
Tak ku sesali setiap tapak yang ku jejaki dijalan liku yang berakhir temu denganmu. Sebab, tujuan langkahku adalah menemukan rumah untukku pulang dan meretas sendu. Dan syukurku yang teramat bahwa rumah itu adalah kamu."
^^^-Dekap Hamdalah-^^^
Jemarinya meliuk-liuk menari bersama pena diatas kumpulan kertas dengan sampul langit berwarna jingga itu. Menuliskan setiap kata demi kata yang ia rangkai menjadi kalimat yang sarat makna.
Jendela yang terbuka lebar mempersilahkan sinar mentari pagi menelisik masuk ke kamarnya. Membiarkan sinar itu menerpa wajah dan rambut yang belum sepenuhnya mengering.
Ia menyeruput teh panas yang masih mengeluarkan uap dari sebuah cangkir di hadapannya. Menikmati aroma yang menusuk pada indera penciumannya. Memberikan ketenangan untuk jiwa yang semrawut di pagi hari.
"Sayang!" panggilnya pada Reyhan yang sedang berdiri didepan kaca besar didalam kamarnya. Mematut diri sebelum berangkat ke kantor.
"Iya, Sayang. Kenapa ?"
"Semalam Mama bilang padaku. Minggu depan kita harus ikut Mama dan Papa berkunjung ke rumah tante Salsa. Anak sulungnya akan melaksanakan akad."
"Iya, Sayang. Semoga tidak ada halangan nantinya."
Ia melanjutkan kegiatannya tanpa menjawab ucapan Reyhan. Menuliskan apa saja diksi-diksi sederhana yang melintasi pikirnya.
Dering suara ponsel Reyhan yang nyaring menyita perhatiannya. Ia melihat Reyhan mengamit ponsel dan meletakkan di telinga kanan.
Raut wajah Reyhan yang tiba-tiba berubah setelah berbicara dengan Si Penelepon membuatnya penasaran. Ia mendekat dan memegang lengan Reyhan.
"Baik. Terimakasih banyak atas bantuannya, Dokter Dharma," ucap Reyhan dan mengakhiri panggilan telepon itu.
"Kak," panggilnya dengan lembut. Jua dengan tatapan penasaran yang tak bisa ia sembunyikan.
Reyhan hanya melempar senyum tipis padanya.
"Bagaimana ?"
"Sudahlah, Al. Aku sudah katakan padamu. Aku sudah enggan berharap. Dan ini adalah harapan terakhirku. Harapan terakhir yang berujung sama. Sama-sama mematahkan," ucapnya dengan menekan kata demi kata di kalimat terakhirnya.
"Iya. Aku tak akan memaksamu lagi, Kak. Tapi, jika suatu hari nanti ada donor yang cocok untuk kakak. Ku mohon jangan pernah menolak melakukan operasi sesuai dengan saran dokter."
Reyhan tersenyum miris. "Aku ingatkan padamu. Jangan terlalu berharap akan hal itu. Karena, itu hanya akan menyakitimu saja, Al. Jangan sampai kamu merasakan sakitnya dipatahkan oleh harapan yang kamu rangkai sendiri. Sama sepertiku."
"Sayangnya harapanku akan hal itu sudah teramat sangat besar. Harapanku pada suamiku agar sembuh total. Karena, aku adalah orang yang tak akan mampu melihatnya kesakitan barang sedikitpun," ucapnya dengan tegas.
"Sudahlah, Al. Berbicaralah sesuka hatimu. Aku tak akan merubah keputusanku kali ini. Aku rela jika penyakit sialan ini harus merenggut nyawaku dengan cepat." Reyhan benar-benar merasa frustasi. Harapan besarnya yang tercipta karena istri tercinta kini hanya sebatas harapan semata.
Ia meletakkan jari telunjuknya di bibir Reyhan. "Jangan berbicara seperti itu. Kita akan hidup selamanya." Tangannya memeluk tubuh besar Reyhan. "Aku akan bersamamu. Disampingmu. Menjadi rumah untukmu. Maka, jangan menyerah pada apapun. Ku mohon. Demi aku dan keluarga kita."
"Maaf. Aku sudah tak bisa lagi mengukir harap untuk siapapun. Biarlah semua terjawab dengan sendirinya. Seiring waktu yang tak pernah berhenti berputar."
Reyhan menghela napas panjang. "Besok aku harus pergi ke luar daerah selama tiga hari bersama Abang," lanjut Reyhan dengan mengelus pundaknya pelan.
Ia menatap Reyhan dengan mata berkaca-kaca. "Kakak akan meninggalkanku sendiri ?"
"Tidak, Sayang. Sekarang aku akan mengajakmu ke rumah Bunda. Dan malam ini kita akan menginap disana. Selama aku pergi. Kamu akan tinggal bersama Ayah dan Bunda."
__ADS_1
"Tidak! Aku hanya ingin bersama kakak," ucapnya dengan air mata yang sudah berjatuhan tanpa jeda.
"Sayang, kali ini tolong izinkan aku pergi. Lagipula, aku pergi tak hanya seorang diri. Ada Bang Bara yang akan membersamaiku nantinya."
"Aku akan mengizinkan kakak pergi. Tapi, tentu saja ada syarat yang harus kakak penuhi."
"Apa syarat yang harus aku penuhi nantinya ?"
"Pulanglah dengan selamat dan sehat. Aku juga tak mau mendengar disana nanti kakak sakit."
"Iya, Sayangku. Akan ku pastikan hal itu untukmu."
Ia menyeka air matanya dengan punggung tangan mulusnya. Memeluk kembali tubuh kekar Reyhan yang nampak lebih kurus dari sebelumnya. "Aku ingin tubuh ini selalu baik-baik saja dan selalu mendekapku dalam segala keadaan yang menyapa."
"Kamu jangan khawatir, Sayang. Bersamamu aku akan selalu baik-baik saja. Bukankah aku selalu mengatakan hal yang sama padamu ?"
Ia mengangguk.
"Sekarang kamu siapkan perlengkapan yang kamu butuhkan selama dirumah Bunda nanti. Dan aku minta tolong siapkan keperluanku untuk ke luar daerah besok."
Ia bergegas menyiapkan segala keperluannya dan Reyhan. Memasukkannya dalam tas. Sedang segala kebutuhan Reyhan ia masukkan ke dalam koper.
"Selesai!" teriaknya seperti anak kecil.
"Kita berangkat sekarang saja, Al. Aku ada rapat penting pagi ini dikantor."
"Aku ke rumah Bunda diantarkan Pak Amin saja, Kak. Biar kakak tidak terlambat ke kantor. Rumah Bunda 'kan cukup jauh dan pasti akan menyita banyak waktu kakak jika mengantaku lebih dulu."
Raut wajahnya berubah kesal. "Ah... Aku tidak ingin ikut ke kantor."
"Kenapa, Sayang ?"
"Aku tidak ingin bertemu lagi dengan perempuan yang dulu dijodohkan dengan kakak itu. Aku tidak ingin di perlakukan seperti pegawai disana."
Reyhan tertawa keras dibuatnya. "Maksud kamu Tasya, Sayang ?"
"Memangnya siapa lagi ? Mbak Rianti ?"
"Sayang, dengarkan aku. Tasya bukanlah karyawan disana. Juga bukan kolega di perusahaan yang aku pegang ataupun yang dipegang Papa. Jadi, kamu tidak akan menemukannya di kantor setiap hari. Lagipula, kebetulan sekali kemarin dia datang tanpa permisi."
Reyhan menggenggam kedua tangannya. "Jangan takut. Dia sudah tidak bisa lagi masuk ke area kantor. Karena, aku sudah menutup semua akses untuk dia. Tenang, ya, Sayang."
"Kakak tidak sedang membohongiku, bukan ?"
"Tidak, Sayang. Aku tidak ingin jua ada orang yang memperlakukan istriku dengan tidak sepantasnya. Karena, istriku adalah kehormatanku. Maka, jika ada yang memperlakukanmu tidak baik. Itu sama dengan dia merusak kehormatan yang ku punya."
"Sayang, terimakasih sudah membuatku menjadi perempuan seistimewa itu. Aku beruntung menjadi istrimu."
"Aku yang sangat beruntung mendapatkanmu, Al. Betapa baiknya Tuhan padaku."
Ia tersenyum manis pada Reyhan. "Izin sama Mama dan Papa dulu, ya, Kak. Biar nantinya tidak interogasi dengan berbagai macam pertanyaan."
__ADS_1
"Iya, Sayang. Kamu sudah pastikan semuanya tidak ada yang tertinggal lagi ?"
Ia mengangguk.
"Kak," panggilnya.
Reyhan menatapnya dengan tatapan teduh. "Sudah waktunya minum obat," ucapnya mengingatkan. "Aku ambilkan untuk kakak, ya."
"Terimakasih banyak, Sayang."
"Obat yang lain jangan lupa kakak bawa, ya. Dan jangan lupa diminum nanti. Tidak boleh terlambat juga," cicitnya tanpa jeda.
"Iya, Al. Kenapa kamu sekarang secerewet Mama ?"
"Demi kebaikan suamiku," jawabnya dan mencium sekilas bibir Reyhan. "Morning kiss," lanjutnya dengan senyum merekah.
Reyhan menggelengkan kepala. "Ayo turun. Temui Papa dan Mama. Kita minta izin bersama."
"Baiklah, suami tampanku."
Keduanya terkekeh bersama.
_____
"Selamat pagi," ucapnya dengan ceria.
"Selamat pagi, Nadhira," jawab Mama.
"Pa, Ma. Nadhira mau izin untuk menginap dirumah Bunda."
"Lho kenapa ? Apa Bundamu sedang tidak baik-baik saja ?"
"Tidak, Ma. Tapi, besok sampai tiga ke depannya Reyhan akan pergi ke luar sama Bara. Jadi, Reyhan mengajak Aleea untuk menginap dirumah Bunda selama Reyhan pergi," jelas Reyhan.
"Baiklah. Tak mengapa, Nak."
"Terimakasih, ya, Ma."
"Iya, Sayang."
"Ma, Pa. Reyhan berangkat sekarang, ya. Satu jam lagi ada rapat penting yang harus Reyhan pimpin."
"Kalian hati-hati dijalan."
"Iya, Ma," jawabnya bersamaan dengan Reyhan.
"Pa, jam dua siang nanti Reyhan tidak ikut berkunjung ke tempat Pak Chandra. Karena, Reyhan akan mempersiapkan segala sesuatu untuk besok bersama Bara dan Ayah."
"Iya, Nak. Tidak apa-apa. Biar nanti Papa yang urus semuanya."
Setelah meminta izin pada Papa dan Mama. Ia berangkat dengan senyum merekah. Tak sabar ingin segera bertemu dengan Ayah, Bunda dan Bara.
__ADS_1
Ia ingin segera melepas rindu yang selama ini ia reda sendiri. Bercerita ria segala kejadian yang oernah ia temui. Jua pada keanehan yang akhir-akhir ini sering terjadi pada dirinya.