Senja (Dan Rasa)

Senja (Dan Rasa)
Bab 132


__ADS_3

Nadhira's POV


Semenjak kehamilanku, entah kenapa emosiku seringkali tak bisa kukontrol. Kadang menangis tiba-tiba tanpa alasan yang jelas. Amarah yang harus ku lampiaskan dengan segera. Atau keinginan anehku yang harus terpenuhi.


Suasana hatiku benar-benar tak stabil. Seperti saat ini. Padahal, jelas saja ku tahu Kak Reyhan tengah mencandaiku. Namun, masih saja itu berhasil membuatku marah dan seketika menangis. Meninggalkan ruang makan tanpa permisi. Ku pastikan seisinya merasa aneh dan bersalah.


Terlebih suamiku. Sungguh. Aku bahkan sangat kasihan padanya. Ia yang begitu sabar menghadapiku. Walau ku tahu ia juga harus fokus dengan pekerjaannya yang menumpuk. Dan juga kesehatannya yang ku lihat akhir-akhir semakin menurun saja. Kupikir, harusnya aku lebih mengerti hal itu, bukan?


Tangga demi tangga ku pijaki pelan. Dengan derai yang semakin deras aku memasuki kamar dan membanting pintu dengan begitu kerasnya. Hal itu sukses membuatku tersentak sendiri. Tak hanya itu, apa yang ku lakukan tak ayal pula membuat manusia kecil yang tengah tumbuh dan berkembang dalam rahimku menendang-nendang dengan keras.


"Astaga, Nak. Maafkan Mama sudah membuatmu kaget, ya, Sayang," bisikku seraya mengelus lembut perutnya yang semakin hari semakin membesar. Seperti kata Mama, anakku semakin tumbuh dan berkembang dengan baik. Hal itu tentu saja membuatku tersenyum girang.


Aku memutar kunci yang tergantung rapi di pintu. Mengunci pintu kamar dari dalam agar siapapun tak bisa masuk dan mengganggu. Iya, siapapun. Kak Reyhan sekalipun. Aku benar-benar ingin sendiri. Menikmati malam dan mengelus makhluk kecilku dengan penuh sayang.


Pada kasur empuk aku mendaratkan tubuhku. Melepas jilbab dan meletakkannya sembarangan dan sesuka hati. Tanganku yang kecil mungil seperti yang sering dikatakan suamiku itu meraih sebuah buku tebal diatas meja samping tempat tidur. Lama tak menutrisi otakku dengan buku bacaan seperti novel yang ku pegang ini.

__ADS_1


Di lembar pertama yang tulisannya persis sama seperti apa yang tertulis di sampul kudapati sepenggal kalimat dengan tulisan tangan tampak begitu rapi. Jelas saja tulisan itu tak ayal membuatku menarik ujung bibirku dan tersenyum. Itulah tulisan tangan suamiku dengan kalimat "Aku mencintaimu, Nadhira Aleeana Prayudha".


Mataku beralih pada selimut tebal di ujung tempat tidur. Kemudian, ku tarik untuk menutupi sebagian tubuhku yang mulai terasa dingin diterpa angin malam yang ku biarkan masuk melalui jendela kamar yang terbuka lebar. Sering ku dengar Mama, Bunda atau bahkan Kak Reyhan menasihatiku, bahwa angin malam sangat tidak baik untuk kesehatanku juga si bayi dalam rahimku. Namun, malam ini aku benar-benar tak ingin mengindahkan itu. Angin malam kali ini membuatku merasa sedikit nyaman. Sesekali sepertinya tak mengapa, pikirku.


Perhatianku tersita saat ku dengar suara derap kaki semakin mendekat ke kamarku. Pelan sekali. Dan ku pastikan itu suara derap kaki milik Kak Reyhan.


Aku menyibak selimut yang menutupi setengah badanku. Menuruni tempat tidur dan melangkah ke arah pintu. Namun, segera kuurungkan. Emosiku yang masih membumbung tinggi membuatku enggan untuk segera mendekat. Aku segera kembali menuju tempat tidur dan merapikan posisi bersiap-siap untuk tidur.


Lama setelah ku dengar derap kaki yang terhenti. Setelahnya, hening. Ketukan pintu yang seharusnya kudengar bahkan tak kunjung ada.


Gerakan di perutku terasa semakin jelas. Barangkali, makhluk kecil didalamnya tengah memberi isyarat padaku untuk keluar menemui papanya.


Langkah kaki kembali ku ayunkan. Tanganku memegang knop pintu. Dan lagi kuurungkan untuk membukanya. Sebab, ku dengar ada suara percakapan dua lelaki diluar sana, suami dan Abangku.


Ku tajamkan pendengaran untuk bisa mendengar percakapan dua manusia satu generasi itu. Sudut bibirku terangkat. Aku tersenyum mendengar jawaban demi jawaban yang dilontarkan Kak Reyhan pada Abang. Rupanya, lelaki itu benar-benar memikirkanku.

__ADS_1


Sebentar. Hatiku pun kini ngilu saat ku dengar suara lemah suamiku. Aku menggigit bibir bawahku. Oh, Tuhan. Kenapa seperti ini sekarang?


Air mata sudah tak kuasa lagi kutahan. Aku sakit saat ku tahu suamiku tidak baik-baik saja. Aku bahkan tak tahu apa yang harus aku perbuat.


Tiada lagi suara yang ku dengar selain isakku. Namun, tak lama suara Bunda yang lembut menyapa anak menantunya itu. Hal itu sukses membuatku tersenyum lebar walau derai masih deras terjun bebas.


Kudengar jawaban yang sama diucapkan Kak Reyhan pada Bunda. Dan kudengar pula bagaimana Bunda begitu peduli dengan kesehatan menantu satu-satunya itu.


Setelah tak ada lagi suara yang kudengar. Aku terduduk bersandar pada pintu kamar. Aku masih enggan membuka pintu. Entah kenapa emosi seringkali tak biasa ku kontrol dengan baik. Barangkali, ini pengaruh hormon ibu hamil seperti yang sering dikatakan Mama dan Bunda untuk menasihati Kak Reyhan yang sesekali mengeluh dengan sikap anehku.


Tidak dengan hatiku. Aku semakin gelisah, khawatir pada lelaki yang masih berada diluar itu. Sungguh, aku tak mungkin begitu tega membiarkannya berlama-lama diluar kamar dengan kondisinya yang jauh dari kata baik.


Dengan cepat ku putar kunci yang tergantung. Membuka pintu dan menemukan lelaki yang teramat ku cintai itu tengah tertunduk dengan peluh yang membasahi kaos yang membungkus tubuhnya.


"Kak?"

__ADS_1


__ADS_2