Senja (Dan Rasa)

Senja (Dan Rasa)
Bab 9


__ADS_3

Ditempat berbeda. Di gedung yang menjulang tinggi. Di sebuah ruangan yang pintunya terdapat tulisan “CEO”. Reyhan menyandarkan tubuhnya yang kekar pada sandaran kursi kerjanya. Menatap langit-langit ruang kerja dengan senyuman merekah yang membungkus bibirnya.


“Al, udah nggak sabar ingin menjadikanmu istri. Menjadikanmu sebagai tempatku pulang melepas lelah setelah seharian berkutat pada pekerjaan dan menjadikanmu ibu untuk anak-anakku.”


Reyhan bergumam sendiri dengan senyum yang tak lepas dari bibirnya. Membayangkan bagaimana kehidupannya kelak bersama gadis yang selama ini mengisi ruang terdalam dihatinya. Nadhira Aleeana Prayudha.


Tok. Tok. Tok.


“Masuk!” ucap Reyhan mempersilahkan masuk. Muncullah seorang lelaki yang terlihat beberapa tahun lebih muda darinya. Ditangan lelaki itu terdapat beberapa map yang tertumpuk rapi. Tio. Lelaki yang menjabat sebagai sekretaris Reyhan sejak awal Reyhan menjadi CEO di perusahaan cabang milik Papanya.


“Ini, Pak. Ada beberapa berkas yang harus Bapak tanda tangani.” Tio menyodorkan tumpukan map tersebut pada Reyhan.


“Taruh saja dimeja, Yo. Saya akan periksa dulu sebelum tanda tangan. Saya takut ada kesalahan. Dan saya tidak mau hanya karena sedikit kesalahan akan berdampak besar pada perusahaan seperti waktu lalu.” Reyhan berkata dan mulai memeriksa berkas yang sudah dibawakan Tio.


“Kamu boleh keluar. Nanti saya panggil lagi kalo sudah selesai.”


“Baik, Pak.” Tio membalik badan menuju pintu. Sebelum keluar langkahnya terhenti oleh panggilan bosnya.


“Yo!”


“Iya, Pak ?”


“Apa saja jadwal saya hari ini ?” Tanya Reyhan namun masih tetap fokus pada berkas-berkas dimejanya.


“Setelah jam makan siang, Bapak ada jadwal meeting dengan client dari Yudha's Property untuk membahas kerjasama proyek pembangunan perusahaan cabang di Palembang. Itu saja, Pak.” Tio menjelaskan.


“Oke, Tio. Terimakasih.”


“Iya, Pak. Kalau begitu saya pamit.”


Reyhan masih berkutat dengan berkas-berkas yang harus diperiksa sebelum ditanda tangani. Reyhan melirik jam yang melingkar ditangan kirinya. 30 menit lagi ia akan bertemu client. Reyhan menyenderkan tubuhnya. Mengistirahatkan sebentar sebelum beranjak keluar dari ruangannya.


Drrttt.. Drrttt..


Reyhan mengambil ponsel yang bergetar disaku jasnya.


“Assalamu’alaikum, Ma!”


“Kakak masih dikantor ?” tanya Mama diseberang telepon.


“Iya, Ma. Tapi bentar lagi keluar. Reyhan ada ketemu client diluar. Kenapa, Ma ?”


“Nggak. Mama cuma mau ngingetin aja kalo nanti malem kita ke rumah Om Yudha. Jadi jangan telat pulang, ya ?”


“Oh itu. Iya, Ma. Reyhan inget kok. Selesai meeting Abraham langsung pulang.”


“Ya udah. Hati-hati, Kak.”


“Iya, Ma. Assalamu’alaikum.”


Reyhan memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku jas dan berjalan menuju lift yang dikhususkan untuk CEO. Meninggalkan ruangannya yang terletak dilantai 18 gedung.


Selama perjalanan menuju parkiran. Banyak karyawan yang menyapa. Dan hanya dibalas dengan senyum dan anggukan. Begitulah Reyhan. Dengan tubuh tegap dan mimik yang tegas sangatlah cocok untuk dirinya menyandang profesi sebagai CEO di perusahaan yang dengan susah payah dibangun oleh papanya, Fahmi Oktara. Meskipun hanya ditugaskan bekerja di perusahaan cabang. Namun, ia tetap bekerja semaksimal mungkin. Sebab ia tak ingin mengecewakan orang tuanya. Terutama Sang Papa.


Reyhan memasuki mobilnya dan menjalankan menuju tempat dimana ia akan bertemu dengan client. Tidak butuh waktu lama untuk Reyhan sampai disebuah restoran mewah namun dengan gaya klasik. Ia berjalan melewati deretan-deretan kursi yang sudah banyak ditempati pengunjung. Reyhan mengedarkan pandangan mencari nomor meja yang memang sudah di booking untuk meetingnya. Hingga pada akhirnya pandangan Reyhan berhenti tepat pada nomor meja yang berada dekat dengan jendela yang tembus pandang ke jalan raya. Reyhan berjalan ke arah meja dan duduk. Reyhan memainkan ponselnya selagi menunggu kliennya datang.


___

__ADS_1


Setelah kepergian Finza dan Kayla beberapa saat lalu. Bara masih terpaku menatap pintu kamar Nadhira yang sedikit terbuka.


“Bang, kenapa ?”


Nadhira menggoyangkan tangan kekar milik Bara yang masih bertengger di pundaknya. Namun, Bara sama sekali tak bergeming.


“Bang!”


Bara masih setia dengan posisinya. Masih terpaku menatap pintu yang dilewati sahabat adiknya yang baru saja meninggalkan kamar Nadhira. Nadhira yang sudah mulai kesal karena tak juga mendapat respond Bara kini memulai aksinya mencubit pinggang kakaknya dan berteriak.


“Abaaang!”


Suara Nadhira melengking mengisi kamar dengan nuansa biru langit. Bara terperanjat mendengar teriakan Nadhira yang menusuk gendang telinganya. Bara sedikit meringis dan memegang pinggangnya yang mungkin sudah memerah bekas cubitan Nadhira.


“Akkhh.. apa sih, Dek ? Sakit tau nggak.”


“Abisnya dipanggil-panggil nggak nyahut sih. Ngelamun terus. Kesambet baru tau rasa nanti. Hahaha.”


“Do’ain yang jelek-jelek terus.” Bara mengerucutkan bibirnya mendapat perlakuan seperti itu dari adiknya. Namun, sedetik kemudian raut wajahnya berubah seratus delapan puluh derajat. Ia mulai senyum-senyum sendiri.


“Bang, kenapa sih ? Tadi melamun. Sekarang senyum-senyum sendiri.” Nadhira sedikit merasa ada yang aneh dengan tingkah laki-laki yang bersamanya saat ini.


“Dek, Abang mau tanya sesuatu deh.” Bara mengambil posisi tepat dihadapan Nadhira. Ia duduk diatas meja rias adiknya.


“Ya udah. Nanya apa emang ?” Nadhira sedikit mengangkat kepalanya agar melihat dengan jelas wajah Bara.


“Menurut adek, Kayla itu orangnya gimana ?” tanya Bara langsung ke topik pembicaraan.


“Wah... Abang suka sama Kayla, ya ?” Nadhira terlihat antusias mendengar pertanyaan Bara tentang Kayla.


“Ish..belum aja ngomong apa-apa udah main nyimpulin aja.” Bara menyentil dahi Nadhira sampai ia meringis dan memegang dahinya.


“Cup cup. Jangan nangis adik kecilku.” Bara membawa kepala Nadhira ke pangkuannya. Mengelus lembut rambut adiknya yang masih tertutup hijab. Nadhira semakin menenggelamkan wajahnya dipangkuan Bara.


“Kan aku udah mau nikah, Bang. Masak kecil sih ?” sontak Nadhira dan Bara tertawa.


Bara melirik benda yang melingkar ditangannya dan menepuk jidatnya. Nadhira mendongak menatap Reyndra bingung.


“Abang lupa ada meeting diluar. 15 menit lagi. Abang pergi, ya ?”


“Ya udah. Abang hati-hati. Ingat, Abang masih hutang penjelasan sama aku tentang Kayla.”


“Oke. Oke.” Bara hanya nyengir.


Nadhira meraih tangan Bara dan menciumnya. Bara membalas dengan mengelus lembut punggung tangan adiknya dan beranjak meninggalkan Nadhira sendiri dikamarnya. Sebelum menutup pintu, Bara mencondongkan kepalanya.


“Dek, kata ayah nanti malem Reyhan kesini sama keluarganya.”


“Oh.” Nadhira hanya menanggapi kakaknya dengan kata oh.


“Cuma oh doang ?” tanya Bara sedikit keberatan.


“Lah, terus aku mesti bilang apa ?” Nadhira menatap bingung kakaknya.


“Seneng kek. Kan mau dilamar.” Bara mengedipkan sebelah matanya menggoda Nadhira.


“Ih Abang. Berangkat sana. Nanti telat.” Pipi Nadhira tampak memerah karena tersipu malu dengan godaan Bara.

__ADS_1


“Telat dikit nggak apa-apa dong. Kan meetingnya sama calon adik ipar.” Sebelum melihat respond Nadhira, Bara sudah menutup pintu.


Mendengar kata calon adik ipar sontak membuat pipi Nadhira semakin merona.


“Abaaang!” Nadhira berteriak karena merasa kesal. Meskipun ia tau bahwa teriakannya akan berakhir sia-sia karena Bara tidak akan berbalik.


___


Reyhan melewati waktu 20 menitnya menunggu client hanya dengan memainkan ponsel. Reyhan kembali mengedarkan pandangan ke segala sisi restoran. Berharap seseorang yang ditunggu segera menampakkan diri.


Reyhan melihat jam tangan hitam yang melingkar ditangannya. Ia mendengus pelan dan menyesap ice cappucino yang masih tersisa setengahnya. Lalu kembali berkutat pada ponselnya.


Dipintu masuk restoran, nampak seorang lelaki dengan setelan jas berwarna navy yang menambah aura ketampanannya. Bar.


Ia menyusuri setiap bangku pengunjung dengan tatapannya dan terhenti pada seseorang yang tengah menunduk dibangku dekat jendela kaca tembus pandang. Bara melangkahkan kaki penuh kharisma mendekati Reyhan.


“Hei! Sorry gue telat.” Bara menepuk pundak Reyhan yang membuat Reyhan tersentak kaget.


“Kebiasaan lo ya ngangetin orang. Nanti kalo gue jantungan, gimana ?” Reyhan berucap kesal dengan kebiasaan Bara yang suka mengagetkan.


“Iya. Iya. Sorry. Sensian banget sih. Lagi PMS lo ?”


“Udah-udah. Banyak omong lo. Mana telat pula. Nggak punya jam lo, ya ? Jadi CEO kok nggak disiplin sih.”


“Iya sorry. Gue telat juga gara-gara calon istri lo, tuh. Manja-manjaan sama gue sampai lupa waktu. Mana pake ngambek segala lagi tadi pagi.”


“Oh.” Hanya kata itu yang bisa keluar dari mulut Reyhan.


"Pantesan aja kalian jodoh. Kelakuan sama sih." Dumel Bara.


"Ngomong apa lo ?"


"Nggak ada. Mulai aja."


Reyhan memulai menjelaskan tentang rencana pembangunan gedung yang akan dilakukan di Palembang pada Bara. Sesekali Bara menanggapi dengan anggukan dan memfokuskan kembali pada penjelasan Reyhan.


“Nah, jadi gimana ? Kapan kita bisa mulai proyeknya ?” Reyhan mengakhiri penjelasannya.


“Kalo bisa secepatnya. Karena menurut gue, gedung yang lo bangun dengan desain seperti yang udah lo jelasin tadi akan memakan waktu lebih lama dari pembangunan gedung-gedung sebelumnya.”


“Baik. Kita survey lokasinya dulu minggu depan. Bisa ?”


“Oke.”


Reyhan menatap hiruk pikuk jalan raya melalui kaca jendela. Sesekali melirik Bara yang fokus dengan ponsel miliknya. Entah apa yang dilakukannya.


“Han, gue balik duluan, ya. Mau jemput ayah sama bunda.”


“Oh. Oke, Bar. Hati-hati.”


Bara beranjak dari tempat duduknya.


“Sampai ketemu nanti malem, calon adik ipar.” Bara sedikit berbisik di telinga Reyhan dan tersenyum geli.


“Iya, calon kakak ipar.” Reyhan mengedipkan sebelah matanya pada Bara.


Tawa Reyhan dan Bara yang kompak mengudara di restoran mengundang tatapan aneh dari para pengunjung lainnya. Seketika Reyhan menutup mulutnya dan menunduk. Sedang Bara bergegas pergi meninggalkan Reyhan.

__ADS_1


___To Be Continued___


__ADS_2