Senja (Dan Rasa)

Senja (Dan Rasa)
Bab 42


__ADS_3

“Al, kamu kenapa ?” tanya Reyhan yang melihat istrinya meringkuk di tempat tidur dan meringis.


“Perutku nyeri sekali,” balasnya lemas.


“Kamu sakit, Sayang ? Apa kita perlu ke Rumah Sakit ?” tanya Reyhan khawatir.


“Tidak perlu. Ini sudah biasa. Aku sedang haid.”


“Benarkah ? Tapi, aku takut terjadi apa-apa denganmu.”


Nadhira hanya mengangguk.


“Baiklah. Kamu istirahat saja. Ke kampusnya di tunda dulu, ya.”


Ia menatap suaminya garang. “Tidak!”


Reyhan yang melihat sikap istrinya nampak bingung. Ia merasa seakan hendak di terkam Si Raja Hutan.


“Aku harus menyelesaikan tugasku dengan cepat,” bentaknya.


“Lho, Sayang. Kamu kenapa marahnya sama aku ? Aku hanya meminta istirahat saja. Memangnya ada yang salah ?” tanya Reyhan bingung.


“Tentu saja salah. Kakak sudah melarangku ke kampus. Itu sama halnya dengan kakak melarangku untuk menyelesaikan tugas akhirku.”


“Bukan begitu, Sayang. Kamu sedang sakit. Wajar saja jika aku memintamu untuk istirahat dulu, bukan ?”


Nadhira tak menjawab. Ia hanya menenggelamkan wajahnya di bantal. Menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya.


Reyhan terlihat semakin bingung melihat tingkah aneh istrinya. Ia mengacak rambutnya frustasi. Kemudian, keluar dari kamar meninggalkan Nadhira seorang diri. Sebab, ia tak tahu harus berbuat apa.


“Ma!” teriak Reyhan. Suaranya menggema di seisi ruang tamu.


“Kenapa, Reyhan ?” kesal Papa.


“Pa, Mama dimana ? Reyhan butuh bicara. Penting,” ucap Reyhan dengan menekankan kata penting diakhir kalimatnya.


“Mungkin dikamar Raina,” jawab Papa acuh.


Reyhan bergegas menuju kamar adik bungsunya. Mencari keberadaan Sang Mama. Namun, yang dicari pun tak jua kunjung ditemukan.


Ia beranjak dari kamar Raina. Menuruni tangga dan berjalan ke arah taman belakang. Disana barulah ia temukan seseorang yang ia cari.


“Ma!” teriak Reyhan memanggil Mama.


“Ada apa, Kak ?” tanya Mama bingung melihat kelakuan anak sulungnya yang tak biasa.


“Reyhan ingin bicarakan sesuatu dengan Mama. Ini penting, Ma.”


“Bicara saja,” jawab Mama yang masih fokus menata tanaman hiasnya.


Reyhan menarik tangan Mama. Membawanya dengan paksa menuju kursi panjang taman belakang.


“Kenapa, Kak ?”


“Ma, Reyhan rasa ada yang tidak beres dengan Nadhira.”


“Maksud kamu ?” tanya Mama semakin bingung dengan alis terangkat sebelah.


“Reyhan tidak tahu kenapa. Pagi ini selalu marah-marah sama Reyhan. Padahal Reyhan mengatakan hal yang wajar saja.”


“Memangnya kamu mengatakan hal biasa seperti apa padanya ?”


“Reyhan hanya memintanya istirahat dan tidak pergi ke kampus.”


“Nadhira sakit ?”


“Dia mengeluh perutnya terasa nyeri karena sedang haid.”


Sontak Mama tertawa lepas membuat Reyhan bingung.

__ADS_1


“Ma ?” Reyhan menatap Mama dengan tatapan tak mengerti.


“Kamu harap memaklumi, ya, Kak. Perempuan yang sedang datang bulan memang seperti itu. Emosinya tidak stabil.”


“Benarkah, Ma ?”


“Iya, Nak. Jadi, kamu harus sabar, ya, menghadapi Nadhira.”


Reyhan membuang napas. “Baiklah, Ma.”


Ia berjalan meninggalkan Mama yang masih ingin menata tanamannya di taman belakang rumah. Menemui istrinya dengan segala keanehannya pagi ini.


“Sayang ?” panggil Reyhan lembut. Namun, tak mendapat jawaban.


“Al ?” panggil Reyhan lagi dengan memegang pundak Nadhira.


Karena, tak juga mendapat jawaban. Reyhan mencoba membuka selimut tebal yang menutupi seluruh tubuh Nadhira. Ia menemukan sisa-sisa jejak air mata di pipi istrinya.


Reyhan menyingkirkan rambut panjang Nadhira yang menutupi sebagian wajahnya. Menikmati keindahan karya tangan Tuhan dalam wujud istrinya yang tengah terlelap.


“Kamu cantik, Sayang,” bisiknya.


Tubuh mungil Nadhira menggeliat.


“Sayang ?”


Nadhira menatap suaminya dengan mata sedikit sembab.


“Kenapa menangis ?” tanya Reyhan selembut mungkin.


Gadis itu hanya menggeleng.


“Perutmu masih terasa nyeri, Sayang ?”


Ia mengangguk.


“Kita ke Rumah Sakit. Mau ?”


“Kenapa ?” Reyhan mengelus puncak kepalanya.


“Aku harus ke kampus, Kak.”


“Baiklah. Aku temani, ya, Sayang,” ucap Reyhan dengan senyum manisnya.


“Tapi, bukankah kakak harus ke kantor ?”


“Tak mengapa hari ini aku tidak ke kantor. Aku lebih memilih menemani istriku menyelesaikan tugasnya dan memastikan ia baik-baik saja.”


Nadhira tak mampu berkata apa-apa. Ia hanya tersipu dan tersenyum mendengar ucapan suaminya.


“Aleea ?”


Matanya beralih menatap manik hitam milik suaminya.


“Lekas membaik, ya, Sayang.”


Ia tersenyum lagi dan bangun memeluk suaminya.


“Sayaaang,” ucapnya dengan manja membuat Reyhan gemas.


_____


Puluhan pasang mata menatap penuh tanya sepasang insan yang berjalan bergandengan tangan di area kampus itu. Perempuan dengan dress merah muda yang dipadukan hijab abu tua dan lelaki berperawakan tegap dengan kacamata hitam bertengger di hidung menambah aura ketampanannya. Mereka berjalan membelah kerumunan mahasiswa di area parkir.


“Siapa itu ? Tampan sekali.”


“Bukannya itu mahasiswi yang waktu itu menjuarai karya tulis, ya.”


Bisikan-bisikan dari bibir mahasiswa yang melihat terdengar di telinga keduanya.

__ADS_1


Mendengar hal itu membuat Nadhira merasa kesal. Ingin sekali ia membungkam mulut mahasiswi yang memuja ketampanan suaminya itu jika saja tangannya tak dicekal keras oleh Reyhan.


“Sudahlah, Sayang. Biarkan saja,” ucap Reyhan menenangkan.


“Tapi, aku tidak suka jika ada perempuan lain yang memuji kakak seperti itu,” bentaknya.


“Sayang, sudah, ya. Sekarang kamu fokus saja pada niat awalmu datang ke kampus untuk apa. Iya, Sayang, ya ?” bujuk Reyhan yang akhirnya membuat Nadhira mengalah dengan terpaksa.


Ia berjalan menyusuri koridor menuju ruang dosen ditemani suaminya. Untuk pertama kali.


“Kakak tunggu disini, ya,” ucapnya setelah sampai didepan ruangan yang dituju.


“Iya, Sayang. Semoga dilancarkan segala urusannya, ya,” ucap Reyhan mengelus puncak kepala istrinya.


“Terimakasih, Suamiku,” jawabnya sebelum benar-benar meninggalkan Reyhan ke dalam ruangan.


_____


Reyhan menatap jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Hampir dua jam sudah ia menunggu istrinya menyelesaikan urusannya di dalam ruangan yang isinya entah seperti apa.


“Sedang menunggu siapa, Mas ?” tanya seseorang yang tiba-tiba datang dan duduk di samping Reyhan.


“Oh. Saya sedang menunggu istri saya.”


Lelaki itu mengangguk paham. Kemudian, keduanya terjebak dalam keheningan hingga pintu ruangan terbuka lebar. Menampilkan Nadhira dengan senyum manisnya.


Reyhan dan lelaki itu berdiri dan menatap Nadhira bersamaan.


“Sayang ?”


“Nadhira ?”


Ucap Reyhan dan lelaki tersebut bersamaan.


Reyhan saling melempar tatap dengan lelaki yang baru saja memanggil istrinya itu. Ia mendekati Nadhira yang masih berdiri diambang pintu.


“Bagaimana, Sayang ?” tanya Reyhan.


“Alhamdulillah lancar, Kak,” jawab Nadhira sumringah.


“Kamu mengenal lelaki itu ?” bisik Reyhan agar suaranya tak terdengar oleh seseorang yang dimaksudkan.


“Itu temannya Finza, Sayang.”


“Hei! Apa kabar, Nadhira ?” tanya Faris tanpa ragu mendekat. Iya. Lelaki yang menyapa Reyhan itu adalah Faris. Lelaki yang pernah menabrak Nadhira tanpa sengaja di koridor kampus kala itu.


“Baik, Kak,” jawab Nadhira.


Reyhan menatap tak suka pada Faris.


“Kenalkan, Kak. Ini Kak Reyhan,” ucap Nadhira memperkenalkan Reyhan dengan bangga.


“Sayang, ini Kak Faris,” jelas Nadhira pada Reyhan yang dibalas dengan senyum tipis.


“Suami kamu, Ra ?” tanya Faris ragu-ragu.


“Iya, Kak. Kak Reyhan adalah suami Nadhira,” ucapnya dan menggandeng lengan Reyhan.


Seperti tersambar petir Faris terkaget. Hatinya sakit bak tersayat pisau tajam mendengar kenyataan yang baru saja ia ketahui itu.


“Oh,” jawab Faris. Ia hanya mampu ber-oh saja. Lidahnya kelu untuk berkata.


“Kamu sudah selesai ‘kan, Sayang ?” tanya Reyhan.


“Iya, Kak. Kita pulang ?”


“Tidak. Temani aku ke kantor sebentar. Ada pekerjaan yang harus aku selesaikan. Tidak apa-apa, ‘kan ?”


“Tentu saja.”

__ADS_1


“Kami permisi dulu, Faris. Assalamu’alaikum,” ucap Reyhan.


“Wa’alaikumussalam,” balas Faris hampir tak terdengar. Ia menatap punggung pasangan pengantin baru itu menjauh dengan tawa riang dari hadapannya. Menambah perih luka yang tercipta tak sengaja dihatinya itu.


__ADS_2