
“Uhuk... uhukk..”
Sepanjang perjalanan pulang sampai ia memasuki kamar. Nadhira terus-terusan terbatuk. Sesekali ia menghembuskan napas dengan kasar.
Nadhira membaringkan tubuhnya diatas tempat tidur saat rasa mual mulai menyerangnya.
Melihat tingkah istrinya yang sepertinya sedang tidak enak badan. Reyhan berjalan mendekat dan duduk dipinggiran tempat tidur.
“Dik ?” panggil Reyhan pelan.
Leea menatap suaminya yang duduk disampingnya.
“Kamu kenapa ?” Reyhan menyeka keringat yang mengalir di kening Leea dengan tangannya langsung.
“Uweek...”
Nadhira membungkam mulutnya. Perutnya kian bergejolak. Mual yang dialami semakin menjadi-jadi.
“Kita ke rumah sakit sekarang ya, Sayang.”
Reyhan berucap lembut pada Nadhira. Terlihat jelas kekhawatiran Reyhan dari raut wajahnya dengan kondisi Nadhira yang tiba-tiba seperti itu.
Nadhira berlari ke arah kamar mandi. Memuntahkan segala isi dalam perutnya hingga tak bersisa.
Reyhan berlari menyusuli istrinya. Memijit tengkuk istrinya dengan pelan.
“Kita ke rumah sakit, ya, Dik. Kita periksa kenapa tiba-tiba seperti ini.”
Nadhira hanya menggelengkan kepala.
Reyhan membantu Nadhira kembali ke tempat tidur. Membaringkan tubuh istrinya lalu menyelimuti sampai dada.
“Pakai ini dulu, Dik.” Reyhan memberikan botol minyak kayu putih ukuran sedang pada Nadhira.
Lagi-lagi Nadhira hanya menggelengkan kepala.
“Kamu tidur saja. Mungkin kamu terlalu capek seharian ini nggak ada istirahatnya.” Ucap Reyhan sambil mencoba membuka jilbab yang masih dikenakan Nadhira.
Nadhira memegang tangan Reyhan dan menghentikan aktifitas suaminya.
Reyhan yang mengerti maksud istrinya lalu tersenyum dan berkata.
“Aku sekarang sudah menjadi suamimu. Tak mengapa jika kamu tak mengenakan jilbab di hadapanku.”
“Jangan..”
"Nggak apa-apa, Sayang. Kan yang lihat juga cuma aku saja." Reyhan meyakinkan istrinya lalu melanjutkan membuka jilbab Nadhira.
“Istirahatlah.” Ucapnya lalu mengelus tangan Nadhira.
“uweekk..”
Nadhira kembali berlari menuju kamar mandi. Memuntahkan apa yang masih bisa ia keluarkan dari perutnya.
Berulang kali Nadhira harus bolak balik ke kamar mandi. Hingga entah kali ke berapa Nadhira merasa tenaganya habis tak bersisa.
“Astagfirullah.” Reyhan mengucap istigfar saat melihat Nadhira memuntahkan darah.
Reyhan menatap wajahnya istrinya yang nampak sangat memucat.
“Air, Kak.” Ucap Nadhira lemas.
“Iya. Iya. Ayo Sayang. Aku bantu ke tempat tidur.”
Dengan sisa tenaganya Nadhira berjalan menuju tempat tidur dibantu suaminya. Ia membaringkan tubuhnya yang sudah tak berdaya.
“Minum dulu, Dek.”
__ADS_1
Reyhan membantu Nadhira untuk duduk. Namun, karena tenaga yang sudah benar-benar terkuras habis. Tubuh Nadhira lemas terkulai. Ia tak sadarkan diri.
“Ya Allah, Sayang. Dik. Adik.”
Reyhan menepuk-nepuk pipi Nadhira berharap gadisnya itu mendengar dan menjawab panggilannya.
Reyhan bingung harus bagaimana. Membawa Nadhira ke rumah sakit, ia tak membawa mobil ke hotel. Menelpon adiknya, Farhan juga tak mungkin. Jelas Farhan belum pulang ke rumah. Jalan satu-satunya yang terlintas di otak Reyhan adalah menelpon Bara. Disamping ia sahabat sekaligus kakak iparnya. Rumah Reyhan juga jauh lebih dekat dibanding rumah Mama dan papanya.
Reyhan menscroll ponselnya. Lalu menghubungi Bara.
“Lo dimana ?” tanpa basa basi Reyhan bertanya setelah sambungan telpon tersambung.
“...”
“Becandanya nanti aja, Bar. Lo cepetan ke hotel tempat gue sama Nadhira menginap.”
“...”
“Nadhira pingsan. Mau ke rumah sakit tapi gue nggak bawa mobil ke hotel.”
“...”
“Nanti gue ceritain. Lo cepetan kesini.”
“...”
“Oke. Hati-hati, Bar.”
Sambungan telpon terputus. Reyhan mengusap lembut kening istrinya yang masih dialiri keringat dingin.
“Bangun dong, Sayang. Jangan kayak gini.”
Reyhan benar-benar cemas melihat wajah istrinya yang sudah memutih seperti tembok kamar hotel yang ditempati.
___
“Sekarang udah nggak ada lagi yang bakal ngerecokin Bunda masak didapur.” Kata Ayah.
“Kalo yang itu sih bukan sekedar ngerecokin lagi, Yah. Tapi ngancurin dapur Bunda. Hahaha.” Lanjut Bara menambahkan ucapan ayahnya.
Bunda terkekeh sendiri saat mengingat anak bungsunya yang selalu ingin belajar dalam hal memasak. Namun, pada akhirnya berujung pada membuat berantakan dapur dan masakannya saja.
“Kalo cuma buat gangguin Bunda masak dan bikin berantakan dapur, Abang juga bisa kok, Bun. Bunda mau Abang buktiin ?” ucap Bara menawarkan diri pada Bunda.
“Iya, Bun. Ayah juga mau kok.” Sambung Ayah.
“Nggak apa-apa kok. Berantakin aja kalo Ayah sama Abang sanggup nggak makan seharian.” Kata Bunda menyilangkan tangan didepan dada.
“Yaaahh nggak boleh gitu dong, Bunda.” Seru Bara tak terima.
“Jangan khawatir, Bang. Nanti jatah bulanan Bunda biar Ayah kurangin aja kita gunakan makan diluar selama Bunda nggak kasih makan untuk kita.”
“Jatah bulanan kurang sama dengan jatah Ayah dari Bunda juga kurang dong. Adil kan ?” Kata Bunda.
Ayah terdiam.
“Hahaha kalah telak Ayah nih.” Tanpa dosa Bara menertawakan Ayahnya yang tak bisa berkutik lagi.
“Bunda jangan gitu dong. Gimana mau bikinin Abang adek kalo Bunda aja nggak kasi jatah ke Ayah.” Kata Ayah merajuk dan mencoba menggoda istrinya yang dibalas dengan tatapan tak percaya oleh Bunda.
“Bunda, Ayah, bahas jatahnya mendingan di kamar aja, ya. Disini ada anak kecil yang nggak ngerti apa-apa masalah jatah-jatahan.” Ucap Bara menunjuk dirinya sendiri.
“Anak kecil macam apa ? Udah tua begitu juga.” Ledek Bunda pada puteranya.
“Bunda bilang apa tadi ? Tua ? Astaga Bunda. Anak seganteng Abang ini Bunda katakan tua. Itu sih salah besar, Bun. Iya kan, Yah ?” Bara mencari pembelaan pada ayahnya.
“Iya dong. Siapa dulu lah anak Ayah.” Ucap Ayah dengan bangganya.
__ADS_1
“Anak Ayah aja emang ? Anak Bunda bukan ?” Bunda menaikkan sebelah alisnya.
“Iya deh anak Bunda juga.” Ayah menarik tubuh istrinya ke dalam pelukannya. Mencium puncak kepala Bunda dengan mesranya.
“Ahhh.. Abang ke kamar dulu lah. Kalau disini terus bisa-bisa Abang baper lihat adegan mesra-mesraan Ayah sama Bunda. Abang juga nggak mau kena diabetes kalau harus ngonsumsi hidangan manis-manis kayak gitu.”
Bara bangun dari sofa dan berlalu meninggalkan dua sejoli yang sedang bermain memerankan adegan romantis itu.
“Makanya cepetan nikah dong, Bang. Biar bisa romantis-romantisan kayak Ayah dan Bunda. Jangan bisanya nontonin doang. Hahaha.” Ucap Ayah sedikit berteriak menggoda puteranya.
“Masak kalah sama adik, Bang.” Sambung Bara.
“ Tenang aja, ya. Nanti Abang bawakan mantu yang banyak untuk Ayah dan Bunda.” Balas Bara tanpa menoleh ke belakang.
Bara menapaki tangga demi tangga untuk sampai dikamarnya yang berada dilantai dua. Bersebelahan dengan kamar adiknya, Nadhira.
Tangan kanan Bara menggenggam handle pintu hendak membukanya. Namun, tiba-tiba ponselnya berdering nyaring ditangan kirinya. Bara melirik ponsel dan melihat siapa yang sudah melakukan panggilan padanya.
“Reyhan ? Lah ini anak bukannya malam pertama malah telpon.” Kata Bara pada dirinya sendiri.
“Hallo, Han!”
“...”
“Ini gue lagi dirumah. Lo ngapain juga telpon malem-malem begini ? Harusnya kan lo lagi usaha bikinin gue ponaan. Hahaha.”
“...”
“Kenapa sih, Han ?” Tanya Bara. Kali ini dengan nada serius setelah mendengar suara di seberang terdengar cemas.
“...”
“Apa ? Kok bisa gitu ?”
“...”
“Iya iya gue kesana sekarang. Lo jagain adik gue baik-baik.”
“...”
Tanpa menjawab Bara memutuskan sambungan telepon secara sepihak. Ia berlari menuruni tangga dengan terburu-buru.
“Ahh.. shit! Kunci mobil gue lupa lagi dikamar.”
Bara dengan cepat berbalik arah kembali menaiki setengah dari tangga yang terhubung ke kamarnya. Dengan kasar Bara membuka pintu dan mengambil kunci mobil yang ia tinggalkan disana.
Setelah mengambil kunci mobil dan merasa tidak ada lagi yang tertinggal. Bara kembali bergegas menuruni tangga.
“Ayah, Bunda, Abang pergi sebentar.” Ucap Bara terburu-buru.
“Mau kemana malam-malam begini ? Buru-buru lagi.” Tanya Bunda setelah melihat Bara yang nampak terburu-buru itu.
“Nanti Abang kasih tau pas pulang.” Jawab Bara lalu mencium tangan kedua orang tuanya bergantian dan bergegas pergi.
“Abang!” Teriak Bunda.
“Iya, Bunda. Nanti Abang telepon.” Balas Bara dengan suara melengking.
“Apa-apaan sih tu anak. Sama orang tua kok nggak ada sopan-sopannya gitu.” Gerutu Bunda.
“Udahlah, Bun. Mungkin ada kerjaan mendadak yang memang nggak bisa ditunda dan harus di selesaikan sekarang. Nanti juga kalo udah selesai Abang pasti ngabarin kok.” Ayah menenangkan istrinya.
“Belain aja terus anak Ayah itu.”
“Udah deh, Bunda. Mending kita istirahat saja. Ayah udah mulai ngantuk ini.”
___To Be Continued___
__ADS_1