
Malam telah menyapa. Hitam pekat langit tak berbintang memeluk dalam sunyi. Angin malam yang berhembus pelan menyelinap masuk melalui jendela kamarnya yang tak tertutup dengan rapat menyentuh kulit putih mulusnya yang sedang meringkuk di tempat tidur. Tanpa selimut tebal yang biasa ia gunakan membungkus tubuh kecilnya.
Ia menggeliat pelan dan menatap jam dinding dengan jarum yang menunjukkan pukul sembilan malam. Dengan malas ia meraih ponselnya diatas meja samping tempat tidur. Menatap layar yang juga tak menampakkan satu pemberitahuan apapun dari semua aplikasi yang terdapat di ponselnya.
Tubuh kecil yang tadinya meringkuk kini berubah posisi duduk bersandar pada sandaran ranjang ukuran besar. "Kenapa Kak Reyhan belum pulang sampai jam segini ?" ucapnya bertanya pada diri sendiri.
Ia beranjak dari tempat tidur. Menyanbar dengan kasar hijab instan yang ia gantung ditempat biasa. Kemudian, membuka pintu kamar dan berjalan menuruni tangga satu per satu.
"Nadhira ?"
Ia menoleh saat panggilan itu berhasil ditangkap telinganya. Dilihatnya Papa berjalan dari arah dapur dengan segelas kopi yang asapnya masih mengepul.
"Papa ?"
"Sudah malam begini. Kenapa belum tidur dan malah turun dari kamarmu ?"
Ia mendekati Papa. "Kak Reyhan belum pulang, Pa. Nadhira sedang menunggunya."
"Memangnya Reyhan tidak memberitahumu bahwa dia akan pulang telat ?"
Ia menggeleng. "Tidak, Pa. Kak Reyhan juga belum memberikan kabar pada Nadhira hingga sekarang ini."
"Bagaimana bisa ? Papa sudah memintanya untuk memberitahumu sejak siang tadi sebelum dia berangkat."
"Berangkat ? Maksud Papa ?" tanyanya dengan kening mengkerut.
"Papa memintanya untuk menggantikan Papa mengurus pekerjaan diluar daerah. Dan siang tadi Reyhan berangkat. Papa kira dia sudah memberitahumu."
"Sama sekali belum, Pa. Tapi, biarlah," ucapnya lesu.
"Tidurlah lebih dulu. Reyhan pasti akan pulang sangat telat. Atau bahkan pulang besok pagi."
"Baik, Pa. Nadhira ke kamar dulu."
Ia beranjak meninggalkan Papa yang masih berdiri terpaku menatapnya kasihan. Menapak kakinya gontai menuju tangga yang ia rasa terlalu panjang dari biasanya.
Pintu kamar ia buka dengan cepat dan menutup kembali rapat-rapat. Menguncinya dari dalam dan membanting tubuhnya ke tempat tidur. Ia melepas hijab instannya dengan kasar dan melemparnya sembarang.
Ia menenggelamkan wajahnya pada bantal dan menangis sejadi-jadinya. Ia merasa sedih karena suaminya sendiri lupa hanya sekedar memberi kabar padanya saat sibuk.
Tangisnya pecah. Namun, suara tangis itu ia tenggelamkan pada bantal yang sudah basah bekas air mata yang sudah keluar entah sudah berapa banyak.
Karena, terlalu lelah menangis. Tanpa sadar ia tertidur bersama sisa-sisa air mata yang berjejak jelas di pipinya.
_____
Suara ketukan pintu kamar yang ia tak tahu sudah berapa kali membuatnya menggeliat dan terbangun dari tidurnya. Ia mengerjapkan mata berulang kali menyesuaikan cahaya lampu kamar masuk ke retinanya.
"Sayang, ini aku. Tolong buka pintunya."
__ADS_1
Telinganya menangkap jelas suara yang bersumber dari luar kamarnya. Suara yang sangat tak asing baginya. Suara milik seseorang yang ia nanti-nantikan kepulangannya.
Mata yang masih berat karena kantuk yang dengan ganas mendera ia paksa untuk menatap jam bundar yang menempel pada dinding kamarnya. Jarum jam dinding menunjukkan pukul tiga dini hari.
"Rupanya aku cukup lama tertidur," bisiknya dengan suara serak. Ia beranjak dengan malas dari posisinya. Berjalan dengan nyawa masih setengahnya.
"Aleea ? Kamu dengar aku tidak ?"
Tanpa menjawab ia membuka pintu dan berbalik arah. Ia enggan menatap wajah suaminya yang sudah membuat kecewa dirinya.
"Kakak mau mandi atau tidak ?" tanyanya tanpa menoleh sedikitpun.
"Sayang, aku butuh obat," jawab Reyhan lirih dan terdengar menahan rasa sakit.
Seketika ia membalik badan dan menatap suaminya yang sudah berdiri dengan wajah pucat pasi. Ia melihat Reyhan menggigit bibir bawahnya menahan rasa sakit. Dengan segera ia berlari mendekati Reyhan.
"Duduk dulu. Biar ku ambilkan obat dan air minum untuk kakak." Ia menuntun suaminya yang sudah memucat dan bersimbah keringat dingin.
Langkahnya tergerak menuju laci kecil tempat biasa Reyhan menyimpan obat-obatan yang harus di konsumsinya. Dengan cepat dan cekatan ia mengambil sebuah botol kecil berisi butiran-butiran obat dan segelas air putih yang selalu ia siapkan diatas meja.
"Kak, minum obatnya dulu. Setelah itu istirahat." Ia memberikan dua butiran kecil berwarna putih itu dan segelas air pada suaminya.
"Terimakasih, Al," ucap Reyhan setelah usai meminum obatnya.
"Istirahatlah. Aku akan membereskan tas kerja dan pakaian kakak."
Dengan tertunduk ia memdekati suaminya yang sudah terbaring diatas tempat tidur. Ia menyusul Reyhan dengan membaringkan tubuhnya disamping Reyhan dan tidur membelakangi suaminya.
Ia mencoba memejamkan matanya kembali dan tertidur pulas seperti sebelumnya.
Namun, semakin ia mencoba. Semakin ia tak bisa. Otaknya terus menerus bekerja untuk berpikir. Entah pikiran seperti apa yang memaksa otaknya bekerja sehingga untuk memejamkan mata saja ia tak mampu.
"Sayang ?" panggil Reyhan lirih dan menyentuh lengannya pelan.
Ia berpura-pura tidur. Rasa kecewa yang menyelimuti memaksanya untuk tak menjawab.
"Kamu sudah tidur, Al ?" Reyhan merubah posisinya dengan menyamping menghadap istrinya. Memeluk tubuh kecil yang sedang membelakanginya.
Ia merasakan deru napas suaminya yang tak beraturan. Sesekali ia merasakan suaminya membuang napas dengan kasar. Ia tahu Reyhan sedang berusaha keras menahan rasa sakit yang menyergapnya. Ingin sekali ia memeluk balik tubuh kekar yang tengah memeluknya itu. Namun, kembali lagi. Kecewa lebih kuat mengungkung dari yang lainnya.
"Aku tahu kamu belum tidur, Al. Tapi, kamu hanya ingin menghindariku saja," bisik Reyhan tepat di telinganya.
Ia sama sekali belum ingin menanggapi apapun ucapan Reyhan.
"Aku minta maaf, Sayang. Aku benar-benar lupa untuk mengabarimu bahwa aku harus melakukan perjalanan ke luar daerah. Pekerjaan yang menumpuk dan jadwal mendadaklah yang membuatku tak sempat memegang ponsel."
"Tak mengapa. Aku sudah biasa dilupakan. Jadi kakak tidak perlu merasa bersalah dan meminta maaf seperti itu padaku." Dengan mata yang masih terpejam ia berbicara.
Kalimat yang terlontar dengan datar dan dingin itu mampu membuat Reyhan tak berkutik. Kalimat itu berhasil membuatnya terjerembab semakin dalam pada rasa bersalah.
__ADS_1
"Tidurlah, Kak. Aku tahu kakak lelah setelah perjalanan jauh. Lagipula jantung kakak sedang tidak baik-baik saja sekarang. Aku juga tidak ingin keadaan kakak semakin memburuk," ucapnya tanpa bergeming dari posisinya.
"Sshhh."
Hatinya tercubit mendengar desis suara Reyhan yang ia pastikan sedang berusaha keras menahan rasa sakit yang menyerangnya. Namun, lagi-lagi rasa kecewa memaksanya tetap berada pada keegoisannya.
Ia merasakan tangan kekar Reyhan melonggar memeluknya. Desis suara Reyhan bahkan sama sekali tak terdengar. Ia tak lagi merasakan deru napas suaminya berhembus di telinganya.
"Kak ?" panggilnya dengan rasa khawatir yang mulai menyapa. Yang dipanggilnya bahkan tak menjawab sama sekali.
Ia membuka mata. Menyingkirkan dengan pelan tangan Reyhan dari tubuhnya dan mengubah posisi menghadap Reyhan. Iaenemukan mata Reyhan sudah terpejam.
"Kak! Kakak sudah tidur ?"
Reyhan sama sekali tak merespons apapun.
Ia mulai terlihat panik. Ia takut jika terjadi sesuatu dengan suaminya.
"Kak! Bangun, Kak!" Ia mengguncang tubuh suaminya dengan keras dan ia juga tak mendapatkan balasan apapun.
"Sayang, bangun. Sungguh aku tidak marah padamu." Air matanya mengalir begitu saja. Rasa panik kian menggerogotinya.
"Kak Reyhan! Hei, bangun, Sayang!" Nihil.
Dengan cepat ia berlari keluar kamar dan mengetuk pintu kamar Mama tanpa berpikir panjang. "Ma! Mama bangun. Tolong Nadhira, Ma." Dengan isakan yang menjadi-jadi ia berteriak. Hingga pintu kamar mertuanya terbuka.
"Kenapa, Nadhira ?" tanya Mama.
"Kak Reyhan, Ma. Kak Reyhan."
"Reyhan kenapa, Ra ?" tanya Papa yang sudah berdiri di belakang Mama.
"Kak Reyhan anfal sepulang kerja. Dan sekarang Nadhira tidak tahu Kak Reyhan kenapa. Dia tidak mau bangun, Ma." Tangisnya pecah seketika.
Tanpa berpikir lagi ia berlari diikuti Papa dan Mama menuju kamarnya.
"Kak! Bangun, Nak! Ini Mama. Bangun, Sayang."
Mama tak kalah paniknya seperti Nadhira.
"Pa, kita harus bawa Reyhan ke Rumah Sakit."
Dengan segera Papa memanggil Farhan dan kedua sopirnya untuk membawa Reyhan ke Rumah Sakit.
Ia semakin terisak dalam pelukan Mama. "Kak Reyhan baik-baik saja 'kan, Ma ?"
"Iya, Sayang. Kamu tenang, ya."
Isakannya terdengar memilukan.
__ADS_1