
Di sepanjang perjalanan menuju kantor. Nadhira mencuri-curi pandang dengan ekor mata ke arah suaminya yang tak juga kunjung membuka suara. Ia merasa sedikit risih didiamkan seperti itu oleh suaminya sendiri. Ia merasa keberadaannya tak dianggap ada sama sekali.
“Kak ?” panggilnya dengan suara kecil dan ragu-ragu.
Reyhan hanya menatapnya sebentar kemudian kembali menghadap depan untuk memfokuskan diri mengemudikan mobilnya.
“Kak ?” panggilnya lagi dan memberanikan diri menyentuh lengan Reyhan dengan lembut.
“Ada apa, Al ? Aku sedang menyetir. Jangan mengganggu. Nanti aku tidak fokus. Dan itu tentu saja akan membahayakan kita nantinya,” ucap Reyhan dingin.
“Oh... baiklah. Aku minta maaf telah mengganggu,” ucap Nadhira dengan nada kecewa. Ia membuang pandang keluar kaca mobil. Menatap jalanan yang dipadati kendaraan berlalu lalang tanpa jeda.
Suasana mobil benar-benar hening. Terasa seperti tiada kehidupan didalamnya. Sebab, keduanya pun tiada yang membuka suara.
Reyhan menatap Nadhira yang masih enggan mengalihkan pandangannya dari padatnya jalanan kota.
“Al ?” panggil Reyhan.
Nadhira mendengar. Tapi, tak bergeming sama sekali.
“Aleea ?” panggil Reyhan lagi dengan suara lebih lembut.
“Bukankah kakak sedang menyetir ? Fokuslah! Biar tidak membahayakan kita,” ucapnya mengulang kalimat yang telah dilontarkan Reyhan padanya. Kini, gilirannya yang bersikap dingin. Bahkan, lebih dingin dari sikap yang Reyhan tunjukkan untuknya.
Tiba-tiba Reyhan menepikan mobilnya dan berhenti di pinggir jalan tanpa permisi.
“Kenapa berhenti ?” tanya Nadhira heran dengan alis terangkat sebelah.
“Biar tidak membahayakan kita. Karena, aku ingin bicara sesuatu denganmu.”
Nadhira tak menanggapi sama sekali. Ia kembali menatap keluar jendela mobil. Dan yang dapat inderanya temukan hanya sebuah bangunan tua tak terurus dengan halaman kotor. Persis seperti bangunan-bangunan tua nan angker dalam film horor. Ia sedikit bergidik ngeri.
“Aleea ?”
Ia masih enggan menanggapi.
“Sayang ?” Reyhan membelai puncak kepala Nadhira dengan lembut dan penuh kasih sayang.
“Untuk yang tadi, aku sungguh meminta maaf. Aku hanya masih di hinggapi rasa tak suka.”
“Tak suka ? Maksud kakak apa ?” tanya Nadhira bingung.
“Aku tidak menyukai caramu berbicara dengan lelaki tadi.”
Nadhira terdiam. Ia mencoba mengingat siapa lelaki yang dimaksud oleh suaminya itu.
“Lelaki yang bertemu dengan kita di kampus tadi, Al,” ucap Reyhan menjawab kebingungan istrinya.
“Oh... maksud kakak Kak Faris.”
“Iya. Lelaki bernama Faris itu.”
__ADS_1
“Memangnya bagaimana caraku berbicara dengannya ? Ku pikir biasa saja,” ucapnya santai dan tak lupa dengan menunjukkan wajah polosnya. Hal itu sukses membuat Reyhan gemas dan ingin tertawa secara bersamaan.
“Sayang, kamu sekarang bukan lagi perempuan yang belum mempunyai mahram. Kamu adalah seorang istri. Sebisa mungkin kamu harus menjaga jarak komunikasi dengan lelaki manapun. Dan caramu yang tadi seperti dua orang yang sudah sangat dekat,” tutur Reyhan.
Nadhira hanya diam mendengar penuturan suaminya.
“Aku tidak menyukai itu, Al. Jadi, mulai sekarang kamu harus belajar menjaga sikap, ya, Sayang. Terutama pada lawan jenismu. Demi keutuhan rumah tangga kita.”
Ia tersenyum lebar. Menampilkan sederet gigi putih dan gingsulnya. “Iya, suamiku.”
“Aku juga melihat tatapan lelaki itu berbeda saat menatapmu. Aku menangkap ada ketertarikan disana. Atau memang benar lelaki itu menyukaimu, Al ?”
“Lho, aku mana tahu tentang hal itu, Kak. Aku baru saja mengenal Kak Faris. Dan itu atas perkenalan yang dilakukan Finza secara tak sengaja.”
Reyhan menarik napas dalam-dalam dan
membuangnya dengan kasar.
“Sudah, ya, Sayang. Kita jangan berpikir negatif pada orang lain. Tidak baik. Dan percayalah, aku hanya milikmu, Reyhanku.”
Reyhan tersenyum. Ia merasa tersanjung dengan ucapan istrinya. “Terimakasih, ya,
Sayang.”
Nadhira hanya membalas dengan manisnya.
“Aku mencintaimu, Nadhira Aleeana Prayudha.”
“Sayang, senyummu benar-benar membuatku candu. Sungguh,” ucap Reyhan yang mampu membuat Nadhira tersipu malu.
_____
“Selamat siang, Pak Reyhan,” sapa salah seorang karyawan dengan hormat.
“Selamat siang, Pak Aryo,” balas Reyhan tak kalah hormatnya.
“Pak, saya hanya ingin memberitahukan bahwa sebentar lagi kolega yang akan bertemu Bapak akan tiba,” jelas seorang lelaki paruh baya yang dipanggil Pak Aryo itu.
“Baik, Pak. Tolong persiapkan berkas-berkas yang dibutuhkan. Saya akan menyusul setelah mengantar istri saya ke ruangan.”
“Baik, Pak Reyhan. Kalau begitu saya permisi dulu,” pamit Pak Aryo.
Lelaki paruh baya itu sedikit menundukkan kepalanya ketika melihat Nadhira yang setia berdiri disamping suaminya. Nadhira hanya membalas dengan senyuman.
Reyhan menggenggam tangan Nadhira dengan erat seraya berjalan menuju ruangannya. Sepanjang perjalanan, ia mendapati sapaan-sapaan hormat dan beberapa ucapan selamat atas pernikahannya dari karyawan yang berpapasan dengannya.
“Hei, Tuan Oktara!” sapa seseorang dari belakang dan menepuk pundaknya pelan.
Secara bersamaan Reyhan dan Nadhira menoleh ke arah sumber suara. Mereka mendapati lelaki tampan dengan setelan jas rapinya.
“Hei, Tuan Raditya!” sapa Reyhan balik dengan akrab.
__ADS_1
“Lama tidak bertemu dengan CEO tampan seperti Anda, Tuan,” ucap lelaki yang disebut Tuan Raditya itu seraya mencuri-curi pandang ke arah Nadhira.
Reyhan tertawa menanggapi candaan kolega mudanya itu.
“Jangan berbicara formal seperti itu denganku, Bagas. Bukankah kita adalah teman baik ?”
“Oh... tentu saja, Reyhan. Teman baik yang sudah lama tak bersua.”
“Bagaimana kabarmu ?” tanya Reyhan tanpa berhenti memperhatikan gerak gerik Bagas yang terus menerus mencuri pandang ke arah Nadhira.
“Seperti yang kau lihat. Aku baik-baik saja.”
Reyhan tersenyum tipis.
“Tapi, sejak kapan kamu memiliki adik perempuan secantik ini, Rey ?” tanya Bagas dan mengedipkan sebelah matanya pada Nadhira.
Sontak Nadhira menggenggam erat tangan Reyhan dan tertunduk takut.
“Oh... aku lupa memperkenalkanmu, Gas. Dia bukan adikku. Tapi, istriku. Namanya Nadhira,” ucap Reyhan.
“Sayang, kenalkan. Ini Bagas. Temanku saat menempuh pendidikan di luar negeri,” lanjutnya.
Bagas menatap tak percaya. “ Kenapa kamu tak mengirimiku undangan ? Atau hanya sekedar mengabariku.”
“Bukankah kita teman baik yang selama ini kehilangan akses untuk berkomunikasi, Tuan Raditya ?”
Reyhan dan Bagas seketika tertawa bersama.
“Baiklah. Selamat atas pernikahanmu, Rey. Aku berdo’a yang terbaik saja untukmu.”
“Terimakasih banyak, Gas. Cepatlah menyusulku,” ucap Reyhan dengan senyuman mengejeknya.
“Jangan mengejekku seperti itu, Tuan Oktara.”
Reyhan tertawa keras.
“Hei, aku Bagas,” sapa Bagas pada Nadhira.
“Nadhira,” jawabnya dengan senyum tipis.
“Aku ke ruangan dulu, Gas. Sebentar mengantarkan istri.”
“Baiklah. Aku akan menunggu di ruang rapat.”
Reyhan menggandeng tangan istrinya dan berjalan meninggalkan Bagas. Beberapa langkah berjalan, suara Bagas berhasil menghentikan langkah keduanya.
“Rey! Elmeera untukku saja, ya,” ucap Bagas setengah bercanda.
Reyhan hanya tersenyum tipis dan mengangguk kecil.
Nadhira ?
__ADS_1
Ia hanya menunjukkan wajah datar dan melonggarkan genggamannya ditangan Reyhan setelah mendengar ucapan Bagas.