Senja (Dan Rasa)

Senja (Dan Rasa)
Bab 106


__ADS_3

Jemarinya meliuk-liuk dengan lentik dan cekatan bersama bolpoin biru muda diatas diary bersampul jingga itu. Merangkaikan setiap aksara menjadi kata yang akan ia sulap sebagai kalimat indah nan puitis. Otaknya berputar cepat memikirkan diksi yang ia gunakan.


Angin malam yang menyelinap masuk dari jendela kamar yang terbuka lebar menyapu lembut wajahnya. Sesekali ia menatap langit yang sudah sempurna menggelap. Dilihatnya rembulan yang belum sepenuhnya purnama berdampingan dengan gemintang yang cahaya kemilau. Senyumnya terbit seketika.


"Sebentar lagi perjalananku denganmu memasuki purnama kelima, Reyhan Akbar Oktara," gumamnya pelan.


Decit pintu menyita perhatiannya. Tatapannya beralih menuju pintu yang terbuka lebar. Disana berdiri suaminya dengan tampang tak serapi pagi tadi saat berangkat ke kantor. Dengan dasi yang sudah tak beraturan, lengan kemeja yang tergulung sembarang hingga siku dan jas abu-abu yang tak dikenakan lagi. Reyhan memasuki kamar dengan wajah pucatnya.


"Assalamualaikum," ucap Reyhan dengan suara kecil.


"Wa'alaikumussalam," jawabnya berpura-pura cuek.


Ia melihat Reyhan meletakkan tas kerja juga jasnya diatas tempat tidur. Membaringkan tubuhnya tanpa membuka sepatu apalagi mengganti pakaian. Tak seperti biasanya.


Tatapannya terlempar jauh kembali pada nabastala yang sudah terkungkung malam. Berusaha tetap cuek dengan kelakuan tak biasa suaminya itu. Tiada sapaan lagi setelah salam tadi. Tiada kata lain pun yang menyusuli.


Tanpa diminta rasa khawatir itu tiba-tiba mendera. "Ada apa ?" tanyanya dalam hati. Sejenak ia menatap tubuh yang terbaring dengan posisi sembarang itu. Dilihatnya lelaki itu tertidur pulas dengan irama napas yang teratur.


"Apa ia sudah mulai bosan dengan sikapku ? Hingga sekarang ia yang mulai mendiamiku seperti ini."


Ia menghela napas panjang. "Ah... Biarkan saja." Tangannya kembali menari diatas tumpukan kertas bersampul warna jingga itu. Menuangkan segala imaji yang berkeliaran dengan liar didalam otaknya.


"Apakah ia terlalu lelah hingga tidur sepulas itu ? Padahal, ia tak biasa tidur dengan pakaian kerja. Terlebih ia belum membersihkan diri."


Langkahnya ia ayunkan. Sementara diary yang biasa ia gunakan sebagai wadah menuangkan imajinasinya ia biarkan tergelatak didekat jendela tanpa di tutup. Tangannya mulai mengguncang dengan pelan tubuh Reyhan yang bersimbah peluh dan wajah yang memucat seputih tembok.


"Kak ?" panggilnya pelan.


Tiada jawaban apapun.


"Kak Reyhan ?" Tangannya lebih keras mengguncang tubuh itu. Rasa panik kian menggerogoti. Ia menyeka keringat dingin yang membasahi wajah pucat dihadapannya itu dengan tangan.


"Mama!" teriaknya sekuat yang ia bisa. Tak peduli siapa yang akan mendengar teriakannya itu.


"Ma! Tolong Nadhira, Ma!" teriaknya sekali lagi.


"Ada apa ?" tanya Farhan yang tiba-tiba lebih dulu muncul dari balik pintu kamar yang terbuka dengan kasar.


"Kak... Kak Reyhan," ucapnya terbata-bata dan tak mampu melanjutkan lagi kalimatnya.


"Apa yang terjadi pada kakak, Kak Nadhira ?"


"Aku jua tak tahu, Farhan," balasnya diiringi isak yang mulai terdengar.


Farhan dengan segera duduk disamping Reyhan yang masih terbaring diatas tempat tidur lengkap dengan pakaian kerjanya. "Kak! Kakak!" panggil Farhan seraya menepuk pelan pipi Reyhan.

__ADS_1


"Kita bawa Kak Reyhan ke Rumah Sakit sekarang," ungkap Farhan.


"Memangnya Kak Reyhan kenapa, Farhan ?"


"Farhan juga tidak tahu pasti, Kak. Hanya saja Farhan rasa kakak anfal lagi. Tunggu Farhan sebentar disini. Farhan akan memanggil Papa dan Pak Amin untuk membantu Farhan membawa kakak."


Ia hanya mengangguk mendengar adik iparnya itu.


_____


Tatapannya tak lepas dari tubuh Reyhan yang terbaring lemah diatas brankar. Dengan selang infus yang mengekang tangan kiri dan alat bantu napas.


"Ma ? Kak Reyhan akan baik-baik saja 'kan, Ma ?" tanyanya dengan lirih nan memilukan tanpa menoleh ke arah Mama. Tak ia dapati jawaban apapun dari Mama. Yang ia dengar hanya isak yang tak jauh memilukan dengan isaknya.


"Jawab Nadhira, Ma!"


Mama menyeka air mata yang mengaliri pipi keriputnya. "Berdo'alah semoga Reyhan baik-baik saja, ya, Nak."


Ia mendongak dan menatap Mama dengan tatapan menyedihkan. "Ma ? Apakah ini semua gara-gara Nadhira sehingga Kak Reyhan anfal lagi seperti ini ?"


Mama menggeleng. Ia alihkan lagi pandangannya pada wajah pucat Reyhan. "Bangun, Sayang. Jangan seperti ini terus. Aku yang tidak kuat melihatmu terbaring dalam ketidakberdayaan." Isaknya terdengar jelas dan memilukan. Genggaman tangannya kian mengerat pada tangan kekar yang sekarang mulai mengurus itu.


"Maafkan aku telah berlarut mendiamimu."


Dirasakan gerakan jemari pada tangannya. "Sayang ?" panggilnya lembut. Ditatapnya mata yang pelan-pelan tengah mencoba terbuka itu.


"Aleea ?"


"Iya. Aku disini, Sayang."


"Maafkan aku," bisik Reyhan pelan.


"Aku sudah memaafkanmu," balasnya dengan senyum mengembang.


"Maaf belum bisa menjadi suami yang baik untukmu."


"Tidak! Kakak adalah suami terbaikku."


Reyhan tertawa sumbang. "Aku hanya lelaki penyakitan yang bisanya menyusahkan banyak orang. Termasuk kamu."


Ia menggeleng cepat. "Aku tidak pernah merasa direpotkan. Karena, itu adalah tugasku sebagai istri." Sejenak ia terdiam. Menyeka air mata yang masih menetes. "Maaf atas sikapku kemarin yang mendiamimu itu. Aku hanya kecewa," ucapnya tertunduk.


Reyhan terkekeh melihat tingkahnya. "Iya, Sayang. Aku paham."


"Jadi, sekarang kita damai saja, ya. Aku tidak kuat berada dalam keadaan mendiamimu seperti itu."

__ADS_1


Tak hanya Reyhan. Mama pun ikut menertawakan kepolosannya.


"Jangan mentertawakanku. Aku malu," cicitnya dengan manja seraya menutup wajahnya dengan kedua tangan.


"Kemarilah! Aku ingin memelukmu," ucap Reyhan.


Tanpa berpikir panjang ia menghambur memeluk tubuh suaminya yang masih terbaring. Tak peduli pada Mama yang masih berdiri dan menjadi penonton setia.


Mama berdehem keras. "Tak bisakah kalian meminta Mama keluar terlebih dulu sebelum melakukan adegan berbahaya itu ?"


Sontak ia melepas pelukannya pada tubuh Reyhan dan menatap Mama. Alisnya tertaut menjadi satu. "Adegan berbahaya ?"


"Mungkin maksud Mama adegan romantis, Sayang," jelas Reyhan dengan tawa kecilnya.


"Nah, maksud Mama begitu. Tapi, sudahlah. Mama lebih baik keluar saja. Mama tidak ingin mengganggu keromantisan kalian berdua. Maklum saja kalian 'kan baru saja berbaikan. Pasti sudah merindukan hal-hal romantis, bukan ?" goda Mama dengan mengerlingkan sebelah matanya.


"Mama selalu paham kondisi anaknya," balas Reyhan setengah bercanda.


"Baiklah. Mama keluar dulu. Jika sudah selesai mengadu keromantisan. Panggil saja Mama diluar." Mama dengan segera keluar tanpa menunggu komentar apapun dari anaknya itu.


"Maaf," ucapnya malu-malu dengan kepala yang ia tundukkan setelah Mama benar-benar keluar dari ruangan tempat Reyhan dirawat.


"Maaf untuk apalagi, Al ?"


"Untuk semuanya."


Reyhan mengangguk dan tersenyum manis padanya.


"Sayang," panggilnya ceria.


"Kenapa ?" tanya Reyhan bingung.


"Kita damai, ya."


Seketika Reyhan tergelak mendengar ucapannya.


"Kenapa ? Apakah ada yang lucu dengan ucapanku ?"


"Tidak. Tidak," jawab Reyhan masih dengan gelak tawanya.


"Lalu kenapa kakak mentertawaiku seperti itu ? Hah ?" tanyanya berpura-pura marah dan berkacak pinggang.


"Kamu lucu dan polos. Persis seperti Latisha."


Ia memberengut kesal.

__ADS_1


"Iya. Iya. Aku minta maaf dan berdamai."


Tatapannya berbinar. Senyumnya mengembang. Ia memeluk kembali tubuh Reyhan yang terbaring.


__ADS_2