Senja (Dan Rasa)

Senja (Dan Rasa)
Bab 54


__ADS_3

Pagi-pagi sekali. Ia sudah lebih dulu terbangun daripada suaminya. Ia bergegas menuju kamar mandi dengan membawa testpack yang sudah ia beli kemarin bersama Reyhan. Dengan hati-hati dan harap-harap cemas ia menggunakan alat tersebut.


Ia menatap benda kecil itu tanpa berkedip dan dengan perasaan yang bercampur aduk. Jantungnya berdegup diluar batas normal.


Beberapa menit ia menanti dengan harapan besat. Garis yang nampak pada benda itu tak juga bertambah. Ia menatap sendu garis merah itu. Namun, masih dengan harapan yang tak pudar.


“Aku akan menunggu sebentar lagi. Barangkali ini masih salah.”


Satu menit.


Dua menit.


Hingga menit-menit berikutnya berlalu tanpa jeda. Ia berjalan mondar mandir didalam kamar mandi seraya berdoa dalam hati. Menanti perubahan garis yang akan ditunjukkan benda kecil di tangannya itu. Namun, harapan hanya tinggal harapan. Sepertinya rezeki untuk memperoleh anugerah sekaligus amanah dari Tuhan belum ia dapatkan. Dengan wajah tertunduk dan lesu ia berjalan keluar dari kamar mandi.


“Sayang ?” panggil Reyhan yang baru saja bangun dari tidurnya.


“Kamu kenapa, Al ?” tanya Reyhan dengan cemas dan menghampiri istrinya yang sedang tertunduk lesu di kursi meja riasnya. Ia menatap benda kecil yang masih digenggamnya dengan air mata yang sudah tergenang sempurna di kelopak mata indahnya.


“Hei! Pagi-pagi kenapa istriku sudah bersedih saja seperti ini ? Ada apa, Sayangku ?” Reyhan menangkap wajah sendu Nadhira dengan kedua tangannya.


Air matanya runtuh menghantam tembok pertahanannya. Menelusuri dengan liar pipinya yang mulus dan membasahi tangan suaminya.


“Sayang, cerita padaku! Ada apa ?” tanya Reyhan semakin panik.


Ia tak mampu berkata-kata. Hanya tangis yang bisa ia tumpahkan dihadapan suaminya. Rasa takut, sedih dan terpukul menyergapnya secara bersamaan. Rasa itu tumbuh karena ia tak mampu memenuhi harapan besar suaminya untuk memiliki anak.


Reyhan menuntunnya berjalan menuju tempat tidur. Dengan hati-hati Reyhan kembali bertanya. “Sayang, apa yang sebenarnya terjadi denganmu ? Cerita saja padaku. Jangan diam saja. Aku tidak tahu harus bagaimana.”


“Maafkan aku,” ucapnya disela tangis yang semakin kuat dan jelas terdengar. Ia memeluk suaminya sembari mengucapkan kata maaf yang sama hingga berulang kali.


“Iya, Sayang. Tentu saja aku akan memaafkanmu.” Reyhan membalas pelukannya. Perlahan Reyhan mengelus punggung dan berusaha menenangkannya. “Menangislah! Tumpahkan segala sedih dan risaumu dalam tangis. Tak mengapa jika itu yang membuatmu merasa lega dan tenang, Sayang. Menangislah!”


Ia menumpahkan segala isakannya didalam pelukan Reyhan. Tangan kanannya masih dengan setia menggenggam erat benda kecil putih yang belum juga menunjukkan perubahan pada garis yang terdapat disana.


Merasa sedikit lebih tenang. Ia melepas pelukannya dan menatap netra suaminya dengan lekat meski netranya masih terus meneteskan butiran-butiran bening yang mengaliri pipinya.


“Ceritalah, Al! Apa yang sudah membuatmu menangis seperti ini ?” Reyhan menyeka air mata Nadhira yang tak jua kunjung berhenti.


“Maafkan aku belum sepenuhnya mampu menjadi istri. Pagi ini aku telah berhasil menghancurkan harapan kakak untuk menjadi seorang ayah.” Ia memberikan testpack yang sejak tadi digenggamnya dan masih menunjukkan satu garis.


Jelas saja nampak raut kecewa diwajah Reyhan. Nemun, dengan cepat merubah ekspresinya menjadi ceria agar istrinya tak semakin bersedih. “Al, tek mengapa, Sayang. Kamu jangan menangis seperti ini, ya. Ini cara Tuhan berkata bahwa kita masih belum diberikan kesempatan untuk menerima amanah besar. Ini cara Tuhan menegur kita untuk lebih bersabar. Kita akan berusaha lebih keras lagi nantinya.”


“Maafkan aku. Aku telah membuat kakak berharap lebih dan pada akhirnya berujung pada kecewa.”

__ADS_1


“Aleea, bukankah kita memiliki harapan yang sama, Sayang ? ingin segera menjadi orang tua. Tapi, kita tetaplah manusia yang hanya menerina ketetapan garis tangan Tuhan. Tugas kita berusaha dengan sebaik mungkin dan berdo’a tanpa putus. Sisanya Tuhan yang akan mengambil alih segalanya.”


Ia semakin menangis tersedu.


Reyhan merasa sangat kasihan melihat istrinya yang sangat terpukul. “Kemarilah!” Reyhan membentangkan kedua tangannya. Memberi isyarat pada Nadhira untuk memeluknya. Dengan sangat lembut Reyhan membelai rambut Nadhira yang tak tertutupi hijabnya.


“Sudah, ya, Sayang. Berhentilah menangis. Kita masih bisa berusaha untuk ke depannya.”


Ia hanya mengangguk pelan.


“Aku akan mandi sebentar, Al. Setelah itu kita turun bersama untuk sarapan.”


“Aku belum menyiapkan apapun untuk sarapan pagi ini.”


“Biar nanti Bibi yang menyiapkan. Bibi sudah balik tadi malam.”


“Baiklah. kalau begitu biar ku siapkan air hangat untuk kakak.”


“Tidak perlu, Al. Biar aku saja. kamu istirahatlah. Nanti aku bangunkan setelah aku selesai.”


“Iya. Baiklah.” Ia membaringkan tubuhnya diatas temat tidur dan menarik selimut tebal untuk menutupi setengah badannya.


Reyhan tersenyum menatapnya. “sudah. Kamu jangan bersedih lagi,” ucap Reyhan dan mencium keningnya.


Setelah selesai mandi dan berpakaian. Reyhan duduk disamping istrinya yang sedang terlelap. Ia kasihan melihat kondisi Nadhira yang nampak sangat bersedih. Rasanya tak tega ia membangunkannya. Namun, mau tidak mau ia harus melakukan itu sebab ia tak ingin istrinya sakit hanya karena telat sarapan.


“Aleea ?” Reyhan mengguncang pelan tubuh Nadhira kemudian mengelus pipinya.


“Hmmm.” Ia mengerjapkan berulang kali netranya untuk menyesuaikan cahaya yang masuk.


“Kakak sudah selesai mandi ?”


“Iya, Sayang. Bangun, yuk! Kita ke bawah untuk sarapan. Atau kamu mau kita sarapan diluar saja ? Sekaligus mencari udara segar pagi hari.”


“Dimana saja. Asal bersama suami.” Ia tersenyum manis. Bangkit dan memeluk suaminya.


“Sejak kapan istriku pandai merayu seperti ini ?”


“Aku tidak sedang merayumu, Kak. Aku berbicara yang sesungguhnya.”


“Iya, Sayangku. Bersihkan dirimu dulu. Aku akan menunggumu.”


Ia bergegas menuju kamar mandi.

__ADS_1


Seperti biasa Reyhan hanya mampu menggelengkan kepala melihat tingkah dan perilaku istrinya yang sangat kekanakkan. “Sabarlah, Reyhan. Kamu hanya butuh waktu untuk mengajarinya secara perlahan menjadi perempuan dewasa.” Reyhan menasehati dan menguatkan dirinya sendiri.


Sementara menunggu Nadhira keluar dari kamar mandi. Reyhan mencoba merapikan tempat tidur dan membersihkan kamarnya. Sejak menikah, ia tak pernah lagi melakukan hal itu. Karena, sudah ada istri yang mengambil alih urusan kamar yang keduanya tempati.


“Kak, kenapa yang membersihkan kamar ? itu sudah menjadi tugasku,” ucapnya dari pintu kamar mandi.


Reyhan menatapnya dengan senyuman yang menghiasi bibir. “Tidak apa-apa, Sayang. Sesekali aku ingin membantu istri cantikku melakukan pekerjaannya. Lagipula, jika hanya sekedar membersihkan kamar saja aku sudah terbiasa sejak dulu.”


“Terimakasih sudah meringankan pekerjaanku, Sayang.” Ia mendekat dan mencium sekilas bibir suaminya.


“Jika aku tahu akan mendapatkan morning kiss darimu seperti ini. Tentu saja sudah aku lakukan dengan senang hati pekerjaan ini setiap paginya.”


“Itu bukan imbalan karena kakak sudah membersihkan kamar.”


“Lalu ?”


“Itu karena aku mencintai suamiku.” Ia mendekat dan memeluk Reyhan. “Tanpa kakak melakukannya pun. Aku selalu menyempatkan diri untuk mempersembahkan morning kiss untukmu,” ucapnya berbisik.


“Jadi, kamu sering menciumku diam-diam, Al ?”


“Hmmm.” Ia mengangguk.


“Kamu curang, ya.” Reyhan menggelitiki pinggulnya.


“Kak, jangan! Geli. Aku tidak kuat!” teriaknya seraya tertawa keras.


“Tidak ada ampun untuk seseorang yang bermain curang denganku.” Reyhan semakin kuat menggelitiknya.


“Kakak! Geli, Kak. Geli. Aku menyerah. Sungguh.”


Reyhan menarik tubuh kecil Nadhira dan menguncinya dalam dekapan erat. “Lain kali jangan coba-coba bermain curang denganku, Al. Atau kalau tidak, kamu akan merasakan kerasnya balasanku yang tak kenal ampun,” ancam Reyhan mengedipkan mata pada istrinya.


Nadhira hanya mengkerutkan keningnya.


“Selain menciumku diam-diam. Apa lagi yang kamu lakukan padaku setiap pagi sebelum aku bangun tidur ?”


“Menikmati keindahan ciptaan Tuhan berwujud suamiku. Menatap wajah tampan dan tegasnya. Kemudian membisikkan kalimat “Aku mencintaimu, Reyhan Akbar Oktara”. Jadi, aku sudah menang beberapa angka darimu, Sayang.”


Reyhan menenggelamkan tatapannya ke dalam tatapan istrinya. “Terimakasih. Terimakasih sudah bersedia menjadi titik akhir pencarianku. Menjadi rumah tempatku pulang dan melepas lelahku. Menjadi pendamping untuk aku melangkah meniti jalanku, jalan kita. Aku mencintaimu seutuhnya, Aleeanaku.” Reyhan mencium keningnya lama.


Ia membalas dengan memeluk tubuh Reyhan. Menikmati aroma mint yang tak pernah bosan ia resapi.


Keduanya tenggelam dalam lautan asmara penuh drama pagi ini.

__ADS_1


__ADS_2