
“Sayang, kamu tunggulah aku disini sementara aku bertemu dengan kolegaku dan kolega Papa, ya,” ucap Reyhan sesampai di ruangan dan menuntun Nadhira duduk di sofa yang sudah tersedia didalam ruangannya.
Gadis itu hanya mengangguk malas dengan mimik datar.
“Kamu kenapa, Al ? Sakit ?”
Ia hanya menggeleng menyahuti pertanyaan suaminya.
“Sayang, kalau kamu sakit. Katakan saja padaku. Atau kamu sedang menginginkan sesuatu ?”
“Tidak,” jawabnya singkat.
“Lalu, kenapa kamu lesu seperti itu ?”
Nadhira menatap Reyhan dengan tajam. Membuat dahi Reyhan mengkerut tak mengerti.
“Elmeera ? Mantan kekasih kakak ?”tanyanya masih dengan tatapan elangnya.
Reyhan terdiam sejenak sebelum mengeluarkan tawanya yang sangat keras dan membuat bising ruangannya. Nadhira yang menyaksikan hal tersebut semakin murka.
“Aleea, dengarkan aku, ya, Sayang.” Reyhan meraih kedua tangan gadisnya yang putih mulus itu dan menggenggamnya erat.
“Elmeera itu adalah temanku sewaktu di luar negeri. Begitu jua dengan Bagas. Dan Bagas memang menyukai Elmeera. Berbeda dengan gadis itu. Ia tak menganggap lebih Bagas hanya sebagai seorang teman.”
“Elmeera menyukai kakak ?” potong Nadhira dengan cepat.
Reyhan bungkam.
“Aku benar ‘kan, Kak ?” tanyanya dengan tatapan menyelidik bak seorang detektif.
“Sayang ?” Reyhan mengelus lembut tangan Nadhira. Namun, langsung ditepis. Nadhira membuang pandangannya dari wajah Reyhan.
“Sayang, dengarkan aku dulu, ya. Aku bisa jelaskan padamu tentang Elmeera.”
Nadhira semakin membuang muka. Ia duduk membelakangi suaminya.
“Hei! Lihatlah kemari, Aleeana.”
Reyhan memegang pundak Nadhira dengan lembut dan membalik tubuhnya hingga duduk berhadapan lagi. saling menatap satu sama lain. Tenggelam pada sepasang manik hitap yang keduanya tatap.
“Gadis bernama Elmeera itu menyukai kakak ?” ucap Nadhira mengulang lagi pertanyaannya.
“Begitu yang aku dengar dari Bagas. Dan aku sama sekali tak pernah ingin memastikan langsung pada Elmeera.”
Reyhan menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan.
“Tak hanya dari Bagas. Beberapa teman lainnya juga mengatakan hal yang sama padaku. Tapi, aku selalu menepis itu jauh-jauh. Aku tak ingin merusak pertemanan atas alasan apapun. Dan aku jua tak pernah menganggapnya lebih dari sebatas teman. Sungguh.”
“Sampai saat ini dia masih menyukai kakak ?”
“Perihal itu aku sama tidak tahu, Sayang. Karena, aku juga tidak mau tahu.”
“Kemudian, bagaimana jika benat demikian ?”
“Sayang, memangnya aku bisa apa jika memang benar Elmeera masih menyukaiku hingga saat ini ? Itu urusan hati. Dan aku tentu saja tidak bisa melarang dan memaksanya untuk tidak menyukaiku lagi.”
Bibirnya terkatup rapat. Otaknya sedikit membenarkan ucapan Reyhan. Namun, hatinya tetap tidak menerima bahwa ada perempuan lain yang menaruh hati pada suaminya.
“Sayang, yang terpenting aku tak membalas perasaannya, bukan ?”
__ADS_1
“Benarkah ?”
“Iya, Al. Sungguh! Aku tak pernah berniat menggantikan namamu dengan siapapun di hatiku.”
Nadhira tersenyum manis dan membenamkan wajahnya di dada bidang Reyhan.
“Trust me, My Aleeana.”
Ia mengangguk.
“Aku terlalu mencintaimu, Al. Jadi, aku tentu saja tak ingin kehilanganmu. Cukup sekali saja jarak merenggut kebersamaan kita. Setelahnya, jangan pernah ada lagi.”
Nadhira mengeratkan pelukannya ditubuh suaminya.
“Percaya padaku, Aleea. Jangan pernah dengarkan ucapan orang-orang di luaran sana. Karena, itu hanya akan menjadi sumber masalah untuk keluarga kita. Meskipun kita sudah sama-sama tahu, perjalanan kita tak akan selalu mulus, Sayang. Akan ada kerikil-kerikil kecil yang akan kita temui di tengah perjalanan.”
Reyhan mencium puncak kepala istrinya. “Sayang, tetap disampingku. Temani aku melangkah. Bantu aku menjadi lelaki tegar saat rapuh menyapaku. Bantu aku menjadi imam yang baik untukmu, untuk keluarga kecil kita.”
“Sayang ?” panggilnya. Air mata sudah menggenang di pelupuk matanya. Air mata yang kapan saja siap meluncur dengan bebas.
“Iya, Sayang. Kenapa ?”
Butiran-butiran bening itu terjun tanpa di komandoi. Bergerak bebas melewati pipi tirusnya.
“Lho, Sayang. Kenapa kamu menangis seperti ini ? Apakah ada yang sakit ?” tanya Reyhan dengan penuh kekhawatiran.
Gadis itu hanya menggeleng. Ia semakin terisak.
“Al, aku suamimu. Jika ada apa-apa ceritalah, Sayang. Jangan membuatku khawatir tanpa bisa berbuat apapun untukmu.”
“Aku bahagia dan terharu. Terimakasih sudah memilihku,” ucapnya dengan isakan yang masih jelas terdengar.
Nadhira hanya mengangguk.
“Sudah, ya, Al. Berhentilah menangis.” Reyhan menghapus sisa-sisa air mata di pipi istrinya.
“Bagaimana dengan Elmeera ?”
“Memangnya ada apa dengan Elmeera, Al ?’
“Oh.. tidak apa-apa,” jawabnya malas.
“Kamu cemburu ?”
Nadhira menatap Reyhan dengan tajam.
“Jangan menatapku seperti itu. Katakan saja jika memang benar kamu cemburu pada Elmeera. Jangan malu-malu, Aleea.”
“Huh!’ Ia membuang napas kasar sebelum melanjutkan ucapannya. “Bagaimana mungkin aku tidak cemburu jika ada perempuan lain yang menyukai suamiku ? Hah ?” ungkapnya sangar.
Reyhan merasa gemas melihat istrinya. Ingin sekali ia tertawa. Namun, ia takut tawanya akan menambah kemurkaan istrinya.
“Iya, Sayang. Iya. Tapi, jangan marah-marah seperti itu padaku. Aku bukan Tuhan yang bisa mengendalikan perasaan manusia.” Reyhan berbicara seraya tersenyum geli.
“Sayang, permasalahan tentang Elmeera kita lupakan saja, ya. Fokuslah pada kehidupan kita sekarang dan ke depannya.”
Ia mengangguk.
“Kenapa kamu nampak terlihat lucu jika sedang marah-marah, Aleea ?” goda Reyhan.
__ADS_1
“Sayaaaang,” ucapnya dengan manja.
Reyhan terkekeh. “Ya ampun istriku yang manja. Kemarilah! Biar aku peluk tubuh mungilmu itu.”
Nadhira menghambur ke dalam pelukan suaminya.
“Sudah, ya, Sayang. Jangan menangis lagi. Apa kamu tidak malu memangis seperti itu di hadapan suamimu ?”
Ia melepas pelukannya dari tubuh Reyhan.
“Untuk apa aku malu pada suamiku sendiri ? Di depan Abang saja aku tak pernah malu,” jawabnya bangga.
Reyhan tak mampu lagi menahan tawanya. Hingga suara itu keluar dan menggelegar. Mengudara di seisi ruangan luas nan mewah milik Reyhan.
“Kakaaak!” teriaknya murka dan memukul tubuh Reyhan.
“Iya, Sayang. Maaf. Maaf,” ucap Reyhan dan menghentikan tawanya.
“Sayang, kenapa kamu tega sekali memukul suamimu ? Sakit, Al.”
“Kakak saja tega mentertawakanku sekeras itu. Kenapa aku tidak ?”
“Iya. Baiklah. Kali ini aku mengalah untukmu.”
Ia tersenyum lebar dengan mata berbinar.
Cup.
Bibir ranumnya mendarat dengan sempurna di kening Reyhan.
Reyhan tersenyum melihat tingkah istrinya yang tiba-tiba.
“Sayang, aku telat!’ teriak Reyhan histeris setelah melirik benda bulat yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.
“Ah... kakak mengagetkanku saja,” katanya seraya mengelus dada pelan.
“Maaf, Sayang. Aku tinggal disini sebentar, ya.”
“Baiklah.”
“Jika membutuhkan sesuatu, katakab saja pada Rianti. Karyawan yang di depan ruanganku.”
“Siap, Pak Reyhan yang terhormat,”balasnya bercanda.
Reyhan tertawa kecil. Ia bergegas keluar ruangan dan meninggalkan Nadhira sendiri.
Namun, langkahnya terhenti tepat ketika tangannya memegang gagang pintu. Ia berbalik seraya memanggil Nadhira. “Sayang ?”
“Ada yang tertinggal ?” tanya Nadhira.
“Ada,” balas Reyhan singkat dan melangkah menuju ke arah Nadhira.
“Apa ?”
“Ini,” Reyhan langsung mencium puncak kepala Nadhira. “Biar aku semakin semangat, Sayang.”
Nadhira tersenyum lebar. “Bismillah, ya, Sayang. Semoga lelah menjadi lillah.”
“Aamiin,” ucap keduanya bersamaan.
__ADS_1