalanya itu menatap Bara. "Kenapa, Bar?"
"Maafkan gue sudah memukul elo. Gue terlalu emosi. Apalagi mengingata Nadhira begitu lelah menangis."
"Iya. Gue paham. Dan elo lihat sendiri gue baik-baik saja."
Bara menatap iba lelaki di hadapannya itu. Bara yang begitu paham tentang kondisi sahabatnya. "Elo sakit, Han," celetuk Bara tak ingin membenarkan lagi kalimat baik-baik saja dari bibir Reyhan.
Seperti biasa, tentu saja lelaki bertubuh tinggi itu mengelak dengan menggelengkan kepala. Dan berusaha tersenyum meskipun ujung bibirnya masih tampak darah segar disana. "Sudah gue katakan. Gue baik-baik saja."
"Wajahnya elo pucat. Kaki elo sampai bergetar seperti itu. Masih bisa elo bicara bahwa elo tidak apa-apa?"
Bara memang selalu begitu. Ia tak akan pernah mau mengalah. "Dan ini milik elo 'kan?" tanya Bara dengan mengangkat sebuah botol kecil tepat didepan wajah Reyhan.
__ADS_1
Reyhan seketika merogoh saku jas dan celananya. "Darimana elo dapatkan botol itu?"
"Tidak penting. Gue tanya, ini punya elo atau bukan? Jika memang bukan, biar gue buang di tempat sampah."
Reyhan gelagapan. Dan pada akhirnya ia mengakui. "Iya. Itu milik gue. Dari tadi gue cari, tidak ketemu. Gue lupa meletakkannya dimana."
"Jika elo baik-baik saja. Tentu tidak membutuhkan ini, bukan? Karena, elo bilang ke gue elo baik-baik saja. Biar gue buang, ya botol ini." Bara berpura-pura melangkah meninggalkan Reyhan yang masih duduk manis di sofa.
"Tunggu, Bar! Gue tidak bisa jauh dari benda itu," ucap Reyhan dengan nada yang lebih tinggi dari biasanya.
Bara tertawa sinis. "Gue pikir sudah tidak butuh lagi. Bukannya elo baik-baik saja, Han?"
Reyhan bungkam.
"Gue tahu elo. Jangan pernah coba-coba untuk membohongi gue."
Reyhan masih saja bergeming meskipun Bara sudah mendaratkan tubuh tepat disampingnya.
"Sebelum elo menjadi adik ipar gue. Elo sudah lebih dulu menjadi sahabat gue. Gue tahu elo dan gue paham bagaimana elo."
"Thanks, Bar."
"Elo mau minum obat, 'kan? Biar gue ambilkan air putih untuk elo." Bara adalah salah satu lelaki yang penuh perhatian. Begitulah cara Ayah mendidiknya selama ini. Namun, tegas juga ada dalam dirinya. Bara adalah manusia yang susah terbantahkan.
"Air minum untuk siapa, Bang? Ada tamu?" tanya perempuan paruh baya yang baru saja menuruni tangga bersama anak gadisnya.
"Untuk Reyhan, Bunda," balas Bara dengan senyum tipisnya. Kemudian, berlalu begitu saja.
Gadis di samping Bunda itu sontak menatap benda kecil dan bundar yang melingkari pergelangan tangannya. Ia menggelengkan kepalanya pelan.
"Kenapa, Nak?"
"Kak Reyhan telat minum obat. Harusnya dari dua jam yang lalu." Gadis itu memperlebar langkahnya. Ia berlari kecil menuju ruang tamu dan meninggalkan Bunda yang masih berdiri di tangga terakhir.
"Dik, jangan lari seperti itu, Sayang!" teriak Bunda dengan nada panik. Bunda dengan segera menyusul anak gadis cerobohnya itu.
Matanya terbelalak. Nadhira menutup mulutnya kaget dengan kedua tangan. "Astagfirullah," ucapnya dan berjalan mendekati Reyhan yang tengah bersandar pada sofa di ruang tamu. Melihat keadaan suaminya, ia bahkan sampai terlupa bahwa saat ini ada luka yang belum sembuh dalam hatinya.
"Ini kenapa bisa seperti ini, Kak?" tanya Nadhira dengan segala kekhawatirannya.
"Abang?" panggilnya dengan tatapan menyelidik.
"Kepalaku pening. Jadi aku terjatuh dan terbentur sudut meja," ucap Reyhan dengan sedikit senyum yang tersungging.
"Bagaimana bisa? Aku tidak percaya," ucapnya bersikukuh.
__ADS_1
"Tatap aku! Dan lihatlah, apa kamu menemukan kebohongan dari pancaran mataku?" tanya Reyhan dengan serius.
Bara. Ia terdiam. Padahal, jelas saja itu akibat perlakuannya. Namun Reyhan masih saja membela dan menyembunyikan kesalahannya.
"Kakak sudah minum obat?"
Reyhan mengangguk. "Sudah. Abang yang melayaniku dengan baik." Lelaki dua puluh enam tahun itu terkekeh.
"Sebentar, biar kuambilkan kotak obat dulu untuk kakak."
Nadhira beranjak dari sofa. Namun, tiba-tiba ia merasakan perutnya sedikit keram. "Awww." Ia mengaduh dan memegangi perutnya.
Reyhan panik. "Sayang kamu kenapa? Perutmu sakit?"
Melihat hal itu. Tak ayal Bunda dan Bara juga ikut merasa panik.
"Perutku keram, Kak."
Bunda menuntun anak gadisnya itu duduk di sofa. Tepat di samping Reyhan. Bunda sepertinya paham bahwa menantunya itu ingin sekali membantu Nadhira. Tetapi, kondisinya begitu tak memungkinkan.
"Tunggu disini. Biar Bunda yang mengambilkan kotak obatnya."
"Terimakasih, Bunda."
Reyhan mengelus lembut perut buncit itu. Berharap keram di perut Nadhira bisa mereda.
"Nak, kamu kenapa buat Mama kesakitan seperti itu? Jika menginginkan sesuatu. Katakan, Sayang." Reyhan dengan lembut dan penuh kasih sayang mengajak bicara malaikat kecil didalam perut Nadhira.
"Sabar, ya, Sayang. Sebentar lagi perutmu pasti berhenti terasa keram," cicit Reyhan menguatkan Nadhira. Tangannya tak lepas mengelus perut istrinya.
Gadis itu hanya mengangguk dan sesekali meringis.
"Maafkan aku, ya, Al. Begitu banyak luka dan kecewa yang aku toreh dalam hatimu. Tapi, demi Tuhan. Aku sama sekali tak memiliki niat seperti itu."
Ia terdiam.
"Untuk kejadian di kantor tadi. Itu murni salah paham. Dan sekarang izinkan aku menjelaskan ini padamu, ya, Sayang."
Entah sugesti darimana. Gadis itu hanya menganggukkan kepalanya pasti.
Reyhan memulai ceritanya. Disaksikan pula oleh Bara yang masih duduk membersamai mereka. Alunan cerita keluar dengan bebas tanpa ada yang tertinggal.
"Jika kamu tidak percaya padaku. Aku akan membawamu bertemu dengan Elmeera. Bagaimana?"
"Iya. Aku percaya suamiku." Suasana hatinya begitu cepat kembali normal.
__ADS_1