
Ia menatap nanar ke luar jendela Rumah Sakit. Ia sama sekali tak peduli dan enggan melihat Reyhan yang sedang membereskan perlengkapannya selama dirawat.
“Kita pulang sekarang, ya, Al.”
“Dimana Abangku ? Aku tidak ingin pulang denganmu.”
Reyhan menghela napas panjang. Ia hanya bisa bersabar menghadapi perubahan sikap istrinya itu. “Abang tidak bisa kesini menjemputmu, Sayang. Abang sedang ada perjalanan pekerjaan ke luar daerah.”
“Baik. Aku akan pulang sendiri menggunakan taksi.”
“Al, jangan seperti ini. Kamu belum pulih total, Sayang.”
“Aku tidak peduli!” bentaknya. “Pokoknya aku tidak mau pulang denganmu.”
“Tapi, Al...”
“Ku bilang tidak, ya tidak. Jangan lagi memaksaku.”
Pintu ruangan terbuka lebar. Menampilkan Mama dan Farhan yang baru saja datang.
“Ada apa, Kak ?” tanya Farhan.
“Aleeana tidak ingin pulang denganku. Dan ia bersikukuh ingin pulang sendiri menggunakan taksi.”
“Pulang bersama Farhan dan Mama, Kak Nadhira. Bagaimana ?” tawar Farhan.
Ia mengangguk dan turun dari brankar. “Mama ?” panggilnya lirih. Setiap ia melihat Mama. Itu hanya akan membuatnya sedih. Ia merasa gagal memberikan kebahagiaan untuk mertuanya itu.
“Tak mengapa, Sayang. Yang penting kamu sehat dan baik-baik saja.”
“Maafkan Nadhira tidak bisa menjaga dengan baik kandungan Nadhira. Maaf jika lagi-lagi Nadhira mematahkan harapan Mama dan Papa untuk menimang cucu.”
Mama mengelus pundaknya pelan. “Sudah, ya, Sayang. Kamu jangan menyalahkan diri kamu sendiri. Kita semua sama-sama merasakan kehilangan. Tapi, jangan khawatir. Suatu hari nanti, Tuhan pasti akan memberikanmu kesempatan mengemban amanah lagi.”
Ia mengangguk pelan dan menghapus air matanya.
“Sekarang kita pulang ke rumah, ya, Nak. Latisha sudah menanyakanmu terus menerus. Tidak sabar ingin segera bertemu dan bermain bersama kakak ipar cantiknya ini,” ucap Mama menghiburnya.
__ADS_1
Ia tersenyum. “Tapi, Nadhira pulang bersama Mama dan Farhan.”
Mama menatap ke arah Reyhan yang berdiri tak bergeming di belakang Nadhira. Mama melihatnya mengangguk walaupun sedikit terpaksa.
“Iya, Nak. Ayo!” Mama merangkul dan menuntunnya melangkah keluar. Sebentar ia menoleh ke belakang menatap Reyhan yang menatapnya dengan tatapan sendu. Ia lihat semburat cahaya kesedihan dari netra bermanik hitam itu. Kata hati ia memang tak tega dan tak bisa jauh dari suaminya itu. Namun, amarah dan emosi yang masih dengan lihai menghipnotisnya menjadi manusia egois.
“Maafkan aku,” bisiknya dalam hati dan kembali melangkahkan kaki bersama Mama mengikuti jejak kaki Farhan yang berjalan beberapa langkah di depannya.
_____
“Mama ?” panggilnya setengah berbisik namun masih bisa didengar oleh Mama.
“Iya, Nak. Kenapa ?”
“Apakah Kak Reyhan baik-baik saja selama Nadhira dirawat di Rumah Sakit ?”
Mama tersenyum padanya. Mama rasakan ada kepedulian yang terpancar dari menantunya itu meski masih di selimuti rasa kecewa.
“Reyhan sempat anfal.”
“Kamu tahu bagaimana kelakuan suamimu itu, Ra. Ia tidak teratur meminum obat. Dan kenapa Mama tak memberitahumu. Karena, itu permintaan Reyhan. Ia tak ingin membuatmu kepikiran tentangnya. Ia hanya ingin kamu lekas membaik dan bisa dengan segera pulang ke rumah.”
Sebentar Mama menjeda kalimatnya. Menarik napas dalam-dalam dan menhembuskannya perlahan. “Di depanmu ia selalu berusaha baik-baik saja. Padahal, jelas kita tahu keadaannya yang sebenarnya.”
“Maaf, Ma. Bukan maksud Nadhira untuk mengabaikan Kak Reyhan. Tidak!” Ia menghela napas panjang. “Nadhira hanya kecewa berat padanya. Dan sekarang, Nadhira hanya butuh waktu untuk mencerna dengan baik setiap kepingan kejadian menyakitkan ini. Jua sedang belajar untuk mengiklaskan sesuatu yang telah hilang.”
“Iya, Nak. Mama paham bagaimana perasaanmu saat ini. Orang tua mana yang tidak terpukul jika harus kehilangan calon anaknya.”
Ia tersenyum dengan air mata yang tergenang di kelopak matanya yang masih sayu. Ia menyandarkan kepalanya di pundak Mama. “Terimakasih sudah menjadi Mama yang baik untuk Nadhira.”
Mama membelai puncak kepalanya dengan lembut dan penuh kasih sayang.
_____
Mobil yang di kendarai Farhan dan membawanya pulang itu berhenti didepan istana yang ia tempati sejak menyandang status istri dari CEO muda bernama Reyhan Akbar Oktara itu. Senyum terbit dengan indah dan sempurna dibibir tipisnya yang masih nampak memucat. Hatinya lega sudah mampu keluar dari kungkungan ruangang putih dan beraroma obat-obatan itu. Sekarang ia bisa menghirup udara segar di halaman rumah besarnya.
“Ayo turun! Latisha dan Papa sudah menunggu didalam.”
__ADS_1
Bersama Mama ia menuruni mobil. Melangkah menaiki tangga satu per satu dengan pelan. Tepat ditangga terakhir pintu depan terbuka lebar. Menampilkan Reyhan dengan senyum tipis dan tatapan sendu. Langkahnya seketika berhenti dan membalik badan. Tak ingin menatap lebih lama lelaki di hadapannya itu.
Reyhan yang paham maksud sikapnya lantas menyingkir dengan terpaksa. Memberikan jalan untuknya masuk.
“Nadhira ? Kamu tidak mau masuk, Nak ?”
Ia menghembuskan napas kasar. Membalik lagi tubuhnya dan sudah tak ia temukan Reyhan berdiri diambang pintu. Tatapan menyapu mencari keberadaan suaminya itu.
“Reyhan sudah masuk. Ia tahu bahwa kamu masih belum ingin bertemu dengannya,” ucap Mama menjawab pertanyaan yang tak ia lisankan itu.
Ia menatap mata dengan tatapan sayu. “Maaf,” lirihnya.
Mama hanya tersenyum singkat dan kembali merangkulnya. Membawanya memasuki rumah besar tempat ia berteduh dari segala cuaca dan suasana.
“Kakak!” teriak Latisha yang berlari ke arahnya diikuti Papa.
“Selamat datang kembali,” ucap Latisha dengan lucu seraya memeluk kakinya.
Ia mengelus rambut panjang nan hitam milik adik iparnya itu dengan lembut. “Terimakasih, Sayang.”
“Kata Mama ada yang merindukan kakak disini. Benarkah ?” lanjutnya.
“Tentu saja. Dan Tishalah yang begitu merindukan kakak,” jawab gadis kecil itu dengan polos.
Sontak ia terkekeh mendengar adik iparnya itu. “Sekarang kakak temani bermain, ya.”
“Kamu harus istirahat, Nak,” cegat Mama.
“Tidak apa-apa, Ma. Nadhira akan baik-baik saja.”
Ia berjalan mengikuti langkah kecil Latisha yang membawanya ke ruang tamu. Melihat begitu banyak mainan yang berserakan.
“Main disini saja, Kak.”
Ia mengangguk dan duduk dilantai. Menemani Latisha bermain seperti biasa.
Sesekali ia tersenyum. Bahkan, tertawa lepas mendengar celotehan gadis kecil di hadapannya itu. Tanpa, ia sadari. Sepasang mata tengah memperhatikannya dengan intens.
__ADS_1